
Sesampainya di depan rumah, Sidney tidak langsung masuk ke dalam rumah. Dia meminta Paris menghentikan motornya di antara rumahnya dan rumah Paris. "Kenapa berhenti di sini?"
"Malam ini aku tidur di sana," ucapnya menunjuk rumahnya yang sudah beberapa Minggu tidak pernah dia singgahi untuk tidur. Di rumah sepi itu hanya ada Bi Minah pembantunya. Paling kalau Sandi pulang dari luar kota, baru Sidney pulang ke rumahnya, selebihnya dia akan tinggal bersama keluarga Diraja.
"Kenapa begitu?"
"Mmmm... Gak papa. Kamu masuk, gih."
Adanya penggunaan kata kamu, membuat Paris mengerti kini. Karena mereka sudah jadian hari ini, maka Sidney merasa sungkan untuk tinggal di rumahnya.
"Sid, gak ada yang berubah walau kita udah pacaran. Kau tetap putri kesayangan mamaku, yang sebentar lagi jadi menantu kesayangannya."
Mendengar itu Sidney jadi malu, menundukkan kepalanya. Oh iya, dia juga jadi ingat dengan Scot.
"Ris, jangan bilang sama Scot kita pacaran, ya?"
"Loh, kenapa? Lo takut dia tahu kalau kita pacaran? Apa yang salah satu hubungan kita ini?"
"Bukan gitu, Ris. Biar aku jelaskan sama dia nanti. Tunggu momen yang pas. Kau tahu sendiri kalau kami punya aturan gak boleh suka sama saudara sahabat sendiri."
"Itu kan aturan yang kalian buat saat umur 12 tahun. Masih sekolah dasar." Paris tetap tidak setuju dengan permintaan Sidney.
"Aku mohon, ada hal pribadi yang menjadi rahasia kami, please," rengek Sidney hingga menjauh Paris mengalah. Padahal kalau Scot tidak setuju sekalipun, dia bisa saja tinggal menghajar adiknya itu kalau sampai mempersulit Sidney.
"Terserah deh, Sid. Tapi gue gak mau ini terlalu lama lo rahasiakan dari dia atau dari teman-teman lo. Gue mau semua anak-anak di sekolah tahu kalau lo pacar gue."
***
"Astaghfirullah, bisa gak kalian berdua ngelakuinnya di kamar? malu sama umur!" Protes Paris saat melihat ayahnya begitu protektif mencium bibir Raya.
Raya buru-buru menarik diri. Dia tadi udah menghindar, menolak Elrick untuk menciumnya karena takut ada yang masuk, tapi Elrick yang lebih dominan ini mengatakan tidak akan ada yang lihat karena semua udah pada tidur.
"Aman, Sayang. Oma udah tidur, gitu juga para pelayan."
__ADS_1
"Kalau anak-anak pulang?"
"Masih lama, tenang aja." Dan akhirnya apa yang diucapkan Raya tadi terbukti.
"Abang udah pulang? Twins mana?" Tanya Raya yang gugup, tapi masih meringkuk dalam pelukan Elrick. Dia sudah kalah malu kepergok oleh anaknya sendiri.
Awalnya keduanya menonton berita malam yang sudah sangat terlalu malam dan tampaknya tidak menarik lagi untuk ditonton karena ada hal yang lebih menarik yang bisa mereka lakukan berdua. Elrick ikut menoleh ke arah putranya yang tampak basah.
"Ma, bisa gak, jangan panggil mereka twins, mereka itu gak kembar, bukan lahir dari rahim yang sama," protes Paris. Sejak dulu dia memang gak suka kalau kedua orang itu dipanggil dengan sebutan twins. Seolah dirinya seperti incest yang suka bahkan kini pacaran dengan saudara sendiri.
"Iya, mama lupa. Abang kenapa sih, dari dulu protes aja kalau mama panggil mereka twins. Mereka kan emang lahir di jam yang sama, hari yang sama, rumah sakit yang sama."
Elrick hanya tersenyum kalau sudah melihat perdebatan istri dengan putra sulungnya. Tapi kalau sampai Raya sedih dengan ucapan atau penolakan kedua anaknya, Elrick akan turun tangan menegur bahkan tidak segan menghukum keduanya jika sudah kelewatan.
"Iya, pokoknya mulai sekarang jangan lagi panggil mereka begitu. Sidney bukan adik aku!"
