Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 60


__ADS_3

Malam itu, dibalut keheningan di kamar itu, Raya sama sekali tidak bisa tidur, pikirannya terus menjelajah, menebak dimana saat ini Elrick. Bertanya-tanya apakah pria itu baik-baik saja.


Satu hal yang Raya yakin, Elrick saat ini pasti dalam keadaan terpukul, ucapan Dipa pasti melukai hatinya yang paling dalam.


Sudah pukul 10 Malam, Raya ingin sekali menemui Elrick. Dua kali dalam masalah, pria itu selalu datang menolongnya, mengapa dia tidak ada saat pria itu dalam masalah?


"Oma, sudah tidur? Mmm... aku izin pulang dulu, ya Oma?"


Nani yang juga masih terjaga berbalik menghadap Raya yang kini sudah duduk bersila. "Mengapa kau pulang?"


"Aku... Aku ingin melihat keadaan Nana dan juga Ranti," ucap Raya menggigit bibir. Wajah gadis polos itu selalu tidak meyakinkan ketika berbohong, hingga Oma bisa menebak kalau Raya memang punya alasan untuk pulang hanya saja tidak enak untuk mengatakan alasan yang sebenarnya. Nani tebak, Raya mungkin ingin ruang sendiri saat ini karena begitu shock dengan perkelahian kedua cucunya.


"Biarkan Parman yang mengantarmu pulang," ucap Oma yang sudah duduk dihadapan Raya, membelai lembut pipi gadis itu.


***


"Sudah sampai, Mbak." Lamunan Raya terputus oleh suara Parman. Raya mengangkat wajahnya, keningnya tampak berkerut menimbang sesuatu.


"Pak, saya boleh minta tolong, gak? Saya mau ke rumah teman, boleh antarkan saya, Pak?" tanyanya ragu. Dia takut kalau pak Parman marah karena sudah direpotkan, dia juga takut kalau Parman akan memberitahukan pada Nani kemana tujuan Raya. Tapi dia tidak punya pilihan lain, di tahu nama tempat itu, tapi tidak berani pergi sendiri dengan ojek online.


"Tolong apa, Mbak? Bilang saja. Saya akan dengan senang hati membantu."


"Saya... boleh minta tolong bapak antarkan saja ke daerah Jakarta Selatan?"


Kekhawatiran Raya ternyata tidak beralasan, karena tanpa bertanya ini dan itu, Parman langsung mengangguk dan segera membawa Raya ke tempat yang dia tuju.

__ADS_1


Raya masih berdiri di pinggir jalan. Masih mengamati mobil yang dibawa Parman melaju hingga menghilang di tengah malam. Dia sengaja meminta turun di sana, dengan tujuan agar pak Parman tidak tahu tempat tujuan Raya yang sebenarnya. Dari sana, Raya akan jalan 20 menit menuju parkiran bangunan tinggi itu. Sialnya saat menuju apartemen Elrick, hujan tiba-tiba turun membasahi bumi. Seluruh tubuh Raya pun ikut basah juga.


"Maaf, Mbak mau ketemu siapa?" tanya satpam yang berjaga di post satpam.


"Saya... saya mau ketemu sama Mas Elrick," ucapnya menggigil kedinginan.


Tentu saja satpam itu tahu siapa yang dimaksud Raya. Hanya ada satu Elrick di Apartemen itu. "Mbak, mau ngapain cari pak Elrick malam-malam begini? Lagi pula Pak Elrick gak ada di sini, beliau belum pulang," terang si satpam berkumis.


"Belum pulang?" Raya makin merasa khawatir akan keadaan Elrick. Apa yang harus dia lakukan? mau pulang tidak punya ongkos, tapi kalau itu, bisa saja dia bayar di rumah. Tapi apa iya dia pulang saja? Kenapa hatinya belum merasa tenang kalau belum memastikan Elrick baik-baik saja?


"Pak, Saya boleh tunggu Mas Elrick di sini?"


"Takutnya, Pak Elrick gak pulang, Mbak. Biasanya beliau jarang juga nginap di sini," terang pria itu masih menatap ragu pada Raya. Sebenarnya siapa dia dan apa kepentingan yang sangat mendesak hingga harus bertemu Elrick malam ini juga.


