Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 34


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, libur sudah usai. Semua kembali ke aktivitasnya. Sidney dan Scot kembali ke sekolah dengan gelar kakak kelas. Beruntung, mereka masih bisa bersama, satu kelas bahkan kini memilih satu bangku.


Paris pun sudah mulai mengikuti perkuliahannya di Britania raya. Musim ini akan sangat lama bagi mereka.


Sidney bersama keluarga besar Diraja ramai-ramai mengantar Paris ke London. Semua bergembira, tertawa dan juga penuh kenangan indah, sampai tiba masa perpisahan. Sidney dan keluarga Diraja harus kembali ke tanah air.


"Jangan sedih, aku akan pulang liburan nanti," bisik Paris yang mengusap air mata Sidney yang lagi-lagi turun. Raya beserta suami dan juga anak bungsunya menjauh dari mereka, guna memberi ruang pada mereka.


Tidaklah gampang bagi siapa saja menjalani hubungan jarak jauh, terlebih beda benua, tapi tidak ada cinta yang kuat tanpa ada cobaan dan juga perjuangan, bukan?


"Aku akan sangat merindukanmu. Baik-baik di sini, ya?" Bisik Sidney karena suaranya tidak bisa keluar.


Waktu berjalan, hubungan mereka tetap hangat walau hanya lewat telepon, dan video call. Setiap video call, Paris akan memutus hubungan itu karena tidak tahan melihat Sidney yang menangis karena merindukannya.


"Aku mohon, Sayang, jangan menangis. Atau aku akan tinggalkan ini semua, dan memilih melanjutkannya di sana," ucap Paris benar-benar tidak tahan melihat Sidney menangis.


Sidney tidak akan mengatakan apapun, hanya sibuk menghapus air matanya sembari mengangguk.


***


Ada yang disebut dengan rasa enggan, segan setelah mulai beranjak dewasa. Sensitif yang dirasakan Sidney juga mulai peka. Dia sadar kalau dia adalah kekasih Paris, tapi masih orang luar, walau itu hanya anggapannya sendiri, Sidney menolak ajakan Raya untuk ikut mengunjungi Paris ke London pada saat tahun ke dua. Sidney yang sudah duduk di kelas tiga mengatakan alasan ingin fokus pada try out yang dia ikuti.


"Maksud lo apa sih? Emang lo aja yang mau ujian? Lo aja yang pengen lulus dan bisa kuliah di tempat yang lo impikan? Gue juga, Sid. Tapi masih bisa dong liburan, dua Minggu ini. Lagi pula ini masa tenang kan untuk kita sebelum ujian nasional?" Scot tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu.


Sidney nya masih sama seperti yang dulu padanya, mereka masih saling sayang dan bermain, jalan bersama, tapi sebatas itu. Setelah kelas tiga, Sidney bahkan tidak menempati kamarnya di rumah Diraja lagi.


"Sorry, Scot. Papa juga mau pulang ke sini katanya. Gak mungkin kami gak ketemu. Sampaikan salam gue sama Paris."


"Bodo! Lo bukan bestie gue lagi!"

__ADS_1


***


Sidney bisa menebak kalau Paris akan marah padanya. Tapi menurut Sidney untuk saat ini, ini lah yang terbaik untuknya.


Dia tidak bisa selamanya bergantung pada keluarga Diraja.


"Hei, apa maksud semua ini? Kenapa kamu gak datang? Kamu gak kangen padaku?" Terdengar suara Paris begitu memburu, dia ingin mendengar penjelasan Sidney saat itu juga.


Satu jam menjelaskan, tetap saja Paris tidak menerima alasannya. Sambungan di telepon diputus sepihak. Sidney hanya diam mengamati ponselnya, lalu kembali mengerjakan bank soal yang ada di hadapannya.


Hanya dia, dalam kamar sepi tanpa siapapun di rumah ini. Bi Inem juga saat ini izin pulang ke rumah anaknya. Tinggallah Sidney sendiri dengan kekosongan dan hampa di hatinya.


Dipandanginya foto ibunya, "Ma, temani aku, ya. Aku kesepian dan sendirian..."


