Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 41


__ADS_3

"Udah pulang, Mas? kok cepat amat? gak kerja? ada apa, Mas?" Rangkaian pertanyaan Lani tidak satupun yang mendapat jawaban dari Dika. Pria itu masuk, mengeloyor ke dalam kamar.


"Mas, kalau istri nanya itu dijawab. Apa sih maksudnya ini? kok aku didiami?" Lani mengekori hingga masuk ke dalam kamar. Berdiri di depan Dika yang saat ini duduk ditepi ranjang sembari membuka sepatunya.


"Mas!"


"Cukup, Lani! Tidak bisakah kau diam walau hanya sebentar. Aku lagi pusing! Stop introgasi mu yang tidak penting itu. Aku lelah!" Bentak Dika membuka dasinya dan melempar ke sembarang tempat, lalu telungkup di ranjang.


Lani terdiam. Dia meremas tangannya penuh geram. Suaminya kini berubah. Dia pikir setelah menjadi satu-satunya istri Dika, dia akan bahagia, dimanja dan diperhatikan oleh suaminya.


"Ini pasti karena nenek tua itu! Dia pasti menghasut mas Dika untuk membenciku! Jangan-jangan sebentar lagi, dia akan meminta anaknya untuk menceraikan ku!" umpatnya penuh amarah.


Tidak ingin ambil pusing, Lani memutuskan untuk pergi saya dari sana. Mal tempatnya biasa menghabiskan waktu menjadi pilihannya. "Lebih baik aku shopping, senang-senang dari pada pusing mikirin dan anak itu!"


Tempat pertama yang dia tuju adalah salon kecantikan tempatnya menghabiskan waktu dan tentu saja uang Dika dalam jumlah yang banyak. Usahanya tidak sia-sia. Kini penampilannya begitu modis dan terawat. Memakai pakaian bermerk yang dulu hanya ada dalam khayalannya.


"Eh, Mbak Lani. Silakan, Mbak. Mau perawatan apa kali ini?" sapa pegawai Salon ramah. Lani bahkan sudah menjadi member di salon mewah itu.


"Biasa. Mau treatment seluruh tubuh," ucap Lani dengan gerakan lues dan sombongnya. Memandang rendah pada beberapa pelanggan yang sedang waiting list. Memang di salon tersebut, bagi member salon, tidak perlu mengantri.


Lani langsung dibawa ke dalam ruangan VIP. hanya ada seorang pelanggan di sana yang tengah di massage. Lani sudah berganti pakaian, dan mulai rebahan di kasur.


"Ketemu lagi kita, Mbak," Sapa Lani tersenyum pada wanita yang ada disebelah ranjangnya.


"Oh, kamu. Baru sampai?" sapa wanita itu dengan sikap tidak kalah angkuhnya.


Kedua wanita itu bertemu beberapa kali. Walau tidak disambut ramah oleh wanita itu, tapi Lani tetap ingin berbicara dan mendekatkan diri padanya. Alasannya simpel, dia ingin masuk ke dalam circle wanita itu yang diketahui Lani adalah seorang model.


"Iya, nih Mbak Meyra. Mbak sendiri udah lama?"


"Lumayan lah. Udah satu jam."

__ADS_1


"Eh, habis nyalon, lo mau gak ikut gue?" tawar Meyra tiba-tiba. Tentu saja Lani semringah. Dia tidak mungkin dong menyia-nyiakan kesempatan yang ditawarkan Meyra padanya. Justru inilah yang dia harapkan.


"Kemana, Mbak?" tanya Lani antusias.


"Lo mau, gak? gue mau ngajak lo arisan sama teman-teman gue."


"Iya Mbak. Mau..."


"Tapi lo ada bawa duit, kan? dikit kok, satu bulan 50 juta," ucap Meyra tersenyum.


Harga diri Lani terbakar. Dia tidak ingin dianggap gembel yang tidak layak berteman dengan model papan atas itu, jadi dengan cepat Lani menganggukkan kepalanya.


***


"Ibu, sedang apa?" tanya Dika mendapati ibunya sedang memasak di dapur. Pria itu baru saja bangun dari tidur panjangnya.


"Ibu buatkan makan malam untukmu. Sudah sore begini, sebentar lagi Maghrib, tapi istrimu belum juga kembali."


Persoalannya saat ini pun sudah menguras tenaga dan pikirannya. Buntut panjang dari pemutusan kontrak dengan kantor walikota waktu itu menyisakan masalah besar. Berbuntut panjang pada pemasukan perusahaannya.


