
Haikal merasa risau dan tidak tenang mendengar jawaban Kaina. Ia berjalan mondar mandir tanpa mengenakan baju dan hanya ada handuk yang menutupi bagian sensitifnya.
Ck, hanya gara-gara gadis itu, aku jadi seperti ini. Ah, dia memang gila!. Batinnya.
Ia merasa tidak sabar untuk mendengar kata pasti dari Kaina. "Hei gadis, cepatlah! Mana bajuku?" teriak Haikal.
Kaina yang sedang bermenung, langsung tersentak mendengarkan suara Haikal yang serasa membuat gendang telinganya pecah.
Ia segera berdiri dan membilas tubuhnya dengan cepat. Melilitkan handuk dengan tergesa-gesa dan keluar dari kamar mandi.
Ia melihat Haikal yang tengah duduk di atas ranjang dengan wajah kesalnya. Tanpa berucap, Kaina langsung mencari baju untuk Haikal dan menyerahkannya kepada pria tampan itu.
"Pakaikan!" ucap Haikal ketus.
Kaina mengangguk, ia memakaikan baju Haikal dengan rasa yang bercampur aduk. Bahkan pria tampan itu juga menyuruhnya untuk memakaikan celana tanpa rasa malu.
"Cepat pakai bajumu, jangan sampai semua sarapan itu dingin dan menjadi penghuni tong sampah!" ucap Haikal tegas setelah selesai memakai baju.
Kaina mengangguk, ia bergegas untuk mengenakan bajunya dan menyusul Haikal ke ruang makan.
Wajahnya dari yang merona kembali memucat melihat kekesalan pria tampan itu. Ia memilih untuk diam, agar tidak menambah kemarahan dari suaminya.
"Makanlah!" ucap Haikal.
Ia menyuap makanan tanpa meminta Kaina untuk menyuapinya. Gadis itu merasakan ada sesuatu yang kurang kali ini.
Ah, tuan muda sudah menjadi salah satu kebiasaanku. Bagaimana ini? Apa dia suda masuk ke dalam hatiku yang rapuh ini? Padahal, hanya bentakan yang aku dapat setiap harinya, tapi kenapa tuan muda bisa melakukan ini?. Batin Kaina yang juga ikut menyuap makanannya.
Ia terdiam dan menatap Haikal dengan rasa tidak percaya. "Enak," ucap Kaina tersenyum sambil menunduk.
Haikal menatap gadis cantik itu dengan telinga yang memerah. Walaupun wajahnya masih terlihat datar, namun hatinya kini berbunga-bunga mendengar pujian dari Kaina.
"Habiskan kalau begitu!" ucap Haikal ketus.
Kaina tersenyum dan mengangguk. Ia mengernyit ketika melihat telinga Haikal memerah.
Mungkin aku harus belajar bagaimana cara membuat tuan muda ini bisa menerimaku . Apa itu mungkin?. Batin Kaina.
Setelah selesai, Haikal mengajak Kaina ke ruang tamu. Ia ingin menanyakan beberapa hal kepada gadis ini.
"Duduklah! Jawab dengan jujur dan benar apa yang saya tanyakan!" ucap Haikal.
Kaina mengangguk dan duduk di hadapan pria tampan itu. Ia seperti orang yang tengah diinterogasi karena berbuat kesalahan.
"Apa mommy menampar kau semalam?" tanya Haikal.
Kaina terkejut, ia menunduk dan menggeleng. "Nyonya hanya mengusir dan menarik saya dengan cukup kuat dan dibantu oleh temannya," ucap Kaina.
"Saya tidak suka orang yang berbohong Kaina!" ucap Haikal tegas.
Kaina terdiam, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Haikal. Sebab, itu akan menjadi sebuah boomerang yang akan kembali menyerangnya. Bahkan membuat ibu dan anak ini bisa bertengkar.
"Katakan, Kaina! Jika bukan Mommy, siapa yang Menamparmu? Apa kau di perkosa oleh orang lain selain saya? Bahkan saya tidak pernah melekatkan tangan kepada kau sedikitpun!" ucap Haikal dengan nada suara yang sedikit lebih tinggi.
__ADS_1
Kaina melotot dan menggeleng. Ia terkejut ketika Haikal sampai berfikiran seperti itu.
"Kaina," panggil Haikal lirih.
"Anda berjanji tidak akan bertengkar dengan siapapun?" ucap Kaina menyodorkan kelingkingnya kepada Haikal.
Pria tampan itu menghela nafas, ia memang menghadapi sosok anak-anak remaja saat ini.
"Iya!" ucap Haikal menautkan kelingkingnya.
"Walaupun nanti anda akan mengingkari janji. Tapi saya harap, anda tidak membentak ataupun berkata kasar kepada ibu anda, Tuan. Karena nanti anda akan menyesali semua perbuatan yang anda lakukan ketika mereka sudah tidak ada," ucap Kaina tersenyum.
Haikal menatap gadis itu dengan raut wajah berbeda. Ia mengangguk dan mengela nafas, kata-kata Kaina seolah tengah menghujam jantungnya.