***


Ujian nasional sudah selesai. Sidney dan Scot lulus dengan nilai yang memuaskan. Liburan tiba, dan karena nilai keduanya sangat bagus, Raya dan Elrick memberikan kado bagi mereka. Untuk yang pertama, Scot membuka hadiahnya. Dua tiket perjalanan ke Bali. "Ini serius, Ma? Pa? ke Bali?" ucapnya semringah. "Kita ke Bali, Sid. Wwwooow..." pekiknya gembira.


"Sekarang buka kado, Lo."


Penuh semangat Sidney membuka dan satu tiket pulang pergi ke London. Semua orang diam, menunggu reaksi Sidney. "Ini..." Sidney mengangkat kepalanya, menatap Raya dan Elrick bergantian. "Om, Tante..."


Raya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Tubuh Sidney membatu. Gemetar dan yang bisa dia lakukan hanya menangis dan menghambur memeluk Raya.


"Jadi kalau lo pergi ke London, gue pergi dengan siapa?"


"Elrick mengedipkan sebelah matanya pada Scot, yang tersenyum mengangguk, paham maksud ayahnya. "Gladys, kita liburan..." ucapnya gembira.


***

__ADS_1


Kedatangan Sidney sama sekali tidak diketahui oleh Paris. Ini bentuk surprise dari Sidney yang disponsori oleh keluarganya.


Sampai di London, seseorang yang sudah diatur Elrick membawanya ke tempat Paris. Sidney tiba di sana saat langit sudah gelap.


Besok adalah hari ulang tahun Paris dan dia sudah menyiapkan hadiah untuk pria itu. "Terima kasih, Pak," ucapnya pada orang suruhan Elrick yang memang warga negara Indonesia.


Jantung Sidney berdebar kencang. Sudah setahun mereka tidak bertemu, rasa rindunya sudah menggunung. Tiba di depan pintu apartemen Paris, Sidney menarik napas, dan mencoba menenangkan debar jantungnya sesaat sebelum menekan bel.


Dua kali dia menekan, tapi belum dibuka. Sidney bertanya apa mungkin pria itu belum pulang. Tapi saat bunyi bel ketiga kalinya dia tekan, pintu terbuka.


Kini di hadapan Sidney muncul gadis cantik bak model yang menatapnya heran, karena merasa tidak mengenal atau mungkin justru sangat mengenalnya. "Maaf, apa ini apartemen Paris?" tanyanya takut salah kamar. Dia juga tidak menggunakan bahasa Inggris karena gadis yang berdiri di depannya ini jelas adalah warga Indonesia.


"Iya, benar. Kamu..."


"Oh, Aku Sidney..."


Gadis ingin membuka mulut, membalas ucapan Sidney, tapi suara pria dari belakang membuatnya diam.


"Siapa, Han?"


"Hun? Honey?" batin Sidney menimpali dalam hati. Dia jelas kenal suara itu. Tidak berapa lama, pemilik suara itu muncul di belakang gadis itu dengan rambut basah dan hanya balutan handuk di pinggulnya.


Tubuh Sidney menegang, sekuat hati menenangkan hatinya. Masih berpikir positif dan menjaga agar air matanya tidak runtuh.


"Sid... Sidney...." pekik Paris menghambur menyambut Sidney, bahkan menggendong gadis itu bak anak kecil, membawa masuk setelah gadis yang di panggil 'han' tadi menyingkir.


"Sayang, kau datang? Apa aku mimpi? Ya Tuhan, aku senang sekali kamu datang ke sini. Ini seperti mimpi, aku bahagia sekali..." teriaknya memeluk Sidney kembali seraya mencium puncak kepalanya.


Sidney memejamkan mata menyesap wangi tubuh pria yang sangat dia sayangi ini. Melihat Paris menyambut kedatangannya, dia percaya, gadis itu bukan siapa-siapa.

__ADS_1


"Ehem..." Deheman gadis itu mengingatkan mereka bahwa di ruangan itu bukan hanya mereka.


"Eh... Sid, kenalkan ini Hanna, teman kuliahku. Han, ini Sidney, kekasihku dan gadis yang paling berarti dalam hidupku."


__ADS_2