
"Mbak, yang ini gak dibawa?" Nana mengejar Raya yang sudah bersiap berangkat di atas motor. Raya melihat packing kain Elrick, mau mengantar, dia juga tidak tahu alamat pria itu. Ini kali pertama pria itu datang melaundry kainnya.
Laundry Raya memang melayani antar jemput kain, tapi itu untuk yang meminta, bagi konsumen yang tidak meninggalkan alamatnya, maka mereka sendirilah yang menjemput. "Aku harus mengantar kemana, Na? Biarin aja deh, ntar juga kalau dia udah butuh pasti datang menjemput."
"Aku malas, Mbak ketemu. Gimana kalau pas Mbak Raya pergi dia datang gimana?" wajah Nana yang cemberut membuat Raya tersenyum, gemas. Dia tahu, Nana malas bertemu dengan Elrick, karena dia pun merasakan hal yang sama.
"Nanti, kalau dia datang, dan menunjukkan sikap menyebalkan, cuekin aja," ucap Raya tersenyum.
Nana selamat, ternyata pria yang mereka sepakati adalah pria menyebalkan itu datang dua hari kemudian, pukul lima sore dengan mobil mewahnya dan Nana merasa selamat karena saat itu Raya ada di laundry.
Keduanya menatap seram ke arah pria tampan yang baru keluar dari mobil, dengan jas slim fitnya ditambah kaca mata hitam berjalan menuju mereka. "Mana baju gue!"
"Biasa aja kali, Mas, gak usah nge gas," cicit Raya merapat gigi sambil tersenyum. Elrick mendengar, tapi dia tidak ingin menanggapinya.
"Ini, Mas."
Melalui kaca matanya, Elrick melirik nota di atas kainnya, lalu membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang merah, meletakkan di atas meja kasir, mengambil kainnya lalu balik badan.
"Eh, Mas, ini kembaliannya," ucap Raya mengambil uang kembalian dari laci kasir lalu berlari mengejar Elrick yang sudah menyentuh pintu mobil.
"Mas, ini kembaliannya," ucap Raya menyodorkan beberapa lembar uang 10 ribuan.
"Simpan aja, lumayan kan buat beli jajan di pinggir jalan," ucapnya dengan suara bariton dan sombongnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas. Gak usah. Kita masih bisa beli. Ini, Mas..." Raya masih bersikukuh untuk mengembalikan uang si pria tampan tapi suka buat kesal itu.
"Udah miskin, gak usah sok jual mahal. Ambil!" Elrick balik badan lagi, dan bersikap membuka pintu mobil. Belum sempat masuk, Raya buru-buru memasukkan tangannya ke saku jas Elrick, namun karena saat itu juga Elrick bergerak masuk, Raya ikut ketarik dan ikut masuk, menimpa tubuh Elrick, ditambah kepalanya kepentok badan mobil.
"Auw.. sakit..," ucap Raya mengaduh kesakitan. Ingin memegangi kening, tapi ruang geraknya terhambat. Bahkan saat ini dia belum sadar sedang setengah berbaring di atas tubuh Elrick.
"Minggir, Lo," bentak Elrick menyadarkan Raya. Buru-buru Raya berusaha bangkit, tapi karena Elrick juga ikut bergerak kasar, Raya kesusahan bangun, malah kepala mereka beradu dan parahnya bibir Raya mendarat di pipi Elrick.
Satu detik... dua detik... keduanya dia dengan debar jantung kencang dan kesadaran masih mengambang, lalu... "Woi...," ucap Elrick dengan suara parau. Kali ini Raya berusaha untuk bangun dan berhasil. Nana yang sejak tadi melihat adegan itu dari tempatnya berdiri hanya bisa menganga.
"Maaf," ucap Raya tersipu malu. Wajahnya memerah menyampirkan sejumput rambut yang terurai dan menyelipkan di belakang telinga.
Begitupun Elrick, merasa canggung. Dan untuk menutupi rasa malunya, buru-buru dia menutup pintu mobil dan berlalu dari sana.
***
"Kau di sini?" tanya Elrick ketika sampai di tempat tujuannya.
