
Meidina melihat Haikal begitu mencintai istrinya. Mungkin ia sudah harus merelakan sang kakak untuk dimiliki oleh orang lain.
Ia merasa malu dan juga menyesal karena berpikir Kaina hanya wanita gatal yang ingin menguasai harta keluarganya. Apalagi dia sempat berbuat kasar kepada gadis itu bahkan sampai mengusirnya dari apartemen.
Kini ia bisa melihat sendiri jika sang kakak yang begitu bucin kepada Kaina. Menyuapi ibu hamil itu dengan telaten, bahkan tidak merasa jijik walaupun harus satu sendok dengan sang istri.
Sementara Kaina terlihat cukup senang mendapatkan perlakuan dan perhatian dari Haikal. Rona merah muda di wajahnya tidak bisa di sembunyikan lagi.
"Apa boleh aku menginap di sini?" ucap Meidina.
"Boleh, masih ada kamar satu lagi di samping ruang kerja, Mas," ucap Haikal.
"Sayang, aku mau itu!" ucap Kaina menunjuk udang goreng yang ada di atas meja.
Haikal dengan telaten membuka kulit udang dan menyuapi Kaina sambil tersenyum.
Baru kali ini aku melihat kamu memperlakukan wanita seperti ini. Aku rasa Filda pun tidak pernah mendapatkan perhatian lebih seperti ini darimu. Ah, semoga kalian memang benar saling mencintai, bukan hanya sekedar drama seperti yang ada di novel-novel. Batin Meidina.
"Apa mbak tidak takut menghadapi singa lapar seperti dia?" ucap Meidina.
"Takut? Tidak, dia sudah jinak," ucap Kaina menahan tawanya.
Haikal mendelik mendengar ucapan Kaina. Sementara yang ditatap hanya tersenyum manis, berharap Haikal tidak memarahinya.
"Jangan marah! Buktinya sekarang kamu bucin sama aku," ucap Kaina mengecup pipi Haikal.
Telinga pria tampan itu langsung memerah karena mendapatkan kecupan dari Kaina. Namun ia berusaha untuk mengendalikan diri, agar Meidina tidak menertawakannya.
Namun sayang, gadis itu sudah sangat hafal bagaimana sifat Haikal.
"Jangan sok-sokan pake marah segala, Mas. Telinga kamu merah itu, bilangin saja kalau tersipu. Lagian, suami mana yang menolak kecupan dari istri," ucap Meidina semakin membuat Haikal malu.
Wajahnya mulai merona. Kaina terdiam dan terpesona melihat Haikal yang terlihat sangat tampan dengan wajahnya.
Ia pun juga ikut merona senang, karena memang benar, ia sudah berhasil menaklukkan pria tampan itu.
"Ah, dasar pengantin baru, Masa gitu aja udah merona sih," ucap Meidina semakin menggoda.
"Ck, diam kamu dek! Sana tidur, ini sudah larut!" ucap Haikal.
"Ih, bilang saja kalau Mas gak mau rahasianya aku bongkar," ucap Meidina tertawa.
"Memang ada rahasia apa, Kak?" tanya Kaina penasaran.
__ADS_1
"Coba tatap Mas Haikal sambil tersenyum. Nanti dia akan salah tingkah sendiri!" ucap Meidina yang langsung berlari menuju kamarnya.
Kaina mendapatkan angin segar, sudah lama ia mengamati Haikal, namun tidak menemukan hal yang bisa membuat pria tampan itu salah tingkah. Ia menatap Haikal dengan senyumannya yang sangat manis.
"Jangan menatapku seperti itu! Atau kamu aku buat tidur sampai besok!" ucap Haikal dengan telinga yang masih memerah.
Ia menatap piring sambil mengacak-acak makanan karena Kaina masih menatapnya dengan wajah yang begitu mengemaskan.
"Sayang!" seru Haikal tidak tahan.
Ia memang salah tingkah dengan tatapan Kaina. Sementara Ibu hamil itu tertawa dengan begitu bahagia karena berhasil membalas Haikal yang selalu membuatnya salah tingkah.
Haikal hanya mengutuki Meidina yang sudah membongkar rahasianya. Namun melihat Kaina yang begitu bahagia, membuat ia tersenyum dengan manis sambil menatap ibu hamil itu dengan penuh cinta.
Kenapa aku baru menemukannya sekarang. Jika aku tau dari dulu, mungkin aku rela menghabiskan semua uangku untuk membahagiakan gadis ini, jadi dia tidak akan melewati semua siksaan yang sudah ia terima. Batin Haikal.
Hingga malam menjelang, mereka masih betah duduk di sana sambil berpelukan. Menonton televisi dan bercerita banyak hal.
