Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 75


__ADS_3

"Hai...," Sapa Raya kala menemui Dipa yang sudah berdiri dengan punggung bersandar di dinding rumah Raya.


Raya baru melihat lima kali panggilan dari pria itu setelah keluar dari kamar mandi. Satu pesan dari Dipa yang menyampaikan kalau dia sudah ada di depan rumahnya membuat Raya buru-buru menyelesaikan berpakaian. Rambutnya saja belum sempat dia keringkan, hanya di sisir seadanya.


Raut wajah lesu Dipa sudah bisa menjelaskan tujuan datang ke rumahnya. Raya juga mengerti arti kesedihan dan kecewa yang ditunjukkan pria itu. Tapi boleh tidak, Raya tidak ingin membahas hal ini, lagi pula dia tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apa pun pada Dipa.


"Masuk, yuk," tawar Raya melihat Dipa tidak berniat menjawab sapaannya. Pria itu mengikuti langkah Raya yang saat ini berpikir keras akan jawaban yang akan dia katakan pada Dipa.


"Duduk, Dip. Bentar aku ambil minum dulu," ucap Raya berbalik, namun pergelangan tangannya ditangkap oleh Dipa. "Gak usah, Ray. Aku sebentar aja kok. Bisa bicara sebentar?"


Raya menarik tangannya, dan Dipa terlihat terluka akan reaksi Raya.


"Ray, aku terkejut dengan yang aku dengar. Tapi aku masih tidak percaya sebelum aku mendengar langsung dari mu," kata Dipa menatap tajam wajah Raya.


Benarkan, Raya jadi merasa tidak enak. Kenapa Dipa harus menyukainya sih, kan jadi ribet urusannya.


"A-Apa, Dip?"


"Ray, benarkah kau akan menikah dengannya?" wajah Dipa yang semakin tampak terluka membuat Raya semakin sedih dan tidak tega.


"Iya, Dip."


"Kenapa, Ray? Bukankah aku sudah lebih dulu melamar mu? memintamu untuk menikah denganku? kau pasti tahu Ray, kalau aku sangat menyukaimu."


Raya hampir saja menangis melihat kilat bening di mata Dipa. Dia tidak ingin membuat pria itu menderita, tapi dia juga gak bisa bohong kan kalau yang dia sukai bukan dia tapi Elrick.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Dip."


"Bukankah saat itu kau bilang kau belum mau menikah, belum mau dekat dengan pria lain? lantas apa semua ini? aku bahkan tidak tahu kalau kau dekat dengannya. Aku sangat menyayangimu, Ray. Kalau pun bukan aku, kenapa harus dia yang kau pilih. Kau tahu betul aku sangat membencinya! Semua yang aku ingin kan dia milik. Aku pikir hanya satu yang dia tidak bisa miliki, tapi bisa aku miliki, yaitu kau, Ray. Dengan memilih dia, aku sudah semakin jatuh ke dasar kakinya lagi!"


"Dip, aku minta maaf. Aku gak bermaksud menyakiti hatimu. Aku memang menyayangi mu, Dip. Tapi orang yang aku cintai adalah mas Elrick. Aku minta maaf jika kau kecewa akan keputusanku," ucap Raya menghapus bulir bening di pipinya.


"Sejak kapan?"


"Apa?"


"Sejak kapan kau yakin sudah mencintainya?"


"Aku juga tidak tahu sejak kapan. Yang aku sadar, aku merasa kehilangan saat dia jauh dari ku, dan ada perasaan bahagia yang sulit aku jelaskan di sini," ucap Raya menunjuk dadanya, "Saat aku melihatnya."


"Ray, tinggalkan saja dia. Ikutlah denganku. Dia bukan pria yang cocok untuknya. Aku janji Ray, aku akan membahagiakan mu sepanjang sisa usiaku," ujar Dipa menarik tangan Raya dan menggenggamnya erat.


"Baiklah. Kalau itu keputusan mu. Aku pikir kita juga tidak perlu bertegur sapa lagi," ucap Dipa dingin, berdiri dan meninggalkan Raya dengan tangis kesedihan. Mungkin benar kata orang, tidak ada persahabatan yang kekal antara pria dan wanita.


