
Sebelum masuk ke dalam rumah, Elrick sudah membalas pesannya mengatakan kalau itu adalah rumah mafia judi online dan bandar narkoba terbesar asal Venezuela yang menikah dengan wanita pribumi.
Tapi demi keamanannya, Elrick sudah mengirim 10 orang anak buahnya serta menghubungi temannya anggota propam, jika suatu waktu membutuhkan bantuannya malam ini.
"Apa-apaan semua ini, Tita?" hardik Kanti yang mulai tidak suka melihat tatapan menyelidik Dipa terhadap seisi ruangan itu.
"Tante, aku minta maaf. Aku gak bisa menikah dengan Regal, dan aku ingin segera pergi dari sini."
"Apa katamu? Kau pikir bisa datang dan pergi sesuka hatimu? Apa kau pikir keluarga Samertha ini keluarga yang biasa?" Kanti mendekat, menjambak rambut Tita, tapi langsung ditepis oleh Dipa, dengan menyentak tangan Kanti, hingga wanita itu mundur.
"Jangan coba-coba berani menyakiti Tita kalau kalian tidak ingin berhadapan denganku. Ternyata ini sindikat yang sedang dicari polisi. Bayangkan penghargaan seperti apa yang aku dapat jika memberitahukan tempat ini," ancam Dipa.
Wajah panik Kanti setidaknya bisa membuat Dipa merasa sedikit tenang, berarti mereka masih punya rasa takut.
"Sayang, pergi, kumpulkan barang-barang mu. Bawa saja barang yang paling kau butuhkan, selebihnya tinggalkan saja," ucap Dipa membelai rambut Tita yang tadi sempat hampir dijambak Kanti.
"Siapa kau? Kenapa begitu ikut campur urusan keluarga kami? Dia itu calon istri anak ku! Selama ini kami sudah membiayai ayahnya dan juga kuliahnya, jadi secara tidak langsung dia sudah menjadi milik keluarga ini." Rodriguez berdiri, berjalan ke arahnya. Dia ingin mengenali siapa lawannya kini.
"Saya sudah tahu semuanya. Saya juga tahu Anda menipunya. Hanya demi berobat ayahnya yang 100 juta kau paksa dia tanda tangan kontrak untuk menjual rahimnya pada kalian. Ini sama saja perdagangan manusia. Belum lagi kekerasan yang dia terima dari istri dan anak Anda hingga jari kelingkingnya patah? Apakah Anda mau saya laporkan?"
Rodriguez tampak pucat. Dia tidak tahu siapa pria yang dia hadapi saat ini. Jadi, dari pada dia salah sangka, maka lewat ekor matanya Rodriguez memberi isyarat pada istrinya untuk membiarkan Tita untuk pergi ke atas.
Dipa tidak ingin semua orang yang ada di ruangan itu menganggapnya takut, jadi sembari menunggu Tita, dia memilih duduk di sofa tunggal, menumpukan kaki kirinya ke kaki kanan. Mengamati satu persatu pria yang berdiri di hadapannya.
"Aku ingin Anda menyebutkan harga. Total semua biaya yang sudah anda keluarkan untuk pengobatan ayah Tita dan juga biaya kuliahnya. Oh iya, total yang benar, karena semenjak Semester dua, saat mengambil strata satu hingga sekarang, dia mendapat bea siswa. Jadi, jangan sampai anda salah hitung," ucap Dipa menggoyangkan kakinya dengan santai.
__ADS_1
"Jadi, gadis ja*lang itu sudah punya backup sekarang? Apa kau yakin akan sanggup jika aku menyebutkan harganya?" Rodriguez ternyata bukan orang yang mudah digertak.
"Aku rasa tidak ada harga yang tidak bisa ku bayar di dunia ini. Aku menunggu!" Tantangnya, sudut bibirnya terangkat seolah mengejek.
"Baiklah, Aku ingin 100 Miliar untuk harga gadis itu!"
Dipa tersenyum. Dia sudah menebak pria busuk itu akan mengatakan sesukanya untuk menghentikan langkahnya membawa Tita keluar dari sana.
