
Raya sudah tiba di parkiran, kala tangannya ditarik oleh seseorang. Jeritannya hampir saja berkumandang di parkiran, tapi tidak jadi karena melihat siapa orang yang memegang tangannya.
"Mas Elrick...," desisnya dengan dada naik turun. Dia pikir itu tadi gerombolan Meyra atau tidak orang disuruh wanita itu untuk menangkapnya. Tubuhnya bergetar, terguncang akan tangis yang tertahan. Rasa takut benar-benar menguasai dirinya tadi.
Dia sendiri tidak tahu keberanian dari mana datangnya, hingga berani menangkis tangan Meyra dan melawan perkataan sekelompok wanita rubah itu. Dia hanya ingat perkataan Elrick yang pernah memintanya untuk berani membela diri, jangan mau direndahkan orang. Pria itu mengatakan padanya di malam dia diculik untuk kedua kalinya.
Perkataan itu seolah jadi jimat yang memberikan keberanian padanya.
"Kau baik-baik saja?" Suara Elrick yang terdengar lembut itu justru membuat dia tidak baik-baik saja. Elrick selalu lebih lembut padanya saat mengetahui perasaan Raya sangat sedih, kata lo gue pun tidak akan dia gunakan. Dia semakin ingin menangis, dan itu pun dia lakukan. Gadis itu menunduk, Elrick menatap pundak Raya yang bergetar karena tangisnya.
Spontan Elrick menarik tubuh Raya masuk ke dalam pelukannya. Hangat, dan itu buat Raya semakin mengeraskan tangisnya. Dia merasa terlindungi. Seolah ayahnya ada di sisinya untuk melindunginya. Tidak ada yang perlu dia takuti. Begitu damai.
Elrick membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Dia diam dengan tangan yang terus menghapus punggung Raya.
"Maafkan aku," bisik Elrick tanpa sadar. Dia tahu semuanya. Saat di jalan sepulang mengantar Meyra ke tempat itu, di pertengahan jalan, Dono mengabarinya, mengatakan Raya pergi ke restoran kenanga, membuatnya ingat kalau Meyra juga mengatakan akan pergi ke sana. Perasaan tidak enak, secepat mungkin putar balik.
Firasatnya mengatakan kalau ini pasti ada hubungannya dengan Meyra. Kalau sampai terjadi hal buruk pada Raya, dia tidak akan memaafkan dirinya. Elrick sadar kalau Meyra mengganggu Raya karena tidak terima kedekatannya dengan gadis itu, bahkan permintaan untuk mengakhiri hubungan dengan Meyra pasti penyebab utama gadis itu ingin memberi pelajaran pada Raya.
__ADS_1
Raya melerai pelukan mereka. Tersadar dan malu. "Kenapa kau minta maaf? mas Elrick gak salah. Aku nangis karena kaget. Aku pikir yang menarik tangan ku tadi adalah..." Raya menghentikan kalimatnya. Tidak ingin Elrick sampai tahu kalau yang membuatnya menangis adalah Meyra dan tim. Tapi diamnya Raya yang menatap mata Elrick membuatnya kembali menangis. Dia benci dirinya yang cengeng.
Tapi Elrick sudah tahu, dan dia tidak akan tinggal diam. Walau dia tidak melihat apa yang sudah mereka perbuat, tapi air mata Raya sudah berhasil membuatnya murka.
"Sudahlah, jangan nangis lagi. Wajahmu sudah jelek, ditambah air mata membuat tampilanmu seperti istri yang ditinggal mati suaminya. Kita pergi dari sini."
Setelah keluar dari parkiran dan berkendara 10 menit, Raya menanyakan tujuan mereka. Tapi si polar bear tentu saja tidak mau membuang energi untuk menjawab. Mobil masuk ke dalam parkiran sebuah cafe besar yang bentuk bangunannya sangat estetik.