Punggung pria itu menjauh, tanpa menoleh kembali ke arah Raya masuk ke mobil dan melesat pergi.


***


Di dalam mobil, rasa pedih dan kecewa yang Dipa rasakan membuat air mata menetes begitu saja. Semua yang dia inginkan selalu didapatkan oleh Elrick, bahkan sampai urusan asmara pun mereka harus menyukai gadis yang sama.


Saat dia mengetahui mengenai keberadaan Silvira dari anak buah yang dia suruh menyelidiki keberadaan wanita itu bersama kekasihnya, Gali.

__ADS_1


Awalnya Dipa ingin merahasiakan keberadaan Silvira, tapi entah mengapa ada dorongan di hatinya untuk mempertemukan ibu dan anak itu. Dia memang tidak menyukai Elrick, tapi dia tahu kalau pria itu sangat menyayangi ibunya. Hati Dipa melembut dan memutuskan untuk memberikan alamat rumah sakit.


Setelah menyelidiki semuanya, Dipa mendapatkan kesimpulan, kalau dalang dari sabotase kecelakaan itu adalah Gali, dan Silvira sama sekali tidak tahu rencana Gali yang ingin balas dendam pada orang tua Dipa.


Sekarang, saat Dipa sudah bisa membalaskan dendamnya pada Gali, justru pria busuk itu sudah meninggal dalam kecelakaan saat bersama Silvira.


Mungkin hukuman dari sang pencipta, Gali meninggal di tempat, sementara Silvira luka-luka. Setelah dirawat selama beberapa hari dan wanita itu siuman, kejadian yang menimpanya seolah tidak bisa dia terima, terlebih dengan kenyataan Gali, pria yang dia sayangi sudah tiada. Silvira pun menjadi gila dan kini harus dirawat di rumah sakit.


Kini, saat sudah ingin melupakan dendamnya pada keluarga Elrick, luka itu harus kembali digali, karena Elrick sudah merebut Raya darinya.


Dipa tahu kalau Elrick mengetahui kalau dirinya menyukai Raya lebih dulu, bahkan dalam pikirannya, ini hanya akal-akalan Elrick untuk membalas dendam padanya dengan merebut gadis yang dia cintai, padahal dia sebenarnya sama sekali tidak mencintai Raya.


"Kalau lo sampai menyakiti Raya, gue akan bunuh, lo!" umpatnya meninju keras setir mobil.


***


"Sudah lah Oma, jangan menggangguku lagi, aku kan sudah mengatakan semuanya," ucap Elrick yang dipaksa menutup laptopnya.


Nani tidak main-main. Begitu Elrick mengatakan pada neneknya bahwa dia akan menikah, dan itu pun melalui teleponnya pagi ini, meminta mencarikan penghulu untuk menikahi Raya, Nani bergegas menyusul Elrick ke kantor. Dan kini dengan sosok intelnya mengintrogasi Elrick hingga berdiri di dekat pria itu.


"Oma mau tahu, apa yang sudah kau lakukan pada Raya hingga dia mau menikah dengan mu? Oma tidak pernah tahu kalau kalian dekat, atau kalau dia menyukai mu. Katakan sejujurnya apa Oma!"


"Apa lagi yang harus aku katakan Oma?"


"Apa kau sudah mem*perkosaannya hingga dia setuju menikah dengan mu? atau kau mengancamnya? Apa sebenarnya tujuanmu?"

__ADS_1


"Oma, tolong hargai, aku ini cucumu, serendah itu Oma menganggap ku? Aku tidak memaksanya untuk menikah denganku."


Oma diam sejenak. Menelisik melalui pandangan matanya, mencari kebenaran pada kalimat Elrick. "Baiklah kalau begitu, Oma pegang ucapanmu. Kalau sampai ini hanya permainanmu untuk menyakiti Raya, maka Oma tidak akan memaafkan mu. Oma akan menganggap mu bukan cucu Oma lagi!"


__ADS_2