Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 51


__ADS_3

Tanpa menoleh pun Sidney sudah tahu siapa pria yang berdiri di belakangnya. "Tuan Diraja..., ini sebuah kehormatan Anda mau menerima undangan kami," sambut Rudi mengulurkan tangan.


Paris hanya mengulum senyum. Sejak tadi dia sudah mengamati gadisnya. Dia juga bukan tidak tahu kalau Kartika membawanya ke luar. Di ada di balik pintu, tapi karena singa betina kini bisa menjaga diri dan membela kehormatannya, maka Paris tidak jadi keluar dari persembunyiannya, dan masuk lebih dulu ke ruangan pesta.


Sebenarnya yang mereka undang adalah Elrick. Siapa yang tidak kenal Elrick dikalangan para pengusaha. Pengaruhnya besar, jika bisa dekat dengan dia saja sudah memberi dampak besar pada perkembangan perusahaan mereka.


Tapi karena pria itu lebih memilih membujuk istrinya yang ngambek padanya karena tidak jadi menemani ke desa, jadi mengutus Paris dan dia bisa bersama dengan Raya ke desa.


Sudah sejak seminggu lalu, Raya meminta untuk ditemani ziarah ke kuburan ayahnya. Sudah lama mereka tidak pergi mengunjungi makam ayah dan ibunya.


Dua tahun setelah kelahiran Paris, Darma menghadap pada sang penciptanya. Meninggal dengan posisi tidur. Wajahnya tampak tenang. Mungkin sudah ikhlas pergi karena sudah tenang melihat putrinya yang telah hidup bahagia.


Sidney memejamkan matanya, dia bahkan menahan napas, kalau Paris ada di sini, berarti dia melihat sikap Rudi yang seolah dekat dengannya. "Masalah lagi, ni," gumamnya dalam hati.


"Mana mungkin saya tidak datang memenuhi undangan Anda, terlebih karena calon istri saya sedang magang di perusahaan, Anda."


Empat orang pria yang sedang berada di lingkaran itu terbelalak. Tidak ada alasan bagi Sidney untuk tidak berbalik.


"Maksud Anda?" Tanya Rudi mengerutkan kening. Dia mengira apa Paris sedang dibawah pengaruh obat hingga mengatakan hal yang tidak masuk akal.


"Sayang." Paris mengulurkan tangannya ke hadapan Sidney, tepat saat pemain band dan artis yang diundang mengisi acara itu membawakan lagu Ballad, hingga Paris berinisiatif membawa Sidney ke lantai dansa.


Rudi dan ketiga temannya hanya bisa melongo. Apalagi Rudi, dia sangat malu bukan kepalang. Dia hanya tahu kalau Sidney anak magang dan bukan dari keluarga terpandang. Siapa yang menyangka kalau Sidney justru calon istri Paris Diraja.


"Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?" bisik Sidney sembari tetap mengikuti langkah Paris.


"Kalau aku gak datang tadi, kamu pasti udah diwartakan sebagai kekasih Rudi Silver itu, ya?"


"Dih, apaan sih. Aku akan bantah juga, kok. Kenapa tiba-tiba udah ada di sini?" Sidney sengaja mengubah topik pembicaraan, agar tidak jadi bulan-bulanan Paris.


"Kangen."


"Sama siapa?" goda Sidney mengulum senyum.

__ADS_1


"Kalau aku gendong kamu ke podium terus aku cium bibir lembut ini, menurutmu gimana ya reaksi orang-orang di sini?"


Kan benar, orang jenius gak usah dilawan, ada aja caranya buat Sidney mati kutu. Gadis itu hanya bisa melotot menanggapi ucapan kekasihnya itu.


"Kita pulang aja yuk, lagian acara pentingnya dan peran serta kamu di sini udah kelar."


Sidney mengangguk. "Bawa adek kemana Abang mau," bisiknya menggoda dengan suara yang dibuat se-serak mungkin. Paris hanya bisa mengulum senyum dan mengandeng pinggang gadis itu.


"Terima kasih undangannya pak Ari. Ayah saya titip salam. Sukses terus buat PT. Silver."


Ari mengangguk dan menerima jabatan tangan Paris seraya mengucapkan terima kasih.


***


"Kenapa kita harus nginap di sini?" Raya ikut masuk ke dalam rumahnya yang tetap bersih walau sudah kosong. Pelayan rumah Elrick yang ada di desa itu ditugaskannya untuk mencari pelayan yang bertugas membersihkan ruang itu dan juga menjaganya.