"Nyonya memang menampar saya, Tuan. Setelah itu, mereka menarik saya hingga keluar. Itu sudah biasa bagi saya. Mungkin hanya kaget dan tidak siap. Apalagi saya berjalan sejauh itu untuk pergi ke makam bunda," ucap Kaina tersenyum.
"Ada lagi?" tanya Haikal.
"Tidak, Tuan," ucap Kaina tersenyum miris.
"Sekarang, cari nama panggilan untuk saya, yang mesra. Dalam waktu 5 menit dari sekarang!" ucap Haikal.
Kaina melotot, ia kelabakan. Tidak tau panggilan apa yang akan ia beri kepada sang suami.
Kaina menatap kearah Haikal. Lidahnya kelu karena ia tau, hatinya akan semakin tertaut kepada pria tampan ini.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?" ucap Haikal ketus.
"Sisa 4 menit 27 detik," ucap Haikal yang memang menghidupkan timer pada ponselnya.
"Sa-sayang," ucap Kaina lirih.
"Apa?" tanya Haikal menahan senyumnya.
"Tu-tuan sayang," ucap Kaina.
"Jangan panggil saya tuan lagi!" ucap Haikal kesal.
Kaina menelan ludahnya. Ia merasa malu dengan panggilan yang diberikan kepada Haikal.
"Sa-sayang," ucap Kaina lirih.
"Yang keras!" ucap Haikal.
"Sayang," ucap Kaina berteriak.
"Ck, kalau kau tidak iklas, tidak usah!" ucap Haikal terkejut.
"Ma-maaf, Tuan. Saya belum bisa mengontrol suara," ucap Kaina menunduk.
"Panggil saya baginda maha raja!" ucap Haikal merentangkan tangannya.
Kaina menahan tawa melihat tingkah pria tampan ini.
__ADS_1
"Baiklah, Sayang Baginda Maha Raja," ucap Kaina merapatkan bibirnya agar tidak tertawa.
Haikal yang sadar telah berbuat sesuatu, menjadi salah tingkah. Ia mendekati Kaina dan menindih gadis itu dengan wajah kesal, namun terlihat merona.
"Kau menertawakanku?" ucap Haikal menggelitik gadis itu.
"Hahaha, ampun, Tuan!" ucap Kaina tertawa lepas karena merasa geli.
"Panggil aku sayang!" ucap Haikal masih menggelitik Kaina.
"Baiklah, Sayang! Ampun!" ucap Kaina masih tertawa.
Haikal berhenti dan menatap dalam mata gadis itu. "Cintai aku Kaina! Cintai aku!" ucapnya tegas.
"Apa nanti ada akan meninggalkan saya, ketika rasa cinta itu sudah ada?" tanya Kaina tersenyum miris.
"Kau tidak perlu tau tentang hal itu! Yang jelas sekarang, kau harus mencintaiku!" ucap Haikal.
Kaina menghela nafas. "Baiklah!" ucapnya tersenyum manis.
Padahal hatinya serasa hancur bahkan sebelum mulai mencintai laki-laki ini.
"Bisakah anda berbicara pelan dan tidak marah, tu..., eh Sa-sayang?" tanya Kaina.
"Baiklah! Kaina cantik, sekarang bersiap-siap, karena kita akan pergi berjalan-jalan sebentar," ucap Haikal memeluk gadis itu.
"Apa anda akan membuang saya di tempat itu?" ucap Kaina spontan.
Haikal mencubit gemas hidung Kaina. "Kau mau aku tinggal?" ucap Pria tampan itu.
Kaina menggeleng kuat. Pelukan Haikal terasa begitu nyaman dan semakin nyaman setiap harinya.
"Tuan, bagaimana kalau saya hamil?" tanya Kaina.
"Baguslah! Kau 'kan sudah punya suami," ucap Haikal memejamkan matanya.
"Tapi, tidak ada yang tau jika saya sudah menikah. Pasti nanti mereka semakin menjauhi saya," ucap Kaina lirih.
"Nanti akan kita umumkan!" ucap Haikal lirih karena rasa kantuk yang menyerangnya.
"Bagaimana kalau mereka menjahatiku?" tanya Kaina.
"Nanti kau harus belajar bela diri!" ucap Haikal.
"Terus, jika aku...," ucapan Kaina terhenti ketika Haikal menutup mulutnya dengan tangan.
"Jangan berisik! Sana bersiap, kita akan pergi sebentar lagi!" ucap Haikal yang malah semakin mengencangkan pelukannya.
Bagaimana aku bisa bersiap, jika terus dipeluk seperti ini!. Batin Kaina.
Entah kenapa, perasaannya menghangat ketika mendengarkan jawab Haikal. Walaupun ia tau, jika pria tampan ini tengah mengantuk. Namun, ia percaya jika Haikal tidak pernah bercanda dengan kata-katanya.
Semoga ada harapan untuk pernikahan ini..., Sayang. Batinnya tersenyum dan mengelus lengan Haikal dengan lembut.
__ADS_1