
Gladys siuman. Begitu bangun dia langsung ketakutan melihat wajah ayahnya, tapi Scot cepat tanggap, langsung menggenggam tangan Gladys. "Jangan takut, aku ada disini. Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sedang hamil?" ucap Scot membelai rambut Gladys.
Elrick yang berdiri di sudut ruangan melihat perubahan Scot yang terlihat lebih dewasa. Mungkin dengan menikahkan mereka secepatnya adalah solusinya.
"Gladys, katakan pada papa, apa pria ini mengancammu untuk menggugurkan kandunganmu?" Switno tampaknya masih tidak percaya pada pernyataan Scot, dan hal itu membuat Elrick merasa tersinggung.
"Gak, Papa. Aku yang memutuskan menggugurkan anak ini karena gak mau papa dan mama malu serta kecewa padaku."
Keterangan Gladys menjadi tamparan bagi Switno. Sejak tadi dia menyalahkan anak orang ternyata anaknya pun sama buruknya.
"Sudahlah, jangan terus menekannya. Pak, Bu, bagaimana kalau mereka kita nikahkan saja, toh sudah selesai kuliahnya," ujar ibu Gladys menengahi. Dia tidak ingin masalah putrinya nya ini membuat suaminya harus masuk rumah sakit lagi, atau paling buruk harus dilarikan ke Singapura.
Raya mengangguk setuju. Apalagi kandungan Gladys saat ini lemah, jangan ditambah lagi beban pikirannya. Bagaimanapun itu cucu mereka, kasihan anaknya gak berdosa.
"Mas... kita nikahkan saja mereka, ya."
Elrick mengangguk lemah. Lalu ibu Gladys mengajak mereka membicarakan hari dan tanggal pernikahan.
Sidney di sudut ruangan hanya bisa diam menunduk. Ada sedih dan juga kecewa, karena pernikahannya ditunda. Seandainya ayahnya adalah orang yang benar, mungkin masih bisa masuk omongannya pada keluarga Diraja, tapi karena kini Sandi bukan siapa-siapa, tidak penting menjaga perasaan ayahnya.
Sidney benci dirinya yang berpikiran begitu. Dia buka tidak menghormati Raya dan Elrick, tapi jujur jika orang tuanya gak dianggap, anak mana yang bisa terima? Seburuk-buruknya Sandi, dia tetap ayahnya.
Tanpa dilihat kedua keluarga itu, Sidney diam-diam keluar, menuju taman. Larut dalam pikirannya, terbang jauh pada kenangan ibunya. Mungkin seandainya ibu ada, mungkin dia juga tidak akan terima keluarga mereka tidak dianggap begini.
Katakanlah Sandi ayah yang brengsek, tapi jika mereka niat menyanding Sidney jadi mantu, harusnya mereka mendatangi Sandi, mengadakan proses lamaran, bukan hanya mencomot dirinya bak anak kucing di tengah jalan yang sudah lama dipelihara.
Air mata Sidney turun. Memandang hamparan bunga di taman. Kalau saja dia egois, dan mementingkan harga dirinya, mungkin bisa jadi dia membatalkan pernikahan ini sekaligus.
"Kau di sini? Aku cariin dari tadi. Permata hatiku gak boleh jauh dariku." Paris duduk di sampingnya lalu memeluk Sidney.
__ADS_1
Dia tahu gadis itu menangis, dia juga bisa menebak alasannya. Penuh kasih dia menarik tubuh Sidney dan mengecup puncak kepalanya.
"Kau sangat berarti. Lebih dari apapun, tidak hanya bagiku, juga bagi papa dan mama. Jangan pernah berpikir kalau kau tidak dianggap."
Sidney menengadah menatap Paris, tidak mengerti maksud ucapan pria itu. Hanya sesimpel itu bagi Paris memahami Sidney. Terlalu mengenal watak gadis itu. Malam saat mereka bicara penundaan demi Scot dan Gladys, Paris bisa melihat raut kecewa di wajah Sidney.
Tidak lama, ayahnya memanggilnya. Menanyakan pendapatnya mengenai pernikahan Scot. Paris mengatakan apa yang perlu dia katakan.
"Tadi mama papa dan orang tua Gladys udah bahas masalah rencana pernikahan Scot, maka..."
"Iya, aku tahu. Pernikahan kita ditunda dulu, kan?" ucapnya dengan wajah tidak senang.
