Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Membenarkan


__ADS_3

Haikal mengusap tangan Kaina dan memberikan aromaterapi agar gadis itu bisa sadar. Sungguh ia tidak tau harus berbuat apa saat ini.


Along datang dan terkejut ketika melihat Kaina yang sudah terbaring tidak sadarkan diri.


"Tuan, apa jantung Nyonya kembali lemah?" tanya Along dengan mata yang membola.


"Sepertinya, iya. Saya sudah menghubungi Rasya untuk datang ke sini," ucap Haikal masih memastikan jantung Kaina masih berdetak.


"Sebaiknya kita bawa Nyonya ke rumah sakit, Tuan. Masalah jantung kita tidak bisa main-main!" ucap Along dengan raut wajah khawatir.


"Long, saya tidak mungkin membawa dia keluar dengan keadaan seperti ini! Pasti akan menimbulkan masalah kedepannya," ucap Haikal.


"Kalau begitu, biar saya yang menggendong Nyonya, Tuan!" ucap Along.


Haikal menatap tajam asistennya. Ia merasa tidak sudi jika Kaina di sentuh oleh orang lain. Tiba-tiba saja, Rasya datang dan berteriak sembari masuk ke dalam ruangan itu.


"Haikal kau gila! Cepat bawa dia ke rumah sakit!" pekik Rasya sambil membawa tandu bersama petugas ambulan.


Dokter tampan itu memeriksa detak jantung Kaina yang terasa semakin melemah. Tanpa mengatakan apapun, ia langsung menggendong Kaina dan membaringkannya di atas tandu.


"Cepat bawa gadis ini, dengan hati-hati!" ucap Rasya begitu panik.


Haikal hanya pasrah sambil mengepalkan tangannya ketika melihat Rasya begitu khawatir dengan keadaan Kaina.


"Tuan?" panggil Along.


Haikal menoleh dan langsung mengejar mereka yang sudah menaiki lift.


Mereka langsung pergi menuju rumah sakit yang berjarak cukup dekat dan masih ada waktu untuk menyelamatkan gadis cantik ini.


Apa yang sudah dia perbuat hingga Kaina bisa seperti ini? Dasar laki-laki arogan!. Batin Rasya mengumpat.


"Percepat laju mobil!" ucap Rasya.


Ambulan melaju dengan cepat sementara Haikal mengikuti dengan mobilnya dari belakang. Beruntung, tidak terlihat karyawan yang menatap mereka dengan curiga.


Apa segitu kritisnya gadis itu, sampai Rasya khawatir secara berlebihan. Batin Haikal.

__ADS_1


Tak lama mereka segera sampai di rumah sakit. Kaina langsung di larikan ke IGD dan mendapat penanganan intensif di sana.


Haikal segera menyusul Kaina, rasa khawatir mulai menghampiri dan membuat pria tampan ini merasa bersalah karena masih membentak Kaina dan menuruti egonya.


Apa aku terlalu kejam? Tapi aku tidak tau jika dia akan datang secepat itu. Ck, apa yang dipikirkannya? Bukankah aku sering membentak ketika di rumah. Sekarang dia seperti tidak pernah melihat aku marah saja. Batin Haikal memijat pelipisnya.


Hampir tiga puluh menit ia menunggu, Rasya langsung keluar dengan perasaan lega ketika kondisi Kaina sudah lebih baik. Bahkan gadis itu juga sudah sadar dari pingsannya.


"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Haikal cemas.


"Dia sudah stabil. Apa kau sedang marah?" tanya Rasya.


"Iya, aku tidak tau jika dia datang dan mendengar bentakanku," ucap Haikal menghela nafas.


"Aku tau jika kalian hanya sebatas nikah kontrak, tapi tolong jaga kondisi tubuhnya. Jika emosi masih menguasaimu, jangan pulang. Walaupun kau membencinya hingga ke akar. Ingat, dia berjuang hidup selama ini tanpa perawatan. Tidak mudah baginya untuk hidup dengan keadaan seperti ini. Jadi, jangan kau tambah lagi," ucap Rasya.


Haikal terdiam mendengarkan ucapan sahabatnya. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Rasya.


"Jika kau belum mampu, biarkan dia sendiri. Aku merasa jika Kaina bisa menjaga dirinya. Jangan kau permainkan dia lagi, Kal. Aku yakin kau sudah mencari tau bagaimana kehidupannya sebelum kalian bersama," ucap Rasya.


