Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 46


__ADS_3

"Raya...," pekik wanita itu kala sudah berhadapan langsung dengan Raya. Terkejut dan tidak menduga Nani sampai datang sejauh ini untuk bertemu dengannya.


"Oma..."


"Hai... " Belum hilang rasa terkejutnya, dari belakang Oma sudah muncul seraut wajah tampan yang tersenyum menyapanya.


"Dipa..." pekik Raya girang. Dia memang sudah sangat merindukan mereka, dan juga Nana. Uh, karyawan sekaligus sahabatnya itu pasti sangat kesepian tanpanya.


"Kau pasti merindukan kami, kan?"


Raya mengangguk cepat. Bahkan kini dia sudah memeluk Nani dengan erat. "Dasar anak nakal, pulang kampung gak pamit pada Oma," ucap Nani menepuk punggung Raya pelan.


"Maaf, Oma," ucapnya dengan suara sendu.


"Kami gak disuruh masuk?" celetuk Dipa tersenyum.


"Oh, Silakan masuk. Sebentar ya, Oma, aku panggil Ayah dulu." Raya berlalu masuk ke dalam, tidak lama muncul kembali bersama Darma. "Ayah, kenalkan ini Oma dan ini Dipa," terang Raya gembira.


"Darma," ucap pria itu dengan nada tegas. Menyalami Oma dan Dipa bergantian. "Silakan duduk."


"Terima kasih, sudah mengizinkan kami bertamu," ucap Oma mengembangkan senyum. Dalam hatinya menghitung peruntungan yang akan dia dapat saat mengutarakan niatnya.


"Sama-sama. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa datang ke sini?" Darma selalu menaruh curiga pada siapa saja yang mencoba bersikap baik pada Raya. Dia pernah kecolongan, membiarkan Raya bertemu dan berteman dengan siapa saja, pada akhirnya putrinya dimanfaatkan orang, hingga hampir gila.


Lalu ingin melindungi Raya, dia menolak lamaran Dika, tapi karena Raya sudah mulai membaik dan tidak dipungkiri sedikit banyak karena andil Dika, Darma pun menyetujui lamarannya. Tapi apa yang didapat, dua tahun pernikahan mereka, Raya dan Dika yang bercerai juga.


Jadi, beralasan kalau saat ini bergonta-ganti orang mendatangi rumahnya untuk menjemput Raya, Darma bersikap dingin, menjaga jarak dan terus mawas diri akan maksud mereka.

__ADS_1


"Saya ke sini, bersama cucu saya Dipa..." Nani menepuk pelan punggung lengan Dipa, "Ingin menjemput Raya, membawanya kembali ke Jakarta."


Darma ingat, sosok Elrick dan juga pembahasan mereka saat pria yang tidak tahan makan pedas itu datang ke sini. Dia juga utusan Oma untuk membawa Raya kembali ke Jakarta. Barulah Darma paham, inilah wanita yang dimaksud Elrick yang selalu dipanggil Oma.


"Pria sebelumnya, yang datang untuk membawa Raya pulang, juga cucu Anda?"


"Benar. Itu cucu sulung saya, sepupunya Dipa. Benar, saya yang meminta untuk datang. Anda tahu, pak Darma, saya nenek-nenek tua renta, yang bahkan untuk berjalan saja harus dibantu tongkat, tapi memilih untuk datang jauh-jauh dari Jakarta ke rumah anda, hanya untuk menemui Anda. Meminta izin untuk membawa Raya kembali."


"Maaf, kalau saya harus mengecewakan Anda, nyonya. Tapi Raya tidak akan pernah kemana-mana," jawab Darma tegas.


Dia tidak ingin anaknya menderita lagi. Selama dia hidup, dia ingin menjaga Raya, menjauhkan dari orang yang bermaksud jahat pada putrinya.


"Kau benar. Dia memang putrimu. Kau berhak penuh atas dirinya, tapi aku juga sudah menganggapnya sebagai cucu kandungku sendiri. Dari awal bertemu dengan Raya, aku sudah menyayangi dirinya. Pak Darma, kasihani aku. Hidupku mungkin tidak lama lagi, aku ingin sekali Raya berada di dekatku."


Darma diam. Bingung harus menjawab apa. Perkataan Nani terdengar sangat tulus, dan dia juga tahu kalau wanita itu adalah orang baik. Tapi, siapa yang akan menjamin Raya akan bahagia di kota sana?