"Kau mau eskrim? ayo, turun," ucap Elrick membuka pintu mobilnya. Dia yang kaku tentu saja tidak mengerti cara menghibur wanita yang sedang menangis. Selama ini tangisan wanita yang berada di sisinya tida pernah dia indahkan, lagi pula para wanita itu tahu, tidak ada gunanya melakoni sandiwara menjadi wanita yang teraniaya karena Elrick tidak akan peduli.
Ini yang pertama baginya. Jadi dia hanya ingat pengalamannya dulu. Saat menangis sejadi-jadinya ketika ibunya bertengkar dengan ayahnya, meminta cerai dan pergi meninggalkannya, untuk yang pertama kali, sebelum dibujuk pulang oleh ayahnya, Intan datang membawa dua buah eskrim, memberikannya pada Elrick dan keduanya duduk di taman samping rumah Nani. Saat itu Intan yang ada di sisinya, menghibur dirinya yang hancur berkeping.
Kenangan itu tidak akan dia lupakan. Sosok Intan menjadi penyelamat hidupnya. Beberapa tahun setelah kepergian mamanya, Tomo yang terluka dan begitu larut dalam kesedihannya karena kepergian Silvira, meminum semua obat yang dia punya, hingga meninggal.
Kejadian bunuh diri itu, membuat keluarga Diraja hancur. Malang tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, beberapa tahun setelahnya, kabar duka kembali datang, kabar kecelakaan Intan dan Rama.
Kedua anak itu tertatih untuk menjadi anak yang kuat dan juga mandiri. Menyembunyikan rasa duka dan luka mereka.
__ADS_1
Raya berjalan mengikuti langkah Elrick masuk ke dalam. Wajah sedihnya berubah ceria melihat eskrim yang sangat menggoda yang disajikan di hadapannya.
"Ini untuk aku?" Senyumnya mulai terbit.
Elrick hanya mengangguk. Gadis itu penuh antusias menyuap eskrim ke dalam mulutnya. Terasa segar dan tentu saja nikmat.
"Apa Meyra memintamu untuk datang menemuinya?" Elrick yang sejak tadi memperhatikan Raya makan mulai larut dan hanyut pada pesona gadis itu hingga hampir saja melupakan tujuannya.
"Emmm...." ucapnya menggeleng, susah menjawab karena mulut yang penuh dengan eskrim. Cepat menelan, hingga bisa buka suara. "Justru aku mendapatkan pesan darimu. Eh, tunggu dulu, bagaimana mas Elrick bisa tahu kalau aku di dalam tadi bertemu Mbak Meyra?"
"Lo dapat pesan dari gue?" kening Elrick mengkerut. Kapan dia mengajak ketemuan gadis ini. Pasti Meyra sudah menyadap ponselnya. Tapi omongan Raya sedikit banyak membuat Elrick tersadar. Gadis itu datang ke restoran karena menganggap dirinya yang mengajak bertemu, yang artinya...
Senyum samar terbit di bibir pria itu. Untuk apa gadis itu mau diajak ketemuan kalau tidak punya rasa padanya. Terlalu cepatkah Elrick mengambil kesimpulan?
"Nih..." Raya menyodorkan ponselnya yang sudah dia buka pesan dari Elrick. Lama pria itu mengamati, benar itu dari nomornya dan melihat waktu pesan itu di kirim, tepat saat Elrick masih berada di kantor. Perlahan dia ingat, sebelum mengantarkan Meyra, dia sempat ke toilet, saat itu lah dipergunakan Meyra untuk mengirim pesan pada Raya.
Setelah membaca pesannya, Elrick mengembalikan pesan itu, lalu tanpa sengaja melihat kita masuk atas nama Dika. Dia tahu kalau pria itu adalah mantan suami Raya. Diliriknya sekilas gadis yang ada di depannya, tengah sibuk menikmati es krim bak anak kecil. Kesempatan itu Elrick ambil untuk membuka pesan dari Dika, membaca sekilas lalu mendengus kasar.
__ADS_1
Menimbang sesuatu di hatinya, Elrick memutuskan untuk memblokir saja nomor pria kardus itu agar tidak bisa menghubungi Raya lagi.