Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 27


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Raya tersenyum ke arah Dipa. Lima menit lalu mobil Dipa sudah berhenti di depan laundry, tapi keduanya masih tertahan dalam zona canggung.


Dipa tidak marah atas masa lalu Raya, karena memang dia tidak punya alasan untuk itu, hanya saja dia kecewa. Sejujurnya, dia menyukai Raya. Bukan pada pandangan pertama seperti di sinetron. Dipa mulai menaruh rasa simpati sejak dia menemani gadis itu memenuhi isi laundry nya.


Terjadi begitu saja. Entah bagaimana saat ini rumah tangga raya, namun yang pasti dia tidak mungkin menaruh harapan pada istri orang lain yang saat ini sedang hamil pula.


Sebajingannya dia, bagi Dipa sangat pantang untuk bermain dengan milik orang lain!


"Aku turun dulu," lanjut Raya yang hanya dibalas oleh Dipa. Dia masih berdiri di depan laundry hingga mobil itu menghilang.


***


Benar tebakan Raya, Dipa menjauhinya. Biasanya pria itu sering datang mengunjunginya. Membawa makan siang atau pun segelas kopi kekinian di sore hari. Sebulan sudah semua itu tidak pernah terjadi lagi.


Setiap Raya bertamu ke rumah Oma atas panggilan wanita itu pun, dia tidak pernah bertemu dengan Dipa, dan syukurnya dengan makhluk mengerikan, El. Dan hal itu sangat disyukurinya.


Raya tengah sibuk memeriksa kain laundryan mana saja yang harus diantar hari ini. Ada bedcover Oma, yang artinya sore nanti dia harus ke rumah Oma. Lagi-lagi dia berharap El tidak ada di sana.


"Mbak, ini...," kata Nana menyodorkan hape milik Raya yang masih bergetar tanda panggilan masuk. "Dari tadi bunyi terus di dalam."


"Makasih, Na," ucapnya tersenyum. Ponselnya memang sedang dicas di ruang tengah hingga tidak mengetahui adanya panggilan masuk. "Nomor baru, siapa ya? apa pelanggan?" cicitnya.


"Angkatlah, Mbak.."


"Halo...,"


"Raya...."


Deg! Suara yang sudah sebulan lebih tidak dia dengar. Terakhir bertemu, di rumah sakit dan terakhir bicara, saat Dika mengabari ibunya sudah diperbolehkan pulang.


"Ini Mas Dika?"

__ADS_1


"Iya, Ray. Ini nomor baru Mas. Yang lama sudah diambil Lani."


Hening... keduanya yang sudah lose contacts pasti merasa canggung saat kembali bicara walau hanya lewat telepon. "Ada apa, Mas?"


"Mas ingin mengajakmu ketemuan, Ray. Mas... rindu."


Terdengar helaan napas yang begitu berat di seberang sana, pertanda beban berat sedang dialami Dika. Tapi apa urusannya dengan Raya lagi? dia tidak mau masuk dalam lingkaran yang menjeratnya kembali. Masa lalu hanya pantas untuk di simpan di album memori saja yang disimpan dalam gudang bawah tanah, tidak untuk dikenang, apalagi menjalin nostalgia.


Benar adanya, semua yang ada dan terjadi pada diri saat ini, tidak terlepas pada masa lalu. Namun, ada pepatah mengatakan, orang bijak memaafkan kesalahan orang yang bersalah padanya, tapi tidak melupakan. Jadikan sebagai pembelajaran, guna menjalani hidup lebih baik ke depan.


"Maaf, Mas. Tidaklah pantas lagi Mas mengatakan hal itu padaku. Aku bahkan siapa-siapa Mas lagi yang pantas untuk mas rindukan. Dan maaf, Mas, aku tidak bisa bertemu dengan Mas lagi. Mas harus jaga perasaan Lani. Aku bukan dia, yang mau diajak ketemuan dengan suami orang di belakang istrinya."


Ucapan Raya menampar keras Dika. Dia tahu kemana arah ucapan Raya. Dia juga tahu siapa yang sedang disentil Raya saat ini. Semua itu benar. Dia harus siap menanggung buah dari dosanya.


"Mas kalut, Mas butuh teman untuk bicara, Ray."


