
Sejak peristiwa pembalasan Paris terhadap Cindy dan teman-temannya, tidak ada lagi yang berani mengganggu Sidney. Bahkan semua orang sudah bisa menerima kekalahan mereka dan menganggap bahwa Sidney memang layak bersama Paris.
Cindy juga sudah minta maaf pada Sidney, dan itu tentu saja atas tuntutan Elrick jika tidak tidak ingin masalah ini diperpanjang. Cindy bersedia, asal dia tidak dikeluarkan dari sekolah elite itu.
Tapi tetap saja kepala sekolah membuat surat perjanjian, jika sekali lagi mereka berbuat salah, maka Cindy dan teman-temannya harus angkat kaki dari sekolah itu, dipecat tanpa ada surat rekomendasi masuk ke sekolah lain.
Masalah kebotakan keenam siswa barbar itu, duit bisa mengatur segalanya. Selesai skorsing yang diberikan pihak sekolah pada Cindy dan geng untuk tidak masuk selama seminggu, kini keenamnya masuk dengan tampilan yang tetap keren dan modis. Hair attention menjadi solusinya.
Kini setiap pagi, Sidney akan berangkat sekolah dengan Scot, dan pulang tentu saja dengan Paris. Keduanya juga sudah mulai terang-terangan menunjukkan kemesraan tidak hanya di depan teman-teman sekolahnya tapi juga di depan orang tuanya.
Sidney sangat bahagia. Dia merasa gadis yang paling beruntung di dunia ini. Namun, dia sadar, tidak selamanya kenikmatan dan kebahagiaan yang ada di depan matanya saat ini bisa terus dia rasakan.
Seiring waktu, Paris semakin sibuk karena harus menyiapkan ujian nasional. Dia juga mengikuti berbagai try out dari tempat bimbelnya, hingga hanya punya sedikit waktu untuk Sidney.
Sidney paham, dia tidak boleh egois. Paris juga harus memperjuangkan masa depannya. Dia pasti akan bangga karena mempunyai pacar keren yang kuliah di kampus impian.
Pertandingan olimpiade yang terakhir dia ikuti di sekolah, Paris mendapat juara satu dengan skor tertinggi. Hal itu membuat Elrick begitu bangga pada putranya.
"Papa ingin kau mengambil jurusan manajemen. Papa mau kau nanti yang akan mengurus perusahaan kita," ucap Elrick saat berbincang bersama keluarga kecilnya.
Mereka tengah membahas kampus mana yang harus dipilih Paris. Elrick menyarankan agar pria itu kuliah di luar negeri. Jerman atau Inggris, tapi Paris dengan cepat menolak, memilih untuk kuliah di Indonesia, dan Raya tahu alasan penolakan itu.
"Tapi papa hanya ingin kau mendapatkan pendidikan yang terbaik..." Elrick masih ngotot, menginginkan anaknya mengikuti jejaknya.
"Papa," ucap Raya menyentuh lembut lengan suaminya. Elrick hanya melihat sekilas wajah istrinya, dan saat Raya mengangguk penuh arti, Elrick pun ikut mengangguk.
Se-simpel itu isyarat suami istri itu tapi nyatanya mereka saling paham. Sebelum diskusi keluarga itu, Raya sudah berpesan pada suaminya untuk menghargai pendapat anak mereka.
"Baiklah, papa akan dukung dimana kamu mau kuliah. Asal kamu serius dan lulus dengan nilai bagus."
"Begini kan bagus, tidak ada perang gerilya di rumah ini. Merdeka!!!!" teriak Scot yang dipaksa ikut menyimak sidang kabinet dinasti Diraja.
"Setelah ini yang jadi fokus papa dan mama itu kau, ya! Jangan asik pacaran saja, lihat semester kemarin kau bahkan gak masuk 10 besar," hardik Elrick menaikkan sebelah alisnya ke atas. "Wali kelas kalian kemarin bilang kau dan Sidney kebanyakan main, nongkrong di kantin, ada kelas tambahan gak masuk, malah sibuk ngurus klub ekskul di sekolah."
__ADS_1
"Papa tenang aja. Aku pasti pintar pada waktunya."
"Mulai semester ini kau papa les kan di rumah. Jadi, gak ada alasan kau main-main lagi!"
"Masa aku aja yang dihukum, Sidney juga, dong," sahut Scot berusaha cari teman. Ternyata dia baru sadar kalau bestie nya itu gak ada di ruangan itu.
