Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 56


__ADS_3

"Tante memanggilku?" Sidney masuk ke kamar Raya setelah mengetuk pintu kamar wanita itu.


"Masuk sayang, Apa ini cocok Tante pakai?"


Sidney mengamati baju kaftan yang melekat indah di tubuh ramping Raya. "Cantik, terlihat elegan sekali. Tante mau kondangan?" Sidney memeluk pinggang Raya yang saat ini berdiri di depan cermin.


"Mau ketemu calon besan, jadi harus cantik."


Sidney mengangguk. Wajar Raya penuh semangat. Kemarin Gladys keluar dari rumah sakit, dan hari ini mungkin datang ke rumah gadis itu untuk melamar Gladys untuk Scot.


"Kamu baik-baik di rumah. Ingat, sebentar lagi akan datang Mbak-mbak dari salon, buat melakukan perawatan sama kamu. Minggu depan udah jadi pengantin, harus cantik luar dalam atas bawah," goda Raya. Sidney hanya mengangguk, menurut pada calon mertuanya itu.


Sidney mengantar Elrick, Raya dan juga Scot hingga ke pintu. Semua pergi, hanya tinggal dirinya. Kalau Paris tidak ada keperluan mendadak ke Semarang, pasti ikut juga.


"Kami berangkat, ya Sid," ucap Elrick mengusap puncak kepala Sidney. Pria itu terlihat tampan dan gagah dalam balutan batik kualitas premium.


"Iya, Om."


"Tante berangkat ya," ujar Raya sembari mencium pipi Sidney. "Gak ada titipan buat ayahmu?"


Kening Sidney mengkerut. Dia bingung atas ucapan Raya, bertanya dalam hati apa tantenya itu sedang salah sebut nama. "Papa?"


"Iya. Kita kan mau ke rumah mas Sandi, papa kamu."


"Hah? Ngapain, Tante?"


"Loh kok ngapain sih. Masa putrinya mau dijadikan mantu, gak dilamar sama ayahnya. Ya, mau lamaran ini, ngantar seserahan. Doain berjalan lancar, ya. Kamu gak usah ikut. Istirahat di rumah sekaligus perawatan."


Bola mata indah Sidney seketika berair. Tanpa banyak kata lagi, memeluk Raya dengan tangisnya yang pecah. Lalu ingat semua ini karena kemurahan hati Elrick, dia melerai pelukan Raya dan masuk dalam pelukan Elrick. "Makasih, Om karena sudah menghargai papaku."


Elrick tersenyum, mengusap punggung Sidney untuk meredakan tangisnya. "Dasar bodoh, itu adalah ayahmu. Kamu akan menikah dengan putra kami, tentu saja kami harus minta izin padanya. Seburuk apapun dia, Sandi tetap ayahmu. Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Jadi, Om tahu betapa kamu sangat ingin Sandi ada pada acara pernikahanmu, sekaligus menikahkan mu, kan?"


***


Hari yang ditunggu tiba. Sejak pukul lima pagi, Sidney sudah dirias sedemikian rupa, tampak sangat Cantik dan mempesona. Gadis itu kembali tersenyum melihat bayangannya di cermin.


Dengan kekuasaan dan juga pengaruh uang, Pakaian Sidney selesai dalam waktu singkat, hanya satu Minggu dengan 10 orang yang membantu mengerjakannya. Ada tiga stel pakaian yang akan mereka kenakan nanti.


Debaran jantungnya begitu kencang, mengingat sebentar lagi dia akan menjadi istri Paris Diraja, pria yang sejak kecil sudah dia sukai.


"Sayang, sudah siap? Acaranya sudah mau dimulai." Raya datang menghampirinya ke dalam kamar hotel yang dijadikan tempat untuk merias Sidney.

__ADS_1


Dina juga ikut, mengenakan pakaian yang juga terlihat indah. Sidney tahu itu pemberian Raya. Bukankah memaafkan akan lebih membuat hidup lebih tenang dan juga bahagia?


Tiba-tiba Raya meneteskan air mata."Kamu cantik sekali, Sayang. Mama kamu pasti lihat dari surga sana, dan dia pasti sangat bangga memiliki putri secantik kamu. Cantik paras dan hatimu. Lia, lihat putri kita, dia akan menikah dengan Paris, anakku semoga kamu setuju, ya. Sekarang dia sudah sah jadi putriku. Lia kami merindukanmu," ucap Raya berlinang air mata. Sidney yang juga ikut menangis memeluk Raya. Menangis berdua mengingat wanita yang sama-sama mereka cintai dan kini hanya bisa melihat mereka dari surga.


Make up artis yang merias Sidney harus kembali memoles wajah gadis itu, karena sempat terlihat ada titik bekas air mata.


Sidney dikawal Raya dan Dina membawanya ke ruangan yang sudah dipenuhi oleh orang banyak. Di tengah ruangan itu matanya menangkap sosok gagah yang memakai pakaian dengan warna senada dengannya, tersenyum lembut ke arahnya hingga memuat Sidney menunduk malu. Jantungnya yang semula berdetak kencang, kembali semakin kuat, saat dia sudah didudukkan di samping Paris.


"Hai, wanita cantik, terima kasih sudah mau menikah denganku," bisiknya ke arah telinga Sidney yang masih bisa didengar oleh orang-orang yang ada di dekatnya, yang membuat semua tertawa.


