
Setengah jam perjalan, Lani sudah tiba di tempat yang disebutkan Gisel. Dengan langkah ragu, dia masuk ke dalam ruangan itu. Kali ini tidak hanya ada Gisel seorang, namun juga ada Luna dan Bunga.
"Nyampe juga, Lo? kenapa lama banget, sih?"
"Macet. Sorry. Ada apa sih? kok calling nya dadakan? suami aku lagi sakit. Ngurus dia dulu, gitu dia udah tidur, baru aku bisa cabut kemari."
"Dih, suami gitu aja pake acara diurus. Udah paling benar lo bareng kita aja," ucap Gisel mengedipkan mata pada Bunga.
"Iya, Benar, Lan. Kita ajak lo kesini buat kenalin lo sama om Broto." Kali ini Bunga yang mulai menabur racun pada Lani.
"Hah? janganlah. Aku gak enak, takut ketahuan sama suamiku."
"Sekarang gue tanya, lo mau duit banyak gak? lo ga mau kayak kita punya barang-barang branded? dengan lo bergaul di kelas atas, lo bisa buka jalan bertemu sama orang-orang hebat yang punya duit dan kuasa!" Terang Luna tidak ingin diam.
"Tapi suami aku..."
"Ah, itu mah gampang. Kalau lo belum mau cerai sama suami lo, tinggal main belakang aja. Suami lo kerja lo bareng kita, temani Om-om yang bisa kasih kita cuan yang banyak." Gisel semakin keras memperdaya Lani.
Ketukan dari luar, membuat keempatnya diam, lalu tersenyum menyambut empat pria separuh baya yang dari potongannya Lani bisa menebak inilah yang dimaksud Gisel ATM berjalan mereka.
"Om, udah pada datang. Duduk Om," sambut Gisel dengan gestur tubuh genitnya.
Lani diam, tubuhnya kaku kala salah satu pria itu duduk didekatnya atas suruhan Gisel. Tanpa perkenalan dan juga mengatakan apapun, pria itu sudah merangkul pundak Lani, dan tersenyum padanya. "Siapa namamu, Cantik?"
Seketika lidah Lani keluh. Dia diam seribu bahasa. Tidak tahu harus berkata apa. Tapi sorot mata mengancam Luna membuat Lani tidak bisa berkutik lagi.
"Lani, Om."
"Nama yang bagus, wajah juga cantik, dan tubuhmu membuat Om merasa kembali muda," ujar Om Broto, mentoel pipi Lani.
__ADS_1
Pada Awal, Lani terasa kaku dan juga ketakutan, nyatanya segelas Vodka bisa membuatnya kini terasa rileks, bercanda dan tertawa bersama teman-temannya.
***
"Lani... Lani..." panggilan ke sekian kali itu tidak juga mendapat tanggapan. Orang yang dipanggil pun tidak tampak.
Dika memutuskan turun dari tempat tidur. Lama tidak mendapat jawaban, Dika beranjak keluar dari kamar. Kepalanya begitu sakit, dan demam ditubuhnya sudah mulai turun.
"Ibu, Lani mana?" tanyanya saat mendapati ibunya duduk di depan televisi. Diliriknya jam di dinding, sudah pukul tujuh malam. Pengaruh obat itu membuatnya tertidur dengan pulas dari siang hingga malam begini.
"Kau bertanya istrimu jam segini? ini terlalu pagi untuk pulang. Tunggulah pukul 11 nanti, itu pun kalau dia pulang," sahut Titin kesal. Semakin hari, Lani semakin tidak terkontrol. Titin yang butuh ketenangan agar cepat sembuh, justru semakin stres memikirkan masalah rumah tangga anaknya.
"Jam berapa tadi dia pergi, Bu?" jam 11 siang," sahut Titin ketus. Dia jadi uring-uringan karena Dika tidak mau mengikuti ucapannya untuk menceraikan Lani dan kembali mengejar Raya.
Dika menghempaskan tubuhnya di samping Titin. Diam meratapi rumah tangganya yang diambang kehancuran. "Lusa ibu mau pulang. Lebih baik ibu tinggal di kampung saja. Pengobatan ini rasanya sia-sia karena kalau di sini kepikiran terus pada masalah kalian ini. Lagi pula, bapakmu sudah meminta ibu pulang saja."
Satu persatu kalimat Titin dicermati. Dia juga tidak bisa berkata apapun. Dia sudah pasrah. Terbayang kembali wajah Raya. Wajah lembut yang begitu dia cintai. Wanita yang selalu menghargainya dan juga ada disetiap suka dan duka. Kadang Dika berpikir, keadaannya bisnisnya yang saat ini morat-marit, apakah karena balasan akan dosanya yang sudah menzalimi Raya. Dia tahu ada rejeki istri itu ada, tapi mengapa selama menikah dengan Lani, rejekinya semakin seret.
