Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 52


__ADS_3

"Bagaimana, Gas?" tanya Elrick menjatuhkan map yang sejak tadi dia baca. Kedatangan Bagas lebih menarik dari pada draft tendernya.


"Sudah, Bos. Saat ini Pak Broto masih dirawat di rumah sakit, kemungkinan anunya sudah tidak berfungsi lagi."


"Hah? serius? lo kok sampe tahu sedetail itu? mana boleh mendapatkan informasi tentang pasien kalau bukan keluarga pasien tersebut yang bertanya."


"Apa gunanya punya tampang kerena kayak gini kalau gak bisa dimanfaatkan untuk merayu para perawat yang mengetahui informasi tentang pak Broto."


Elrick yang paham hanya mangut-mangut. Dia mengerti maksud ucapan Bagas.


"Lalu wanita itu?"


"Luka ringan biasa, Bos. Hanya ada luka dikit di wajahnya sama kakinya luka hingga harus dipasang pen di dalam."


"Good job, Gas." Elrick tersenyum licik. Untuk sementara apa yang terjadi pada kedua orang itu cukup untuk menghukum kedua orang itu.


Elrick bukan penyebab kecelakaan itu. Dia tahu bagaimana harus bermain secara rapi. Setelah menyelidiki beberapa hari ini, dan mendapati Lani sedang bersama pak Broto, Elrick menyuruh seseorang menemui pak Broto mengancam akan mengatakan perselingkuhannya pada media hingga nama. baiknya hancur.


Pria itu ketakutan hingga saat itu juga pulang ke Jakarta bersama Lani. Ketakutan perselingkuhan akan disebarkan, Broto kalap membawa mobil. Saat itu juga dia sudah banyak minum karena aibnya akan dibongkar.


Bukan apa-apa, selama ini dia bermain wanita juga, dia tidak peduli jika masuk media, tapi karena saat ini dia tengah mengajukan diri untuk menjadi anggota DPRD periode ini, maka nama baiknya harus dijaga. Bukti-bukti perselingkuhannya tidak boleh tersebar dulu, kalau tidak dia bisa kalah.


Kalap dengan tekanan, pak Broto yang memang menyetir sendiri, menabrak pembatas jalan hingga mobil oleng, berputar 180 derajat, dan menabrak mobil lain.


"Itu belum seberapa hukuman buat mu, Lani. Tunggulah saat-saat menderita mu!" umpat Elrick mendendam. Istri seperti Lani ini sudah sepantasnya mendapatkan hukuman yang setimpal.

__ADS_1


***


Seminggu dirawat di rumah sakit, Lani diizinkan pulang. Tidak henti-hentinya dia menangis, karena kini wajahnya yang terluka meninggalkan bekas. Tidak sampai di sana, kini dia juga berdiri tidak sama lagi, kakinya seolah jadi pendek sebelah. Tulang lututnya retak hingga harus dimasukkan pen penyanggah.


"Kenapa gak biarkan saja aku mati, Mas!" isaknya sejak pagi tadi, setelah sampai di kediaman mereka.


"Apa gunanya aku hidup kalau begini? aku mau mati saja Mas...."


"Kau harusnya bersyukur karena Tuhan masih memberi waktu untuk mu bertobat setelah perbuatan jahat dan zalim mu," balas Dika menatap sinis pada Lani. Setelah semua yang terjadi padanya, tetap saja dia tidak berubah.


"Mas kok bicara seperti itu? harusnya Mas sedih melihat keadaanku ini. Siapa yang mau memandang wajah seperti ini?" umpatnya penuh kekesalan.


"Kau masih memikirkan soal wajah? Lani, jawab aku, ada hubungan apa kau dengar pak Broto?" tembak Dika membuat Lani gelagapan. Dia tidak pernah berpikir sampai ke sana. Setelah tersadar, dia hanya mengkhawatirkan keadaanya tubuhnya dan melupakan kalau Dika akan bertanya ini dan itu.


"Mas... maksudmu apa sih? tentu saja kami hanya punya hubungan bisnis. Aku... aku saat ini punya usaha di bidang garmen, jadi teman memintaku meninjau bahan di Bogor, kebetulan orang yang menanamkan saham di bisnis yang akan kami buka, om... maksud ku pak Broto, jadi kami pulang bareng... itu aja kok. Mas percaya deh..."


