
Sidney keluar dari ruangan tempatnya bicara bersama Elrick selama dua jam, yang membuat hati Sidney plong. Satu hal yang kini semakin disadarinya, Tuhan itu adil. Dia boleh jadi mengambil ibunya kembali, dan bahkan memberikan ayah breng*sek seperti sandi, tapi Dia juga memberikan ayah dan ibu pengganti yang luar biasanya menyayanginya.
Di anak tangga pertama, Sidney bertemu dengan Scot yang menunggunya sejak tadi. Kedua sahabat itu saling menatap, lalu bersamaan tersenyum.
Sidney berjalan ke arah Scot, mengikis jarak di antara mereka, hingga pria itu menarik tangan Sidney untuk duduk di ruang keluarga.
"Jadi selama ini, apa alasan lo menghilang dari hidup gue? dari hidup kita semua?"
"Gak ada alasan, gue gak menghilang, hanya butuh waktu untuk sendiri. Sekarang gue kembali, pulang ke rumah yang seharusnya gue tuju." Air mata Sidney mengembang.
Matanya bahkan sudah perih karena sepanjang hari ini memproduksi air mata. Scot memeluknya, mengelus-elus punggung gadis itu agar lebih tenang.
Suasana diantara mereka akhirnya bisa mencair. Sidney kini bisa tertawa mendengar candaan Scot. "Udah malam, hari ini kita sudah melalui hari yang panjang, lo pasti lelah. Kita istirahat. Besok banyak yang harus kita bicarakan lagi."
Sidney mengangguk. Beranjak dari tempatnya sementara Scot tidak jadi ikut naik karena menerima telepon dari Gladys yang saat ini sedang di Singapura menemani ibunya yang menjaga ayahnya di rumah sakit.
Sidney larut dalam lamunannya. Berjalan menapaki tangga hingga tiba di depan kamarnya, heran melihat pintu yang terbuka. Gadis itu masuk, dan terkejut. Diam di tempatnya, membeku karena tepat di hadapannya Paris yang tadi ada di dalam kamar itu juga ingin keluar.
Keduanya saling pandang dalam kebisuan dan juga kebekuan. Mereka berdua seperti menyatu dengan lantai kamar. Tidak ada salah satu dari mereka yang mundur atau menyingkir.
"Hai...,"
"H-ai...," sahut Sidney dengan suara tercekat. Tenggorokannya kering dan semakin sakit hanya untuk menelan salivanya.
"Aku hanya mengambil barang ku yang ada di kamarmu," ucap Paris mengangkat buku yang ada di tangan kanannya.
"Oh... iya."
Sidney bergerak ke samping agar tidak menghalangi Paris lewat. Tindakan Sidney itu membuat Paris menduga kalau gadis itu menginginkan dirinya keluar dari sana. Paris menarik napas, dan berjalan keluar, melewati Sidney.
Tapi baru dua langkah berada di depan kamar, Paris berhenti. Membalik badannya menatap punggung gadis itu. Ah, rindu sekali. Ingin rasanya memeluknya. Rindu, amat teramat rindu.
"Oh, Tuhan, ingin sekali aku marah sekaligus memeluk gadis ini. Mengapa sulit sekali melepasmu? Hatiku bilang jangan dilepas, tapi tanganmu sudah terikat dengan tangan lain," batin Paris.
Sidney tahu kalau Paris sedang mengamatinya. Suara kaki yang menjauh tidak lagi dia dengar. Tubuhnya kaku, gugup dan tidak tahu harus apa sekarang.
"Sid, bisa kita ngobrol sebentar?"
__ADS_1
***
Angin malam di balkon menyapu lembut wajah cantik Sidney, memainkan helai rambutnya yang membingkai wajahnya.
Paris diam menatap wajah itu dari samping. Wajah yang selalu menjadi teman di kesepiannya. Teman rindunya. Dulu saat jauh, setiap saat dia selalu membayangkan membelai wajah gadis itu, kenapa setelah berada sedekat ini justru tangannya tidak berdaya?
"Katanya mau bicara?" Sidney memalingkan wajahnya menoleh pada Paris yang gelagapan tertangkap basah mencuri lihat.
"Oh, iya. Kamu apa kabar? Tinggal dimana selama ini? Apa kamu tinggal dan hidup dengan nyaman dan baik? Apa semua orang di lingkungan mu baik padamu? Gak ada yang menjahatimu?"
Itu sebenarnya bukan lagi sebuah percakapan menjurus ke arah ngobrol, tapi interogasi. Kenapa setiap berada di dekat Sidney, otaknya jadi tumpul.
"Banyak amat pertanyaannya?" Sidney tersenyum, dia paham kegugupan Paris, dia juga begitu. Paris tampak banyak berubah, dari penampilan, cara berpakaian, terlihat lebih matang dan juga berkelas.
