Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 53


__ADS_3

Sidney masih enggan melangkahkan kakinya lebih dekat ke arah rumah itu, masih terus mengamati dari tempatnya berdiri saat ini.


"Kakak...," seru seorang bocah dari arah belakang. Sidney berbalik dan saat itu setelah empat tahun lebih berlalu, dia kembali bertemu dengan Sandi yang kini menatapnya dengan tatapan haru. Dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Sidney lagi.


"Kakak datang, asyik..." suara Dimas membuat tatapan mereka terputus.


"Iya." Sidney tersenyum sembari mengusap kepala Dimas.


"Kamu datang, Sid." Suara Sandi terdengar bergetar, bahkan bola matanya sudah berkaca-kaca.


"Hai, Pa. Apa kabar?"


"Ba- baik," sahutnya cepat sesaat setelah menghapus jejak air mata yang turun di pipinya. "Masuk, Sid."


Dina, nama wanita itu. Dia juga sama terkejutnya dengan Sandi kala melihat kedatangan Sidney.


"Masuk, Sid. Kamu datang," sambut Dina gembira. Hati Sandi menghangat kala istrinya itu bersikap ramah menerima kedatangan Sidney.


"Ini, ada sedikit oleh-oleh." Sidney menyerahkan bungkusan yang tadi dia tenteng. Dina menerima dan mengucapkan banyak terima kasih.


"Kamu sehat?" Basa basi yang diucapkan Sandi, karena salah tinggi dan tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.


"Baik, Pa."


Tiba-tiba Sandi berdiri dari duduknya, berjalan ke samping Sidney dan berlutut. "Papa... Apa yang papa lakukan?" Sidney pun memapah Sandi, membantunya untuk berdiri, tapi pria itu menolak dan tetap berlutut.


"Papa mau minta maaf padamu. Walau papa tahu, tidak ada gunanya lagi, tapi perasaan bersalah terus saja mengikuti papa selama bertahun-tahun ini. Papa adalah ayah yang tidak becus, yang sudah menelantarkan mu. Papa sangat merasa bersalah pada mama mu dan juga padamu. Maafkan lah, papamu ini, Nak."


Dina sudah terisak, dan Sidney yang diam merasakan dadanya yang sesak karena menahan tangis.


"Papa tidak mengharapkan apapun dari mu, Sid. Hanya ingin maafmu untuk papa. Besok, lusa suatu hari nanti, saat papa sudah menyusul ibumu, papa bisa menjelaskan padanya."


Sidney tidak tahan lagi, segera memeluk ayahnya. Menangis berdua, meraung hingga lelah.

__ADS_1


"Terima kasih sudah diizinkan makan siang di sini," ucap Sidney menarik garis bibirnya, membentuk senyum pada Dina.


"Sama-sama. Kita keluarga, kenapa harus berterima kasih. Sering-seringlah datang ke sini, ya," ucap Dina yang diangguk Sidney.


Takdir kadang masih suka bercanda dengannya. Setelah bertahun, baru ini dia bisa makan satu meja dengan ayahnya. Selesai makan siang, kembali Sandi mengajak Sidney ngobrol, tapi kali ini mereka duduk di bawah pohon rindang di pekarangan belakang rumah.


"Pa, bulan depan aku akan menikah," ucapnya dalam satu kali tarikan napas.


Sandi melihatnya, lalu mengangguk. "Kamu sudah dewasa, memang sudah waktunya tiba. Papa paham dan akan mengerti jika kamu tidak ingin papa hadir di pesta pernikahanmu. Papa tetap akan memberikan restu papa untuk kebahagiaan mu, Nak."


"Kedatanganku ke sini selain ingin bertemu papa, juga ingin meminta agar papa yang menikahkan ku."


Sandi tidak bisa lagi membendung air matanya. Menikahkan putrinya adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan seorang ayah. Dia pikir setelah apa yang sudah dia lakukan pada Sidney, hak itu tidak akan lagi dia dapatkan.


"Papa pasti datang, Nak."


***


Saat Sidney pulang, dia langsung menuju rumah Diraja. Hari sudah gelap, asyik bercerita dan bermain ular tangga dengan Dimas, membuat Sidney lupa untuk pulang.