"Baiklah. Aku setuju. Kirim saja pada Tita nomor rekeningmu. Aku akan bayar semua. Asal Anda juga bayar ganti rugi, atas jari Tita yang patah karena dianiaya putramu. Aku tahu anda bukan pemain baru dalam dunia seperti ini. Satu kasus akan menarik kasus lain untuk diselidiki oleh petugas yang berwajib. Aku sih tidak masalah."
Tepat usai kalimatnya, Tita turun dengan membawa satu buah koper hitam. Dipa langsung berdiri, ingin berdiri di dekat kekasihnya, menjadi pelindung bagi Tita.
"Baiklah, kami permisi dulu. Kalau anda sudah menemukan angka yang tepat, segera hubungi saya."
Tapi hingga melangkah di depan pintu keluar, Dipa melihat tidak ada pergerakan yang artinya mereka diperbolehkan pergi dari sana.
Sampai di mobil, Tita memeluk tubuh Dipa. Memeluk dengan eratnya hingga air matanya turun.
"Hei, ada apa? Kenapa kau menangis?"
"Aku gak menduga kalau hari ini aku akan datang. Aku pikir aku tidak akan bisa lepas lagi dari keluarga itu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku," ucap Tita terbata-bata setelah melerai pelukan mereka. Dipa mengecup pipi gadis itu, kiri kanan dan keningnya. "Terima kasih juga sudah mau berada di sisi ku."
***
"Loh, tumben Om nginap di sini," ucap Scot saat di meja makan, mendapati om nya yang baru akan bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Terpaksa. Miss universe kangen katanya," sahut Dipa mengecup pipi Nani yang duduk di kursi utama.
"What's up bro, sepertinya wajahmu cukup bersinar pagi ini. Apa semalam kau mimpi basah?" ucapnya menyapa Paris yang memang sejak tadi tampak diam, tertunduk dan tersenyum.
"Astaghfirullah..."
"Astafirullah..."
Oma dan Raya serentak mengucap saat mendengar ucapan Dipa. Bahkan yang buat Raya geleng-geleng, Paris justru tertawa dan menyambut Hi-five yang diajukan Dipa.
"Apa-apaan sih, kau ini Dipa? Jangan rusak Paris seperti kamu ya. Umur sudah mau kepala lima tapi masih ngomong asal."
"Umur boleh banyak Oma, tapi lihat dong, Om Dipa masih kayak umur tiga puluhan. Bahkan teman-teman ku banyak yang terpesona kalau melihat Om Dipa datang ke sekolah. Banyak yang kirim salam malah."
"Sudah, kau tidak usah membela om mu perjaka Tua ini. Kalau saja kau tidak lari saat di hari pernikahanmu dengan gadis yang oma jodohkan, mungkin anakmu sudah sebesar Scot," rutuk Nani kesal, mengingat hal memalukan itu.
"Tunggu dulu, untuk apa Om mu ke sekolah kalian?" Tanya Raya yang membuat Elrick ikut penasaran.
Paris sudah mengutuk kesal mulut Scot yang tidak punya filter itu. "Tentu saja menggantikan Papa menemui guru BP karena Paris berkelahi lagi. Auuu... sakit, njir," umpatnya memegang tulang keringnya yang ditendang Paris di bawah meja.
Tatapan Elrick sudah sangat tajam, menatap penuh amarah ke arah Paris dan juga Dipa. Kalau Paris sudah garuk-garuk kepala, Dipa justru hanya santai menyeruput kopinya.
"Habis ini kita perlu bicara, Ris. Temui papa di ruang kerja." Elrick sudah berdiri, melangkah menuju ruang kerjanya, sementara Paris yang terpidana mati, hanya menatap kesal pada adiknya yang ketakutan. "Sorry," ucap Scot menyatukan kedua tangannya di dada.
"Kalau sampai papa nahan motor ku lagi, siap-siap mobil jemputan lo gue ambil alih!"
__ADS_1