"Jangan khawatir. Aku janji akan menjaga Raya. Jika terjadi hal buruk padanya, kau bisa menuntutku."


"Hufffh... saya tahu ibu dan nak Dipa orang baik dan tulus. Saya bisa lihat dari raut wajah Raya yang begitu gembira atas kehadiran kalian. Tapi saya punya alasan sendiri, mengapa Raya tidak saya izinkan ikut dengan kalian. Nyuwun pangapunten, Raya sudah banyak mengalami penderitaan, dan saat ini, dia juga sudah bercerai dengan suaminya, dan berstatus janda. Ibu dan nak Dipa orang terpandang, orang terhormat, ya kalau bergaul dengan anak saya dengan status seperti itu, apa ndak bikin malu?"


"Saya sudah tahu keadaannya dari Raya waktu itu, dan saya rasa tidak ada alasan membuat saja malu jika Raya berada bersama kami. Justru aku mengutuk perbuatan mantan suaminya itu," terang Nani.


"Ibu, Raya adalah putri saya satu-satunya. Saya tidak ingin melihat dia menderita lagi. Putri saya ini sempat hampir gila, karena sudah diperdaya oleh pria bejat yang tidak punya hati." Air mata Darma meleleh, dan buru-buru dia hapus. Dia merasa malu, tapi menceritakan hal itu membuatnya emosional. Dia bukan berusaha mempermalukan Raya. Tapi dia ingin mereka tahu kalau Raya sudah mengalami penderitaan yang begitu berat, dan berharap jangan lagi membuat Raya menderita.


"Ayah..." ucap Raya dengan nada suara bergetar. Dia berlutut di depan ayahnya, meletakkan wajahnya yang sudah bersimbah air mata di atas paha pria itu. Tangan Darma membelai rambut Raya penuh kasih sayang, lalu mengangkat pundak gadis itu untuk bangkit.


"Raya, ayah ingin mendengar pendapatmu. Apakah kau ingin ke Jakarta bersama mereka, atau tetap di sini dengan ayah?"

__ADS_1


Raya mendongak. Dia melihat wajah Darma lalu berganti ke arah Nani dan Dipa. Wajah-wajah pengharapan yang menunggu jawabannya. Tapi terlepas dari ini keinginan Oma dan Dipa, hati kecil Raya memang ingin kembali ke Jakarta, melanjutkan usahanya, menata hidupnya.


Di sini, hanya ayahnya yang mengasihinya dan menghargai dirinya apapun statusnya saat ini. Warga desa seolah menolak kehadirannya dengan bergunjing dan menatapnya sebelah mata.


"Katakan saja, Ayah tidak akan marah."


"Aku ingin kembali ke Jakarta ayah. Melanjutkan usahaku, menata kehidupanku kembali jadi lebih baik."


Dipa tersenyum lega kala mendengar ucapan Raya. Dia semakin kagum pada sosok berani dan mandiri yang tertanam dalam diri Raya.


"Om tenang saja. Saya akan menjaganya. Mmm... apa saya boleh mengatakan sesuatu, terlebih karena ini dihadapan Om Darma sendiri." Kali ini Dipa angkat bicara. Kepentingan Omanya sudah selesai, Raya sudah diizinkan untuk kembali. Sekarang tinggal menyampaikan keinginannya sendiri.


Sejak tadi dia diam, menyimak dan memahami keadaan Raya. Ayahnya juga tadi sempat bercerita mengenai perpisahan Raya dan mantan suaminya, dan hal wajar jika membuat Darma merasa berat mempercayakan putri satu-satunya itu ke tangan orang lain.


Dipa mengutuk keras perbuatan mantan suami Raya dan ingin sekali memberi pelajaran padanya.


"Apa yang ingin kau sampaikan Dipa. Jangan bertingkah aneh-aneh," hardik Oma yang takut kalau ucapan Dipa membuat Darma kembali menarik ucapannya yang mengizinkan Raya untuk ikut dengan mereka.


"Aku hanya ingin meminta izin pada Om Darma untuk menikahi Raya. Izinkan saya menikahi Raya, Om. Saya mohon."


*


*


*


Kira-kira diizinkan gak ya, sama pak Darma? keterima gak nih lamaran Dipa?

__ADS_1


Bagi hadiah dong kak, hari ini aku ulang tahun, kalau ada yang mau kasih ucapan happy birthday, boleh dong, itung2 amal buat aku senang 🙏😁


__ADS_2