
Sidney tidak menduga kalau Agnes yang memang kebetulan ingin ke toilet dan mendapati dirinya sedang dikeroyok justru membantunya. Dengan bantuan Agnes dan Mika yang melepas sepatunya untuk menumpuk dua siswi yang memegang tangan Sidney, membuatnya kini bisa lepas.
Kalau satu lawan satu tidak masalah bagi Sidney, karena dia juga pernah ikut belajar bela diri walau masih tingkat dasar, buktinya saja untuk keluar dari toilet, Sidney sudah merusak pintunya dengan menendang keras hingga engselnya rusak.
Setelah bebas bergerak, Sidney tidak menyia-nyiakan pertolongan Agnes. Satu persatu anak yang memeganginya tadi dia hajar. Bahkan tidak segan-segan, Sidney menampar wajah mereka.
Agnes yang sedikit terkejut karena baru tahu Sidney bisa bela diri, hanya berdiri di sudut ruang kamar mandi. "Nes, tutup pintunya! Jangan biarkan ada orang masuk," teriak Sidney marah. Kemejanya sudah terbuka karena kancingnya sudah putus dan berserakan di lantai.
Agnes mengikuti ucapan Sidney, menutup akses masuk ke kamar mandi itu. "Lo tadi yang mau gunting rok gue, kan?" umpat Sidney menjambak rambut gadis itu hingga merintih kesakitan.
"Ampun, Sid. Sakit. Rambut bagus gue jadi rusak..." rengeknya memegangi tangan Sidney yang mencengkram rambutnya.
Sialnya semua orang fokus pada gadis yang sedang dihajar Sidney hingga tidak melihat Cindy yang tadi masih memegang gunting berlari ke arah Sidney, menyayat tangan gadis itu hingga darah segar berceceran.
Sidney melepas rambut tawanannya karena sakit yang dia rasakan. "Sid, lo gak papa?" tanya Agnes mendekat. Saat itu lah Cindy mengambil kesempatan untuk kabur dari sana diikuti kelima teman-temannya.
"Kita ke UKS," ajak Agnes memapahnya.
"Baju gue," sahut Sidney pelan. Dia tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti itu.
"Gimana nih, darah lo makin banyak lagi," timpal Mika.
"Apa gue buka baju aja, ya?" tawar Agnes.
"Maksud Lo?" Mika mengerutkan kening.
"Iya, baju gue biar dipake sama Sidney, gue pake b*ra doang. Siapa tahu gue bisa jadi headline news di sekolah, kan keren..." Agnes tersenyum sembari menaikkan alisnya beberapa kali ke arah Mika.
"Gila lo!" Umpat Mika.
"Maaf pemirsa, ini saya gimana? malah ngobrol," ucap Sidney yang mulai merasa perih. Kepalanya juga mulai oyong karena sempat dipukul teman Cindy.
"Oh, iya lupa. Gini aja deh, gue papah Lo, satu tangan lo pegang kemeja lo biar gak lepas. Mik, lo cari Scot, bilang pinjami Hoodie nya."
Mika mengangguk lalu segera berlalu keluar, sementara Sidney dan Agnes berjalan dengan pelan, menyelusuri koridor sepi yang menuju UKS.
Dari jauh, Paris yang sejak tadi dipanggil guru untuk diskusi persiapan dirinya yang terpilih menjadi utusan sekolah untuk mengikuti olimpiade sains, melihat sosok mirip Sidney yang dipapah oleh Agnes.
__ADS_1
Paris ingat kalau Agnes sempat gak suka pada Sidney, jadi saat melihat langkah Sidney yang tertatih, dia pikir Agnes sedang berbuat jahat pada gadis itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Paris berlari dengan cepat melintasi lapangan yang saat itu banyak siswa sedang olahraga.
"Ris, gabung yuk," tawar Steve sang kapten basket sekolah.
Paris yang tidak peduli hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus berlari ke arah Sidney yang sudah hampir sampai di UKS.
"Kamu kenapa?" Tanya Paris panik, tidak jadi bersikap kasar pada Agnes yang ternyata justru membantu Sidney.
"Dia dihajar sama penggemar kakak. Kemana aja sih, gak bisa jaga pacaran sendiri," ucap Agnes menggantikan Sidney protes pada Paris.
