Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Mengaminkan


__ADS_3

Seorang gadis baru saja mengerjabkan mata. Ia merasa sudah tertidur dengan sangat lama. Matanya mulai melihat ke sekeliling ruangan yang terasa begitu familiar saat ini.


"Apa aku bermimpi? Ini di apartemenku," ucapnya lirih.


Ia mencoba duduk, namun kepalanya terasa begitu berat. Lemas dan juga kehausan mulai menghampiri dirinya. Ia menatap sekeliling dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 00.00, itu artinya sudah sangat larut sekali.


Ia berjalan keluar dan melihat keadaan sekitar yang begitu gelap. Ia menghidupkan lampu dan tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di sana.


Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi kepadanya. Namun sakit kepala tiba-tiba saja menyerang dan membuat gadis itu hampir saja terjatuh.


"Kemana Thomas?" ucapnya ketika mengingat sangat asisten.


Nabila sudah berhenti bekerja dengannya. Hanya laki-laki gemulai itu yang bisa membantu mengatur semua pekerjaannya kali ini, hingga ia bisa menemukan manager baru.


Kalian, lihat saja apa yang bisa aku lakukan! Along, Haikal dan perempuan itu. Aku akan membuat kalian sengsara!. Batin Filda menatap hamparan kota Calgary.


Ia mengambil ponsel yang terasa begitu dingin karena tidak disentuh dalam beberapa waktu. Ia segera menghubungi Thomas yang sekarang entah dimana keberadaannya.


"Oh, Dimana kau ha?" ucap Thomas marah.


"Aku di apartemen. Pesan tiket pesawat sekarang dan kembali ke sini! Kita harus pindah dan mencari manager baru!" ucap Filda.


"Apa kau gila? Aku masih di Indonesia sekarang!" ucap Thomas tidak percaya.


"Jangan banyak bicara! Aku tunggu secepatnya!" ucap Filda langsung mematikan sambungan telepon.


Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Mereka pasti mengirim orang untuk mengawasiku!. Batinnya.


Mengingat perkataan Along yang seolah tau, apa saja yang tengah ia lakukan saat ini. Kepalanya terasa sangat sakit ketika memikirkan cara bagaimana agar Filda bisa kembali bekerja sebagai managernya.


"Haikal, lihat saja nanti. Kau tidak akan hidup tenang bersama dengan perempuan kampungan itu!" ucap Filda kesal.


Hingga pagi menjelang, ia masih terjaga dengan kondisi yang begitu berantakan. Memikirkan segala cara agar bisa merebut Haikal kembali.


🥕🥕


Kaina memilih untuk pulang karena merasa sangat lelah dan mengantuk. Ia tidak bisa tidur di dalam ruangan Haikal, sebab pria tampan itu selalu mengganggunya.

__ADS_1


Kini ia berada satu mobil dengan Kang Yono dan Nabila. Hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka saat ini.


"Apa Nyonya ingin membeli sesuatu sebelum kembali?" tanya Kang Yono.


"Mas Haikal, pasti tidak akan mengizinkannya, Pak!" ucap Kaina lirih.


"Saya rasa, jika Nyonya mengidam itu tidak masalah!" ucap Kang Yono.


"Tidak, Pak. Saya akan kesulitan untuk meredam amarah tuan muda itu. Nanti, saya minta tolong sama koki di rumah utama saja," ucap Kaina lirih.


Sungguh ia ingin membeli setiap makanan yang ia lihat dipinggir jalan. Sementara Nabila hanya terdiam menyesuaikan diri agar bisa berbaur dengan Nyonya muda itu.


Hingga mobil berhenti di halaman rumah utama keluarga Kusumanegara. Kaina dan Nabila segera turun dari mobil.


Namun langkah mereka tertahan karena melihat Muzi yang berdiri di depan pintu utama.


"Mau apa kalian ke rumah saya?" ucap Muzi ketus.


Kaina hanya menghela nafas dalam, ia sungguh sangat lelah dan tidak ingin mengucapkan sepatan katapun.


"Maaf jika saya mengganggu dan mengotori rumah anda, Nyonya!" ucap Kaina menunduk dan langsung membalikkan badannya.


Kaina hanya menarik tangan Nabila untuk kembali masuk ke dalam mobil. Kang Yono yang sedang menyusul juga memilih untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu.


Ucapan Haikal sudah sangat tegas melarangnya untuk tidak mencari masalah dengan sang mertua.