"Aku mau mengenang masa lalu kita," bisik Elrick menarik tangan Raya ke dalam kamar gadis itu semasa muda.


"Maksudnya?" Raya tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Kalau sudah melihat cara pria itu memandangnya sembari memberikan senyum genitnya, Raya sudah pasti tahu apa dibalik isi pikiran Elrick.


Jemari tangan pria itu mulai menyentuh lembut pipi Raya, membelai lembut bibir itu dengan jemarinya lalu tanpa menunggu lama mencium bibir wanita yang sudah memberikannya dua orang anak itu.


Raya hanya bisa memejamkan mata, meremas sisi gaunnya kala lehernya sudah mulai dijamah sang suami. Setiap jengkalnya menjadi sasaran lidah Elrick.


"Sayang, aku benar-benar candu pada dirimu, kenapa kau bisa selezat ini," bisik Elrick menggendong Raya ke atas ranjang. Satu persatu pakaian istrinya dilucuti hingga pada tubuh mereka berdua polos tanpa ada sehelai benangpun.


"Katakan kau mencintaiku," desak Elrick mencium dan meng*ulum salah satu puncak kewanitaannya.


Tubuh Raya mengejang, hi*Sapan itu membuat Raya melengkungkan tubuhnya, melihat suaminya yang masih menikmati mainannya itu.


"Katakan, Sayang," perintahnya memindahkan mulutnya ke bagian satunya. Remasan kencang pada seprai membuat Raya bisa menahan suaranya agar tidak keluar.


Ini nikmat, tapi sungguh menyiksa. Bagaimana pria itu tahu dimana titik rang*sangnya.

__ADS_1


"Aku... aku sangat mencintaimu."


Elrick tersenyum puas. "Aku akan membawamu ke puncak nirwana..."


Elrick turun merasakan milik Raya di bibirnya. Siksaan yang menyiksa bagi wanita itu tapi juga sangat didambakannya. Elrick tahu cara memuja dan memuaskan tubuhnya.


"Mas... Sayang... Aku..."


Elrick tahu tubuh Raya sudah akan meledak, dia tidak ingin melewatkan setiap momen itu. Dia merangkak naik kembali, lalu mencium dalam bibir Raya menumpahkan perasaan cintanya, lalu mulai memposisikan tubuhnya di antara paha Raya. Mulai mendorong masuk, lembut dan sangat menggemaskan bagi wanita itu.


Raya kadang bingung harus memilih lebih suka cara Elrick bercinta dengannya yang lembut atau yang sedikit kasar menuntut, yang pasti dia suka keduanya. Dia suka bercinta dengan Arjunanya.


Elrick sudah berhasil menyatukan diri mereka. Mulai bergerak lembut hingga Raya begitu mendamba milik Elrick untuk bergerak cepat membelah dirinya. Maka saat gerakan pria itu lebih cepat, maju dan mundur, siap menarik pengait granat yang buat tubuh Raya meledak.


"Sayang... aku... Oh... God..."


"Kau suka baby... Oh, aku benar-benar tergila-gila padamu," bisik Elrick menunduk memagut bibir Raya dengan kedua tangan bersemayam di payu*dara wanita itu yang masih kencang dan menantang.


"Aku... aku... Ah, Mas..." Raya sampai pada puncaknya. Mengalir membasahi milik Elrick yang masih menyatu dengan miliknya.


Dia tahu kini gilirannya. Elrick masih tegak, belum tergoyahkan. Raya tahu apa yang harus dia lakukan. Tanpa memisahkan tubuh mereka, Elrick membantu Raya naik ke atas tubuhnya.


Dari bawah sini Elrick melihat wajah Raya terlebih sangat cantik dengan tatapan sensualnya. Rambut panjangnya tergerai menutupi dada hingga menjuntai ke pinggang rampingnya.


Elrick melepas senyumnya yang juga dibalas senyum oleh Raya. "Abang, sudah siap adek goyang?"


*


*


*


Yang udah umur 40, tetap jaga keharmonisan dengan pasangannya ya🤭🤭. Bahan untuk maljum nanti malam🙏🤭🤭

__ADS_1


Nih, aku bawa novel keren lainnya, jangan lupa mampir yay..



__ADS_2