"Aku tidak akan setuju jika dia hidup sendiri. Dia akan terus ada di sampingku!" ucap Haikal tegas.


Ia berjalan dan meninggalkan pria tampan itu di depan pintu ruangan.


Berulang kali Haikal menghela nafasnya dan mengendalikan diri sebelum bertemu dengan Kaina. Ia mendorong pintu dan melihat Kaina masih terlelap di atas brankar.


"Apa istri saya sudah bangun?" tanya Haikal datar.


"Sudah, Tuan. Tetapi, nyonya baru saja terlelap," ucap Suster yang membereskan peralatan tadi.


Haikal mengangguk ia memilih untuk duduk dan menatap wajah pucat sang istri.


Rasya memang benar, Kaina tidak akan kuat mendengar bentakan seperti itu. Bahkan bisa berakibat fatal jika ini kembali terjadi. Tapi aku harus apa?. Batin Haikal.


Ia masih terdiam dan berpikir dua kali untuk membawa Kaina ke rumah utama.


Mungkin ini masih bisa di undur sampai dia benar-benar siap. Ah, jika dari awal aku tau, lebih baik tawaran untuk menikahinya tidak aku terima. Batin Haikal.

__ADS_1


Ia memilih untuk keluar dan meninggalkan Kaina sendiri. Sebab, Along menelfon dan menanyakan dimana ia berada, karena ada beberapa berkas yang harus ditandatangani hari ini juga.


Along datang dan membawa beberapa bungkus makanan untuk tuan muda itu. Wajah Haikal berubah kesal ketika mengingat makanannya terbuang begitu saja.


"Apa tidak ada makanan yang masih terbungkus?" tanya Pria tampan itu.


"Maaf, Tuan. Tutup kotak itu sudah terbuka dan makanannya juga sudah berserakan," ucap Along.


Haikal semakin kesal, sebab ia sudah menahan lapar hanya demi memakan masakan Kaina yang membuatnya ketagihan.


Haikal segera menandatangani berkas itu dan kembali ke dalam ruangan Kania. Ia melihat jika gadis itu sudah membuka mata dan terkejut ketika melihatnya.


"Bagaimana keadaanmu!" tanya Haikal.


"Sa-saya baik, Tuan!" ucap Kaina lirih dan mulai merasa takut.


"Apa kau takut kepadaku?" tanya Haikal.


Kaina mengangguk pelan dan matanya mulai berkaca-kaca. "Jangan marah-marah seperti tadi lagi," ucapnya lirih dan tercekat.


"Tadi saya pikir, kamu belum sampai," ucap Haikal tidak tau harus berkata apa.


"Saya juga minta maaf, karena selalu saja menyusahkan anda. Baru seminggu, saya sudah dua kali masuk rumah sakit. Saya hanya menambah beban anda saja, harusnya anda menikah dengan perempuan yang tidak berpenyakit seperti saya," ucap Kaina tercekat dengan air mata yang menetes.


Haikal terdiam dan tiba-tiba saja merasa kesal dengan ucapan Kaina.


"Tidurlah! Sampai infus habis, kau boleh pulang!" ucap Haikal keluar dari ruangan sebelum ia kembali membentak Kaina.


Gadis cantik itu hanya terdiam dan menangis. Ia merasa tidak ada gunanya lagi untuk hidup. Menjadi beban untuk orang lain dan menghamburkan uang ketika berada di sini.


Bunda, aku rindu. Jemput aku bunda. Aku sudah lelah dengan semua ini. Batin Kaina.


Ia menangis terisak, namun tidak mengeluarkan suara. Ia mencoba menahan dan menghentikan tangisnya, namun tidak bisa. Rasa iba seolah tengah memeluk dan menyelimuti hatinya.


Ia menoleh dan melihat bungkus makanan di atas meja. Kaina teringat dengan masakannya yang terbuang dan Haikal pasti belum memakan apapun.


Hiks, lebih baik aku tidak pernah tau jika jantungku lemah. Itu tidak akan menjadi buah pikir dan mungkin aku masih bisa menahannya tanpa harus berada di sini. Batin Kaina.

__ADS_1


Ia memilih untuk memejamkan mata dan mencoba untuk tertidur. Dalam keadaan seperti itu, Kaina sangat sulit untuk terlelap, namun karena kondisi, ia langsung tertidur tanpa menunggu waktu lama. Namun sesekali ia masih terisak dan memanggil nama sang ibunda.


__ADS_2