"Mama dengar, Sandi juga marah pada Sidney, hingga mencarikan guru privat untuknya. Malam belajar di rumah sama anak teman mas Sandi, mahasiswa kampus biru katanya," terang Raya. Tadi sore dia ke rumah Sidney untuk melihat keadaannya, mengapa gak datang ke rumah, tapi yang dia temui justru Sandi yang ingin bicara serius dengannya.
"Mbak, saya dengar Sidney pacaran dengan Paris. Maaf, Mbak saya kurang setuju. Pasalnya mereka masih muda dan masih sekolah. Pacaran bisa membuat mereka tidak fokus belajar, lihatlah nilai Sidney anjlok. Saya harap, Mbak bisa bicara dengan Paris, biar Sidney saya yang urus," ucap Sandi yang membuat hati Raya sedih.
Setiap pria itu menjauhkannya dengan Sidney, hatinya pasti terluka. Baginya Sidney adalah putrinya, jadi tidak bisa dijauhkan darinya. Tapi untuk kali ini, Raya akan coba memahami. Jika benar alasan merosotnya nilai Sidney karena pacaran dengan Paris, maka Raya akan mengontrol pertemuan mereka.
"Guru privatnya cowok apa cewek, Ma?" tanya Scot penasaran.
"Kenapa memangnya?" pancing Elrick.
"Kalau cewek, aku mau belajar bareng Sidney aja, tapi kalau cowok gak jadi. Papa carikan gitu privat cewek buat aku aja."
"Cowok, cakep lagi," sambar Raya melirik Paris yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Anakmu ya, Pa. Kalau sudah cemburu, lebih-lebih kayak singa marahnya. Sama kayak papa, kalau udah cemburu, dih... gak tahu lagi deh mau bilang apa..." Raya tersenyum menggoda suaminya, mengingat masa muda mereka dulu.
Elrick tertawa, lalu menarik istrinya ke pelukannya, mencium kening Raya dengan penuh kasih.
"Tolong dong dikondisikan, anaknya masih di sini, loh ini," ucap Scot geleng-geleng kepala lalu beranjak naik ke kamarnya.
***
"Kamu mau apa?" tanya Sandi yang membukakan pintu setelah lama di gedor Paris.
"Mau bicara dengan, Om," sahutnya berani. "Boleh masuk, Om?"
Sandi terkesima akan keberanian pria itu. Tapi kali ini bukan waktu yang tepat untuk memuji Paris. "Ada apa, Paris? Kalau mau ketemu dengan Sidney, Om gak bisa izinkan. Dia harus belajar keras mengejar ketinggalannya."
__ADS_1
"Ekspektasi Om apa tentang perubahan nilai Sidney?"
"Ya, paling tidak Om ingin dia masuk 10 besar. Makanya Om sudah carikan guru privat untuk Sidney. Itu mereka lagi belajar di kamar Sidney. Mungkin juga sebentar lagi sudah selesai."
Tidak lama setelah mengucapkan kalimatnya, Seorang pria tampan, tinggi dan berkaca mata turun dari lantai dua yang Paris tebak dari kamar Sidney.
"Sudah, Raka?"
"Sudah, Om. Kayaknya biar Sidney cepat pintar, gak bisa kalau hanya seminggu tiga kali, Om. Untuk bulan pertama, harus tiap hari nih, Om."
Paris yang sejak tadi menyimak dengan hati panas ingin sekali memukul pria yang sudah dia tebak punya maksud lain itu.
"Maaf, mulai besok, lo gak usah datang lagi. Biar Sidney gue yang ngajarin," potong Paris.
Sandi terdiam, menatap tajam ke arah Paris. Raka yang sama terkejutnya menoleh pada Sandi ingin mencari penjelasan.
"Paris, kamu apa-apaan, sih?"
"Aku serius, Om. Kalau hanya masuk 10 besar ekspektasi Om, biar aku yang ambil tanggung jawab itu. Aku yang akan jadi guru privat Sidney."
"Lo dengar, gue tahu lo punya niat jelek sama cewek gue, jangan harap lo bisa dekati Sidney. Simpan niat kotor Lo, bawa jauh-jauh dari sini!"
*
*
*
Paris jangan dilawan kalau mau hidup tenang 🤦🤦ðŸ¤
Btw, aku mau promo novel bestie aku, mampir dong ya, bagus nih, otornya rada gesrek, jadi jamin seru
__ADS_1