Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 40


__ADS_3

Pukul delapan malam, Sidney baru pulang dari tempatnya menenangkan diri. Booking room yang awalnya hanya satu jam, ternyata tidak cukup, hingga harus di tambah dua jam lagi.


Perasaannya kini sudah lega. Tidak ada lagi beban di hatinya. Dia pulang dengan perasaan lega, tapi hanya sedikit.


Sebenarnya dia enggan untuk pulang ke rumah itu, tapi dia gak mungkin tidak pulang. Kembali dia berputar, melihat rumah Diraja, hatinya ingin sekali ke sana, tidur di pelukan Raya seperti dulu saat dia sedih saat kepergian ibunya.


"Gak, Sid. Lo gak boleh nyusahin keluarga Diraja lagi. Masalah lo ya masalah lo, jangan libatkan lagi mereka."


Sidney memutar kembali tubuhnya dan masuk ke dalam rumah yang sudah tidak terasa seperti rumah lagi. "Non udah pulang? bibi siapkan makan malam buat Non, ya?"


"Makasih, Bi. Papa mana?"


"Tuan sudah pergi. Katanya mau jemput keluarga, mau dibawa kemari."


Deg!


Sakit itu kembali lagi. Ayahnya bahkan tidak merasa sedih karena pertengkaran mereka tadi. Sidney pikir, saat dia pulang, Sandi mau mengajaknya bicara, dan terpenting meminta maaf. Ini, malah pergi menjemput istri dan anaknya, seolah ingin menunjukkan kalau ada atau tidak ada dirinya, tidak jadi soal bagi pria itu.


"Aku ke kamar dulu, Bi."


Dalam kamarnya, Sidney memikirkan semua yang terjadi. Dia terbuang. Kini tidak ada lagi yang menganggapnya keluarga dan penting di sini.


"Lo harus tahu diri, Sid. Sekarang lo bukan siapa-siapa di hati pria itu," cicitnya menghapus air matanya.


Tiba-tiba dia teringat Scot. Di raihnya ponselnya. Terdengar nada sambungan di seberang sana yang tidak lama segera dijawab oleh sahabatnya itu. "Sid, nanti gue hubungi balik, gue lagi bareng Gladys. Nanti, ya."


Sambungan terputus. Bahkan sahabatnya saja punya kehidupannya sendiri. Walau ragu, dia juga menghubungi Paris. Sejak pagi pria itu, tidak menghubunginya. Hanya pesan yang mengatakan dirinya akan pergi ke kampus dan akan mengadakan ujian mid semester.


Berulang kali dihubungi, tapi Paris tidak mengangkat ponselnya. Sidney mengulang kembali, tapi hasilnya tetap sama.


"Selamat datang di dunia yang sesungguhnya, Sid," ucapnya tertawa, menertawakan keadaanya yang menyedihkan, lalu mematikan ponselnya dan mencoba tidur.


Hingga pukul tiga pagi, Sidney tidak bisa tidur. Dia ingin sekali cerita, ingin dihibur, takut, dan semua yang dia coba hubungi tapi tidak ada hasilnya, menyadarkan dirinya tidak punya siapa-siapa.


***


Pukul delapan pagi Sidney bangun. Dia sudah memikirkan dengan baik, dan sampai pada satu keputusan.

__ADS_1


Sidney mulai membereskan barang-barangnya, memasukan ke dalam koper, lalu bersiap untuk mandi.


"Sidney, Tante kangen banget sama kamu. Kemarin kata Scot kamu janji mau ke sini, tapi Tante tunggu gak datang. Tante samperin ke rumah, kata bi Inem, kamu lagi ke luar."


"Iya, Tan. Ada yang dikerjakan kemarin."


Raya memandangi wajah Sidney. Gadis itu mungkin tersenyum padanya, tapi dia tahu ada yang disembunyikan olehnya.


"Ikut Tante," ucap Raya menarik tangannya, menaiki anak tangga menuju kamar Sidney.


"Katakan pada Tante semuanya."


"Katakan apa Tante? Gak ada apa-apa," ucapnya tercekat. Kembali dia memoles wajah sayunya dengan senyuman.


"Kamu memang bukan dari rahim Tante, tapi sudah seperti anak kandung Tante sendiri. Setiap kamu punya masalah, walau bibirmu ini gak cerita, matamu yang indah menjelaskan semuanya pada Tante."


Sidney bergeming, hanya menatap wajah Raya. "Sejak kapan kamu menyimpan rahasia dari Tante?"