Kerja sama yang sudah dia menangkan dengan perusahaan dan instansi pemerintah lainnya, beberapa diantaranya sudah dibatalkan sepihak oleh karena mendengar berita kelalaian dan ketidaksanggupan Dika mengerjai pesanan mereka. Hingga Dika mengalami banyak kerugian.


Belum lagi ditambah saldonya yang sering berkurang secara tiba-tiba. Dia tidak ingin menuduh, takut kalau Lani akan tersinggung nantinya, jadi memilih diam saja. Menganggap dirinya yang lupa berapa saldo terakhirnya. Saat dia mengejek laporan mobil-banking yang masuk melalui email, tidak ada keterangan transaksi ke rekening Lani.


"Biarkan saja dia, Bu. Terserah dia mau apa," ucap Dika membantu ibunya memetik sayur bayam yang ingin mereka rebus.


"Ka... Bapakmu tadi telepon. Katanya Raya sudah ada di kampung. Dia pulang ke desa, dan kayaknya akan tinggal di sana," ucap Titi memancing reaksi anaknya.


"Oh. Baguslah, Bu. Mungkin Raya lebih baik dan tenang jika tinggal bersama orang tuanya."


"Ka, apa kau tidak ingin kembali lagi pada Raya? kita pulang saja. Biar ibu yang ngomong sama dia, memohon, agar mau menerima mu kembali," ujar Titin.

__ADS_1


"Ibu... sudahlah. Itu tidak mungkin terjadi."


"Kenapa tidak mungkin? apa kau sudah tidak mencintainya?" desak Titin.


"Akan selalu ada tempat di hatiku untuk Raya, Bu. Tapi itu tidak mungkin, karena seperti yang ibu ketahui, aku sudah menjatuhkan talak padanya. Bukan talak satu, Bu... tapi talak tiga! Dan ibu tahu apa artinya itu. Aku tidak akan bisa bersamanya, sebum dia menikah dulu dengan laki-laki lain," terang Dika sedih. Menyesali ucapannya dan juga perbuatannya pada Raya.


Kenapa waktu itu aku tidak menjatuhkan talak satu saja!


"Biar nanti ibu yang atur. Yang penting kita pulang dulu. Nanti ibu akan suruh si Surip untuk menikah dengannya, hanya sebagai formalitas saja, lalu kita minta mereka bercerai setelahnya, agar bisa kau menikahi Raya lagi," ujar Titin penuh semangat.


Dika tidak mau memikirkan hal itu. Dia sendiri tidak yakin apakah dirinya masih pantas menjadi suami Raya.


"Apa pak Darma sudah tahu kami sudah bercerai, ya Bu? Apa ayah ada bercerita hal lain? mengenai reaksi masyarakat desa terhadap kepulangan Raya?" tanya Dika penasaran. Dia merasa khawatir kalau semua warga kembali mengejek dan merendahkan Raya karena berstatus janda.


"Tidak ada. Hanya beberapa warga mencari tahu keadaan rumah tangga kalian. Mereka curiga, kenapa Raya dikampung sementara kau tidak ada di sana."


Dika kembali merasa bersalah. Dia sudah banyak melakukan dosa dan kesalahan terhadap Raya. Semoga Raya kuat menjalani semuanya, itulah harapan Dika saat ini.


***


"Kenalkan, Ini Lani, istri dari pengusaha mebel, perabot, furniture ternama. Perusahaan mereka sudah sering wara-wiri kan kita lihat di televisi. Iklan yang paling lucu tapi konsepnya serius," ucap Meyra mengenalkan Lani ke teman-temannya.


Arisan dikocok. Semua wanita di sana tampak bahagia. Begitu mudahnya mengeluarkan uang dari dompet mereka.


"Dia mau ikut arisan, gais. Jadi, mari kita sambut Laniiiiiii..." teriak Meyra.


"Oke deh, Lan..Kita kumpulkan dulu duit arisan yang gue bilang tadi 50 juta," lanjut Meyra.


Lani gelapan. Di ATM nya tidak punya uang sebanyak itu. Tapi jika menolak dia akan malu. Jadi Lani memutuskan untuk memakai uang yang Dika simpankan padanya untuk biaya perobatan ibunya.


"Aku pakai dulu, ya Mas. Lagi pula, untuk apa menghambur uang sebesar itu untuk ibu mu yang hampir mati itu!"

__ADS_1


__ADS_2