Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Bentakan Kaina


__ADS_3

"Hei anak bodoh! Sekarang juga kirim uang itu, atau ayah kau akan tinggal nama besok!" bentak Sisca.


Haikal mengernyit dan terkejut ketika mendengar bentakan itu. Ia menatap wajah Kaina yang mulai terlihat kesal


"Saya sudah bilang. Saya tidak punya uang sebanyak itu!" ucap Kaina menahan diri.


"Oh, jadi kau tidak mau? Kau lebih memilih laki-laki tua itu mati di banding harus memberiku uang seratus juta?" tanya Sisca geram.


Kaina terdiam dan menghela nafasnya sembari berusaha untuk mengendalikan diri.


"Ibu, Terserah kau mau melakukan apapun. Aku sudah lelah, jika kau ingin membunuh semua orang, aku tidak peduli. Mau menangis darah pun ibu meminta uang kepadaku, aku tidak punya. Jika ibu menyuruh untuk meminta kepada suamiku, silahkan minta sendiri!" ucap Kaina tegas.


"Kau dasar anak tidak berguna! Kau dan si jaalang Kiara itu sama saja!" ucap Sisca kesal.


"Kau yang ******, Setan! Jangan menghina bundaku lagi, atau aku akan membunuhmu!" Pekik Kaina membuat Haikal dan Sisca terkejut.


"Kau berani mengataiku, dasar anak pembawa sial! Anak jalaang tidak tau diri, mati saja kau sana!" Pekik Sisca.


"Kau saja yang mati, Iblis jahanam! Saya sudah muak dengan semua ancaman yang kau berikan. Sekarang terserah kau mau berbuat apa, saya tidak peduli!" ucap Kaina berteriak.


"Tunggu saja hingga tuan muda itu menceraikan kau. Akan aku pastikan jika kau akan kubunuh ketika berani menginjak rumah ini lagi!" ucap Sisca.


"Harusnya kau tau diri dengan siapa saya menikah! Hanya dengan sebuah permintaan kecil, hidup kau bisa brakhir hari ini!" ucap Kaina tegas.


"Kau mengancamku? Awas saja...," ucap Sisca terputus ketika Kaina mematikan panggilan itu.


Haikal menatap Kaina sambil mengernyit. "Kenapa kau matikan?" tanya pria tampan itu.


"Nanti jantungku sakit lagi, Tuan!" ucap Kaina dengan nafas yang memburu.


Haikal hanya menatap Kaina sambil menahan senyum. Aku kira dia kucing, ternyata macan betina. batinnya.


Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing. Haikal kembali menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Kaina hanya terdiam dengan wajah yang masih kesal.


Sungguh, Haikal memang ia jadikan tameng, hingga ia bisa bertindak berani seperti tadi.


Sebab ia tau bagaimana sifat ibu sambung yang kejam itu. Dia akan selalu meminta ketika sudah diberikan walaupun hanya sekali.


Bagaimana jika dia memang membunuh ayah? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jika itu terjadi, aku akan benar-benar menjadi sebatang kara di dunia ini. Kecuali, jika tuan muda masih mau menampungku walaupun hanya sebagai pembantu berstatus istri. Batin Kaina.


Ia hanya menatap ponsel yang redup tanpa ada notifikasi. Berharap jika sang ayah menelfon dan menanyakan bagaimana kabarnya setelah hampir satu minggu ia meninggalkan rumah.


Mereka pasti begitu senang, karena aku sudah keluar dari rumah itu. Sepertinya aku harus bisa mengumpulkan uang, berjaga-jaga jika tuan muda ini menceraikanku. Batinnya.


Kaina menatap Haikal dari belakang. Sejak dulu, ia selalu menginginkan seseorang yang bisa dijadikan sandaran. Menjadi tempat berkeluh kesah dan juga berbagi suka duka bersama.

__ADS_1


Namun, kini ia sudah memilikinya, tetapi masih ada tembok besar yang menghalangi dan memberi batasan antara ia dengan Haikal.


"Apa anda ingin saya buatkan kopi, Tuan?" tanya Kaina.


Haikal menatap gadis itu dan mengangguk. "Jangan kau tambahkan sianida di dalamnya!" ucap pria tampan itu dengan ketus.


Kaina terkekeh dan membuat Haikal mengernyit.


"Kenapa tertawa?" tanya Haikal.


"Anda lucu, Tuan. Segitu banyak poin pekerjaan yang harus saya lakukan, tapi anda masih takut jika saya akan meracuni anda," ucap Kaina tersenyum.


"Pokoknya jangan macam-macam!" ucap Haikal tegas.