"Iya, sekarang mama tanya, twi.. eh, Scot dan Sidney mana? Kok gak pulang bareng abang?"
"Scot masih di sekolah, kalau Sidney, udah pulang bareng aku tadi. Tapi dia tidur di rumahnya malam ini." Paris sudah meninggalkan kedua orang tuanya yang selalu dimabuk cinta.
"Kalau mama mau lihat Paris ngamuk besar, buat perang di rumah ini, silakan jodohkan Sidney dengan Scot. Tapi kalau mama mau lihat Paris dapat pawangnya yang bisa buat dia lembut, maka Sidney solusinya."
Raya bingung dengan ucapan Elrick yang seperti mutar-mutar. Elrick tersenyum, istrinya masih tetap saja polos. "Paris tidak akan membiarkan Sidney menikah dengan siapapun, kecuali dirinya."
Bola mata Raya terbelalak, mulutnya menganga karena sudah mengerti maksud suaminya. "Paris... Sidney...." Elrick mengangguk sembari mencubit ujung hidung Raya.
"Papa tahu dari mana?"
"Gak sengaja lihat lukisan wajah Sidney dibelakang buku tulis Paris waktu cari anak itu di kamarnya.
"Astaga... Mama kok gak nyadar ya?" Raya memeluk tubuh Elrick gembira. "Mama akhirnya bisa tenang. Mama pikir salah satu anak kita gak akan ada yang mau dijodohkan dengan Sidney nantinya." Air mata Raya menurun di pipinya. "Lia, kita akan jadi besan suatu hari nanti. Makasih udah melahirkan Sidney untuk Paris," lanjutnya dengan air mata yang semakin membanjiri pipinya.
Elrick yang paham sifat sentimentil istrinya hanya bisa memeluk wanita itu, membiarkan kaosnya basah oleh air mata sang istri.
__ADS_1
***
"Ini rumah mereka?" Tanya Dipa mengamati rumah besar itu. Dia tidak tahu siapa Samertha dan apa kekuasaannya, tapi sekali lagi Dipa tekankan dia tidak peduli.
"Iya," jawab Tita singkat. Dia malas sekali kalau harus pulang ke rumah ini, tapi dia harus.
"Kenapa harus tinggal di sini? Kamu tinggal di apartemen aku aja, ya?" Tawar Dipa yang merasa tidak rela kalau harus membiarkan kekasihnya masuk kembali ke rumah itu.
"Jangan berpikir negatif dulu, aku akan tinggal di rumah Oma sampai kita nikah." Dipa seolah tahu arti tatapan kaget bercampur khawatir Tita.
"Mereka gak akan membiarkan aku pergi dari sini."
"Kalau begitu, aku akan menemanimu turun, ambil barangmu, dan kita pergi dari sini."
"Tapi Dip, di dalam pengawalnya banyak. Aku gak mau kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap mu."
Bukan Dipa namanya kalau takut baku hantam. Sebelum masuk, dia sudah mengirim pesan pada Elrick, berupa lokasinya saat ini dengan disertai satu kalimat, 'Kau tahu harus apa'.
Melihat kedatangan Tita yang dikenali sebagai penghuni rumah itu, satpam bertubuh tinggi besar membuka pintu, tidak lupa melirik ingin tahu ke arah Dipa.
Keduanya memasuki rumah. Tita sudah memberitahukan sebelumnya kalau dalam rumah itu banyak orang yang bekerja dengan tuan Samertha.
"Kau sudah pulang?" Sambut Kanti, istri dari Rodriguez Samertha.
"Iya Tante." Dipa bisa melihat kegugupan di wajah Tita tapi seperti yang tadi sudah Dipa katakan padanya, tidak ada yang perlu ditakuti, selama Dipa ada bersamanya.
"Siapa dia? Kenapa kau membawa orang asing masuk ke rumah ini?" Hardik Rodriguez berang. Empat orang yang sedang berbicara dengannya ikut bersiaga dengan menyelipkan tangan ke balik jas hitam mereka.
"Saya Dipa, calon suami Tita. Datang ke sini untuk mengambil barangnya dan membawanya pergi dari sini," sahut Dipa tegas. Dia sudah paham, ini markas bandar narkoba.
*
*
__ADS_1
*
Ngeri ya gais...🤦🤦🙄