
"Jangan senyum-senyum gak jelas. Kerjakan soal nomor satu sampai lima!" hardik Paris yang mulai hari ini didaulat untuk menjadi guru privat Sidney.
Perdebatan kemarin dimenangkan oleh Paris. Sandi masih ingin menolak tapi dia segan pada Elrick, lagi pula karena Paris diketahuinya memang berotak encer, makanya Sandi mengalah dengan syarat yang mematikan.
"Oke, Om setuju kamu yang ngajar Sidney, tapi Om punya syarat. Kalau kamu sampai gagal buat Sidney masuk peringkat 10 besar, maka Om akan membawa Sidney pindah sekolah ke Jogja, dan kalian putus. Om tahu kalau kalian saat ini pacaran. Bagaimana? Kalau kamu terima syarat dari Om, Raja besok gak akan om suruh datang lagi," tantang Sandi.
Keduanya berbicara serius setelah Raka pamit karena takut pada Paris. Hardikan dan perintah remaja itu membuatnya mengerut. Dia kutu buku, tidak pernah berurusan dengan berandalan, jadi dari pada babak belur, tentu saja Raka lebih baik pamit.
"Saya terima persyaratan dari Om," ucap Paris penuh percaya diri. Dia juga tidak ingin karena pacaran dengannya Sidney menjadi ketinggalan dalam pendidikannya.
"Tadi kan udah. Masa iya ngerjain soal terus? Otak aku bisa keram," ucap Sidney manja, menyandarkan kepalanya ke lengan pria itu.
"Jangan gitu." Paris mendorong kepala Sidney pelan agar gadis itu duduk tegak. "Kamu gak tahu betapa nasibku dipertaruhkan, kebahagiaanku berada di ujung tanduk."
"Kenapa begitu?"
"Masih pake nanya! Bokap lo ultimatum gue, kalau gue gak bisa dongkrak nilai lo sampe Lo naik 10 besar, dia akan bawa lo jauh dari gue, pindah dari sini, dan gue gak boleh pacaran lagi sama lo!" Kalimat Paris dia ucapkan dengan penuh kesal. Ini seperti bom waktu baginya, menunggu sampai meledak beberapa bulan lagi. Padahal dia juga harus belajar agar bisa masuk kampus yang dia inginkan di sini, kalau tidak, Elrick mengancam akan mendaftarkannya kuliah di luar negeri.
"Jangan pake lo gue, dong!" Sidney memonyongkan bibirnya dan melipat tangan di dada. Dia paling kesal kalau Paris sudah pakai lo gue saat bicara padanya.
"Sorry, Sid. Gue... Aku cuma sedikit gelisah. Kamu tahu gimana aku kalau sampai jauh dari mu, bahkan sampai dilarang pacaran denganmu, aku bisa gila."
Hati Sidney bergetar. Ini semua Paris lakukan untuk mereka berdua, agar mendapat izin dari ayahnya. Lagi pula seperti kata ayahnya kemarin malam, "Kamu gak malu pacaran sama Paris? Pacar kamu pintar, juara olimpiade sains tingkat provinsi, bahkan saat lomba di luar negeri juga dia menang. Nanti ada yang tanya, pacarnya yang mana? itu yang gak dapat ranking itu," gimana? Malu, kan?"
Ucapan nyelekit ayahnya ada benar nya juga. Paris itu bak bintang yang terang bersinar, sementara dia? Ya, cukup-cukup makan lah.
Tapi belakangan ini, ayahnya memang terlihat bersikap aneh. Untuk beberapa waktu dia seolah bersikap menjadi ayah yang tegas, yang peduli padanya, padahal selama ini sama sekali tidak pernah ada di rumah dan tidak menanyakan keadaan Sidney.
__ADS_1
"Kalau nilai kamu masih seperti ini, lebih baik kamu sekolah dan tinggal di Jogja bersama nenekmu."
"Aku gak mau, Pa. Aku mau di sini."
"Kalau begitu kamu rajin belajar, jangan main melulu. Papa kasih kesempatan terakhir, kalau kamu gak bisa memperbaiki nilai mu, terpaksa kamu papa antar ke tempat nenekmu."