Meidina memandang itu dengan hati lega. Sungguh ia begitu takut jika Haikal salah memilih perempuan untuk menjadi pendamping hidupnya.
Semoga kalian bahagia. Aku tidak sabar melihat ponakanku yang pasti akan sangat mengemaskan nantinya. Batin Meidina sambil tersenyum.
Ia menutup pintu dan beristirahat dengan tenang. Walaupun ia sempat berdebat dengan sang ibunda mengenai kejadian pengusiran Kaina tadi siang, namun ia merasa keputusan untuk menerima Kaina sudah sangat tepat.
"Ayo kita tidur!" ucap Haikal mengecup jemari Kaina.
"Sebentar lagi, Sayang! Aku belum mengantuk," ucap Kaina tanpa mengalihkan pandangannya.
Haikal merasa kesal karena diabaikan oleh ibu hamil itu. Walaupun Kaina tidak menolak sentuhan darinya sedikitpun.
"Ayo tidur, Sayang! Begadang tidak baik untuk kesehatan ibu hamil," ucap Haikal gemas.
Ia merasa cukup lelah hari ini, memeluk Kaina dan bergemul di dalam selimut serasa begitu indah malam ini.
"Sebentar, Sayang. Jarang-jarang aku bisa seperti ini," ucap Kaina masih fokus dengan apa yang sedang ia tonton.
Haikal yang kesal, langsung menggendong Kaina menuju kamar. Ibu hamil itu memberontak dan berusaha untuk turun dari gendongan Haikal. Namun, ia kalah kuat jika harus berhadapan dengan sang suami.
"Sayang!" rengek Kaina karena Haikal memeluknya dengan cukup erat.
"Tidur, Yang. Atau kamu mau olah raga sampai pagi?" Ucap Haikal berhasil membuat Kaina bungkam.
Ia hanya cemberut kesal sambil membayangkan film action yang tengah ia tonton tadi.
__ADS_1
"Sayang, aktor tadi tampan dan ada brewoknya. Kamu gak punya, besok panjangin ya," ucap Kaina berbinar.
"Gak mau! Kalau aku brewokan, nanti saingan kamu makin banyak!" ucap Haikal sambil memejamkan matanya.
"Tapi dia tampan dan berotot. Apalagi bulu dadanya, pasti geli-geli gitu kalau di peluk," ucap Kaina terkekeh.
Ya Tuhan, kenapa istriku mesum seperti ini. Malah mikirin cowok lain lagi!. Batin Haikal.
Ia semakin kesal dan membekap mulut sang istri menggunakan tangannya. Kaina terkekeh dan mendongak agar bisa menatap sang suami.
"Sayang, kenapa kamu gak jadi artis saja?" tanya Kaina.
"Untuk apa? Bukan artis pun aku sudah sangat terkenal," ucap Haikal.
"Benarkah? Tapi aku tidak pernah melihatmu," ucap Kaina mengernyit.
"Apa kamu nonton televisi?" ucap Haikal.
"Hmm, tidak. Aku tidak ada waktu untuk melakukannya," ucap Kaina cemberut.
"Ya sudah, kalau begitu ayo tidur Sayang!" ucap Haikal memeluk Kaina semakin erat.
"Aku mau ketemu sama mereka, Sayang!" ucap Kaina menggoyang-goyangkan tubuh Haikal.
"Kaina!" ucap Pria tampan itu kesal.
Ibu hamil itu cemberut namun matanya enggaan untuk terpejam. Ia membayangkan bagaimana Haikal memiliki jenggot dan juga bulu dada.
Ah, pasti kamu terlihat makin tampan. Kenapa sih kamu gak mau? Padahal aku pengen. Batin Kaina.
"Sayang, aku lapar!" ucap Kaina.
Haikal tidak menjawab ucapan Kaina sama sekali. Ia sudah terlelap karena memang merasa sangat mengantuk. Namun Kaina malah berulah malam ini.
Ibu hamil itu masih penasaran dengan film yang ia tonton. Dengan perlahan, ia turun dari ranjang dan kembali keluar.
Ia mengambil beberapa cemilan dan menghidupkan televisi. Tak lupa juga selimut dan bantal agar ia tidak kedinginan.
Mata bulat nanti indah itu terlihat sangat fokus ketika menonton film action yang hampir mendekati tamat.
Nak, jangan aneh-aneh ya. Bunda takut nanti ayah marah kalau kalian beneran minta ketemu sama aktornya. Tapi dia memang sangat tampan!. Batin Kaina berbinar.
Hingga malam semakin larut, Ibu hamil itu memilih untuk masuk ke dalam kamar dan mengganggu Haikal yang sudah tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"Yang, pengen!" ucap Kaina dengan wajah yang merona.