***
"Enak banget emang jadi lo, Mey. Beruntung banget dapat Miliarder kayak Elrick. Kasih gue satu dong, adiknya. Gue dengar dia punya juga kan adik sepupu yang gak kalah hot sama dia, buat gue aja deh, Mey," ucap Luna merayu.
"Dipa maksud lo? ya usaha dong, lo. Gue bukan gak mau bantu, tapi Dipa memang gak suka sama gue, tidak gue datang ke rumah Oma, selalu buang muka. Seram, gue gak mau, sorry deh, Lun."
Tidak lama menunggu, Elrick yang memang tengah berada di jalan, mampir untuk menjemput Meyra. Walau mungkin Elrick terkesan dingin, namun dia tipe pria yang bertanggungjawab dengan pasangannya, walau tidak ada cinta di hati sekalipun.
Karena Elrick tidak mau naik, terpaksa Meyra yang turun. Untuk hal seperti itu, seolah bermanja dan menjadi putri, Meyra tidak dapat tempat di hati Elrick.
"Kita ikut deh, lumayan cuci mata lihat wajah tampan Elrick. Mey, kalau lo udah bosan, kasih Elrick buat gue ya," celetuk Luna masih mengharap.
__ADS_1
"Jangan harap. Sampai mati, gue gak bakal tinggalin dia!"
"Sel, sekaya apa sih, pacarnya Meyra?" bisik Luna penasaran. Sejak menunggu kedatangan pria bernama Elrick ini, semua teman-temannya bahkan beberapa orang yang ada di pesta itu terus membahas pesona Elrick Diraja. Pengusaha muda dan sukses yang saat ini banyak dimintai wanita muda, bahkan hingga istri pengusaha lainnya.
"Lo gak kenal Elrick Diraja? sering wara-wiri di berita. Baca tuh portal berita online, banyak bahas dia. Baik kekayaan sampai soal asmara," terang Gisel.
Meyra yang mendengar kekasihnya dipuji, tersenyum berbangga hati. Setiap gadis pasti merasa iri padanya. Hanya seorang Meyra putri yang bisa menaklukkan hati Elrick.
Mereka tiba di depan mobil Elrick, pria itu sama sekali tidak ingin keluar untuk membuka pintu mobil bagi Meyra. Elrick memang bertanggungjawab pada Meyra, tapi bukan menjadi kekasih yang mencintai. Jelas di dalam hubungan mereka, Elrick sudah mengatakan dengan tegas, bahwa diantara mereka hanya ada kesenangan. Partner di atas ranjang. "Kau bisa minta apa saja. Uang , waktu, bahkan diriku, tapi jangan minta cinta. Dalam hidupku tidak ada itu cinta!" Ucapan Elrick itu terus berulang, setiap kali Meyra mengatakan kalau dia sangat mencintai Elrick. Satu tahun pacaran, Meyra merasa sedih karena tidak akan pernah dicintai pria itu, tapi setelah masuk tahun kedua hubungan mereka, gadis itu sudah tidak peduli, selagi Elrick masih menjadi miliknya.
Meyra masih berbicara pada Gunawan, desainer yang malam itu berulang tahun, kalau ingin menghubungi ponsel Meyra guna menyuruh cepat masuk dalam mobil, Elrick terkejut, melihat wajah wanita yang saat itu berdiri di dekat Gisel.
Spontan dia turun. Meyra dan teman-temannya yang kaget sekaligus gembira melihat Elrick turun segera merapikan penampilan masing-masing. Meyra yang merasa tersanjung melihat kedatangan Elrick untuk menjemputnya tersenyum bangga.
Mata Elrick terus menatap tajam ke arah Lani, hingga tepat berdiri di depan wanita itu, memastikan dengan seksama kalau itu adalah wanita bia*dab yang menjual Raya.
"Selamat malam. Meyra, dia teman barumu?" tanya Elrick masih menatap Lani. Gadis itu yang ditatap merasa bangga karena beranggapan Elrick terpesona padanya.
"Hah? dia? i-iya... kenapa, Beb?" tanya Meyra sedikit takut, kalau-kalau Elrick menyukai Lani.
"Lan, kenalkan pacar gue," ucap Meyra jutek.
Lani dengan senyum genit, yang memang terpesona pada Elrick mengulurkan tangannya malu-malu.
"Lani, Mas."
*
*
__ADS_1
*
Ada yang tahu, Bakal diapain nih si Lani sama Elrick??ðŸ¤