
Hari ini, adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Kaina. Lomba Debat tingkat kota sudah di depan mata. Kaina dan yang lain sudah berada di gedung balai kota di mana acara tersebut di adakan.
Entah ini suatu keberkahan atau memang sudah takdir. Kaina dan Adam langsung berhadapan dengan musuh bebuyutannya.
Rasa gugup mulai menguasai ibu hamil itu, ia ingin Haikal ada di sampingnya namun itu sangat tidak mungkin. Sedari tadi, ia hanya menggenggam tangan Nabila dengan erat dan membuat gadis cantik itu sesekali meringis.
"Apa anda gugup, Nyonya?" bisik Nabila.
"Iya, Kak. Aku pertama kali ikut lomba debat seperti ini. Apa lagi mas Haikal mejadi sponsor utama dan mengundang stasiun TV agar bisa di tayangkan," ucap Kaina lirih.
"Hihi, tuan muda melakukan itu, agar Nyonya bisa semangat dan membuktikan kepada mereka, jika anda bukan istri kaleng-kaleng!" ucap Nabila terkekeh.
"Gimana kalau aku kalah? Pasti mereka akan semakin meremehkan dan menjatuhkan aku," ucap Kaina lirih.
"Ih, anda sangat rendah diri, Nyonya. Bagaimana anda bisa menang kalau seperti ini? Ayo dong semangat, harus yakin jika anda bisa mengalahkan mereka!" ucap Nabila yang terdengar kejam.
Namun Kaina merasa ucapan asisten pribadinya itu benar. Ia mengangguk dan mengepalkan tangan, dengan wajah yakin dan juga percaya diri. "Semangat!" ucapnya.
"Nah, gitu dong! Biar dedeknya juga semangat bantu bunda nanti!" ucap Nabila terkekeh.
"Ah, iya. Bantu bunda ya, Anak-anak!" ucap Kaina terkekeh sambil mengusap perutnya.
Ia duduk di barisan paling depan, dan berada di belakang kursi tamu penting. Haikal sengaja duduk tepat di depan Kaina agar bisa membuat ibu hamil itu bersemangat.
Haikal menatap Kaina sebentar dan tersenyum gemas melihat wajah pucat sang istri. "Ingat pesanku semalam! Harus semangat dan fokus kalahkan mereka!" ucapnya berbicara pelan.
Kaina tersenyum dan mengangguk. Namun senyuman itu hilang ketika melihat tiga orang perempuan datang menghampirinya.
"Wah, Babu kita ternyata ada di sini," ucap Fina dengan sedikit keras.
Bahkan Haikal dan beberapa orang lainnya ikut mendengar ucapan gadis itu.
"Wah, sepertinya kau sudah banyak berubah. Baju yang kau pakai sudah bermerek dan..., apa kau sudah makan? Jika belum, kau bisa mengambil sisa nasi kotak kami nanti!" ucap Jessica tertawa.
Haikal melotot dan geram mendengar ucapan mereka yang sangat merendahkan Kaina. Begitu juga dengan Nabila dan Adam yang berada di sana.
__ADS_1
Kaina hanya tersenyum manis. "Terima kasih, kalian masih perhatian dengan babu ini. Tapi maaf, saya sudah makan dan selamat bertemu di atas panggung!" ucapnya santai.
Haikal tersenyum tipis mendengar ucapan Kaina. Ia harus bisa menahan diri agar tidak menimbulkan kekacauan nantinya.
"Hohoho, sombong sekali kau, Babu! Kau tau, 'kan? Jika kami ini selalu menang ketika lomba debat! Jadi, lebih baik mundur saja dari pada kampus kau malu!" ucap Veranda yang membuat mereka tertawa.
"Cukup kalian! Kampus kami walaupun tidak pernah menang, tapi kami selalu menjadi runner-up! Kali ini, kalian yang akan malu. Lihat saja!" ucap Adam sambil berdiri dan menutupi Kaina.
"Heh, kau Adam kan? Wah, apa kau sudah menemukan Hawa? Apa dia gadis kampung, miskin dan jelek ini?" ucap Fani dengan ekspresi terkejut.
"Tidak usah banyak bacot!" ucap Veranda.
"Apa kalian bisa berhenti?" ucap Haikal begitu tegas dan dingin.
"Eh, maaf tuan muda. Kami tidak tau jika anda berada di sini. Hati-hati, nanti barang anda bisa di ambil sama mantan babu kami! Permisi!" ucap Fani semanis mungkin.
Babu? Beraninya kau mengatai istriku babu? Lihat saja nanti, siapa yang sebenarnya babu!. Batin Haikal geram.
Apa lagi, ia mendengar asal suara laki-laki yang membela Kaina di belakangnya. Telinga Haikal memerah karena menahan amarah yang tidak mungkin ia lepaskan.