Terlihat Elrick begitu marah, menatap Scot yang ada di hadapannya, sementara Paris justru memperhatikan dirinya, dengan alisnya yang naik-turun, Paris seolah menuntut penjelasan mengapa dia pulang semalam ini.


Sidney seolah tidak melihat isyarat itu fokus pada Raya yang menangis.


"Kau jangan diam aja! Sekarang harus bagaimana?"


"Aku gak tahu, Pa. Aku juga bingung. Aku sama sekali gak tahu kalau Gladys hamil."


Bola mata Sidney membulat. Dia melirik ke arah Paris, dengan mimik wajah bingungnya bertanya ada kejadian apa sebenarnya. Apa benar yang baru dia dengar kalau Gladys hamil.


Paris mengangguk samar, sembari menyipitkan matanya, entah apa maksudnya, yang jelas membuat Sidney merasa malu.


"Besok kita ke rumah sakit. Kamu harus bicara dengan ayah Gladys, kalau pun kamu dilaporkan ke polisi, maka terima saja nasibmu!" ucap Elrick menarik tangan Raya, membawa wanitanya yang sejak tadi menangis karena masalah yang dihadapi Scot.

__ADS_1


Begitu suami istri itu naik, Sidney segera Sidney bangkit dan duduk di samping Scot. Mengusap pundak pria yang saat ini menunduk karena malu sudah membuat orang tuanya kecewa.


"Scot, kamu baik-baik aja?"


Scot memeluk Sidney dengan kegelisahan di hatinya. "Bantuin gue, Sid. Apa yang harus gue lakukan. Gladys hamil, gue gak tahu kau dia hamil, gue juga gak tahu kalau dia coba menggugurkan kandungannya, hingga masuk rumah sakit."


"Apa?" Astaga... Kasihan Gladys. Lo yang kuat ya, Scot. Terus kenapa lo di sini? Seharusnya lo di rumah sakit, temani dia."


"Masalahnya di situ. Nyawa ceweknya almost die, over dosis minum obat pencahar, hingga lemas dan tak sadarkan diri. Orang tuanya gak terima dan mau menuntut bocah bang*ke ini!" terang Paris santai, mengeluarkan ponselnya dan mengecek sesuatu di sana.


Scot hanya diam mendengarkan, tidak membantah apapun yang dikatakan Paris, karena itu memang kenyataan. Sidney yang tidak terima, memberikan pelototan pada pria itu.


"Apa, Sayang? Memang benar kan, dia brengsek. Masa buntingin anak orang gak tahu. Gitu kalau main gak pake perhitungan, saking enaknya lupa cabut."


"Ris, bisa gak jangan memojokkan Scot, kamu tuh harusnya nolongin dia."


"Biarkan aja Sid. Dia memang lagi di atas awan. Lo senang, kan, dengan begini papa semakin benci sama gue? Lo emang anak emas, gak pernah dihakimi padahal sejak dulu sering melakukan kesalahan. Lo bahkan hampir bunuh orang di London, papa juga back up lo, bukan kayak gue, sekalinya buat kesalahan udah dianggap buat aib dan gak pantas dianggap anak!"


Paris yang merasa disenggol, diingatkan kembali masa lalunya terpancing. "Jadi mau lo apa? Lo udah dewasa, belajar menyelesaikan masalah yang lo buat sendiri! Asal lo tahu, masalah gue di London, gue selesaikan sendiri, gak ada bantuan papa!"


"Jadi, lo mau apa? Lo gak terima punya saudara kayak gue?" Tantang Scot berdiri.


"Udah dong, jangan berkelahi," ucap Sidney yang sudah berdiri di antara mereka. Sidney takut, kejadian saat SMP dan SMA dulu terulang kembali. Mereka saling baku hantam hingga babak belur.


"Lepasin, Sid. Biar gue layani putra mahkota keluarga Diraja yang terhormat ini!"


*


*


*


Duh, kok malah bertengkar, sih?🙄🙄

__ADS_1


Udah, biar aja bertengkar, kalian mampir aja di novel ini, seru dan bagus..



__ADS_2