
Kaina berjalan melalui lorong rumah menuju kamar para pelayan. Ia terus menggenggam tangan Haikal untuk berjaga-jaga. Walaupun ia merasa sedikit keberatan dan tidak ingin Haikal mengetahui kamarnya, namun tidak ada cara lain. Karena kini, ia juga harus memikirkan keamanan dan keselamatan anak-anak yang tengah dikandung, jika terjadi sesuatu.
"Sayang, apa kamarku sudah bersih?" tanya Kaina berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sudah, Sayang. Mau masuk sekarang?" tanya Haikal tersenyum.
Kaina mengangguk. "Jangan aneh kalau lihat kamarku nanti. Setelah ini, aku tidak peduli jika mereka mengeluarkan semua barang-barang yang ada di sini," ucapnya sambil menghela nafas.
Haikal tersenyum dan meminta Along untuk membuka pintu kamar Kaina. Terlihat masih kotor dan juga ada beberapa barang yang belum sempat di keluarkan.
Kaina tersenyum sambil berjalan menuju ranjang kecil dan lusuh yang sudah menemaninya selama 13 tahun ini.
"Kamu tidur di sana?" tanya Haikal mengernyit.
"Iya, tapi masih nyaman. Untung aku masih memiliki karpet ini, jadi aku juga bisa tidur di lantai jika bosan," ucap Kaina tersenyum.
Ia ingin berjongkok namun langsung ditahan oleh Haikal. "Mau apa?" tanya pria tampan itu.
"Aku menyimpan beberapa barang di bawah kasur ini, Sayang. Aku ingin mengambilnya," ucap Kaina mengernyit.
"Biar aku saja!" ucap Haikal dengan wajahnya kesal.
Ia berjongkok dan melihat sebuah kotak yang berada di bawah kasur. "Kotak ini, Yang?" tanya Haikal.
"Iya, Sayang. Itu brangkar yang cukup berat," ucap Kaina duduk di kursi meja riasnya.
Dengan sedikit kesulitan Haikal menarik kotak besar itu keluar. Ia sampai harus membongkar dipan kayu itu dan dibantu oleh Along.
"Apa ini isinya, Sayang?" Tanya Haikal mengernyit.
"Itu semua peninggalan bunda. Tidak ada yang bisa membuka kotak itu kecuali aku," ucap Kaina tersenyum.
__ADS_1
Ia bernapas lega, karena kotak wasiat itu masih ada di sana. Walaupun banyak para pelayan yang penasaran, termasuk juga Selena dan Sisca. Namun ia mengatakan jika itu hanya kotak biasa dan kosong.
Kaina mengambil tas lusuh peninggalan sang ibunda yang masih ia selipkan di dalam tas dan ia bawa ke mana-mana, karena di sana terdapat kunci untuk membuka brangkar itu.
"Hmm, aku mau membukanya di rumah saja, apa bisa ini dibawa ke mobil, Sayang?" cicit Kaina sambil memegang tangan Haikal dengan penuh harap.
"Baiklah! Apa ada lagi barang yang akan dibawa? Biar sekalian saja," ucap Haikal mengusap kepala Kaina dengan lembut.
Ibu hamil itu mengeluarkan beberapa foto besar dan kecil yang terdapat gambar sang ibunda dan juga keluarganya. Foto ia semasa kecil yang masih bisa tertawa lepas tanpa kesedihan.
Haikal merasakan sakit ketika membayangkan Kaina menjalani hari-harinya dengan berat. Dalam sekejap, kehidupan mewah yang bergelimang harta, berubah menjadi bencana dan juga kesedihan.
Setelah selesai, mereka segera keluar dari sana. Kaina berpapasan dengan Selena dan juga Bobi yang menatap ibu hamil itu penuh kebencian.
"Acara sudah selesai! Segeralah pulang dan jangan mengganggu kami lagi!" ucap Selena ketus dan masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu.
Bobi juga berdiri di sana dengan raut wajah datar. "Jika sampai ibuku kenapa-napa, kau yang harus bertanggung jawab!" ucapnya sambil menyenggol bahu Along.
"Nanti aku cerita di rumah, ya!" ucap pria tampan itu tersenyum.
Semoga bukan hal yang buruk!. Batin Kaina.
Ia segera pulang dan kembali ke apartemen. Bayangan bagaimana Leo memperlakukan Selena dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sungguh, ia begitu merindukan sentuhan sang ayah. Usapan, belaian dan kata-kata cinta yang keluar dari mulut cinta pertamanya itu.
