
"Serius lo, dia udah janda?" tanya Meyra antusias. Dia semakin semangat. Bagiamana pun status Raya akan menjadi penghalang bagi Elrick, jika masih menginginkan Raya. Menurut Meyra, menikahi janda kampung pasti akan menurunkan pamor Elrick.
"Serius. Nah, aku yang rebut suaminya. Tenang aja, dia gak ada apa-apanya. Mana mungkin sehebat Mas Elrick mau sama dia. Mungkin kayak kamu bilang tadi, dipaksa sama neneknya, karena nenek tua itu suka sama si cupu," terang Lani.
Sebisa mungkin mimik wajahnya dibuat datar. Bagiamana tidak, rasa kesal yang sangat besar menghantam relung hatinya. Dia tentu saja tidak terima mengapa Raya selalu mendapatkan nasib yang baik.
Pertama, dia dan juga ibunya sudah menjual gadis itu, tapi Dika masih saja mau menerimanya. Lalu dirinya juga sudah merebut suaminya, membuat Raya keguguran, bahkan harus bercerai dengan Dika, tapi kini malah dekat dengan seorang CEO yang kaya raya, sukses dan sangat tampan.
Jika dibandingkan dengan Dika, Elrick ibarat langit yang tinggi, tidak ada yang bisa menjangkaunya apalagi orang-orang dari kampung seperti dirinya dan juga Raya. Lantas mengapa takdir menempatkan gadis itu bisa berada di sisinya?
"Lo harus bantuin gue, kasih pelajaran buat si janda itu!" umpat Meyra merasa penuh kemenangan. Padahal ini terlalu awal untuk menepuk dada.
"Kamu tenang aja Mey, aku akan setia kapan aja kamu mau memberinya pelajaran. Aku juga tidak ingin dia bisa hidup tenang. Dika menceraikanku juga pasti karena dia juga. Kalau mantan suamiku itu tidak membandingkan ku dengan dirinya, mana mungkin sih aku dicerai! Jadi, dengan kata lain, aku dicerai juga karena dia!" ucap Lani mengepalkan tinjunya penuh amarah.
***
Raya masih mengeringkan kain pelanggan kala Ranti mendatanginya dan mengatakan kalau Dipa ada di depan menunggunya.
Sejak pertengkaran dua hari lalu, Dipa tidak pernah muncul di rumah Oma, yang secara otomatis tidak juga bertemu dengannya.
"Bilang tunggu sebentar ya, Ran. Aku mau selesaikan yang satu ini," jawabnya menunjukkan satu kemeja yang sejak tadi dia keringkan bersama pakaian yang lainnya.
"Hai... aku ganggu?" Suara Dipa begitu pelan, dan tatapannya begitu sendu.
"Hai... gak kok. Udah selesai. Kamu ke sini, emang gak kerja?" Raya sudah mengajak Dipa untuk duduk di ruang depan.
__ADS_1
"Kerja tadi, udah pulang. Ray, aku boleh minta waktumu, temani aku jalan sebentar ya," pintanya dengan wajah memohon. Raya tidak enak hati untuk menolak, lagi pula mereka adalah teman. Dipa juga sudah banyak menolongnya.
***
Dipa membawa Raya ke sebuah taman yang di kelilingi pemandangan yang sangat indah, dengan sebuah danau buatan yang kecil yang menjadi icon tempat itu. Saat itu masih pukul tiga sore, jadi taman yang biasa di huni ABG untuk pacaran itu sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang sudah berumur lanjut duduk, untuk menikmati pemandangan dan ketenangan alam seperti ini.
Keduanya masih terbalut dalam keheningan. Raya bukan tidak mau bicara, dia hanya tidak tahu harus berkata apa. Sebaliknya, Dipa memiliki banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Raya, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
"Dip..." Raya yang merasa sudah cukup memberi waktu tenggang untuk Dipa akhirnya buka suara.
"Aku membencinya, Ray. Sejak dulu aku begitu iri padanya. Dia memiliki semua yang aku inginkan, bahkan kedua orangtuaku sangat menyayangi, lantas kenapa orang tua membunuh orang tuaku?" tanya Dipa tanpa menoleh pada Raya yang ada di sampingnya. Angin sore dia biarkan membelai wajah tampannya, mencoba membuainya untuk tidak lagi bersedih.