Nabila memberikan Kaina air mineral. Entah kenapa, dia merasa iba melihat gadis kecil ini. Terlepas bagaimana dia bisa menikah dengan Haikal, namun hubungannya dengan sang mertua terlihat begitu rumit.


"Terima kasih," ucap Kaina lirih.


Filda tidak pernah mengatakan itu. Batin Nabila sambil menganggukkan kepalanya. "Sama-sama, Nyonya!" ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Apa kakak bisa memasak?" tanya Kaina menatap gadis itu dengan penuh harap.


"Apa Nyonya ingin makan sesuatu?" Tanya Nabila.


Kaina hanya mengangguk pelan dengan pipi yang merona. Nabila merasa gemas melihat Kaina, apalagi ketika melihat wajah ibu hamil itu dari dekat, siapa saja pasti akan merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Saya bisa memasak beberapa makanan, Nyonya. Semoga nanti anda tidak kecewa dengan masakan saya!" ucap Nabila tersenyum.


"Terima kasih dan maaf jika merepotkan," ucap Kaina merasa tidak enak.


Semenjak hamil, entah kenapa ia begitu ingin melibatkan banyak orang untuk memenuhi keinginan yang datang dengan tiba-tiba.


Mereka kembali terdiam sepanjang perjalanan menuju apartemen. Kali ini keputusan Kaina sudah bulat, walaupun tanpa persetujuan dari Haikal.


Ia akan tetap tinggal di apartemen sampai Muzi mau menerima dirinya. Jika bukan karena hamil, ia pasti akan berusaha untuk mengambil hati sang mertua, namun rasa takut sudah lebih dulu menguasainya.


Ah, sekarang bagaimana caranya agar tuan muda mau datang ke acara itu. Aku pikir hanya akan membuang-buang waktu untuk menghadiri acara yang tidak jelas. Tapi, jika aku tidak datang, pasti semua orang akan semakin membenci dan merendahkanku. Batin Kaina.


Hingga mereka tiba di lobby apartemen. Nabila langsung membantu Kaina untuk turun dari mobil, memastikan jika ibu hamil itu baik-baik saja.


Mereka segera naik menggunakan lift eksekutif menuju lantai paling atas, dimana unit apartemen Haikal berada.


"Apa, Nyonya akan keluar setelah ini?" tanya Nabila.


"Tidak, Kak. Aku hanya ingin beristirahat. Aku merasa mudah lelah semenjak hamil. Untung saja belum merasa mual dan tidak enak badan," ucap Kaina tersenyum.


"Tuan muda terlihat begitu khawatir kepada Nona," ucap Nabila.


"Ah, iya terkadang dia terlalu berlebihan. Padahal aku baik-baik saja, dan aku bersyukur untuk hal itu," ucap Kaina dengan wajah yang merona.


"Sepertinya, Tuan Muda sangat mencintai anda. Walaupun saya penasaran bagaimana Nyonya bisa meluluhkan hati tuan muda yang arogan itu," ucap Nabila terkekeh.


"Ah, aku sangat berharap itu terjadi. Walaupun ini terasa seperti mimpi. Namun untuk sekarang cukup menjadi cerita kami berdua saja," ucap Kaina tersenyum.


"Ah, melihat bagaimana hubungan asmara tuan muda, sepertinya ini titik terbucin yang saya lihat. Dia pasti akan sangat gila jika kehilangan Nyonya nanti. Semoga anda bisa langgeng hingga kakek nenek," ucap Nabila dengan wajah yang merona.


Kaina mengaminkan dalam hati, walaupun ia masih merasa mustahil dengan hal itu.


Mereka segera masuk ke dalam apartemen dan beristirahat. Kaina merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan mata yang mulai mengantuk.


Nabila mengamati suasana Apartemen yang dulu pernah ia singgahi beberapa kali bersama dengan Filda.


Terasa jauh berbeda dengan suasana lebih terang dan juga asri karena banyak tanaman yang tumbuh subur di sana.

__ADS_1


Ia segera memasak makanan yang ia bisa untuk ibu hamil itu. Walaupun terasa kaku dan juga canggung, namun ia menikmati pekerjaan yang mulai membuatnya nyaman.


Ah, Filda sangat bodoh karena meninggalkan tuan muda ini. Jika mereka masih bersama, mungkin Filda sudah menjadi wanita paling bahagia di dunia. Batin Nabila


__ADS_2