Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 23


__ADS_3

Niat Sidney untuk mengatakan yang sebenarnya pada Scot tampaknya harus tertunda lagi. Saat baru muka mulut, guru seni rupa datang memanggilnya.


"Ntar pulang sekolah aja lo ngomong nya. Gue cabut dulu."


Sidney hanya bisa menghela napas. Nyatanya pulang sekolah juga mereka tidak pulang bareng karena Scot harus membantu Pak Sola mengajar kelas ekstra kulikuler dalam bidang seni lukis.


Scot sudah memintanya untuk menunggu, tapi Sidney yang lagi badmood memilih untuk pulang duluan. "Ya udah, pak Komar ngantar lo, biar gue naik ojek," ucap Scot kala gadis itu menolak untuk tinggal.


"Gak usah. Gue aja yang pulang naik ojek. Ya udah ya, gue cabut dulu."


***


Awalnya Sidney ingin singgah di toko buku, tapi karena moodnya berubah lagi, maka dia memutuskan untuk pulang saja. Dalam pikirannya sudah membayangkan untuk berenang di rumah. Setidaknya bisa mengurangi panas dalam hatinya. Lagi pula dengan berenang mungkin akan bisa membuatnya lebih rileks.


Lagi pula, saat pulang tadi, dia masih sempat melihat Paris yang ngobrol di kantin B, dekat parkiran. Sidney tebak, pria itu pasti ingin menunggunya, mengajaknya untuk pulang bersama. Dia masih marah, bukan marah seperti marah tadi, tapi masih tersisa kesal. Jadi, dia memutuskan untuk pulang lewat pintu keluar utama agar tidak bertemu Paris.


Hari ini Paris benar-benar mampu membuatnya kesal setengah mati. Ya, katakanlah dia cemburu. Tapi seharusnya dia jaga jarak dengan Cici, kan? Walaupun mereka belum putus, mengapa dia masih mau disentuh oleh Cici?


"Dasar Paris breng*sek!" umpatnya saat sudah berada di dalam taksi yang membawanya pulang.


Sidney menyerahkan uang 100 ribu pada sopir, karena sudah membawanya mutar-mutar sesuai permintaannya.


Diiringi alunan musik dengan volume full di telinganya, Sidney melangkah masuk ke dalam rumah, naik ke atas dan masuk ke kamar. Baru akan menutup pintu kamar, seseorang sudah menahan pintu itu agar tidak tertutup hingga dia bisa masuk.


Bola mata Sidney membulat, tidak ada kata yang bisa dia ucapkan, hanya melotot menatap tajam ke arah sosok tinggi yang saat ini berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa pulang sendiri? Lewat dari mana? Aku nungguin di parkiran," ucap Paris lembut. Dia tahu, gadisnya saat ini sedang marah dan kesal pada dirinya, jadi dia tidak ingin memperburuk keadaan.


"Bodo amat!"


"Jangan gitu dong, Sayang. Kalau aku ada salah, kita omongin. Kalau kau diam, aku mana tahu salahnya dimana?"


"Kalau ada salah? Jadi menurutmu kau gak ada salah?!" seru Sidney kesal. Tadi rasa kesalnya sudah berkurang, tapi melihat Paris yang tidak menyadari kesalahannya membuat Sidney berang.


Bingung harus jawab apa, Paris akhirnya diam sembari menebak dalam hatinya. Apa karena dia makan mi ayam Sidney? baru lah dia ingat Cici. " Astaga, kenapa gue baru ingat sekarang? Apa Sidney marah karena gue duduk di kantin tadi ada Cici juga di sana? tapi itu bukan salah gue, gadis ganjen itu aja yang mendekat, gue udah usir, tapi gak mau pergi," batinnya. Kali ini Paris merasa yakin kalau itulah penyebab Sidney mendiaminya.


"Masalah Cici... dia..."


"Aku gak mau dengar. Terserah kalau kamu mau balik sama dia. Emang kalian cocok!"