"Gak masalah, asal papa juga tinggal dengan aku. Selama aku kayak anak yatim piatu, diurus dan diperhatikan oleh keluarga Diraja. Papa kemana? Apa yang papa lakukan? Setelah melihat hasil raporku, papa marah-marah dan ngancam mau pindahin sekolahku. Peran papa apa?" Sidney mulai menangis. Selama ini dia sudah menjadi anak baik yang penurut, tidak pernah membantah ucapan ayahnya, tapi kali ini, Sidney rasa dia perlu bicara dengan papanya.
"Kamu makin pintar melawan, ya. Ini yang kamu dapat dari didikan keluarga Diraja?" ujar Sandi.
"Papa salah, justru kalau bukan karena didikan dan kasih sayang keluarga Diraja, mungkin aku udah ditangkap polisi karena make narkotika, Pa. Hidup bebas, tanpa pengawasan, apapun bisa aku lakukan, tanpa papa, satu-satunya orang tua yang aku miliki, yang selalu meninggalkanku dengan ART di rumah ini," ucapnya di sela isaknya.
Sandi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia terpukul oleh ucapan Sidney. Tepat saat itu pula dia teringat wajah dan juga pesan terakhir istrinya untuk menjaga dan menyayangi putri mereka. "Maafkan, Papa, Sayang."
"Malah bengong, buruan dikerjakan."
"Iya, Bawel. Ini juga aku mau kerjakan," ucapnya pelan.
"Capek lo ngerjain soal melulu. Lemas bestie...," teriak Sidney meletakkan penanya dengan kasar di atas meja.
"Jadi, mau nya gimana?" Paris tidak lagi ingin memaksa. Terserah karena sudah cukup juga untuk hari ini. Setelah seminggu belajar keras, setidaknya Sidney punya kemajuan.
"Istirahat lah. Aku mau makan eskrim."
Paris pun pergi menuju indo*mart yang ada di dekat rumah mereka. Karena bingung eskrim apa yang disukai Sidney, Paris memborong semua eskrim merk MAGLUM, yang banyak disukai orang, itu pun atas rekomendasi dari kasirnya.
"Nih," ucapnya meletakkan satu plastik eskrim di atas meja. Paris tidak lupa memberikan dua buah eskrim untuk bi Inem yang nonton sinetron di bawah sana.
__ADS_1
"Wah, banyak banget. Mana habis semua ini."
"Biar kepala kamu yang katanya panas dan berat itu bisa dingin dan rileks lagi, habis itu kita belajar lagi."
"Siap, Kapten. Tapi temani ya makannya."
Paris yang tidak suka makan makanan manis, terpaksa mengalah demi sang pujaan hati. Ikut mengambil yang rasa capuccino. Sidney melirik sekilas pada kekasih hatinya yang makan eskrim sambil bermain game di ponselnya.
Sidney yang merasa tidak dipedulikan ingin cari perhatian. Mengoles eskrim nya dari bibir hingga ke pipi sudut bibir gadis itu, dan sengaja meninggalkan jejak di sana.
Pura-pura mencari pena, Sidney grasak-grusuk dan akhirnya mendapat perhatian Paris. "Sid, itu di bibirmu, ada eskrim."
"Mana?" Sidney pura-pura membersihkan tapi sengaja memilih tempat yang salah.
Paris mendekat, dia tersenyum tahu ini akal-akalan pacarnya. Ditangkapnya wajah cantik Sidney dengan kedua tangannya lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajah gadis itu. Satu gerakan, Paris membersihkan bekas eskrim dengan lidahnya, lalu mengecup setiap senti bibir Sidney.
Gadis itu tersenyum. "Cium...," bisiknya lemah, tercekat di kerongkongannya.
"As your wish, my lady," sahut Paris sebelum mencium dan melu*mat bibir menggemaskan milik Sidney.
*
*
*
Ingatkan, kenapa Adam jatuh ke dalam dosa? ya karena godaan Hawa🤭🤭🤭
__ADS_1
Oh iya, aku mau promo lagi. Ada novel keren abis, gak kalah sama novel ini. Mampir ya... makasih.