"Gak papa deh, Pak. Saya tunggu satu jam saja. Kalau dia belum pulang, nanti saya balik."


***


Tidak sampai satu jam, mobil pria yang di tunggu Raya tiba. Mang Ujang, satpam apartemen itu buru-buru mendatangi Elrick yang sudah memarkirkan mobilnya.


"Ada apa?" tanya Elrick memicingkan mata, bertanya dengan gaya arogannya pada mang Ujang.


"Anu, Pak. Itu adalah yang cari bapak. Mbak-mbak."


Wajah Elrick terlihat tidak peduli. Dia menebak pasti Meyra. Gadis itu memang sudah tidak bisa masuk lagi ke ruangannya karena password nya sudah diganti Elrick.

__ADS_1


"Suruh aja pulang, Pak." Jawabnya melangkah menuju lobi apartemen.


"Oh, baik Pak," Sahutnya melangkah pergi. Elrick masih sempat mendengar cicitan mang ujang, "Kasihan si Mbak, mana ketiduran lagi. Baju sampe kering di badan tapi pak Elrick malah gak mau menemui."


Elrick tertegun. Sesaat menimbang. Kalau itu Meyra, gadis itu tidak mungkin bersedia menunggunya pulang, hingga ketiduran di post satpam. Kedua, kalau itu Meyra, dia tahu harus kemana mencari Elrick kalau tidak menemukan di apartemen.


Sepulang dari rumah Oma yang penuh dengan amarah, Elrick sudah bersiap tancap gas, namun, saat Meyra menyusul dan bergegas ingin masuk ke mobil, Elrick menghardik, dan memintanya untuk pulang sendiri. Dia memang tidak ingin diganggu siapa pun, dan Meyra cukup mengenal watak Elrick hingga tidak ingin memaksa untuk mengikuti pria itu saat dalam masalah besar.


Biasanya, setiap Elrick punya masalah besar, pria itu akan melampiaskan pada Meyra, bercinta dengan kasar hingga subuh dan amarahnya reda. Bagi Meyra yang hyper****, hal tersebut justru sangat dia inginkan, tapi konsekuensinya, tubuh Meyra akan lebam karena cengkeraman yang sangat kuat diberikan Elrick.


Jika memang Elrick menolak dirinya, maka Meyra dengan bijak memilih mundur dan menghilang sementara waktu. Dia juga shock dengan kebenaran yang dia dapatkan. Tidak menyangka konflik di keluarga Diraja akan sekompleks itu. Makanya Meyra memutuskan untuk party dengan teman-temannya saja ketimbang menemani Elrick yang sedang dilanda amarah.


Penuh rasa penasaran, Elrick mengikuti langkah mang Ujang ke post dan dugaannya dipertengahan jalan tadi benar, wanita itu Raya.


"Udah berapa lama dia sini, Pak?"


"Udah hampir satu jam, Pak. Tadi datang pas hujan turun, Mbak nya sampai sini dengan basah kuyup."


"Dasar bodoh!" Cicit Elrick mendengus kasar. Menatap wajah Raya yang tertidur, dengan kepala disandarkan pada dinding. Hati Elrick yang sejak tadi panas, kini mulai sejuk setelah melihat wajah teduh gadis itu.


Tanpa memperdulikan pandangan Mang Ujang yang penuh tanya, Elrick jongkok di depan Raya. Mengamati wajah cantik itu, lalu sebaris senyum samar melengkung di bibirnya.


"Hey,... bangun," ucapnya sembari menepuk pelan pipi Raya yang terasa dingin di tangan Elrick. Masih belum bangun, Raya sudah jatuh ke dalam mimpi. Elrick mengulang sekali lagi, hingga Raya pun terbangun.


"Mas Elrick, sudah pulang? Aku nungguin loh. Dari mana aja?" celotehnya dengan mata masih mengantuk dan juga menguap hingga dua kali. Elrick menyentuh baju Raya, lembab.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Ikut aku!"


__ADS_2