"Mas, kenapa kau berkata seperti itu? aku gak bohong. Kau boleh tanya pada pak Broto," ucap Lani semakin panik. Bagaimana kalau Dia benar-benar menceraikannya?


"Cukup. Sekarang aku mau tanya, Ini... botol apa ini? obat diet yang sering kau konsumsi, kan?" Dika mengambil botol dari dalam laci nakas di kamar mereka. Menunjukkan pada Lani, ingin melihat reaksi Lani.


"Iya... itu memang obat yang aku minum. Tapi sudah gak lagi, Mas," ucapnya salah sangka. Dia pikir Dika marah karena dia meminum obat itu karena belum ingin hamil. Dia terjebak pada kebodohannya sendiri.


"Baik, kau sudah mengakuinya. Cukup sudah untuk menjadi alasanku untuk menceraikanmu!"


"Apa maksudnya ini? menceraikanku? kenapa Mas? salahku apa?" Lani berdiri, sujud di kaki Dika. "Jangan ceraikan aku, Mas. Aku mencintaimu, aku gak bisa hidup tanpamu, Mas."

__ADS_1


"Sudah cukup sandiwara mu, Lani. Aku muak. Tega kau membunuh anakku, kau bia*dab! Selama ini Raya sudah sangat baik padamu, menerimamu di sini karena menganggap kau sahabat baiknya. Kau tega membunuh janin dalam kandungannya. Anakku, anak kami. Dan sekarang kau mengkhianati pernikahan kita!" Dika menjambak rambutnya, frustrasi, ikut menyalahkan dirinya sendiri atas semua tuduhan dan perbuatan jahat yang dia, Lani dan Titin, ibunya lalukan.


Semua yang terjadi pada mereka, mulai dari ibunya yang jatuh sakit, usahanya yang kini morat-marit dan Lani yang mengalami kecelakaan, semua ini karma yang harus mereka terima atas upah dosa mereka.


"Maafkan aku, Mas. Aku mohon..." isak Lani semakin menjadi. Kini suaranya melengking, kalau sampai Dika menceraikannya, kemana dia harus menggantungkan hidup.


Dika tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia memilih untuk menyingkir, meninggalkan Lani dengan kesedihannya.


***


"Kau sudah datang? Oma lihat kau lebih sering datang," ucap Oma yang saat itu duduk bercerita dengan Raya. Nani tersenyum geli kala melihat wajah Elrick yang malu.


"Nih," Pria itu meletakkan banyak bungkusan yang berisi makanan.


"Apa ini? wow ada sushi..." ucap Nani antusias. Segera meminta Minten menghidangkan untuk mereka makan.


"Kau suka sushi?" tanya Nani pada Raya yang mengamati banyaknya makanan di atas meja.


Raya menggeleng lemah sebelum melirik ke arah Elrick yang cuek menatap layar ponselnya.


"Kalau begitu, kau harus coba. Makan yang banyak ya." Oma mulai mengambil satu potong sushi ke atas piring Raya. Perlahan menyendok ke dalam mulutnya lalu mengunyah sedikit aneh, lama kelamaan rasa nikmat itu muncul.


"Enak... enak banget...." ucap Raya dengan bola mata berbinar. "Ini enak. Apa namanya?"


"Sushi..." ucap Oma ikut bahagia. Keseruan keduanya menjadi menarik perhatian Elrick. Diam-diam dengan lirikan matanya menatap wajah gembira Raya. Bola mata gadis itu bersinar, hanya dengan merasakan makanan saja sudah membuatnya bahagia. Justru kesederhanaan itu membuat Elrick semakin mengagumi Raya.

__ADS_1


Deg!


Kembali jantungnya berdebar. "Shi*t!" umpatnya hingga membuat Raya dan Nani menatapnya. "Kau kenapa?" tanya Nani menatap serius. Memandang wajah memerah Elrick. "Kau baik-baik saja? wajahmu kenapa begitu merah? Seolah kau gugup karena bertemu dengan orang yang kau suka."


__ADS_2