Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Diremehkan


__ADS_3

Di kantor Haikal, Kaina sudah duduk dihadapan seorang laki-laki paruh baya yang tersenyum manis ke arahnya. Manatap dengan tatapan rindu dan juga bangga, namun ada Haikal yang menghalangi mereka untuk berinteraksi lebih.


Setelah sekian tahun lamanya, Kaina kembali bertemu dengan sosok yang dulu sering kaki membuatnya kesal. Pria tua genit yang selalu mengatakan ketika Kaina besar nanti, ia akan menikahinya.


Kenangan sekilas yang membuat Kaina begitu rindu dengan masa lalu yang terasa sangat indah. Ketika Pria tua ini datang, maka Kaina akan berlari dan bersembunyi di balik punggung Kiara.


"Apa kabar, Nana?" sapa Alan tersenyum jahil.


"Aku baik, Om. Aku pikir om tidak bekerja lagi di perusahaan bunda," ucap Kaina lirih.


"Tentu saja masih. Bukankah, Om menunggu Nana besar dan kita akan menikahi," ucap Alan berhasil membuat Haikal mengernyit.


"Nana sudah menikah, Om. Nana juga sudah hamil. Nanti suami Nana marah!" ucap Kaina cemberut.


"Haha, kamu masih saja seperti dulu. Sekarang malah bersembunyi dibalik punggung suamimu," ucap Alan tertawa.


"Sekarang, cuma Mas Haikal yang Nana punya, Om!" ucap Kaina lirih.


Alan tersenyum dan menatap Haikal dengan lekat. "Tolong jaga Kaina, dia sudah seperti putri saya. Dia gadis yang baik dan juga sangat pintar," ucapnya.


"Tentu, Tuan. Kebahagiaan Kaina adalah tujuan hidup saya saat ini. Anda, tidak usah khawatir!" ucap Haikal tersenyum tipis.


"Nah, dengar itu nak! Dia sudah berjanji di depan, Om. Sepertinya tugas Om saat ini sudah tergantikan," ucap Alan sambil menghela nafas berat.


Ia memang masih mengawasi Kaina dari jauh, namun hanya bisa menghindari Kaina dari bahaya, namun tidak dengan semua rasa sakit yang di derita gadis itu.


"Apa om akan berhenti bekerja?" tanya Kaina.


"Tentu tidak. Masih ada beberapa tahun lagi masa pensiun Om di perusahaan. Om akan tunggu, sampai kamu benar-benar mampu untuk mengelola perusahaan dengan baik," ucap Alan.


"Itu pasti membutuhkan waktu yang lama, Om. Tapi, itu semua suah ditakdirkan untuk Nana miliki, jadi apa pun tantangannya, akan aku hadapi!" ucap Kaina tersenyum.


"Kamu tenang saja, Orang-orang di perusahaan sekarang, adalah orang yang loyal. Jadi, kamu jangan khawatir jika terjadi sesuatu yang salah nantinya," ucap Alan.


"Terima kasih banyak, Om. Nana tidak tau harus membalas semua kebaikan Om selama ini," ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tenang saja, cukup dengan kamu mempertahankan dan mengembangkan perusahaan, itu sudah bayaran termahal yang Om terima," ucap Alan tersenyum begitu tulus.

__ADS_1


Kaina bisa hidup dengan baik, jika mereka mau menariknya dari semua rasa sakit itu. Tapi, aku yakin jika ini sudah mereka perhitungan dengan baik. Batin Haikal.


Ia menggenggam tangan Kaina dengan lembut. Memberikan rasa percaya kepada Kaina, jika ia akan selalu ada untuk membantu.


Alan tersenyum, ia sudah menyelidiki bagaimana dan siapa Haikal. Walaupun di awal pernikahan dulu ia sempat merasa kesal dengan perlakuan pria tampan itu, namun melihat bagaimana sikap Kaina, ia percaya jika pria muda dihadapannya ini memang benar-benar tulus kepada anak dari sahabatnya itu.


Berbahagialah, Sayang. Sungguh dengan semua kesakitanmu selama ini, om merasa tidak punya muka lagi berhadapan denganmu. Tapi, jika tidak mengalami semua itu, pasti kamu tidak akan kuat menghadapi segala macam rintangan hidup!. Batin Alan dengan air mata yang menggenang.


Ia bersyukur, karena usahanya untuk menjaga aset Kaina sudah berhasil. Ia sudah menemukan orang-orang terpercaya yang mampu untuk mengelola semua aset Chandrawinata.


Mereka membicarakan bagaimana acara serah terima besok. Alan menyetujui keinginan Kaina untuk menutup semua identitasnya ketika berada di luar.


Ia ingin hidup dengan baik seperti sebelumnya tanpa embel-embel Chandrawinata yang mampu merubah sikap orang lain terhadap dirinya.


Aku harus belajar banyak hal karena ada tanggung jawab besar yang akan aku emban untuk kedepannya. Semangat Kaina! Ini semua demi masa depan anak-anak dan juga orang banyak. Batin Kaina.


