
"Au... sakit tahu," ucap Sidney memegang dadanya yang terbentur di punggung Paris. Pria itu seenaknya saja ngerem mendadak hingga tubuh Sidney spontan menubruk punggungnya.
"Makanya, duduk jangan jauhan. Memangnya gue sopir ojek?" Paris tersenyum geli, siasatnya berhasil. Dia memang sengaja rem mendadak agak Sidney mau memeluknya. "Lo malu ya jalan sama gue naik motor? Apa harus naik mobil?"
"Dih, apaan sih. Bukan gitu." Sidney ingin sekali menjelaskan alasannya tapi tidak mungkin kan dia mengatakan kalau dia malu memeluk Paris, malu juga kalau dadanya melekat ke punggung pria itu.
Dia ingat saat kelas tiga SMP, Paris pernah mengejeknya, mempertanyakan dadanya yang saat itu Sidney dan Scot sedang berenang. Paris yang minta Scot mengembalikan gitar listriknya ke kamar pria itu menatap ke arah Sidney yang duduk di tepi kolam. "Hey, Sid. Dari mana kau dapatkan sumpelan di situ?" Ucapnya sembari melayangkan tatapan ke arah dada Sidney.
Sejak saat itu, Sidney selalu memakai pakaian yang longgar, agar dadanya yang berukuran besar tidak terlihat.
Memang susah bagi remaja yang sudah tidak punya ibu. Sidney tidak tahu harus membeli jenis b*ra mana yang cocok untuknya. Mulai SMP dia sudah harus memakai b*ra, tapi susah mengaitkan di bagian punggungnya dia memilih hanya memakai miniset yang hanya disorong seperti memakai kaos.
Belum lagi saat dapat ha*id pertamanya. Sidney merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Merasa ingin buang air besar, Sidney yang pucat melihat pakaiannya sudah berlumuran darah. Dia panik, menangis histeris.
Saat itu dia sendiri, bibi pengurus rumahnya juga lagi gak masuk. Saat kebingungan dan tangis yang penuh ketakutan, Sidney menghubungi Raya, memintanya untuk datang ke rumahnya.
Saat melihat apa yang terjadi, Raya langsung memeluk Sidney, menciumi puncak kepala anak itu. "Tenang sayang, Tante di sini. Ini gak papa kok. Ini hal biasa yang terjadi pada kita perempuan. Ini tandanya, kamu sudah gadis, gak boleh sembarangan bergaul dengan anak cowok. Setiap bulan nanti kamu akan dapat kayak gini."
Setelahnya Raya mengajaknya belanja bulanan, membeli perlengkapan hingga mengajarinya memakai dan memilih b*ra yang aman dan nyaman.
__ADS_1
Bahkan setiap bulannya, Raya akan membeli pembalut, b*ra dan juga pakaian dalam untuk Sidney. Bagi Sidney, Raya memang berperan jadi ibunya. Tidak ada yang dia sembunyikan dari Raya, kecuali kalau saat ini dia sudah pacaran dengan Paris.
"Sid, peluk dong. Biar mesra," ucapnya membuyarkan lamunan Sidney. Gadis itu ragu-ragu mengulurkan tangannya, memegang jaket Paris mendekatkan duduknya lalu saat Paris melajukan motornya dengan kencang, spontan Sidney memeluknya erat.
Paris tersenyum. Kini dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Biasanya dia akan benci kalau para gadis yang pernah dia pacari memeluknya dari belakang, tapi mengapa dia justru ingin dipeluk Sidney?
Keduanya memilih untuk menonton film Marvel, yang memang mereka sukai. Ini pengalaman Paris nonton di bioskop. Selama ini ajakan dari pacarnya tidak pernah dia tanggapi, tapi demi membuat Sidney senang, dia mau nonton.
Semalaman dia sudah mencari di google, apa saja yang disukai cewek saat kencan. Salah satunya adalah nonton. Tapi dasarnya Paris yang kaku, dia pikir kalau di bioskop itu, orang-orang yang membeli tiket memang serius mau nonton film, tapi ternyata di dalam sana banyak yang hanya formalitas, mereka justru bercumbu satu sama lain.
