
Seminggu telah berlalu sejak Tita meninggalkan rumah Regal. Tidak ada tanda kalau bahaya sedang mengincarnya, sehingga dia merasa tidak perlu pengawalan khusus.
"Kemana kau pergi? Kata pengawalmu kau memintanya untuk pulang. Apa yang kau lakukan, Ta?"
"Aku cuma mau ke toko buku aja, ada buku yang aku perlukan. Sayang, jangan terlalu berlebihan, seminggu sudah aku keluar dari rumah itu, lihat kan gak ada masalah apa-apa. Aku tahu kamu khawatir, tapi please... Aku akan baik-baik saja," ucap Tita terus memilih buku yang ada di rak, satu persatu koridor itu dia lewati.
"Bukan karena seminggu mereka tidak mendekatimu, maka kau anggap sudah aman. Rodriguez itu mafia, hal gila sudah banyak dia lakukan selama ini. Please Ta, pulang ya sayang. Aku takut kau kenapa-napa." Dipa sudah tidak tenang, dia sudah bersiap untuk pulang ke apartemennya.
"Ya udah, aku pulang sekarang." Tita mengalah, dia juga merasa bersalah. Padahal selama ini yang paranoid akan serangan keluarga Samertha justru dirinya, tapi kini dia malah begitu tenang.
Tita keluar dari toko buku terbesar di kota itu. Berjalan ke arah parkiran lalu lurus terus, karena taksi online yang dia pesan hanya bisa mengambil penumpang di seberang, maka Tita harus menyebarang. Saat berjalan di sisi trotoar, sebuah mobil lewat dan dua orang menyergapnya, membawa masuk ke dalam mobil Avanza hitam dan melaju kencang.
Ponselnya bahkan dia buang oleh salah satu pria bertato yang ada di dalam mobil itu.
Kepanikan melanda Tita, meronta terus di dalam mobil hingga salah satu dari penjahat itu memukulnya dari belakang, dan pada akhirnya Tita jatuh pingsan.
***
15 menit Dipa menunggu, Tita tidak kunjung datang. Berulang kali Dipa menghubungi nomor Tita tapi tidak ada jawaban.
"Ini gak benar. Firasat ku ada hal buruk yang pasti sudah terjadi," gumamnya segera pergi menemui Elrick. Selama diperjalanan, Dipa meminta anak buahnya bersiap jika nanti dibutuhkan harus sudah siaga.
Kembali dihubungi nomor Tita, tapi masih tidak bisa dihubungi. Dipa pun tiba di titik terakhir nomor Tita saat masih aktif.
Benar apa yang diucapkan gadis itu, kalau dia baru saja dari toko buku. Lalu kemana gadis itu pergi?
__ADS_1
"Kau harus membantuku. Aku bingung, Tita menghilang," ucap Dipa sangat panik, begitu dia tiba di rumah Nani.
Elrick yang kebetulan baru tiba di rumah merasa gelagapan ditodong bantuan oleh Dipa. "Ada apa? Mengapa kau begitu pucat?"
"Aku kan sudah bilang, Tita menghilang. Aku yakin, ini pasti ulah Samertha! Lihat saja, kalau sampai terjadi hal buruk pada Tita, aku akan menghabisi mereka semua!"
Raya ikut panik, terlebih melihat amarah di wajah Dipa, yang menegaskan kalau pria itu sudah diambang batas kesabarannya.
Dia tahu kalau iparnya itu sangat mencintai Tita, bisa dilihat kala memperkenalkan gadis itu pada mereka beberapa hari lalu. Mengatakan akan segera menikahinya dan itu adalah kali pertama Raya melihat berkas cinta di mata Dipa.
Elrick segera menghubungi anak buahnya. Meminta mereka segera berkumpul di satu titik, ketika mereka sudah bergerak, maka anak buahnya pun harus segera mengikuti agar bertemu di titik koordinat yang sudah dipesankan Elrick.
"Mas, mau langsung pergi? Kamu baru sampai. Belum mandi," ucap Raya yang ikut mengkhawatirkan keselamatan suaminya, tapi demi menjaga perasaan Dipa, Raya mengatakannya dengan berbisik.