Setelah cukup lama berbincang, Kaina harus segera pergi ke tempat lomba debat di adakan. Sore ini, para finalis final akan di adu untuk mendapatkan siapa pemenangnya. Kaina sudah bersiap dengan materi yang akan mereka bahas nanti.


Semua orang sudah menunggu kedatangannya, karena mereka sebentar lagi akan dipanggil untuk maju ke depan.


"Huh, syukurlah akhirnya kamu datang!" ucap Adam tanpa sadar memeluk Kaina.


Kaina merasa tidak nyaman, ia segera melepaskan pelukan adam dan mengedarkan pandangan, berharap Haikal tidak melihat kejadian barusan.


"Aku dari kantor suamiku. Mau minta restu dulu sebelum lomba," ucap Kaina.


Adam menyadari jika tindakannya salah. Suasana terasa canggung antara mereka, karena sikapnya yang terlalu berlebihan.


"Apa kamu sudah menguasai bahan kita hari ini?" tanya Kaina yang menyadari situasi canggung antara dirinya dan Adam.


"Sudah, Kai. Kamu bagaimana? Lawan kita sepertinya cukup berat," ucap Adam menggaruk tengkuknya.


"Aku sudah menguasainya. Semoga kita bisa menang dari mereka. Apa lagi sekarang, kita mempertaruhkan harga diri dan nama kampus. Setidaknya kita bisa menang secara terhormat," ucap Kaina yakin dengan kemampuannya.


"Ah, semoga saja. Kampus kita sudah sangat haus akan juara 1 dalam cabang ini," ucap Adam penuh harap.


Kaina mengangguk. Hari ini ia ingin membuat para karyawan perusahaannya merasa kagum dengan apa yang dia lakukan nanti.

__ADS_1


Setidaknya, cara ia berpikir bisa di apresiasi dan pantas untuk memimpin perusahaan besar itu. Sebab Alan mewajibkan seluruh karyawan untuk menonton acara ini agar bisa melihat siapa pimpinan baru mereka nanti. Kaina berdoa, agar ia bisa mendapatkan hasil yang terbaik.


"Masih belum menyerah?" tanya Veranda yang tiba-tiba saja datang bersama dengan Fani dan Jesica.


"Tidak, sampai aku bisa membawa piala itu pulang," ucap Kaina tersenyum.


"Tunggu dulu! Eh babu, kau hamil?" sentak Jesica terkejut melihat perut Kaina.


"Kalau iya, kenapa?" tanya Kaina mengernyit.


"Heh, siapa yang menghamili, Kau?" tanya Fani berjalan mendekat.


Alan yang ikut ke acara itu langsung menghampiri Kaina dan berdiri di depan ibu hamil itu sembari menghalangi mereka untuk menyentuhnya.


"Heh, bapak siapa? Jangan ikut campur dengan urusan kami!" pekik Fani tidak suka.


"Jangan mencari gara-gara, atau kalian bisa saya buat terdiskualifikasi dari lomba ini," ucap Alan dengan tegas sambil tersenyum.


"Jangan macan-macam, ya! Papa saya adalah sponsor terbesar di acara ini!" ucap Veranda berbangga diri.


"Oh, pantas saja sering menang, ternyata sudah nyogok panitia!" ucap Alan sedikit keras dan membuat perhatian beberapa pengunjung teralihkan.


Veranda cs terkejut dan terlihat panik mendengar ucapan Alan.


"Om, sudahlah! Kita tinggal membuktikan saja kepada publik, siapa yang terbaik. Nanti biarkan netizen yang menilai," ucap Kaina tersenyum.


"Cih, kau seolah mampu untuk mengalahkan kami!" ucap Jesica sambil mengibaskan rambutnya.


"Kita lihat saja, nanti. Kami, atau kalian yang akan kalah!" ucap Kaina menantang.


Fani and the genk, melotot mendengar ucapan Kaina yang sangat berani. Namun mereka hanya bisa tersenyum remeh mendengar ucapan ibu hamil itu.


"Ya sudah, silahkan tidur dan bermimpi agar bisa mengalahkan kami!" ucap Veranda berlalu dari sana dan diikuti oleh yang lain.


Kaina menghela napas berat. Ia hanya menatap Haikal yang berada tak jauh dari sana untuk meminta bantuan. Ia ingin lomba ini, memang benar-benar adil tanpa permainan sama sekali.


Haikal yang seolah mengerti dengan tatapan Kaina mengangguk. Memang, setelah ini akan menemui panitia penyelenggara untuk membahas tentang ini. Ia ingin Kaina tidak dicurangi ketika berada di final.

__ADS_1


Ia langsung pergi dari sana dan memanggil ketua panitia untuk berbicara mengenai hal ini. Sebab, keberadaannya sebagai sponsorship utama patut diperhitungkan.


Semoga kamu paham dengan tatapanku, Sayang. Jangan sampai kamu malah menambahkan dana suap agar aku bisa menang di lomba ini. Batin Kaina hapar-harap cemas


__ADS_2