"Beneran Tante, gak ada apa-apa. Aku cuma kangen, mau ketemu Tante, Om dan Oma."


"Tante aku pamit, ya..." Sidney berdiri, dia tidak sanggup untuk berlama-lama bersama Raya tanpa harus mengatakan semuanya.


"Baiklah, kalau begitu. Besok Tante mau ke salon, temani ya?"


Sidney hanya tersenyum. Dia ingin sekali tinggal, tapi tidak mungkin. Tempatnya sudah tidak ada di sini.


Sidney berjalan ke luar kamar. Sekali lagi diamatinya kamar itu. Tempatnya menghabiskan masa kecil hingga remajanya dengan penuh kebahagiaan.


"Terima kasih semuanya," batinnya membuka pintu. Tapi sentuhan Raya di pundaknya yang tepat berdiri di belakangnya, membuat hati Sidney hancur. Dia berbalik dan menatap wajah Raya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak sanggup, dan memeluk Raya.


Tangisnya pecah hingga sesunggukkan. Raya diam, hanya memeluk tubuh rapuh Sidney, mengelus punggung gadis itu tanpa mengatakan apapun juga. Raya ingin membiarkan Sidney puas menumpahkan kesedihannya.


10 menit berlalu, tangis Sidney reda. "Aku sayang sama Tante, tapi aku gak bisa lagi di sini. Tante, izinkan aku pergi. Aku akan selalu ingat sama Tante. Bagiku, Tante adalah ibu yang sangat menyayangiku. Terima kasih untuk semua kasih sayang, Tante," ucapnya masih memeluk Raya, sedikitpun tidak ingin mengendorkan pelukannya.


"Ada masalah apa, Sayang?" Raya sudah mengurai pelukan mereka. "Apa Paris membuatmu terluka?"


Sidney hanya menggeleng. "Tante sayang padaku?"

__ADS_1


"Tentu saja, gadis bodoh!"


"Kalau begitu, izinkan aku pergi tanpa menanyakan alasannya. Aku pamit."


"Tapi kamu mau ke mana? Tante harus tahu kamu mau kemana, apa aman, apa nyaman untukmu..."


"Aku pasti baik-baik saja Tante. Biarkan aku menenangkan diri dulu untuk saat ini. Jangan cerita pada siapapun tentang kepergianku ini. Jangan tanya pada papa atau pada siapapun. Aku mohon kalau Paris pun bertanya, katakan saja Tante gak tahu aku kemana."


"Tante gak mau."


"Aku mohon, tolong aku, anakmu ini, mama..."


Raya menangis, memeluk kembali putri yang paling dia sayangi itu. "Pergilah. Kamu tahu kemana harus pulang, saat nanti kamu ingin pulang. Pergilah bersama restuku. Kejar impianmu. Selamanya kamu adalah putriku."


Setelah Sidney menemui Oma, tanpa curiga, Oma melepas kepergian Sidney. Pergi kemana kakinya melangkah.


Raya memohon untuk mengantarnya, tapi gadis itu memohon juga untuk menolaknya. "Aku gak akan bisa pergi kalau Tante ngantar. Aku gak akan sanggup."


Akhirnya, kepergian gadis itu hanya bisa diiringi Raya lewat doa dan melihat dari balik jendela saat taksi menjemputnya.


Setelah itu Raya menangis seperti kehilangan separuh nyawanya. Dia memejamkan mata mengingat Lia. Merasa bersalah karena sudah membiarkan putri mereka pergi, membawa beban yang tidak ingin dia bagi.


"Kemanapun kamu melangkah, ada doa seorang ibu yang menyertaimu, Nak," ucapnya menghapus air matanya.


Kemana Sidney membawa langkahnya, dia sendiri pun gak tahu. Dia hanya coba untuk mencari jati dirinya. Tempat pertama yang dia tuju adalah makam ibunya.


"Hai Ma, aku datang setelah sekian lama aku tidak mau ke sini. Hingga saat ini aku belum mau mengakui kepergianmu. Melihatmu di sini, sangat menyakitkan bagiku, tapi seiringnya waktu, aku sadar, kita semua akan menuju ke sana.


"Ma, aku pamit ya, aku mau pergi. Jaga dan lihat aku selalu dari atas sana..."


*


*


*


Ah, nyesal nulis part ini, aku nangis😭😭😭 Sidney tegar ya... author nya gila ni, buat jalan ceritanya sampe begini🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2