"Aku tahu kau khawatir padaku. Aku akan baik-baik saja,Sayang," ucapnya menutup kekhawatiran Raya dengan menarik wanita itu dalam pelukannya. Mencium puncak kepalanya dan terakhir mencium keningnya.
"Papa ada urusan dengan om mu. Sudah mandi sana," jawab Elrick berlalu.
Raya ingin sekali cerita pada Nani, dia tidak bisa menahan dirinya, kalau sedang panik seperti ini. Tapi karena khawatir sakit yang saat ini diderita Nani menjadi kambuh karena kepikiran masalah Dipa, Raya menahan diri.
"Lebih baik aku sholat," gumamnya melangkah ke kamar mandi.
***
Tidak ada gentar sedikitpun di hati Elrick, dia maju melangkah memasuki rumah mewah itu. Dia ingat janjinya pada Intan, ibu Dipa yang selalu mengatakan kalau Dipa adalah adiknya, harus dia jaga. "Tante titip Dipa." Ucapan itu selalu tertanam di hati dan pikirannya. Maka saat Dipa mengalami masalah seperti ini, tentu saja dia tidak bisa tinggal diam.
__ADS_1
Rumah itu sepi, tidak ada tanda-tanda kalau Rodriguez ada di sini. Dari lantai dua, Kanti dengan lagak anggunnya menuruni anak tangga dan datang menyambut mereka dengan wajah tidak senangnya.
"Untuk apa kau datang lagi? Kali ini kau membawa temanmu?"
"Mana Tita?!"
Wajah Kanti tampak terkejut sesaat, lalu kembali biasa. Elrick yang sejak tadi diam sempat menangkap reaksi tidak tahu dari Kanti.
"Tita? Bukan kah gadis ja*lang itu sudah kau ambil?"
"Jaga mulutmu. Kalau kau berani mengucapkan hal buruk tentang Tita di depanku, akan ku gunting lidahmu!" Dipa sudah menggila. Dia tahu kalau Tita disekap oleh mereka. "Sekali lagi aku tanya, mana Tita?"
"Aku gak tahu dimana dia, lagipula..."
Dipa tidak lagi mau mendengar kelanjutan kalimat Kanti. Dia sudah melangkah naik ke atas menggeledah setiap ruangan di rumah itu.
Elrick pun segera mengerahkan anggotanya ikut mencari. Dia sendiri menunggu di ruang tamu, berjaga kala ada serangan dari luar yang tiba-tiba datang.
Dugaannya tepat, tidak lama Rodriguez datang bersama para ajudannya. "Tuan Diraja, suatu kehormatan anda datang ke rumah saya. Bahkan anda tidak mengabari saya dulu jika ingin bertamu," ucap Rodriguez yang mengira kalau kedatangan Elrick adalah untuk menemuinya.
"Lama tidak bertemu, tuan Rodriguez," ucap Elrick masih duduk dengan santai, menumpukan satu kaki ke kakinya yang lain.
"Kanti, mengapa kau diam saja. Sajikan minuman untuk menyambut tamu spesial kita," lanjut Rodriguez yang menatap Kanti dengan heran. Istrinya tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi terlihat bingung cara mengatakannya.
"Tidak perlu. Saya datang ke sini, menemani saudara saya yang datang untuk mencari calon istrinya yang mungkin saja disekap di rumah ini," ucapnya santai. Dia sudah mendalami siapa musuh Dipa ini, mencari informasi hingga sedetail mungkin. Berharap bisa mendapatkan kelemahan keluarga Samertha yang mampu mematahkan langkah mereka untuk menyakiti Dipa atau kelurga Diraja nantinya.
__ADS_1
Elrick memang seperti itu, berpikir dua kali sebelum mengeksekusi. Jadi saat bertemu musuh, dia sudah pegang kendali, tidak perlu takut lagi karena sudah ada kartu As di tangan.
"Calon istri? Saudaramu?" Tanya Rodriguez tidak mengerti, tapi setelah melihat kedatangan Dipa dan anak buahnya dari dalam, barulah mafia itu paham. Wajahnya menegang, tidak menyangka urusannya akan semakin panjang seperti ini.