
"Kuenya enak," ucap Meyra menjilati ujung jarinya yang terkena krim kue. "Oma beli dimana?"
Benar kata Meyra, kue ulang tahun itu sangat lezat. Elrick yang biasanya tidak suka makan makanan manis, justru sangat menikmati kue ulang tahunnya itu. Ini menjadi kue ulang tahun pertama yang dia makan sejak usia 10 tahun.
"Gak beli kok. Enak ya? Raya yang buat." Meyra menghentikan niatnya yang ingin menambah satu potongan lagi. Meletakkan tapak kaca dan juga garpunya di atas meja. Wajahnya tampak kesal dan terselip rasa malu. Elrick? tuan dingin sombong itu tidak peduli, menyuap lebih banyak lagi ke dalam mulutnya.
Ada perasaan gembira di dada Raya melihat Elrick makan dengan lahapnya kue buatannya. Menyadari apa yang dia pikirkan saat ini, Raya kemudian mengingatkan dirinya. "Sadar Raya, kau bukan siapa-siapanya dia!" batinnya berlalu mengambil tisu dan meletakkan di atas meja.
Dipa sama sekali tidak ingin mencicipi kue ulang tahun Elrick. Saat ini dia menatap benci pada pria itu. Dari awal dia sudah tidak ingin datang ke sini, tapi karena nenek mengancam akan mogok makan selama sebulan. Dia tidak akan makan, kecuali kalau lupa sedang mogok. Dipa terpaksa datang. Kedua kekesalannya bertambah besar, karena musuhnya bisa mendapatkan kue ulang tahun buatan Raya.
Menurut Dipa kebaikan Raya tidak pantas di nikmati pria kejam dan busuk itu. Entah sejak kapan jelasnya permusuhan mereka terjadi, yang pasti saat menginjak usia remaja pun mereka sudah saling benci. Pertama kali yang menunjukkan sikap permusuhan adalah Dipa.
Dia ingat, tiga hari setelah pemakaman kedua orang tuanya, Dipa menyerang Elrick yang saat itu tengah memainkan piano. Keduanya adu jotos hingga mendapatkan hukuman dari Nani. Sejak saat itu, keduanya mengikrarkan musuh hingga maut memisahkan.
Setiap harinya kebencian yang tertanam di hati masing-masing semakin menebal seiring terjadinya persaingan bisnis. Oleh Oma, keduanya sudah dibagi perusahaan keluarga, walaupun Dipa harus terima kalau dia hanya diberi 40% kekayaan Diraja, dan sisanya dikelola oleh Elrick, yang memang putra mahkota keluarga Diraja.
Sebulan lalu, mereka bahkan hampir saling pukul di hadapan orang lain, karena tender triliunan rupiah yang sudah lama diperjuangkan Dipa, akhirnya jatuh ke tangan Elrick.
"Ini, coba cup cake vanila buatanku," ucap Raya membawa dua cup cake lucu ke hadapan Dipa. Selama membuat kue, Nani bercerita sedikit banyaknya tentang permusuhan mereka, dan Raya menebak kalau dengan kekeraskepalaan keduanya, pasti Dipa tidak akan mau makan kue Elrick, jadi dia sengaja memanggang satu cup cake lezat lainnya.
"Buatku? aku sedang tidak ulang tahun hari ini," ucap Dipa lembut. Sejak mendengar cerita Oma mengenai kemalangan Raya, Dipa lebih lembut berbicara pada Raya.
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi aku spesial buatkan ini untukmu. Makan, ya?"
"Pasti."
Acara berlanjut. Ulang tahun yang diperuntukkan bagi Elrick, nyatanya menjadi acara party buat para pelayan. Nana menikmatinya dan Raya ikut senang karenanya.
"Ini kado dari nenek," ucap Oma memberikan satu kotak yang langsung antusias dibuka Meyra, yang membuat Oma kesal. Tampaknya Meyra sudah menguasai cucunya.
"Makasih, Miss universe." Jawabnya pendek. Raya diam menyaksikan isi kado Oma sebuah jam tangan mewah. Dia tahu diri, dia tahu aturan mainnya. Kalau diundang ke pesta ulang tahun, tentu saja dia harus membawa kado. Jadi... ya, dia bawa kado untuk Elrick, yang tentu saja tidak percaya diri untuk memberikannya.