"Baiklah kita mulai saja ya, Pak," ucap pak penghulu, menanyakan pada Elrick, dan juga Sandi yang diangguk oleh keduanya.


Baiklah, Bismillah. "Paris Diraja," panggil Sandi.


"Saya, Pak," jawab Paris sembari mengangguk.


"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Sidney Putri Dinata binti Sandi Dinata dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat dua ton, dibayar tunai," ujar Sandi dengan haru.


"Saya terima nikah dan kawinnya Sidney Putri Dinata binti Sandi Dinata dengan mas kawin tersebut di atas, dibayar Tunai," ucap Paris dengan satu kali tarikan napas.


"Bagaimana saksi," tanya Penghulu.


"Alhamdulillah..." terdengar semua orang dalam ruangan itu mengucap.


Paris menerima uluran tangan Sidney yang ingin mencium punggung tangannya, lalu penuh cinta Paris mencium kening Sidney lama, seolah berucap dalam hatinya.


'Tante, aku sudah memenuhi keinginan Tante untuk menjadi pangeran bagi Sidney, menikahi putri cantik tante. Aku janji akan selalu menyayanginya mencintainya dalam susah atau senang, dalam keadaan sakit atau sedih. Hanya ada kebahagiaan yang aku hadirkan untuknya. Terima kasih, tante karena sudah melahirkan putri secantik, sebaik ini. Terima kasih banyak.'


Setelah acara ijab kabul, keduanya berganti pakaian dan mulai memasuki aula. Raya dengan penuh kasih menyuapi keduanya. "Kalian harus banyak makan, butuh tenaga, karena acara sampai tengah malam."


"Jangan gitu dong, Ma. Kalau sampai tengah malam, Sidney kapan di unboxing ini?"


"Hush!" Seru Raya menggelengkan kepalanya, heran melihat Paris yang begitu santainya mengucapkan hal itu. Sidney jangan ditanya. Dia begitu malu bahkan ingin sekali mencubit dengan sekuatnya paha suaminya itu.


"Selamat buat kalian berdua. Ikut bahagia," ucap Gladys menyalami Paris dan memeluk Sidney.


"Terima kasih. Kalian juga beberapa Minggu lagi jadi pengantin juga," balas Sidney. Gladys terlihat cantik dalam balutan kebaya berwarna tosca.


"Hehehe, iya. Kita jadi ipar ya, Sid. Aku harus panggil kakak ipar nih mulai sekarang." Kedua wanita itu tertawa bersama penuh bahagia.


"Selamat, ya. Titip sahabat gue. Jaga dan sayangi Sidney ya, Bang," ucap Scot memeluk Paris.

__ADS_1


"Pasti. Lo juga harus bahagia, bentar lagi jadi pengantin sekaligus ayah." Scot hanya mengangguk.


Rentetan acara berjalan baik. Penuh sabar Sidney dan Paris menerima ucapan selamat. Semua teman-teman dekat di SMA mereka undang. Sidney juga secara khusus mengundang pak Bayu, Jihan, Renta dan terkhusus Ryu.


Tangis Sidney pecah kala Ryu menyalaminya, mengucapkan selama padanya dan ikut bahagia. "Makasih, Mas. Aku cuma bisa mendoakan kamu, semoga mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, mencintaimu setulus hati."


"Amin, Makasih, Sid."


"Udah, Dong. Nanti dipikir para tamu undangan gue merebut pacar orang," ucap Paris sinis."


Ryu tertawa, sekali lagi menyalami Paris dan memeluk pria itu. "Selamat buat kalian berdua," ucap Ryu pamit.


"Sid, kamu udah siapkan mental dan juga tenaga, kan?"


"Buat apa?"


"Ya buat malam pertama kita yang sempat beberapa kali tertunda," bisiknya tersenyum, sembari melepas ciuman di pipinya.


Tamu yang tepat naik memberi selamat dan melihat mereka hanya bisa tersenyum malu melihat kebucinan Paris terhadap istrinya.


"Lihat anakmu, Ma. Udah gak sabar kayaknya," bisik Elrick di telinga Raya.


"Gak jauh beda sama papanya," balas Raya tersenyum.


"Habis ini kita juga, ya. Papa udah booking satu kamar untuk kita."


Raya menunduk malu, lalu mendongak melihat sekeliling, takut ada yang mendengar. "Malu sama umur, ingat bentar lagi kita udah mau punya cucu." Elrick hanya tertawa renyah.


***


Akhirnya permohonan Paris dikabulkan oleh ibunya. Setelah mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan, Paris pamit membawa istrinya ke kamar yang spesial dipesan oleh Elrick untuk malam pertama mereka.


"Aku sudah gak sabar lagi memilikimu seutuhnya, Sayang. Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku. Aku mencintaimu, sekarang nanti dan selamanya."


*


*


*


Hufffh, selesai juga. Ini episode terakhir ya gais. Sampai sini aja cerita keluarga Diraja. Pertama izinkan aku mengucapkan terima kasih atas semua dukungan dan kebaikan hati kalian yang sudah mensupport novel ini. Yang kedua, aku mau bilang, aku sayang kalian, sehat-sehat kita ya. sampai jumpa di novel lainnya. Salam sayang... Author 😘😘💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2