"Apa kau tahu, dia juga terluka kala mengetahui kejadian yang menimpa kedua orang tuamu? Mas Elrick sangat menyayangi Tante dan juga om nya. Kau tahu sendiri, kalau hanya dari orang tuamu, dia mendapatkan kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari orang tuanya. Dia sedih, dan terluka sama halnya sepertimu saat kabar duka datang. Kalian masih sangat kecil saat itu. Kau kehilangan orang tuamu saat sudah di bangku SMP, tapi dia... Mas Elrick, dia kehilangan orang tuanya lebih kecil usianya darimu. Saat itu ibunya pergi, dan tidak lama ayahnya pun pergi, tapi kau masih punya waktu beberapa saat bersama orang tuamu. Setelah kepergian kedua orang tuanya, justru dia bisa kembali mengangkat kepalanya, karena kasih sayang dan perhatian dari orang tuamu."
Kembali hening. Suara angsa yang berenang di danau itu menjadi pusat perhatian mereka untuk sesaat.
Selama ini mereka pikir kecelakaan itu memang kecelakaan tunggal, namun ternyata ada yang menyabotase mobil orang tua Dipa dan juga sebuah mobil yang bertugas memepet mobil itu hingga menabrak pembatas jalan dengan sangat kuat.
Dipa sesat diam. Dia menyadari ini semua memang tidak ada hubungannya dengan Elrick. Dia sendiri pun tidak tahu kalau orang tuanya yang merencanakan semua ini. Tapi karena melihat Elrick dia akan mengingat wajah Silvira, maka Dipa berhak melampiaskan kebencian pada sepupunya itu dan menganggap memang Elrick yang pantas dimintai pertanggungjawaban.
"Kau membelanya, Ray?"
"Aku bukan membela Mas Elrick, tapi mengatakan apa yang bisa aku lihat dari raut wajahnya malam itu.
"Apa kau sangat menyukai dia?" tanya Dipa dengan dada panas. Dia pikir karena dialah orang pertama yang bertemu Raya, maka dia yang lebih berhak mendapatkannya.
__ADS_1
Raya terdiam. Termangu mendengar pertanyaan tiba-tiba Dipa yang menyudutkan isi hatinya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Elrick, tapi seperti apa pun itu, tidak mungkin terwujud.
Raya pernah dikecewakan sekaligus dikhianati oleh seorang Pelakor yang merupakan sahabatnya sendiri, hingga berujung perceraian. Raya tahu bagaimana tidak enaknya orang yang kita sayangi diambil orang. Jadi, dia tidak mungkin menyimpan rasa pada Elrick. Dia tidak ingin dianggap Pelakor oleh Meyra.
"Ray..."
"Aku menghormati Mas Elrick. Dia beberapa kali membantuku. Tapi tidak untuk mencintai. Aku terlalu tahu posisiku. Aku sadar akan tempatku," sahut Raya tersenyum kecut.
"Bagus. Lebih baik memang kau tidak usah berharap padanya. Jangan pernah menaruh hatinya padanya. Sepupuku itu bukan pria yang bisa mencintai orang lain selain dirinya sendiri."
Raya menatap ke depan. Hamparan pemandangan dan warna-warni bunga menghiasai sejauh manapun dia memandang.
Kenapa hidup begitu ribet. Tidak bisa kah setiap manusia mendapatkan kebahagiaannya? Tiba-tiba dia teringat Elrick, dan seketika membawa nama pria itu ke dalam doanya. Semoga dia segera mendapatkan kebahagiaannya.
Sementara Raya melemparkan pikirannya jauh pada pria dingin itu, Dipa terus menatap rahang pipi Raya yang tinggi bak wanita bangsawan di kerajaan abad pertengahan.
"Menikahlah dengan ku, Ray. Jadilah istriku..."
*
*
*
Hayo, Raya bakal terima gak lamaran Dipa yang kedua kalinya ini, ya?
__ADS_1
Bagi gift dong kak, kurang imun nih, biar semangat up nya 😁