Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 80


__ADS_3

Selama 20 menit keduanya saling hajar, melampiaskan amarah satu dengan yang lain hingga sampai mendapatkan kepuasan.


Nani yang saat ini sedang berbaring di kasur, dengan alat kompres di keningnya, sudah diberitahu oleh pelayanan perihal kedua cucunya yang saling baku hantam.


"Biarkan saja keduanya saling hajar, Minten. Bila perlu, berikan pada mereka berdua pisau atau pistol sekalian, biar mereka saling bunuh!"


Nani sudah tidak peduli lagi. Kepalanya hampir pecah karena pusing memikirkan masalah Raya dan pertikaian cucu gilanya itu.


Dengan napas memburu, keduanya duduk dengan menyisihkan jarak tiga meter diantara mereka. Lelah dan juga kesakitan. Elrick yang menduga Dipa sudah menikahi Raya, ingin membunuh pria itu, sementara Dipa yang marah karena Elrick membuat Raya sedih dan malu juga ingin memberi pelajaran setimpal pada pria itu. Keduanya saling adu jotos karena ingin mendapatkan Raya, sementara tidak satupun yang berhasil mendapatkan gadis itu.


"Kita istirahat dulu 10 menit. Nanti lanjut lagi," ucap Dipa mengatur napasnya.


Walau tidak menjawab, tapi Elrick yang tidak melakukan perlawanan lagi menandakan kalau dia setuju dengan saran Dipa.


Keduanya diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. "Jagalah dia. Bahagiakan dia. Jangan pernah menyakitinya. Walau aku tidak akan pernah memaafkanmu, tapi aku ingin dia bahagia," ucap Elrick tanpa menoleh ke arah Dipa.


"Kenapa aku yang harus membahagiakan dia? baik kau atau aku tidak akan punya kesempatan lagi untuk membahagiakan Raya!"


Elrick menoleh, wajahnya penuh tanda tanya. Coba memahami kalimat Dipa. "Maksud lo?"


"Sekarang gue tanya, kenapa lo berpendapat harus gue yang berkewajiban membahagiakan Raya? meskipun gue ingin. Gue tahu, lo pasti pikir gue yang menggantikan posisi lo buat nikah sama dia?"


"Memangnya bukan gitu? lo gak usah ngelak. Gue udah lihat foto kalian saat ijab qobul!" balas Elrick tidak terima dibohongi.


"Gue memang ingin banget nikah dengannya. pak Darma juga udah setuju kalau gue menggantikan lo di pelaminan, tapi gue lebih peduli dengan kesedihan Raya. Di detik terakhir, gue tergugah, gak tega lihat mengabaikan permohonan Raya yang memohon agar gue jangan meneruskan ijab qobul itu. Yah, gue lebih mengutamakan kebahagiaan Raya, gue gak ingin karena keinginan gue, Raya menderita. Dalam hatinya cuma ada pria brengsek yang lari saat hari pernikahan mereka."


Elrick terdiam. Dia merasa sangat bersalah. Raya pasti sangat ketakutan sendiri menghadapi banyaknya tatapan penuh tanya dari orang, serta desakan ayahnya.


Ray, maafkan aku sayang. Aku janji akan segera menyelesaikan masalah ini. Aku akan menemuimu secepatnya.


"Jadi lo gak menikah dengannya?" tanya Elrick antusias, kali ini tidak ada nada marah terselip di dalamnya.

__ADS_1


"Gue memang gak nikah dengan dia, tapi lo jangan senang dulu, lo juga belum tentu bisa mendekati dia lagi. Pak Darma begitu marah karena lo ingkar janji untuk menikahi Raya. Ditambah lagi, karena gue batal menikahi Raya membuat beliau bertambah murka. Menyeret Raya pulang, dan tidak akan mengizinkan Raya tetap di sini. Raya akan dibawa pulang ke desa, tinggal di sana selamanya!"


Wajah Elrick pias. Dia kenal watak Darma, pria dingin yang susah didekati.


"Dia gak akan bisa bawa Raya menjauh dari gue. Sampai titik darah penghabisan gue akan tetap mempertahankan Raya untuk tetap berada di sisiku!"


***


Ternyata tidak semudah yang dikatakan Elrick. Jangankan untuk mempertahankan Raya untuk tetap berada di sini, untuk bertemu saja tidak bisa.


Tidak sampai di situ, Elrick bahkan sempat mendapat pukulan dari Darma karena memaksa untuk bertemu dengannya.