Paris tersenyum. Benar tebakannya, Sidney merasa tersinggung, dan itu hal yang wajar. Padahal baju pengantin juga sudah dipesan dan saat ini sedang dibuat oleh desainer ternama. Untuk menyiapkan mental seseorang untuk berani melangkah ke jenjang pernikahan, bukan hal mudah. Banyak pertimbangan untuk melepas masa lajang, dan setelah memantapkan hati, justru sekarang ditunda. Lagi pula dulu Sidney sempat menolak untuk mempercepat pernikahan mereka, tapi Raya merengek dan memohon untuk segera menikah setelah wisuda.
Kini setelah Sidney setuju, ada aja hambatan. Sidney sudah pasrah. Biarlah kalau takdirnya berjodoh dengan Paris, maka mereka akan bersama.
"Duh, calon ibu dari anak-anakku kok jutek amat, ya? Bukan begitu, mama dan papa mau ketemu kamu, nyariin buat ngajak ngobrol serius."
"Udah tahu, mereka mau bilang pernikahan kita ditunda, kan? iya gak papa. Kamu aja yang mewakili. Aku mau duduk di sini dulu. Udaranya segar, banyak bunga yang indah."
Sidney terus saja bicara untuk menutupi kesesakan dalam hatinya. Dia ingin menangis lagi tapi malu ada Paris di dekatnya, menatap lekat wajahnya.
Bisa gak pria ini pergi dulu dari sini? Kasih ruang untuknya?
"Papa dan mama mau meminta persetujuan mu, kesediaanmu, untuk mempercepat pernikahan kita jadi dua Minggu lagi?"
Jantung Sidney melompat, perasaannya kini gak karuan. Menatap mata pria itu, ini bukan bercanda, kan?
"Iya sayang, karena pernikahan Scot dan Gladys gak bisa ditunda lebih lama, maka papa memutuskan untuk mempercepat pernikahan kita."
__ADS_1
"Om Elrick bilang begitu?"
Paris mengangguk. Dia bisa melihat mata Sidney bicara, menyampaikan rasa gembira dan terharunya pada papanya.
Di ruangan itu, orang tua Gladys menuntut untuk secepatnya menikahkan Scot dan putri mereka, dalam bulan ini, paling lama bulan depan. Raya sudah menjelaskan kalau Paris akan menikah bulan depan, dan meminta Scot menyusul bulan berikutnya. Toh, janin dalam kandungan Gladys masih berusia dua bulan, masih kecil dan belum kelihatan, menunda hingga satu bulan lagi, mungkin tidak jadi masalah.
Tapi ayah Gladys tidak setuju dan memaksa untuk segera melangsungkan pernikahan, kalau tidak mereka akan menarik putri mereka dan membesarkan anak Gladys tanpa andil keluarga Diraja.
Raya yang dilema, memutuskan untuk menerima syarat dari mereka. Dia bukan tidak peduli dengan perasaan Sidney, tapi ini ada nasib bayi yang dipertaruhkan.
"Baik, kalau begitu, mereka menikah dua Minggu lagi," putus Switno.
Elrick yang sejak tadi diam, angkat bicara. dia ingat pembicaraannya dengan Paris tadi malam. "Apakah kalau pernikahan kalian ditunda, Sidney akan terima?"
"Sidney punya hati seluas samudera, dia pasti akan menerimanya, tapi tidak bisa dipungkiri, keputusan ini akan membawa kecewa dalam hatinya."
Mengingat hal itulah, Elrick memutuskan di depan keluarga Switno. "Yang akan menikah dua Minggu lagi, bukan Scot dan Gladys, tapi anak sulung kami, Paris dan Sidney."
Semua mata melihat ke arah Elrick. Pria itu hanya sesekali buka suara tapi tidak akan ada yang bisa menggugat omongannya, kecuali pawangnya, Raya.
Seperti keputusan Elrick sebelumnya, kali ini Raya pun setuju dengan suaminya. "Selama abangnya belum menikah, Scot tidak akan menikah. Masalah anak yang saat ini dikandung Gladys, jangan jadikan hal itu ancaman bagi keluarga kami, pak Switno. Kalau Anda ingin memisahkan ayah dari anaknya, silakan. Hak Anda pada putrimu, tapi ingat satu hal, setelah anak itu lahir, kami akan memperjuangkan ada nama Scot tertera dalam akte lahirnya. Anda boleh memilih, membiarkan Gladys hamil tanpa suami dan menjadi cibiran orang, atau menyetujui permintaan kami, menikahkan mereka bukan depan!"
*
*
*
Mana mungkin kan, Elrick mau menyakiti hati Sidney 😁
__ADS_1
Saweeeeeeeran jangan lupa🤭🤭 Eh, tapi jangan lupa mampir ke novel keren ini ya kakak-kakak semua🙏