Kaina tersenyum tipis dan mengangguk. Ia segera membuatkan segelas kopi untuk sang suami dan juga segelas susu untuknya.


"Besok kita akan pindah!" ucap Haikal tanpa menoleh.


"Pindah kemana, Tuan?" tanya Kaina mengernyit.


"Pindah kerumah utama. Di sana ada ibu dan adik-adikku," ucap Haikal.


Itu pasti akan menjadi neraka yang sesungguhnya. Apa lagi yang akan aku hadapi selain tuan muda ini?. Batin Kaina sambil menghela nafas.


Ada apa dengan gadis ini? Bahkan sedari tadi dia tidak berkedip. Apa yang sedang dia pikiran?. Batin Haikal.


"Hei, kau!" panggilnya sambil menepuk pelan bahu Kaina.


"Iya, Tuan. Selamat beristirahat," ucap Kaina tersenyum.


"Kau tidurlah!" ucap Haikal.


"Iya, sebentar lagi, Tuan!" ucap gadis itu.


Haikal mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Ia sesekali masih menatap Kaina yang masih terdiam tanpa bergerak sama sekali.


Haikal memilih masuk ke dalam kamar dan beristirahat, meninggal Kaina yang masih bermenung di depan televisi.


Helaan nafas kembali terdengar. Kaina masih memikirkan bagaimana nasibnya nanti, jika sang ayah memang benar-benar dibunuh.


Bahkan harta yang ia dapat, tidak lebih berarti dibandingkan hadirnya sosok orang tua, walaupun selama ini ia terabaikan.


Bunda, aku harus apa? Bahkan sekarang aku merasa tidak bisa menghadapi dunia ini lagi. Aku ingin ikut bunda saja. Apalagi besok aku akan pindah dan masuk ke kandang harimau yng sebenarnya. Apa aku mampu untuk menghadapi ini semua?. Batin Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia hanya terdiam sambil menatap foto sang ibunda yang selalu menjadi wallpaper di ponselnya.

__ADS_1


Berbicara dalam hati dan menghibur diri sendiri. Merasakan jika sang ibunda masih ada dan duduk sambil memeluknya dengan begitu lembut.


Membisikkan kata-kata yang membuat hatinya menjadi tenang. Walaupun semua itu hanya sebatas halusinasi, namun ia percaya jika sang ibunda selalu berada dekat dengannya.


Ia masih bermenung, hingga pagi menjelang. bahkan Haikal sudah terbangun dari tidurnya dan terkejut ketika melihat Kaina masih duduk di atas sofa tanpa memejamkan mata.


"Hei gadis kecil, apa kau tidak tidur semalaman?" tanya Haikal.


Kaina tersentak, ia menoleh kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


"Ah, maaf Tuan. Apa anda akan bersiap untuk pergi bekerja?" tanya Kaina berjalan mendekat ke arah Haikal.


"Ya, Kau tidak tidur?" tanya pria tampan itu.


"Nanti saya tidur, Tuan. Saya siapkan dulu perlengkapan anda sebelum pergi bekerja," ucap Kaina.


Haikal membiarkan Kaina berbuat apapun untuk menjalankan tugas yang ia berikan. Ia mengikuti Kaina masuk ke dalam kamar dan melepas bajunya.


Sementara gadis cantik itu sudah berada di dalam kamar mandi dan tengah mengisi air ke dalam bathtub.


Haikal dengan santai melepaskan celana dan semua penghalang tubuhnya yang tersisa. Ia masuk ke dalam bathtub yang belum terisi banyak air.


"Tuan!" pekik Kaina ketika melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.


"Ck, kau berisik!" ucap Haikal duduk dan bersandar.


Glek!


Kaina melihat dengan jelas, adik kecil sang suami yang masih tertidur. Ia segera berpaling dengan wajah yang merona.


"Ambil sabun dan gosok punggungku!" ucap Haikal menahan senyumnya.


"Ba-baik," ucap Kaina tergagap.


Sebab air itu belum menutupi semua bagian adik kecil itu, sehingga ia memejamkan mata sembari menggosok punggung Haikal.


"Ck, kau ini!" ucap Haikal memindahkan tangan Kaina ke depan agar bisa membersihkan bagian tubuhnya yang lain.


Gadis itu hanya mengumpat di dalam hati ketika Haikal berhasil mengerjainya.


Anda lihat saja nanti tuan! Suatu hari saya pasti bisa membalas ini semua!. Batin Kaina menjerit.


Sementara Haikal tersenyum puas melihat ekspresi Kaina yang begitu mengemaskan dengan wajahnya yang merona malu.


Sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana kehebatan adik kecilku ini. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan setelah ini gadis kecil. Batin Haikal penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2