Sidney mendorong tubuh Paris agar dia bisa lewat. Melempar tas ke atas meja belajarnya lalu duduk di tepi tempat tidur untuk membuka sepatunya.


"Saat aku di kantin tadi, dia belum ada di sana. Saat dia tiba dan duduk di dekatku, aku sudah mengusirnya, cuek menganggapnya tidak ada, makanya aku pakai headset dengan volume suara full. Pandanganku juga fokus pada layar ponsel, memainkan pertandingan game online dengan tim dari Inggris, jadi tidak peduli apapun yang dia lakukan." Paris menerangkan dengan tangannya masih terus membuka sepatu dan kaos kaki Sidney.


Kalau sudah diperlakukan seperti ini membuat Sidney jadi merasa bersalah pada Paris sudah bersikap cuek padanya.


"Aku baru sadar kamu ada di sana kala melihat ponsel yang kamu lempar di atas meja. Aku tidak mungkin kembali padanya, karena hatiku sudah ada yang punya. Kamu ingat gembok hatiku ada padamu, jadi bagaimana mungkin ada gadis yang bisa masuk ke dalam?"


Air mata Sidney meleleh. Dia jadi si jahat karena sudah merajuk dan menganggap Paris tidak setia. Mungkin karena kelakuan Paris yang dulu suka gonta-ganti pacar membuatnya langsung mencurigai Paris setiap ada gadis di sampingnya.


Sidney sudah menyerahkan hatinya. Kalau dulu mungkin dia sudah menyukai Paris, sejak kecil, tapi itu hanya rasa kagum berubah wujud jadi rasa suka. Tapi kini, setelah mereka resmi pacaran, dan Paris sudah menyentuh relung hatinya dengan sentuhan lembut dan laku pria itu padanya, Sidney tidak mungkin bisa kehilangan Paris lagi.

__ADS_1


Paris meletakkan sepatu gadis itu di sisi kakinya, lalu menatap ke wajah Sidney. Melihat air mata gadis itu di pipi, Paris bergegas menghapus air matanya.


"Jangan menangis. Aku yang salah. Aku tidak akan meremehkan hal kecil seperti itu. Aku akan mawas diri, aku akan selalu mempertimbangkan apakah ini akan menyakiti hatimu atau tidak," lanjut Paris.


Sidney sudah tidak tahan, matanya masih berkaca-kaca menatap wajah tampan Paris, dan segera menghambur dalam pelukan pria itu.


"Sudah Sayang, jangan nangis lagi. Aku jadi semakin merasa menjadi pria breng*sek," ucap Paris mengangkat wajah gadis itu, saling tatap lalu Paris tahu apa yang harus dia lakukan.


Bibirnya sudah menjelajah tekstur bibir Sidney, dengan lembut dan penuh perasaan. Hatinya bergejolak ingin sekali menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya, ingin menikahi Sidney agar dia tidak perlu merasa takut kehilangan.


Mereka seolah ingin saling mengobati luka masing-masing, hingga tidak ada lagi keraguan. Ciuman itu berubah menjadi lum*atan yang intens dan keduanya begitu larut dalam gejolak dalam hati, hingga napas terus memburu dan tidak mendengar suara pintu dibuka.


"Apa yang kalian lakukan?!"


Lolongan nyaring itu membuat pasangan kekasih itu terkejut hingga refleks Sidney mendorong tubuh Paris dan menatap sosok yang begitu marah dan terluka yang kini berdiri diambang pintu.


Keduanya serentak berdiri. Sidney yang kehilangan kata-katanya hanya bisa melangkah ingin mendekat pada orang yang begitu terluka atas apa yang sudah mereka lakukan.


"Scot... Scot... gue bisa jelaskan..." Sidney yang sudah menemukan lidahnya mulai mendekat, namun belum sampai di tempat Scot berdiri, Scot sudah berlari menuruni anak tangga.


*


*


*

__ADS_1


Duh, kebayang perasaan Scot...😥🤦


__ADS_2