"Pergi kau dari sini! Aku dan Raya tidak sudi melihatmu di sini lagi. Jangan pernah mencoba mendekati putri ku lagi!" Hardik Darma penuh amarah. Tangannya terasa sakit karena sudah memukul wajah Elrick yang sudah babak belur hasil karya dari Dipa.


"Maaf, Om. Aku gak akan pergi. Aku mohon om, tolong dengarkan penjelasan ku dulu. Aku punya alasan sehingga tidak bisa datang hari ini untuk ijab kabul," terang Elrick memohon diberi waktu bertemu Raya. Dia sangat merindukan gadis itu, ingin memastikan kalau wanita yang dia cintai itu baik-baik saja.


"Masih berani kau datang kemari, hah? Masih punya nyali kau? Dasar pria tidak bermoral!" hardik Darma dengan amarah yang siap membakar Elrick.


"Aku tidak peduli apa alasanmu. Satu hal yang harus kau ingat, jauhi putriku. Jangan pernah ganggu dia lagi."


"Aku gak bisa, Om. Raya adalah hidupku. Izinkan aku bertemu dengannya, Om. Raya... keluarlah, ayo kita bicara. Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan, Ray. Aku mohon, Sayang," teriaknya ke arah rumah Raya, berharap gadis itu akan mendengarkan panggilannya.


Raya yang berada di kamarnya mencoba menahan diri untuk tidak berdiri di jendela, menunjukkan dirinya pada Elrick. Dia rindu pada pria, tapi hatinya juga hancur karenanya.


Elrick sudah berhasil memporak-poranda hatinya juga kepercayaan ayahnya. Apapun alasan yang akan dikatakan Elrick tidak akan mempengaruhi keputusan ayahnya lagi. Raya juga tidak bisa begitu saja memaafkan Elrick, walau hatinya masih berada pada pria itu.


"Kau jangan membuat rusuh di sini. Pergi dari sini atau aku akan panggil polisi!"


Kalau hanya sekedar polisi, Elrick tidak akan takut, dia akan memilih tepat berada di rumah itu, tapi karena Nani datang bersama Dipa, memaksanya untuk ikut pulang bersama mereka, Elrick pun akhirnya mau ikut pulang. Itu pun karena Nani membisikkan sesuatu di telinganya. "Kita pulang dulu, atur strategi baru mulai mendekati Raya dan ayahnya."


Nani dan Dipa sudah tahu alasan ketidakhadiran Elrick pada acara pernikahannya. Bagas yang sampai di rumah Nani, segera diintrogasi oleh wanita itu untuk menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Dasar wanita iblis! Aku akan mencekik nya kalau sampai ketemu!" umpatnya menahan emosi. "Dipa, dimana sepupu mu yang gila itu?"


"Kalau prediksi ku tepat, saat ini dia pasti sedang berbuat onar, membuat keributan di depan laundry Raya. Mudah-mudahan Pak Darma gak menggorok lehernya," sahut Dipa santai.


Pletak!


"Apa sih, Miss universe? sakit tahu."


"Makanya kalau bicara itu jangan sembarangan, asal buka mulut aja. Ayo, temani Oma melihat Elrick."


"Ogah!"


"Kau gak kasihan padanya? karena perbuatan Meyra dia kehilangan Raya, pernikahannya batal!"


Dipa mengalah, dan ikut bersama Oma menemui Elrick. "Oma, aku gak mau kehilangan Raya, kalau sampai ayahnya menghalangi kami, aku akan culik dan bawa Raya kawin lari saja!"


Pletak!


Satu jitakan mendarat di kepala Elrick. "Berpikirlah dengan benar. Ini semua salahmu. Harusnya kau mawas diri. Kenapa rubah betina itu sampai bisa membius mu, ini bisep untuk apa?" ejek Oma menepuk otot di lengan Elrick.


"Ini hukuman untukmu. Kalau pun Darma membawa Raya kembali ke desa, maka kau harus menurunkan ego mu, ikut ke desa, mengambil perhatian pak Darma hingga mau mengizinkan kau mendekati putrinya lagi!"


*


*


*


Tiga bab lagi, mau hadiah dong πŸ™β˜ΊοΈ


btw, jangan marahi author nya kak, nikmati aja alurnya. Sabar, semua indah pada waktunya.😁🀭

__ADS_1


__ADS_2