
Sidney berusaha memberikan senyumnya pada semua orang yang saat ini menatapnya. Tapi suasana kaku itu berubah menjadi kesedihan yang menyayat, saat Raya berlari ke arahnya, dan memeluk gadis itu.
"Kamu pulang, putriku?" Tangis Raya dalam ruangan itu bergema. Mereka menjadi pusat perhatian dari semua orang.
"Tante, apa kabar. Tante sehat, kan?"
Raya hanya mengangguk, lalu kembali memeluk Sidney. "Biar aku sapa Oma dulu ya, Tan," ucapnya mengusap lengan wanita itu. Fokus Sidney hanya di arahkan pada satu titik, Oma. Dia tidak ingin melirik ke arah manapun, sekalipun lewat ekor matanya.
Bulu kuduknya meremang, dan jantungnya berdetak kencang, dia tahu seseorang dalam ruangan itu menatap tajam walau Sidney tidak melihat, dia tahu bahkan pria itu mungkin tidak sudi melihatnya di sini, tapi tidak jadi masalah. Dia ke sini juga untuk satu tujuan, melihat Oma.
"Oma..." bisik Sidney mendekat ke wajah Oma. Bola mata wanita itu sayu dan terlihat sangat lelah.
"Si-d-ne..." bisiknya terengah. Bulir air matanya menetes di sudut matanya. Bibirnya masih berusaha melepas senyum pada Sidney. Lalu tangannya menyentuh tangan Sidney. Gadis itu mengerti kalau wanita itu ingin dia menggenggam tangannya.
Ternyata Oma pun memanggil Paris yang sejak tadi beku di sudut ruangan itu mengamati sosok yang seketika berhasil mencampur aduk perasaannya.
Paris mendekat, lalu Oma dengan tangan lemahnya menyatukan kedua tangan mereka, lalu tersenyum sembari melihat ke arah mereka bergantian, membawa mereka dalam ingatan terakhirnya sebelum menutup mata.
Ya, Oma sudah pergi dengan tenang. Mungkin dia tidak mengatakan keinginan terakhirnya, tapi dengan senyumnya menyambut kematian itu, semua orang di ruangan itu tahu apa yang dia inginkan.
Tapi apakah dua orang itu akan mampu mewujudkan keinginan Nani? Apakah ego akan kalah karena besarnya rasa cinta, atau malah Cinta yang kalah karena besarnya ego yang membelenggu jiwa?
Ruangan itu kini hanya terdengar suara tangis pilu, jeritan yang menyayat hati. Raya dan Sidney menangis sejadi-jadinya. Oma adalah anugerah yang diberikan Tuhan padanya, menjadi jalan dia bisa bersatu dengan Elrick.
Oma yang sejak pandangan pertama dengannya sudah menyayanginya. Kepergian Oma tentu saja membawa luka yang mendalam bagi keluarga Diraja dan Sidney.
Tita mungkin tidak menjerit sekeras Raya dan Sidney, tapi air matanya juga tumpah ruah. Dia ingat bagaimana Oma begitu telaten memberinya jamu saat kehamilan anak pertama dan keduanya, meski saat itu Nani kurang sehat juga.
__ADS_1
Diraja berkabung. Seluruh kantor, baik pusat dan cabang mengheningkan cipta dengan meliburkan diri dan berdoa bagi Oma.
Pemakaman Oma dilakukan hari itu juga dengan begitu hikmat. Sidney terus berada di samping Raya, menjadi tongkat bagi wanita itu. Sudah dua kali wanita itu pingsan, hanya karena kelelahan menangis.
Sementara Scot berada di belakang dua wanita yang dia sayangi itu. Berjaga-jaga kalau salah satu dari mereka pingsan. Baik Raya atau Sidney, sudah sangat kelelahan hingga mata mereka terlihat bengkak. Tidak satu menit pun dia bisa berbicara pada Sidney karena keadaan yang tidak memungkinkan.
Para pelayat sudah pulang, menyisakan mereka sekeluarga. Semua berdoa dan menyampaikan ucapan perpisahan.
"Sidney, kamu pulang bersama Tante, ya. Tante sangat butuh kamu saat ini."
Sidney menjadi bingung. Dia tidak mungkin ikut bersama keluarga Diraja, selain karena ada Ryu yang ikut bersamanya, dia juga harus kerja besok.
