
Di Paris.
Muzi merasa gatal ketika melihat vidio Haikal ketika mengelus perut Kaina. Ia memang tidak suka dengan Ibu hamil itu, namun bayi yang tengah di kandung oleh Kaina, adalah cucu kandungnya.
Ia semakin merasa tidak nyaman, ketika Haikal mengecup dan berbicara dengan bayi-bayi kembar itu. Muzi hanya bisa memejamkan mata dan mematikan ponselnya agar tidak melihat vidio itu lagi.
Ia sangat ingin memiliki menantu yang sekelas dengannya, bukan seorang perempuan yang tidak tau asal usul seperti Kaina.
Ada terselip rasa senang karena Haikal mau menyetujui keinginannya. Walaupun ia tau, jika Haikal tidak akan pernah menganggap wanita lain sebagai istrinya kecuali Kaina.
Itulah resiko yang harus ia hadapi dan juga calon menantunya nanti. Namun walau bagaimanapun juga, ia harus melakukan ini semua hanya demi status yang lebih baik.
Ia sudah menyerah tentang Filda, yang sudah jelas mendapatkan penolakan dari Haikal. Karena tiba-tiba saja, gadis itu sudah berada di luar negeri, dipastikan jika itu adalah ulah dari Haikal.
Muzi mengunjungi seorang kerabat jauh dan masih bersaudara dengannya. Ia melihat sosok perempuan yang pantas untuk bersanding dengan Haikal.
Pintar, cantik, tinggi, elegan dan juga sudah memiliki bisnis sendiri. Ia juga sudah mendapatkan izin dari keluarga gadis itu dan sepakat untuk menikahkannya dengan Haikal.
Semoga kamu tidak mengecewakan, Mommy. Batin Muzi penuh harap.
Waktu pernikahan hanya tinggal 2 minggu lagi, itu artinya waktu ia tidak lama di sini dan membawa calon menantu idaman yang sudah lama ia inginkan, pulang ke rumah utama.
🥕🥕
Kaina menggeliat dan tidak menemukan Haikal di sampingnya. Ia masih berbaring sambil mengusap perut buncitnya yang semakin membesar itu.
Tersenyum, sambil mengajak mereka untuk mengobrol agar ikatan batin mereka bisa semakin kuat.
"Ah, Bunda tidak sabar untuk bertemu dengan kalian," ucap Kaina dengan wajah yang merona.
Ia melihat ponsel yang terasa dingin. Karena jika Haikal berada di rumah, ia tidak akan memiliki kesempatan untuk memegang benda pipih itu.
Namun matanya membulat, ketika mendapatkan sebuah pesan yang tengah mengumpati dan menyumpahi dirinya.
📩 From: Ibu Selena
"Heh, kau anak sialan! Gara-gara kau semua, saya diceraikan oleh suami saya. Puas kau sudah menghancurkan masa depan anak-anak saya? Saya sumpahkan kau keguguran dan tidak bisa memiliki anak lagi! Mandul lah kau sekalian! Dasar an*jink mandul! Puas kau pembawa sial? Semoga kau segera menyusul ibu jal*angmu itu!". Tulis Sisca tanpa perasaan.
Kaina terkejut dan berkaca-kaca ketika Sisca menyumpahinya seperti itu.
__ADS_1
Kejam benget sampai menyumpahi aku seperti itu. Aku tidak melakukan apa pun, tapi mereka begitu membenciku seperti ini. Batin Kaina.
📩 To: Ibu Selena.
"Sukurlah, ayah bisa sadar dan terlepas dari iblis berwujud manusia seperti anda! Semoga hidup anda bisa lebih baik dan bersyukur dengan keadaan setelah ini. Maaf, lusa tolong kosongkan rumah, karena saya akan mengambil kembali apa yang sudah menjadi hak saya!" tulis Kaina dengan kesal.
Ia mematikan ponsel dan segera mencari keberadaan Haikal. Perutnya terasa sedikit mengeras dan kontraksi karena emosinya yang menyeruak keluar.
Kaina keluar dan melihat sekeliling ruangan. Haikal tidak terlihat di sana, berarti pria tampan itu sedang berada di dalam ruang kerjanya.
Tok, tok, tok.
"Sayang, aku boleh masuk?" tanya Kaina.
"Masuk saja, Yang!" ucap Haikal dari dalam.
Ibu hamil itu membuka pintu dan tersenyum melihat Haikal yang begitu tampan ketika sedang serius.
"Banyak ya, kerjaannya?" tanya Kaina berjalan mendekat.
"Iya, Sayang. Sebentar, ya! Masih tersisa sedikit lagi," ucap Haikal tersenyum.
Haikal menghentikan pekerjaannya dan langsung mengelus perut Kaina dengan lembut sambil tersenyum.
