Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 48


__ADS_3

Paris mengamati ruangan yang menjadi tempat persembunyian Sidney selama tiga tahun ini. Begitu membuka pintu, hanya ada ruangan kecil yang menjadi tempat galon dan juga rak piring, serta sebuah karpet yang mungkin akan digelar kalau ada tamu datang.


"Masuk," ucap Sidney pelan. Dia masih fokus untuk menenangkan debar hatinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Paris akan datang mencarinya.


"Kamu kehujanan, sampe basah begini. Kamu uda lama di luar? kenapa gak numpang berteduh depan warung depan?" Sidney terus bicara, berharap rasa gugupnya berkurang.


Tidak ada suara yang menjawab, dia segera keluar dari kamar setelah meletakkan tasnya. Paris sudah duduk di depan pintu kosan dengan lemas.


"Paris..." buru-buru Sidney memapahnya masuk ke dalam kamar. Suhu tubuh pria itu panas. "Ganti baju dulu."


Paris menurut membuka pakaiannya, dia sendiri juga merasakan panas tubuhnya. Kepalanya pusing. Ini karena kebodohannya, mobil tidak bisa masuk, jadi dia menitipkannya di rumah pak RT yang ada di luar gang, lalu berjalan ke arah kosan Sidney. Dua jam menunggu, wanita itu tidak juga kunjung datang, akhirnya Paris menunggu di depan gang kosan, di bawah guyuran air hujan. Dia takut kalau Sidney pulang malam begini ada yang ganggu, jadi memutuskan berdiri di tengah jalan.


Saat melihat mobil Ryu masuk ke gang itu, Paris yang mengenali langsung masuk ke kosan Sidney. Dia tidak ingin Ryu melihatnya hingga menjadi pertengkaran dengan Sidney.


Kedatangannya ke Bandung, selain ingin pamit pada Sidney, juga ingin memberikan gembok yang selama ini dia simpan menjadi gelangnya. Menurutnya, tidak ada gunanya lagi menyimpan kenangan lama di antara mereka.


Satu jam lebih menunggu di depan kosan, Sidney tidak kunjung datang yang ternyata asik mengobrol dengan Ryu di dalam mobil hingga hujan berhenti.


"Kamu pake ini aja, ya?" Sidney menyerahkan Hoodie milik Paris yang pernah dia pakai waktu SMA dulu, akibat insiden Cindy dan kawan-kawan.


"Masih kamu simpan aja." Paris tersenyum sembari mengambil Hoodienya. Lalu membuka celananya, namun ditahan Sidney.


"Di kamar mandi dong, jangan dibuka di sini." teriak Sidney yang membuang wajahnya ke samping.


"Mana kamar mandinya?"


"Itu di belakang. Aku udah panaskan air untuk kamu mandi. Aku angkat dulu ke kamar mandi."


"Gak usah. Biar aku. Mau sekalian ikut mandi, gak?"


Wajah Sidney bak kepiting rebus merah semerah merahnya. Dia hanya menggeleng lemah tanpa berani bersuara. Telinganya masih menangkap tawa renyah pria itu sembari melangkah ke kamar mandi.


Selama Paris mandi, Sidney jadi salah tingkah. Deg-degan hingga pipinya merona. Baru saja dia dan Ryu memutuskan untuk menjadi teman saja, kini Paris sudah muncul di depannya. "Udah kayak di novel aja bisa pas begini," cicitnya malu, menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


Paris keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk di pinggulnya, mempertontonkan dada bidang dan perut roti sobeknya. Bisep di tangan membuat Sidney tidak bisa mengalihkan pandangannya yang terus ke bawah, lalu melihat sela di antara perut dan paha Paris, bak pahatan indah di bawah pusarnya. Lalu itu, tolong dong bulu-bulu halus di bawah lobang pusarnya buat darah Sidney tersentak, turun lagi ke bawah...

__ADS_1


"Aku buka aja ya sekalian, dari pada kamu penasaran? Selama ini kan pegang nya dari luar aja tanpa tahu bentuk dan panjangnya semana. Gimana, mau?


Sidney segera bangkit dan menyambar handuk serta baju ganti yang sudah dia persiapkan tadi.


"Dasar Paris mesum, enteng banget ngomong gitu, kayak gak ada beban, apa dia gak tahu aku udah kejang-kejang di sini. Jantungku udah gak stabil.


Ketika selesai mandi, Sidney melihat Paris sudah berbaring di atas tempat tidur. Memakai Hoodie dan celana pendek Sidney yang jadi boxer di tubuh tinggi nya yang lebih 180 sentimeter.


"Udah tidur, ya?" Gumamnya lebih ke dirinya sendiri. Sidney mendekat lalu menyelimuti tubuh Paris. Dia keluar untuk mengunci pintu karena hujan kembali turun walau tadi sempat berhenti. Walau hanya gerimis, tapi mampu menusuk tulangnya.