"Om mohon, kamu temani tante kamu dulu."
Kalau sudah Elrick yang buka suara, mana ada yang berani menolak perintahnya. "Iya, Om."
Sidney menghampiri Ryu untuk pamit. Dari tempatnya, di balik kaca mata hitamnya, Paris menatap tajam ke arah Sidney, menyelidik sosok pria yang saat ini mengusap pipi Sidney.
***
Raya satu mobil dengan Sidney, memeluk gadis itu dan tidak ingin melepas pegangan Sidney. Tiba di depan rumah, Elrick yang duduk di depan, bergegas memapah Raya masuk ke dalam, meninggalkan Sidney yang terdiam mematung menatap rumah yang mendatangkan banyak kenangan baginya.
Air matanya mengalir lagi. Dia rindu rumah itu. Sangat. Ada foto ibunya di sana, ada kenangan ibunya, ada barang-barang Lia, tapi dia juga gak tahu apakah masih ada di sana, atau sudah dibuang penghuni barunya.
Memikirkan saja membuat luka di hatinya kembali menganga. Dia sudah berdamai dengan masa lalunya yang menyakitkan, tapi setidaknya jangan lagi harus dihempaskan ke dasar jurang kesedihan masa lalunya.
"Lo rindu? Kenapa gak masuk?" Suara Scot menyapa dari belakang. Sidney berbalik, menatap sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca dan tetasan mulai turun. Dia rindu, sangat rindu pada Scot.
__ADS_1
Dia ingin melangkah memeluk pria itu, tapi ada gerbang keengganan yang masih ada di antara mereka. Scot melewati garis itu, memeluk tubuh rapuh Sidney.
"Gue kangen banget sama, lo! Gue akan buat perhitungan sama lo!" umpat Scot disela tangisnya, memeluk erat tubuh Sidney.
"Gue juga kangen. Pakai banget," jawab Sidney semakin tersedu-sedu.
Paris yang datang bersama Scot, hanya melihat mereka dari balik kaca mobil. Dia tidak ingin turun dulu, masih menatap gadis itu. Dari tempatnya dia bebas untuk melihat, memandang wajah gadis yang sudah mengubahnya menjadi pria yang lebih bengis.
Beruntung, dia bisa menyelesaikan kuliahnya tanpa harus menjadi gila dan mencari gara-gara dengan orang lain. Setelah perpisahan mereka kemarin, Paris bahkan sampai stres, tidak mau kuliah dan hanya mabuk-mabukan.
Elrick mendatanginya. Menasehati dan menenangkannya. "Kalau Sidney memang cinta sejatimu, maka cinta itu yang akan membawanya kembali padamu. Kamu hanya perlu menunggu, mempersiapkan dirimu, ketika sudah waktunya dia datang, maka kamu sudah siap untuk mengatakan kalau kamu menunggunya, menginginkannya kembali ke sisimu, siap mengatakan kalau kamu mencintainya, tidak peduli seribu tahun lamanya menunggu."
Pikirannya terbuka, menyelesaikan tugas kuliahnya, wisuda dengan predikat cumlaude dan langsung dilamar perusahaan asing, tapi Elrick menawarkan untuk mengurus perusahaan mereka saja.
Kini seolah kembali mengingat wejangan Elrick, mereka kembali dipertemukan. Apakah ini waktu yang tepat seperti yang ayahnya katakan waktu itu?
Tapi kenyataannya, dalam hidup Sidney sudah ada pria lain, menggantikan tempatnya. Bahkan saat di pemakaman tadi, Paris tersenyum kecut kala melihat kalung yang dipakai Sidney.
Kunci hatinya sudah hilang, berganti dengan pemberian orang lain. "Sid, apakah hatimu sudah dimiliki pria lain? Apakah kau bahagia dengannya? Lantas mengapa hatiku tidak terima? Mengapa terasa sakit di sini, Sid?" cicit Paris menyentuh dadanya yang terasa sakit dan sesak. "Apakah kisah kita sudah usai?"
*
*
*
Usai gak ya? Mau dikomen.... mau disawer, biar cepat up bab berikutnya, karena itu yang kalian tunggu, apa saja yang terjadi selama tiga tahun ini...☺️
__ADS_1
Btw, main dulu ke novel teman author yang satu ini. Gak kalah keren karyanya.