"Kau laksana bintang di langit, Ris. Jauh dan susah terjangkau. Aku dengan keadaanku saat ini hanya bisa menatapmu dari kejauhan," batin Sidney coba tersenyum dan mengalihkan tatapannya ke atas langit.
Paris tersenyum, merasa malu karena begitu semangat menanyakan keadaan Sidney, seolah dirinya masih punya hak bertanya seperti itu.
"Aku baik. Semua baik. Apa kamu juga baik-baik saja?"
Paris hanya mengangguk, tapi hatinya berperang. "Gak, Sid. Gue gak baik-baik aja. Gue sakit dan tidak punya semangat hidup sejak lo ninggalin gue."
"Manajemen." Kembali Sidney tersenyum.
Suasana di antara keduanya terlihat sangat kaku, seperti dua orang yang tidak saling kenal. Hati Paris begitu sakit. Dekat tapi terasa jauh.
"Kamu akan kembali ke Bandung?"
"Iya. Besok pagi-pagi aku berangkat."
"Apa pria yang bersamamu tadi adalah... adalah kekasihmu?"
Sidney hanya mengangguk lemah. Sakit tapi tidak berdarah. Dia sakit harus mengakui hal itu dan dia lebih sakit karena dengan sadar melukai perasaan Paris akan hal itu.
"Sid..." Paris mulai serius. Dia tidak ingin membuang kesempatan ini. Dia ini bertarung sekali lagi mendapatkan hati gadis itu.
Justru Si pengecut Sidney yang tidak siap. Dia takut kalau Paris membuka cerita mereka lagi.
__ADS_1
"Ris, udah malam, aku tidur dulu, ya. Besok pagi-pagi sekali harus balik ke Bandung. Selamat malam." Sidney sudah beranjak dari tempatnya. Ia tidak ingin membuat luka lama mereka terkoyak kembali, terlebih dia tidak ingin Paris melihatnya menangis.
Paris berbalik, kata hatinya terus mendesak untuk maju, dan saat itu lah untuk pertama kalinya dari kebodohannya saat perpisahan mereka, Paris mengikuti kata hatinya.
Paris menarik tangannya, mendorong tubuh Sidney hingga terbentur ke dinding. Rasa terkejut dan gugup membuat deru napas Sidney beradu dengan napas Paris.
Kedua orang anak manusia yang sama-sama ingin menyakiti hati satu sama lain itu hanya bisa saling menatap, berbicara lewat tatapan mata.
Satu menit, dua menit berlalu... Wajah Paris semakin mendekat, terus mendekat hingga bisa mendengar degub jantung Sidney. Tidak adanya perlawanan, membuat Paris selangkah demi maju.
Alam semesta mendukung, tertiup angin malam, dan langit menjadi saksi di bawah sinar rembulan, Paris menyatukan bibir mereka. Lembut, dalam dan menggambarkan luka serta kerinduan di hati.
Ciuman lembut itu adalah gambaran kesedihan yang selama ini dirasakan mereka, gambaran penantian dan juga pengharapan.
Tangan Paris menyentuh leher Sidney, jemarinya menari di kulit mulus wanita Sidney. Menahan lehernya agar Paris lebih dalam mencercap rasa manis di bibir gadis itu. Sidney juga tidak mau kalah, dia ingin memuaskan kerinduan pada Paris, membalas ciuman itu sepenuh hati, seolah berkata,
'Paris, ini hatiku, akan selalu ada untukmu, akan selalu berdetak hanya untukmu.'
Sidney terpejam, dia ingin menyimpan semua rasa indah ini untuk dikenangnya. Dia takut untuk membuka mata, takut kalau semua ini hanya mimpi yang terlalu indah.
Diam-diam, Sidney berdoa dalam hati, agar waktu berhenti saja berputar. Dia ingin tinggal diam di sini bersama pria ini menikmati rasa yang menyelimuti hatinya.
Sidney sadar saat dia membuka mata, akan ada hati orang-orang yang tersakiti.
Oh Semesta, betapa dia sangat frustrasi. Sidney semakin memperdalam ciumannya. Memegang pinggang Paris, meremas baju pria itu.
Deru napas mereka saling berpacu dan saat ciuman itu berakhir, Sidney membuka mata, dirinya kembali pada kenyataan yan ada.
"Ini gak benar. Ada Ryu di antara kami, dan mungkin juga wanita lain. Aku gak akan mau menjadi orang ketiga di hubungan siapapun," batinnya menatap Paris. Dengan air mata yang berurai, Sidney berlari ke kamarnya.
*
*
*
Waduh, angel iki... angel tenan..
__ADS_1
Gais, aku mau promo novel keren lainnya. mampir yuk. Gak akan nyesal☺️