Dua jam berkutat dengan proposal dan juga outline yang akan dia ajukan, hingga suara dari kamar membuatnya beranjak.


"Udah bangun? Sebentar..." Sidney keluar lagi mengambil air hangat lalu memberikannya pada Paris.


"Udah jam berapa?"


"Jam 11 malam."


"Kamu kenapa belum tidur? Gak mau satu tempat tidur denganku? Bukannya kita udah pernah tidur bareng?"


"Aku kesini untuk memulangkan ini." Paris menyerahkan gelang itu di tangan Sidney. Aku pikir tidak ada gunanya lagi aku menyimpan ini, toh kuncinya juga udah kamu buang. Sekalian aku mau pamit. Sepertinya aku akan menerima kerjaan di London."


"Biar bisa dekat sama Hana?"


"Dasar bodoh. Seujung kuku pun dia tidak penting untuk dibahas. Jangan-jangan kau pikir aku suka sama dia? Kamu tahu, setelah kepergianmu, aku mengacaukan hidupku, gak mau kuliah, dan juga bersikap kasar, dia akhirnya menjauh. Saat ini dia sudah menikah dan punya dua anak malah."


Sidney mendengar dengan serius. Tapi hatinya tiba-tiba kembali sakit. Paris pamit padanya. Lalu apa gunanya dia menyiapkan keberanian untuk mengatakan isi hatinya sekarang?


Perasaan enggan yang dia rasakan tidak membuatnya menolak benda bersejarah bagi mereka berdua itu. Biarlah dia menyimpannya menyatukan dengan kalungnya.


"Sid, apa kau bahagia saat ini?"


Gadis itu diam. Dia tidak ingin bicara lagi. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi gunanya. Pengorbanan Ryu sia-sia, toh Paris juga melepasnya.


"Sid," Paris menggenggam tangan gadis itu. "Katakan padaku untuk tidak pergi, minta aku tinggal di sisimu. Aku tahu aku egois, karena memaksa kehendakku, tapi aku gak bisa berbohong, aku gak bisa hidup tanpamu. Mungkin setelah perpisahan kita kali ini, aku gak akan pulang lagi. Aku juga gak akan menikah dengan wanita manapun."

__ADS_1


Sidney menangis, hatinya begitu memuncah mendengar isi hati Paris yang sama dengan yang dia rasakan pada pria itu.


"Aku sangat mencintaimu, Sid. Aku gak akan sanggup berpisah denganmu, karena aku..."


Kalimat Paris sudah dibungkam oleh mulut Sidney. Dengan tangis, dengan kesedihan sekaligus kebahagiaan yang dia rasakan, Sidney mencium bibir pria itu, menikmati rasa manis, semanis ucapan Paris padanya tadi.


Hanya persekian detik Paris terkejut, melihat cara gadis itu menciumnya, Paris mengambil peran, membalas ciuman itu hingga dia mengerti apa yang saat ini dirasakan gadis itu.


Lama kelamaan ciuman yang awalnya hanya ingin mengungkapkan isi hati itu, berubah jadi ciuman yang menuntut. Tangan Paris menyentuh pinggang Sidney sementara gadis itu sudah melingkarkan lengannya di leher Paris.


Hawa kamar yang semula dingin kini berubah jadi panas. Paris melerai ciuman mereka, membuka Hoodienya, lalu melempar ke sudut kamar. Dirinya terbakar, dan dia ingin mencumbu Sidney saat itu juga. Paris bertindak, dia menarik kaos oblong Sidney melewati kepalanya, lalu melempar kembali menyatu dengan Hoodie nya.


Saat ingin menyerang leher Sidney, Paris berhenti, lalu menegakkan tubuhnya. Dada Sidney yang naik turun karena debar jantung dan juga gai*rah yang sudah memuncak, menatap heran pada Paris.


Apa yang salah dengan dirinya hingga Paris menghentikan aksinya. "Kenapa? Gak jadi? Tanyanya disela napas yang memburu.


"Lepas dulu itu. Seolah dia ikut nonton kita lagi beginian," ujarnya cemberut menatap kalung pemberian Ryu.


"Ini?"


"Iya, lepasin. Lagian, masih mau aja dijajah Jepang! Gak cukup mereka menjajah selama tiga setengah tahun? Kamu masih mau dijajah?"!


*


*


*


Hadeh, Paris! 🤦🤦 Sidney udah mode on, ada aja yang diprotes pria sableng itu!


Mana saweeeeeeerannya??☺️🤭🤭


Mampir lagi ya gais, ini novel keren, rekomen banget🙏☺️


__ADS_1


__ADS_2