
"Na, kita coba toko itu aja," ucap Raya yang siang itu sedang mengitari pertokoan di jalan Sudirman. Dia ingin mencari supplier parfum laundry yang bisa diajak kerja sama memasok parfum dan printilan yang bisa dijual di laundry nya.
Raya ingin mengembangkan usahanya, tidak hanya mengerjakan laundry tapi juga menjual keperluan laundry juga, selain memang dia pakai, bisa dijual bagi laundry lain. Dia juga ingin memesan setrika uap dan dryer.
Belakangan ini banyak sekali pelanggannya yang minta dikerjakan ekspres, siap dalam beberapa jam.
"Ini.... Au..." pekiknya tidak melanjutkan ucapannya pada Nana. Tubuhnya ditubruk seorang gadis muda yang terlihat ketakutan. Penampilannya yang dekil dan juga lusuh membuat Raya merasa kasihan.
"Maaf, Mbak. Tolongin aku, Mbak. Ada orang yang ngejar. Aku takut Mbak," ucap menangis.
Raya dan Nana saling bersitatap, dan Nana langsung menggeleng, memberi isyarat agar Raya tidak usah peduli. Bukan bermaksud tidak punya hati, Nana hanya menjaga keselamatan Raya. Di ibu kota ini banyak sekali penipu berkedok manusia yang dijebak, terzolimi dan minta dikasihani. Tidak tahunya justru membuat mereka dalam masalah.
"Kamu kenapa? siapa yang mengejarmu?" tanya Raya tidak tega meninggalkan gadis itu, walau tangannya sudah ditarik Nana untuk pergi.
"Para preman di terminal. Saya dari Kupang, Mbak. Merantau ke sini. Awalnya ingin ke rumah paman saya, tapi alamat yang diberikan ibu pada saya salah. Paman saya tidak ada di sana. Mbak, tolong lah saya, Mbak. Saya ditahan oleh beberapa pria jahat, dan dipaksa untuk melayani kepala preman terminal, saya berhasil kabur, tapi sekarang mereka mencari saya," ucapnya menghapus jejak air matanya.
Firasat Raya mengatakan kalau gadis itu tidak berbohong. "Kita ke sana, ya," ucap Raya menunjuk rumah makan. "Kamu belum makan, kan?"
Gadis itu mengangguk dan mengikuti langkah Raya dan Nana. "Mau makan apa?" tanya Raya. Tatapan Nana terus mengunci gerak-gerik gadis itu, mengantisipasi kalau ternyata ini hanya modus, dan ternyata dia adalah pencuri.
"Apa saja, Mbak. Asal bisa alas perut. Saya sudah dua hari gak dikasih makan sama mereka," ucapnya sopan. Air matanya terus saja mengalir.
"Kok kamu nangis? kenapa?"
__ADS_1
"Saya sangat bersyukur bisa bertemu, Mbak. Ini kali kedua aku kabur, tapi mereka bisa menemukanku. Mengurung dan menghukum diriku, tidak memberiku makan dan sekarang, aku lari dan bisa bertemu dengan Mbak, aku sangat bersyukur bisa dipertemukan Mbak yang begitu baik padaku," ucapnya.
Raya jadi terharu. Banyak kejadian seperti ini yang terjadi setiap harinya. Banyak gadis-gadis yang diperdaya dan dijerat hingga tidak punya pilihan mengikuti kemauan mereka.
"Sudah jangan menangis lagi. Jika Allah mempertemukan kita, artinya kita memang berjodoh. Siapa nama mu?"
"Ranti, Mbak," jawabnya penuh sopan. Dia juga menunduk pada Nana hingga rasa curiga Nana sejak awal hilang berganti rasa kasihan.
Pesanan mereka datang. Raya memesan untuk Ranti makanan yang sama dengan punyanya. Raya dan Nana mengamati bagaimana Ranti begitu lahap makan, mendukung pernyataannya yang mengatakan sudah dua hari tidak makan.
"Sekarang, Mbak tanya. Rencana kamu sekarang apa? Paman yang kamu cari juga tidak ketemu. Apa kamu mau kembali ke kampung? kalau iya, biar Mbak belikan tiket pulang," tawar Raya tulus. Ranti menatap dalam wajah cantik Raya. Mengagumi kecantikan wajah dan hati Raya.