"Aku tidak apa. Nanti saja aku balas di atas panggung. Satu semester membuat aku cukup tau strategi dan kelemahan mereka," ucap Kaina terkekeh.
Nabila menunjuk tangan Haikal yang sedang mengepal dengan erat.
"Suami tampanku, pasti akan bangga melihat istrinya berani melawan mereka," ucap Kaina sedikit keras agar terdengar oleh Haikal.
Nabila mengernyit ketika mendengar ucapan Kaina, namun ia hanya bisa mengikutinya. "Apa dia datang?" ucapnya.
"Tentu saja, Kak. Ah, kehadirannya seperti semangat untuk aku. Semoga saja, nanti suamiku tidak marah atau jatahnya akan aku potong!" ucap Kaina tertawa.
Nabila melotot mendengar ucapan ibu hamil itu. Sungguh ia sangat tidak menyangka jika Kaina berani mengancam sang suami yang berada di depan mereka.
Haikal melotot dan ikut terkejut mendengar ucapan Kaina. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan cara seperti itu. Lihat saja nanti ketika berada di rumah. Aku tidak akan melepaskanmu Sayang! Beraninya kamu membuatku cemburu!. Batinnya.
Hingga acara dimulai. Kaina dan adam sudah berdiri di atas panggung sambil tersenyum manis. Mereka akan melawan Fani dan juga Veranda, yang sudah menatap Kaina penuh kebencian.
__ADS_1
Pembahasan tentang tema, akan dilakukan secara bergantian. Kaina yang masuk ke dalam Tim Kontra sudah begitu gatal untuk berbicara, namun tidak kunjung diberikan kesempatan oleh Fani yang terus saja mengoceh.
"Tenang, Kai. Waktu mereka sebentar lagi akan habis," ucap Adam.
Kaina mengangguk sambil menyimak semua argumen yang di sampaikan oleh Fani. Hingga gilirannya, Kaina dan Adam mulai menyanggah semua pendapat Fani dan Veranda dengan beberapa hasil penelitian terbaru. Ia membabat habis argumen Fani dengan tegas, lantang dan juga berwibawa.
Sementara Veranda dan Fani terkejut mendengar ucapan Kaina. Mereka tidak menyangka, jika gadis itu begitu berani menantang dan menyanggah semua argumen mereka.
"Terima kasih, dikembalikan!" ucap Kaina tersenyum smirk kearah Fani dan Veranda.
Haikal ikut tersenyum dan bertepuk tangan. Hal itu diiringi oleh semua orang yang hadir di sana. Karena memang, apa yang di sampaikan oleh Kaina lengkap dengan sumber terpercaya.
Fani dan Veranda kembali mengemukakan dan mempertahankan argumen mereka. Namun, Kaina berhasil membuat mental mereka turun, ditambah dengan tepuk tangan yang cukup meriah dari penonton.
Hingga debat selesai, Kaina dan adam berhasil mendapatkan satu tiket menuju semi final. Kaina bernafas lega, karena usahanya satu minggu ini berdebat dengan Haikal tidak sia-sia.
Ia serasa ingin memeluk suami tampannya itu. Haikal dan Kaina hanya bisa saling memandang dan tersenyum manis penuh rasa bangga.
Ah, kenapa dia sangat mengemaskan?. Batin Haikal menjerit ingin memeluk istri kecilnya itu.
Kaina segera turun dari panggung dan di bantu oleh Nabila. Ia menolak uluran tangan Adam agar tidak membuat Haikal semakin cemburu.
"Kaina?" Panggil Hesti senang.
"Hai? Aku pikir kamu tidak datang!" ucap Kaina memeluk sahabatnya itu.
"Ah, tentu saja aku akan datang! Tadi itu benar-benar keren! Bahkan dosen yang datang memuji kamu!" ucap Hasti antusias.
"Benarkah? Hah, aku bisa bernafas lega. Ini cukup membebaniku!" ucap Kaina tersenyum.
Kaina merasa begitu lelah, karena menghabisi begitu banyak tenaga dan juga emosi. Ia memilih untuk segera pulang dan menghindari Fani cs agar ia tidak terlalu kelelahan.
Sungguh, ia hanya ingin pulang, beristirahat dan memeluk Haikal dengan erat. Ia menatap sang suami dan memberi kode. Pria tampan itu tersenyum dan menyusul Kaina pulang ke apartemen mereka. Ia merasa sangat bangga dengan apa yang sudah dilakukan oleh istrinya itu.
Selangkah demi selangkah, aku akan mendukung kamu. Entah status seperti apa yang mereka butuhkan. Tapi yang jelas kamu sudah menjadi istri terbaik untukku. Batin Haikal.
__ADS_1