Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 40


__ADS_3

Tidak tidur semalaman membuat kepalanya terasa berat. Tapi dia harus bergegas, bersiap menemui Raya. Tapi kenapa ada rasa enggan, seolah dia tidak punya keberanian untuk bertemu Raya. Sejujurnya setelah mengetahui kebenarannya, Elrick mengubah pandangannya terhadap gadis itu. Dia mengutuk keras kelakuannya, juga orang-orang bia*dab yang sudah menjebak Raya.


Dia ingin sekali bertemu dengan mantan suaminya, menghajar pria itu karena menyia-nyiakan raya. Bukankah dari awal dia yang menginginkan gadis itu? lalu setelah dapat, mengapa disia-siakan dan memilih menikah lagi!


Tunggu dulu, kenapa dia jadi peduli pada gadis itu? kenapa dia ingin sekali melindungi Raya? apa semua ini karena rasa bersalahnya? tapi sebenarnya, dia juga tidak salah. Dia hanya menyewa jasa seorang gadis, yang tidak dia sadari kalau gadis itu ternyata dibawah pengaruh obat.


Bagaimana nanti kalau Raya tahu, dia lah yang sudah mengambil mahkotanya? Apakah Raya bisa memaafkannya atau malah menuntut dirinya?


Pusing memikirkan semua itu, Elrick mandi, dan bersiap-siap. Saat membuka koper pakaian, matanya tertuju pada satu kemeja yang dulu menjadi hadiah ulang tahunnya. Satu senyum melengkung di bibir pria itu.


Padahal dia hanya sembarangan mengambil pakaian untuk dia bawa, hingga kemeja itu terikut masuk ke dalam koper.


Ada dorongan besar dalam hatinya memakai kemeja itu, dan dia mengikuti kata hatinya.


***


Pukul empat sore Elrick kembali muncul. Butuh waktu baginya menyiapkan hati agar berani menemui Raya. Pagar bambu itu tampak terbuka hingga Elrick memutuskan untuk masuk.


Tok... tok... tok...


Tidak ada sahutan. Pada ketukan kedua, barulah pintu dibuka oleh Raya.


"Mas Elrick?" ucap Raya terkejut. Sedikitpun tidak menyangka orang yang bertamu saat ini adalah Elrick.


Untuk apa pria ini ada di sini? lantas dia tahu dari mana alamatku?


"Kau tidak mempersilakan aku masuk?" tanya Elrick mencoba tenang menenangkan gejolak dalam hatinya.


"Oh, iya. Masuk, Mas."


Raya jadi gugup. Gelisah dengan keberadaan Elrick di rumahnya. Lagi-lagi pertanyaan untuk apa pria itu datang terus mendesak hatinya untuk bertanya.


"Mau minum apa, Mas?" gugupnya masih belum reda juga, malah tambah parah, bagaimana tidak, Elrick tidak lepas menatap ke arahnya, membuatnya merasa risih.

__ADS_1


"Air hangat aja."


Raya kembali masuk ke dalam, mengambil minuman untuk Elrick. Saat itu, Elrick memperhatikan sekelilingnya. Ada beberapa foto di dinding atau pun di atas bufet. Senyumnya terukir indah, saat melihat Raya kecil. Gadis itu tersenyum lebar, seolah memamerkan gigi ompongnya. Poni selamat datang membuat wajahnya tampak menggemaskan.


Lalu ada foto Raya remaja. Memakai seragam SMA dengan seorang gadis yang juga memakai seragam yang sama. Gadis itu sama dengan yang ada di ponsel Betty saat itu. Dialah teman dekat Raya yang sudah membantu membuat perangkap untuk Raya.


Banyak waktu yang terbuang percuma dalam keheningan diantara keduanya. Elrick tidak tahu harus memulai dari mana, Raya tidak tahu harus berkata apa. Pasalnya kedua orang itu selain tidak akrab, terakhir bertemu juga dalam keadaan tidak mengenakkan.


"Ray... kita pulang, yuk?"


Raya sampai menengadah, menatap tidak percaya atas apa yang didengar kupingnya. Suara Elrick bahkan seperti bisikan, begitu lembut. "Hah?"


"Maksud aku, kau kembali bersamaku ke Jakarta. Oma memintaku untuk membawamu pulang," ucapnya mengklarifikasi kalimat di awal.