Ternyata di dunia yang sangat kejam ini masih ada orang baik seperti Raya. Dia pikir tadinya hidupnya akan berakhir ditangan para preman yang ingin menjual dirinya. Betapa beruntungnya bisa bertemu seseorang sebaik Raya. "Ran?" Suara Raya membuyarkan keheningan dan juga memutus lamunan Ranti.
"Terima kasih banyak, Mbak. Tapi aku malu untuk pulang. Ibuku sudah jual kambing untuk mengongkosi ku ke sini, berharap bisa bekerja dan kemudian hari bisa mengirim uang untuknya dan membantu keperluan sekolah adikku, Mbak. Jadi aku mau cari kerja di sini saja dulu, Mbak. Kalau sudah cukup punya tabungan, baru aku pulang."
"Mau kerja apa aja, Mbak, yang penting halal dan bisa buat makan. Sisanya kalau ada mau saya tabung, biar bisa dikirim ke kampung," sahut Ranti malu-malu.
"Kalau kerja di laundry, mau?"
"Laundry? tempat cuci dan setrika pakaian itu, ya Mbak?"
Raya mengangguk, yang tanpa komando diikuti Nana. "Mau?" ulang Raya.
__ADS_1
"Mau, Mbak. Apa aku bisa diterima? aku kan belum punya pengalaman. Apalagi pakai mesin cuci, aku kurang paham, Mbak. Maklum, aku dari desa terpencil, di sana gak ada mesin cuci," ucapnya tersenyum.
"Nanti aku ajari. Asal kau mau belajar, mau mendengarkan, nanti pasti paham kok," ucap Nana mewakili Raya, karena memang pasti dia yang akan mengajari Ranti.
"Serius, Mbak? aku mau... mau sekali Mbak..."
"Oh, iya. Aku Raya dan ini Nana. Semoga jodoh kita panjang ya."
***
"Dipa... Kau di sini?" pekik Raya sembari tersenyum.
"Kau kaget? senang? rindu ya denganku?" tanya Dipa tersenyum. Wajahnya semakin tampan saja. "Nih, oleh-oleh." Dipa menyerahkan Tote bag pada Raya yang sudah duduk dihadapannya.
"Dih, perasaan deh," jawab Raya tertawa renyah. "Apa ini?" lanjutnya membuka tote bag dan mendapati banyak sekali coklat dan cemilan lain. Raya mengeluarkan satu persatu, hingga sampai di satu kotak berbalut beludru berwarna merah. "Apa ini?"
"Buka dong," ucap Dipa tersenyum kembali. Dia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Raya kala melihat isinya. Dipa memang sengaja memesan benda itu jauh hari, karena dia tahu akan berangkat ke Prancis.
Bola Mata Raya membulat, melihat gelang berbalut berlian pada lingkaran gelang yang membuat tampak sangat mewah. "Ini..."
"Sini aku pakaikan," ucap Dipa tanpa menunggu persetujuan Raya, mengambil gelang itu dan menarik tangan Raya. Merasa tidak pantas, Raya buru-buru menarik kembali tangannya. "Ray.... kenapa?"
"Maaf, Dip, aku gak bisa menerimanya. Ini terlalu mewah untuk sekedar cendramata dari luar negeri. Aku gak layak menerima itu. Terima kasih untuk niat baik mu, tapi maaf, aku gak bisa terima. Aku mohon kau jangan tersinggung ya. Kalau ini," Raya menunjuk coklat dan berbagai jenis makanan ringan itu. "Ini aku terima, tapi kalau itu gak bisa."
__ADS_1
"Kenapa sih, Ray? aku tulus memberikan kamu ini. Kenapa kau menolaknya? apa aku gak boleh memberikan benda berharga untuk seseorang yang aku suka? Ray, aku benar-benar menyukaimu. Aku ingin menikah dengan mu. Aku mohon, buka hatimu untukmu. Please, jangan tutup dirimu," ucap Dipa merasa sedih karena Raya menolak pemberiannya.
"Maafkan aku, Dipa. Aku gak ingin membohongimu. Aku tahu kau pria baik, aku juga merasa nyaman denganmu, tapi untuk saat ini aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun. Aku masih trauma akan kegagalan rumah tanggaku. Dipa, kita baru kenal, sebaiknya jangan gegabah mengambil keputusan. Aku belum tentu sebaik yang ada dalam pikiranmu. Kau masih muda, sukses dan terlebih masih lajang, beda dengan ku yang sudah menjanda. Aku gak pantas untukmu."