"Kemana lagi. Aku kan harus bersikap baik, aku tidak ingin dianggap sebagai calon mantu yang tidak layak untukmu," bisik Meyra sembari tersenyum. Dia menatap tajam dan penuh damba. Dia selalu mengagumi pria itu, baik saat berpakaian lengkap, atau pun tidak sama sekali, dan option nomor dua membuat jantungnya berdebar. "Aku tahu kau akan kemari, ini hari Selasa, kan?" ucap Mey semakin mendekat pada Elrick, menyindir kebiasaan pria itu yang selalu datang ke rumah itu setiap Selasa dan juga Kamis.
Meyra patut berbangga hati. Bagaimana tidak, dari semua wanita yang mencuri perhatian, bahkan beberapa dari mereka memasang perangkap untuk Elrick, Meyra lah yang berhasil mendapatkan kehormatan sebagai kekasihnya.
Itulah sebabnya, Meyra menjaga ketat penampilannya, agar Elrick tidak pindah ke lain hati. Dia juga begitu posesif pada Elrick, selalu memantau setiap langkah pria itu, dengan siapa dan dimana bertemu.
__ADS_1
"Kau selalu hot, membuatku seluruh tubuhku bergetar. Di sini, begitu mendambakan mu," bisiknya dengan suara seksi, sembari menarik tangan Elrick dan membawanya ke permukaan miliknya. "Kau sudah lama tidak mengunjungi mereka."
"Jangan sekarang, Mey. Kau tahu betul, aku sedang sibuk," balas pria itu mencoba menarik tangannya namun Meyra masih menahan di sana, tidak lama membawa tangan itu menyusuri perut ratanya menuju payu*daranya yang montok hasil operasi dua kali di Korea.
"Sebentar aja, Beb. Kita main kuda-kudaan, yuk," ucapnya memohon. Meyra tahu, kalau tubuhnya bisa membuat kejantanan Elrick meronta ingin dipuaskan.
"Mey, ini bukan tempat yang tepat. Lagi pula, kemana semua orang? kenapa sepi?"
"Entahlah. Saat aku datang tadi, rumah sudah sepi," jawabnya sedikit kesal. Elrick mengubah topik pembicaraan mereka yang artinya pria itu memang sedang tidak ingin bercin*ta dengannya saat ini.
Tidak lama, seorang pelayan datang menawarkan secangkir kopi, sebenarnya sejak tadi dia sudah membawa nampan itu. Sesuai kebiasaan tuan mudanya setiap kali pulang, pasti minta dibuatkan kopi, namun pelayan itu tidak berani langsung mengantar karena melihat apa yang terjadi.
Satu jam berlalu. Meyra sudah merasa bosan dan ingin segera pergi dari sana, namun melihat Elrick masih betah dia pun menahan keinginannya. Semua butuh pengorbanan. Dia rela lumutan di samping Elrick, asal tetap bisa menyandang ke kasih pria itu.
Sebenarnya menyandang kekasih Elrick saja tidak cukup bagi Meyra. Dia ingin lebih. Ungkapan yang mengatakan manusia tidak tidak ada puasnya ternyata benar. Setelah mendapatkan posisi sebagai kekasih, Meyra ingin meningkatkan posisinya di puncak paling atas, mengamankan posisinya sebagai istri Elrick. Meyra sadar itu tidak mudah, dan bisa dibilang hampir mustahil. Namun seorang Meyra bukan wanita yang mudah putus asa. Urat malunya sudah hilang, mungkin karena berprofesi sebagai model dan bintang iklan, Meyra tidak peduli pandangan orang tentang apa yang dilakukannya benar atau salah.
Setelah mempertimbangkan langkahnya, mengatakan dirinya hamil adalah jalan yang tepat untuk mengikat Elrick. Walau tidak percaya, tapi Elrick bukan pria pengecut lari dari tanggungjawab. Jika benar benih itu dia yang menabur, maka dia bersedia bertanggung jawab.
Elrick menyetujui untuk menemani Meyra ke dokter Mala, memeriksa keadaan wanita itu karena perasannya mengatakan dirinya tengah hamil. Namun, alam masih belum berpihak pada Meyra, oleh dokter Mala, dia dinyatakan tidak sedang mengandung.
Suara mobil yang memasuki halaman rumah menarik perhatian Elrick. Dia kenal suara mobil itu, terlebih pemiliknya.
"Beb, mereka datang," ucap Meyra membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Ah... kau datang rupanya," sambut wanita itu tersenyum gembira. Namun, orang yang disenyuminya itu bukan membalas balik, justru terkejut melihat wanita muda yang ada di samping wanita itu. Wanita yang beberapa jam lalu sudah mencium pipinya.