"Oma... maaf sudah membuat Oma khawatir, tapi aku gak bisa pulang ke Jakarta, Mas. Ayah memintaku untuk tetap di sini. Tidak mengizinkan aku balik ke Jakarta lagi."


"Hah? mana bisa begitu! Maksudku, kau kan punya usaha di sana. Bagaimana nasib laundry mu?" Elrick mencari-cari alasan untuk membuat Raya mau ikut dengannya.


Pembicaraan mereka terhenti saat seorang pria paruh baya, yang ditebak Elrick adalah ayah Raya masuk ke rumah.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, ayah," sahut Raya bergegas bangkit dari duduknya, mencium punggung tangan Darma.


Mata elang pria itu siaga, menatap tajam pada Elrick. Pria itu asing, sama sekali belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Selamat sore, Pak," sapa Elrick menyalami Darma.


Dengan mulut terkunci, Darma menerima uluran tangan Elrick. "Maaf, Anda siapa? ada perlu apa ke sini?" tanyanya dingin. Dia harus waspada. Tidak ingin kecolongan lagi. Siapa pun pria yang ada disekitar mereka harus dia waspada. Ini semata-mata demi kebaikan putrinya.


"Oh, kenalkan, Pak. Saya Elrick. Dari Jakarta."


"Alasan ke sini? saya tidak merasa mengenal Anda!" Sikap Darma tetap dingin tidak bersahabat. Raya yang semula duduk, langsung berdiri dan pamit ke belakang. Sengaja berlama-lama di sana. Sebenarnya dia tidak punya alasan untuk khawatir, tapi entah mengapa tetap saja hatinya tidak tenang.

__ADS_1


Dia tahu ayahnya. Dia tidak akan suka siapa pun datang mendekati dirinya, terlebih karena saat ini dia adalah seorang janda.


Setelah memenangkan hatinya, walau masih tetap berdebar, dia kembali ke depan, membawa kopi kesukaan ayahnya di atas nampan.


"Ayah, kopinya," ucap Raya penuh ketakutan. Elrick sejak tadi juga memperhatikan ayah dan anak itu secara bergantian.


"Ray, kau masuk dulu," perintah Darma. Raya terkejut sesaat, namun langsung mengangguk kala menatap tajam mata ayahnya. Tatapan itu tidak terbantahkan.


Darma baru mulai bicara, sesaat setelah Raya benar-benar masuk, meninggalkan kedua pria itu. "Kau ke sini untuk apa?"


"Maaf, saya datang untuk membawa Raya kembali ke Jakarta," jawab Elrick tenang. Di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya takut. Bahkan kolega bisnisnya, banyak yang segan dan mati kutu di hadapan Elrick. Dia bisa tenang menghadapi siapapun, kecuali Raya. Gadis itu dengan caranya selalu bisa membuatnya panas dingin.


"Membawanya pulang? kau siapa? kenapa membawanya pergi?"


"Saya..." Elrick diam sesaat. Dia harus jawab apa. Seorang pria mengajak seorang gadis pergi, kalau bukan suami paling tidak pacar atau teman. Ini, Elrick sama sekali bukan ke tiganya. Tidak mungkin dia bilang,


"Maaf, Pak. Saya adalah pria yang sudah merenggut paksa kehormatan Raya saat itu. Tapi saya tidak punya niat untuk menebus kesalahan saya dengan menikah dengan dia, misalnya!" Eh, menikah? kata menjijikkan yang paling dia benci! Jadi karena bingung harus mengatakan apa, Elrick mengambil jawaban yang aman baginya namun tanpa dia sadari membuatnya terlihat bodoh!


"Saya... cucu Oma." jawabnya akhirnya berhasil kikuk.


"Oma? siapa Oma? Saya tidak mengenalnya. Silakan anda pulang."


"Oma, nenek saya. Beliau sangat menyayangi Raya, dan ingin Raya kembali. Dia khusus mengirim saya untuk menjemput Raya pulang."


"Aku tidak mengenal kalian, siapapun tidak ada yang bisa membawa putriku dari sini!"


*


*


*


Alot, nih kayaknya si ayah kasih izin...

__ADS_1


__ADS_2