Sidney yang melihat wajah jijjk dan terkejut di wajah Paris yang mengedarkan pandangannya hanya bisa tersenyum geli. Setiap dia dan Scot nonton di bioskop yang hampir setiap Minggu, pasti ada saja pasangan yang buka lapak di bioskop, jadi sudah biasa melihat hal seperti itu.
"Mereka ngapain sih?"
"Di sini udah biasa. Udah, gak usah dilihatin. Nanti kamu pengen lagi."
"****!" Umpatnya dalam hati. Kalimat yang akan dia sesali setelahnya. Paris menatapnya lekat, lalu pandangannya turun ke bibir Sidney, yang entah mengapa justru dikulum gadis itu karena sangat grogi melihatnya.
Degup jantung Sidney bertalu-talu, terlebih saat Paris mendekatkan tubuhnya ke arah Sidney, hingga deru napas dan wangi mint dari mulut pria itu begitu terasa menyapa kulit wajahnya.
__ADS_1
"Gue pasti sangat ingin mencium lo saat ini, menikmati bibir indah mu ini," bisik Paris menyentuh bibir itu dengan jemarinya. "Tapi gue gak akan mencium lo di sini. Bibir lo terlalu berharga untuk gue cium di tempat seperti ini, melakukannya dengan orang yang juga melakukan hal itu dengan pasangannya."
Akhirnya Sidney bisa bernapas dengan lega. Tapi tidak sepenuhnya ketenangan miliknya, karena walau tidak menciumnya, Paris menariknya untuk masuk ke dalam pelukannya.
***
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Dipa membawa banyak makanan. Begitu pintu apartemennya dibuka, senyum tampan pria itu mengembang, menambah ketampanannya yang buat Tita tersipu malu.
"Apa ini? Kenapa banyak banget belinya?"
"Biar pacar aku makin semok," sahutnya memeluk Tita dari belakang. "Besok aku tugaskan sopir untuk mengantar kemana aja kau pergi ya? Aku gak mau sesuatu hal buruk terjadi padamu." Dipa tidak hanya memeluk kini bibirnya mengecup leher gadis itu. Wangi sabun beraroma mawar menyeruak memenuhi Indra penciumannya.
Tita memang baru mandi, rambutnya saja masih basah. "Gak usah, Mas. Aku pasti baik-baik saja," ucapnya mulai belajar memanggil Dipa dengan sebutan Mas, seperti yang pria itu minta. Sebenarnya pilihan awal Dipa malah meminta dipanggil Sayang, tapi karena pria itu juga menyediakan pilihan kedua, yaitu dipanggil 'mas', maka Tita memilih itu saja.
"Kamu manggil aku mas, udah pengen ku ajak ke penghulu hari ini juga. Kita nikah aja ya? Gak usah nunggu kamu tamat dulu."
"Tinggal dua bulan lagi kok." Tapi sejujurnya bukan itu yang mengganggu pikiran Tita, melainkan keluarga Samertha. Gimana kalau ternyata Rodriguez belum melepaskan mereka? Belum lagi Regal, pria tempramen itu pasti tidak akan tinggal diam tanpa membuat perhitungan padanya.
"Tapi aku udah pengen nikahi kamu. Takut kalau kamu berubah pikiran, ninggalin aku. Apalagi umur kita yang terpaut jauh. Kamu gak malu kan punya suami kayak om-om begini?" Dipa menolehkan wajahnya, ingin melihat reaksi Tita dalam menjawab pertanyaannya. Dia ingin melihat langsung apakah ada penyesalan wanita itu karena memilihnya.
__ADS_1
Gadis itu membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan. Lalu tangannya dilingkarkan di leher Dipa. "Aku mencintaimu karena ya, pertama kamu memang tampan, sangat tampan malah, tidak cocok pria berumur 45 tahun. Kedua, alasan aku memilihmu, karena aku memang mencintaimu," ucap Tita menyapukan bibirnya pada pria itu, yang tentu saja disambut Dipa dengan sepenuh cinta.