Sebuah mobil box didatangkan oleh Haikal untuk mengangkut semua barang-barang Kaina dari rumah itu. Ia tau, ada perasaan sedih yang sedang menyelimuti hati sang istri. Namun, ia sadar jika Kaina juga perlu waktu untuk bersedih agar bisa membuatnya bersikap dewasa setelah ini.
"Aku merindukan bunda. Apa boleh kita mampir dulu ke tempat bunda?" tanya Kaina penuh harap.
"Tentu, Sayang. Lagian sudah lama juga kamu tidak ke sana," ucap Haikal tersenyum.
Kaina kini merasa lebih nyaman ketika berada di samping Haikal. Walaupun ia tidak tau seberapa besar cinta sang suami kepadanya, namun kini ia percaya jika Haikal memang benar-benar sudah mencintai dan menerima dirinya dengan baik.
__ADS_1
Mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman Leo. Haikal merasa puas, karena berhasil mengadu kepada Leo tentang perbuatan Sisca.
Kaina hanya bersandar di dada bidang Haikal dengan mata yang mengantuk. Sepertinya, penyakit insomnia yang ia derita sudah berkurang dan mungkin sembuh seiring dengan tubuh lelah dan hormonnya.
Sebelum ke pemakaman, mereka berhenti di toko bunga dan membeli kembang kesayangan Kiara dan bunga lainnya.
Haikal menuntun langkah kaki Kaina dengan hati-hati, memastikan jika sang istri aman dan tidak ada hal bahaya di sekitar mereka.
Setelah tiba, Kaina tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis. Air matanya seketika mengalir tanpa bisa ia cegah. Padahal, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun di sana.
Haikal berusaha untuk mengerti, walaupun sebenarnya ia tidak suka melihat Kaina menangis. Namun ia tau, bagaimana rasanya menahan rindu dan yang tidak akan pernah tersampaikan lagi.
Hanya ada papan kayu dengan tanah yang sudah rata. Dikelilingi oleh bebatuan dan juga tiga buah tanaman agar bisa menandakan jika di sana sudah ada orang yang dimakamkan.
Bunda, maaf Nana lama tidak mengunjungi bunda. Hah, mantu bunda itu banyak mau, apa lagi sekarang aku sedang hamil anak kembar. Nana, mau punya anak banyak biar mereka gak kesepian nanti. Bunda, ayah tadi membelikan Selena mobil bagus, aku sungguh iri, walaupun aku tidak bisa mengendarainya. Tapi... aku terlihat seperti anak yang memang sudah di buang oleh mereka. Hah, untung masih ada Mas Haikal dan anak-anak. Aku sekarang tidak akan mengeluh lagi, karena mereka sudah cukup untuk menjadi temanku sampai nanti. Batin Kaina.
Ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia berusaha untuk tenang dan menghentikan tangisnya. Kaina merasa jika hormon dan perasaan ketika hamil memang sangat berbeda.
Ia tersenyum ketika Haikal mengusap kepalanya. "Besok aku mau membenahi makam Bunda, Sayang. Apa aku boleh minta tolong untuk mencari orang?" tanya Kaina penuh harap.
"Tentu, Sayang. Hari ini juga akan aku carikan," ucap Haikal tersenyum dan mengecup kening Kaina.
"Jangan kecup-kecup, ada bunda di sini!" ucap Kaina merona malu.
"Haha, sesekali kita harus mesra di hadapan, Bunda. Biar beliau bisa tenang melepaskan kamu untukku," ucap Haikal tersenyum.
Mereka tersenyum dan segera berdoa untuk Kiara yang sudah tenang di alam sana.
Bunda, serahkan Kaina kepadaku. Aku janji akan membahagiakan putri kecil bunda ini dengan semua kemampuan dan semua yang aku miliki. Bunda yang tenang di sana, ku mencintainya dengan sepenuh hati dan seluruh hidupku. Batin Haikal sambil menatap nama sang mertua dengan lekat.
Setelah selesai, ia segera mengajak Kaina untuk pulang. Ia tau jika Kaina sedang ingin berdiam diri dirumah tanpa melakukan apa pun saat ini.
__ADS_1
Setelah ini pasti kamu akan begitu bersyukur karena memiliki aku, Sayang. Aku buat kamu tidur dengan rasa bahagia yang teramat nanti ketika di kamar!. Batin Haikal tersenyum mesum.