"Kenapa matanya merah?" tanya Haikal sambil menarik Kaina agar duduk di atas pangkuannya.
"Gak papa, Sayang. Mungkin karena bangun tidur!" ucap Kaina memeluk Haikal agar tidak terjatuh.
Pria tampan itu tersenyum dan memeluk Kaina. "Lusa kamu sudah resmi menerima semua aset Chandrawinata. Apa kamu sudah siap?" tanya Haikal.
"Siap tidak siap, aku akan menghadapinya, bukan?" tanya Kaina. "Tapi, apa aku bisa mendapatkan sedikit privasi? Aku tidak ingin mereka mengenalku karena status yang aku sandang," sambungnya.
"Baiklah, kamu akan mendapatkannya!" ucap Haikal mengecup bahu Kaina.
"Jangan kecup-kecup!" ucap Kaina menggoyangkan bahunya.
Karena ia sudah sangat hapal dengan tingkah Haikal yang mesum. Jika sudah mulai mengecup bagian lain selain wajah, itu sudah dipastikan seperti apa akhirnya.
"Kenapa? Cium pun tak boleh," ucap Haikal mendelik. "Ah iya, Sayang. Besok pagi, ikut aku ke kantor, ya! Pak Alan ingin bertemu dengan kamu untuk membahas tentang acara lusa," sambungnya.
__ADS_1
"Aku baru tau, kalau perusahaan kakek dipegang oleh Om Alan. Aku pikir, saudara kakek sudah membaginya dan terpisah satu sama lain," ucap Kaina,
"Mereka layak untuk mendapatkan sesuatu, karena sudah berusaha untuk menjaga semua aset milikmu," ucap Haikal tersenyum.
"Iya, Sepertinya uang dalam jumlah banyak tidak akan bisa membalas semua jasa mereka. Aku sangat bersyukur, karena masih ada orang yang begitu baik kepadaku. Mungkin kamu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk aku. Karena berkat kamu, semuanya bisa kembali menjadi milikku," ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jika sudah menjadi takdir, siapapun tidak akan bisa mengambilnya. Dan segala sesuatu, akan kembali kepada pemiliknya dengan cara yang terbaik," ucap Haikal tersenyum.
"Ah, kamu jangan bikin aku menangis!" ucap Kaina menyusap wajah tampan Haikal yang masih tersenyum.
"Mbok tadi izin pulang sebentar untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal. Mungkin besok baru kembali lagi," ucap Haikal masih tersenyum manis.
Kaina mengangguk dan memilih untuk turun dari pangkuan Haikal. Ia takut jika sang suami mengajaknya untuk bermain, ataupun dia yang tidak bisa menahan diri.
"Aku kembali ke kamar saja. Jangan tersenyum terus! Selesaikan pekerjaanmu dulu," ucap Kaina berjalan keluar dari ruang kerja Haikal.
"Iya, Bunda!" ucap Haikal dengan lembut dan berhasil membuat pipi Kaina merona malu.
Ia hanya mengangguk dan berjalan keluar sambil memegang pipinya yang terasan menghangat. Namun, ia terkejut ketika Meidina datang dan menggodanya.
"Hayo loh, habis ngapain di dalam? Wajah mbak sampai merona gitu," ucap Meidina tersenyum jahil.
"Ti-tidak, kok. Gak ngapa-ngapain di dalam, sumpah!" ucap Kaina gelagapan dengan wajah yang semakin merona.
"Bohong, ih! Pasti habis anu yaa?" ucap Meidina sambil memainkan tangannya.
"Anu apa? Sudah, jangan mikir yang macam-macam. Ayo temani aku makan!" ucap Kaina menarik tangan adik iparnya menuju dapur.
"Hahaha, cie malu. Ah, pengantin baru emang romantis terus ya," ucap Meidina terkekeh.
Nabila juga ikut tersenyum, ketika mendengar percakapan itu. Ia menjadi gemas ketika melihat wajah Kaina yang begitu merona.
"Nyonya, wajah anda sangat merah!" ucap Nabila sengaja.
"Ah, jangan seperti itu! Aku malu!" ucap Kaina menutup wajahnya.
Mereka tertawa bersama, sungguh ini adalah satu keinginan yang sudah lama diimpikan oleh Kaina. Memiliki teman yang bisa saling bercanda satu sama lain dan saling menerima dalam status apa pun.
Mereka bercerita tentang banyak hal, terutama tentang agenda-agenda yang akan mereka ikuti dalam waktu dekat.
__ADS_1
Nyonya sebentar lagi akan mendapat status yang sangat tinggi, apa aku masih pantas untuk mendampinginya sebagai asisten?. Batin Nabila.