"Sayang, kamu kenapa? Astaga kenapa tanganmu?" Paris mendorong Agnes agar menyerahkan Sidney padanya.
"Heh, emang gue karung didorong-dorong?!" seru Agnes sewot.
Tanpa peduli pada protes Agnes, Paris menggendong Sidney yang diam, memegangi kemejanya di dada. "Dokter... tolongin pacaran gue!"
Wajah Sidney memerah kala Agnes mendelik padanya karena ucapan panik Paris.
"Lo tadi nolongin gue, artinya kita udah temenan, kan? Please deh, masih banyak cowok lebih cakep dari Paris. Masa iya, persahabatan kita hancur karena dia?" ucap Sidney mencubit lengan Agnes yang berdiri di dekatnya.
Dokter sekolah sudah menangani luka Sidney. Beruntung luka sayatan itu tidak terlalu dalam dan panjang, hingga tidak perlu dijahit.
"Siapa yang melakukan ini sama kamu?" tanya Paris dengan suara yang jelas sekali sedang menahan amarah.
Paris baru sadar kalau kemeja Sidney tidak berkancing lagi hingga tangannya harus tetap berada di dada agar tidak terbuka dan memperlihatkan dadanya.
Paris buru-buru membuka Hoodie nya dan memakaikan pada Sidney, menggulung tangannya hingga lukanya tidak tergesek.
"Katakan siapa yang buat ini padamu?"
"Hah? Gak ada. Aku cuma jatuh tadi," sahut Sidney tidak ingin memberitahukan pada Paris karena dia mengenal jelas bagaimana tempramen pria itu.
"Sidney, jangan bohong, bilang sama ku."
"Beneran, iya kan, Nes?"
__ADS_1
"Dih, apaan? Jangan percaya, dia dihajar Cindy and the gang, anak XI, itu si cheerleader," jawab Agnes tanpa beban. Mana mungkin dia mau melindungi Cindy dan gengnya.
"Paris, jangan berkelahi. Kita akan lapor pada kepala sekolah biar beliau yang mengintrogasi pelakunya," saran dokter di UKS itu.
"Gak bisa. Dia berani nyentuh Sidney, berarti dia mau cari masalah sama gue!"
"Lagian, kalian juga sih. Ngapain pelukan di parkiran, jadi berita pagi ini, terang aja para penggemar kakak gak terima."
"Berita apa?"
"Nih!" Agnes masih menyimpan brosur di kantongnya. Paris merebutnya lalu meremas kertas itu. Dia tahu pada siapa dia harus minta pertanggung jawaban.
"Sudah, kalian jangan ribut lagi. Kasihan Sidney, lebih baik kalian keluar, biar Sidney bisa istirahat dulu."
"Sayang, kamu istirahat dulu, nanti aku kemari lagi."
"Tunggu." Paris menghentikan langkahnya. "Kamu jangan cari Cindy, jangan buat keributan ya, Please...," ucap Sidney memohon.
Paris hanya mengangguk, tersenyum pada Sidney untuk membuatnya tenang, lalu pergi dengan membawa amarahnya.
"Kamu juga Agnes, kembali ke kelas."
"Iya, Pak."
***
"Sid, bangun lo, Pacar lo ngamuk kayak singa gila," ucap Agnes yang mendatangi Sidney kembali di UKS. Karena pengaruh obat atau mungkin karena memang kepalanya sakit, Sidney sempat tertidur.
"Hah? Dia kenapa?" Sidney bangkit dari tidurnya, duduk untuk menyimak dengan jelas berita dari Agnes.
"Kepala sekolah lagi ribut sama Paris karena sudah menolong Cindy dan kelima temannya itu, yang lagi dihajar Paris."
"Gimana? gue gak paham."
"Lakik Lo ngamuk, kasih pelajaran sama Cindy dan antek-anteknya di lapangan belakang, dekat perpustakaan. Rambut mereka bahkan digunting, dan tangannya direndam sama air cabe yang dia ambil dari kulkas bi Leha, yang punya kantin di luar sekolah. Mereka disiksa habis-habisan. Sadis lakik Lo!"
"Astaga... katanya tadi gak bakal buat keributan."
__ADS_1
"Lo gak kenal lakik Lo? Mana ada yang selamat kalau ada yang berani nyakitin lo."