"Sholat lah, Mas. Setiap kita memiliki masalah, bicarakan dengan sang Pencipta mu, bukan denganku," ucap Raya tegas. Dia harus menjaga batas antara mereka. Yang berlaku biarlah berlalu, sekali melangkah ke depan, jangan pernah menoleh ke belakang lagi.


"Maaf, Mas. Tidak bijak rasanya jika mas bahas masalah rumah tangga mas denganku. Aku adalah orang luar, dan sejujurnya aku tidak tertarik untuk mendengarnya. Aku tutup dulu, Mas. Assalamu'alaikum."


Raya menggenggam erat ponselnya di dada. Wajahnya begitu sendu. Ingin menangis, hatinya mendorong untuk menangis, tapi menangisi apa? mengapa dia harus bersedih mendengar kalau rumah tangga Dika saat ini tidak bahagia?


Sejujurnya, tidak mudah melupakan Dika. Dua tahun hidup bersama, pasti ada hal baik yang pantas diingat dari Dika. Terlebih Dika lah yang mau menerimanya setelah peristiwa terkutuk itu. Menerima dengan segala kekurangan, cacian warga kampung padanya dan juga ayahnya. Jadi, Raya masih tetap menjaga sikap baik pada Dika karena merasa hutang budi.


"Mbak, jadi mengantar kain? udah sore," tegur Nana menyentak kesadaran Raya. Buru-buru bangkit. Ditatapnya kain yang sudah menumpuk di atas motornya.


"Semangat Raya," ucapnya pada diri sendiri.


***


"Maaf, Pak. Sisa stok yang ada cuma ini. Sama saja sih fungsinya, cuma ini terlalu keras," ucap penjaga apotek itu sembari membenarkan letak kaca matanya.

__ADS_1


"Gak, Papa. Malah lebih bagus, sekali minum, dia langsung liar, biar makin seru. Udah lama aku ngincar dia. Mumpung istri lagi ke luar kota dan ruang sepi, biar aku garap," ucapnya penuh gembira.


Pembicaraan keduanya terhenti, saat si penjaga toko obat itu sadar kalau ada pelanggan di belakang rak yang ada di sudut ruangan itu. Penjaga toko keluar dari dalam, langsung melapor pada pak RT, jadi tidak memperhatikan Elrick yang sudah berdiri di sana. Keduanya sontak terhenti, dan menatap ke arah Elrick.


"Tuan Diraja, apa kabar?" Sapa seseorang yang tidak ada masuk dalam ingatan Elrick. Di dunia Elrick, manusia yang baginya pantas untuk diingat hanya ada dirinya, dirinya, dirinya lagi dan satu lagi neneknya. Manusia egois memang.


"Baik." Lalu diam. Seolah jawaban singkat itu menjadi penanda kalau dirinya tidak ingin diajak bicara.


"Tuan tidak kenal saya? Saya pak RT di komplek perumahan Bu Nani, nenek anda."


"Oh..."


***


Elrick masuk ke rumah Oma dengan wajah dingin. Dia kesal pada wanita itu. Dia tahu kalau alasan sakit ini hanya akal-akalan neneknya, untuk memintanya datang dengan meminta membeli obat dan minyak angin. Dia tahu wanita itu bohong, tapi dia bisa berbuat apa? Rasa sayang dan pedulinya pada Nani membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apapun mau neneknya.


"Kau sudah datang? Aduh, kepala nenek sakit banget," ucap Nani memijit pelipisnya. Wajahnya sendu, tampak kesakitan, namun cahaya matanya tidak bisa berbohong, wanita itu tampak baik-baik saja. Belum lagi Elrick melirik di sudut ruangan, di atas sofa, masih ada sisa cemilan, yang lagi-lagi dia yakin habis disantap neneknya.


"Ini minyak anginnya. Benarkah Miss universe kita ini sedang sakit? atau..."


"Dasar cucu durhaka. Tidak lihat, Oma begitu kesakitan dan menderita?"


"Kalau benar sakit, kenapa tidak panggil Tito?" tanyanya merujuk dokter keluarga Diraja selama ini.


"Oma ingin kau yang merawat Oma. Oh, iya... pergilah ke laundry Raya, ambil selimut beludru milikku."


"Kenapa menyuruhku, suruh suruh saja pelayanmu, Oma!"


"Oma ingin kau yang mengambil. Itu selimut peninggalan Opamu. Oh, kepalaku..."


"Baiklah, aku pergi!"

__ADS_1


__ADS_2