Catatan, ini juga karena dia mempertimbangkan kalau pria itu sudah menolongnya, dua kali. Bukan karena ada alasan lain. Benarkan? Eh... Raya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Kenapa dia harus bermonolog sendiri.
"Ini dari aku, Beb..." ucap Meyra menyerahkan kotak berisi beberapa botol parfum yang dia pesan jauh hari dari Prancis untuk kado ulang tahunnya. Semakin ciutlah nyali Raya untuk memberikan kadonya.
Pukul 11 malam, Raya dan Nana ingin pamit, tapi Oma meminta Raya untuk tidur di sini. Mendengar hal itu, Meyra tidak mau ketinggalan. Dia pun merengek ingin menginap. Merasa akan punya waktu lebih banyak dengan Raya, Dipa memutuskan untuk tinggal, jadi semuanya menginap dan Oma lah yang jadi pemenangnya.
Jam dua belas kurang, semua sudah bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Oma meminta Raya menemaninya walau untuk menampung dua lusin manusia masih cukup kamar di rumah itu.
"Minten, dimana Bagas?" tanya Elrick yang baru saja turun dari kamarnya untuk mengganti baju, dan mendapati asistennya itu tidak ada di mini bar rumah itu.
"Saya tidak lihat, tuan. Terakhir saya lihat lagi ngobrol dengan tuan muda Dipa. Permisi tuan," ucap Juminten pamit.
__ADS_1
"Tunggu," hardik Elrick menghentikan langkah Juminten. Pandangannya tertarik akan paper bag yang ditenteng Juminten. "Apa itu?"
"Oh, gak tahu tuan. Dapat dari balik sofa. Mungkin punya Mbak Raya, kemarin kan dia duduk di sana," tunjuk Juminten ke arah sofa yang menjadi tumpuan pandangannya semalam karena terpaku melihat wajah Raya. Gadis itu memakai riasan kemarin malam, tipis tapi berhasil membingkai cantik wajahnya.
"Sini..." Elrick menengadahkan tangannya. Ragu-ragu Juminten menyerahkan pada tuan muda arogan itu.
"Sana..." lanjut Elrick ketika melihat pelayan itu masih berdiri di sana, penasaran menunggu apa yang akan dilakukan Elrick pada paper bag itu.
Buru-buru Juminten berlalu. Dia ingin mengembalikan pada gadis itu besok. Elrick memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja, melupakan niat awalnya untuk mencari Bagas.
Asal-asalan Elrick melempar benda itu ke atas ranjang hingga isinya keluar. Matanya tertegun. Isi paper bag itu sebuah kotak yang dibungkus kertas kado motif batik coklat. Menurut Elrick tampak kampungan, hingga sudut bibirnya tertarik ke atas, mencemooh.
Mengingat hari ini dialah yang berulang tahun, artinya itu adalah kadonya. Secara tidak langsung dia berhak membuka bungkusan itu bukan? iya... benar. Jadi, mari dibuka...
Kini dia tidak perlu menyembunyikan senyumnya, dia bahkan tertawa lepas. Di hadapannya tergeletak sebuah kemeja yang dia tebak pasti harganya sangat murah, tidak sepadan dengan kemejanya yang harga satuannya saja jutaan.
'Selamat Ulang tahun Mas Elrick, semoga selalu bahagia dan murah senyum. Terima kasih sudah menolong ku waktu itu. Raya.'
Elrick kini tertawa terbahak. Gadis itu membuatnya seperti pemuda kasta bawah, mengirimi kado murahan seperti itu. Dan apa katanya? murah senyum? seketika Elrick menarik kembali senyumnya.
"Berani-beraninya dia memerintahku!" Apa yang dia pikirkan saat membeli kemeja ini? apa dia pikir aku mau memakainya?!" ucapnya meletakkan dengan kasar ke atas tempat tidur setelah puas mengamati.
__ADS_1
Tapi ini kado pertamanya yang disertakan ucapan. Sial, kenapa relung hatinya menghangat?