Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Apakah Harus Bertahan?


__ADS_3

Kenapa di bisa kembali secepat ini? Bukankah dia masih memiliki kontrak sekitar tiga bulan lagi?. Batin Haikal.


Ia duduk di atas kursi sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti. Jangan sampai Kaina berpikiran macam-macam dan membuat hubungan mereka menjadi merenggang.


Ia segera menghubungi Along dan mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Mereka berdiskusi cukup lama, hingga Haikal memberikan ketegasan kepada sang asisten.


"Jangan biarkan dia mendekati Kaina. katakan kepada perempuan itu untuk tidak menggangguku dan juga Kaina, atau dia yang akan menerima akibatnya sendiri!" ucap Haikal tegas.


Wajahnya terlihat sangat kesal, karena pemberitaan kali ini yang seolah sangat berlebihan membahas tentang dirinya dan juga perempuan itu.


Ia keluar dari ruang kerja dan mencari keberadaan Kaina. Gadis cantik itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat.


"Kenapa?" tanya Haikal khawatir dan memegang kedua pipi Kaina.


"Gak tau, mungkin masuk angin atau maghku juga kambuh," ucap Kaina lemas.


Ia berbaring di atas ranjang yang berada di dalam kamar Haikal. Ia berusaha untuk tidak membuat Haikal kesal ataupun marah. Karena melihat wajah pria tampan itu yang masih belum melunak.


Ia memejamkan mata karena merasa begitu mengantuk. Haikal juga ikut berbaring dan membalur perut Kaina dengan minyak kayu putih, agar sang istri bisa lebih nyaman.


"Aku panggilkan Rasya, ya?" tanya Haikal.


Kaina menggeleng. "Aku hanya butuh istirahat, Sayang. Boleh, 'kan?" ucapnya.


"Iya, Sayang. Tentu saja boleh!" ucap Haikal ikut berbaring dan memeluk Kaina.


"Aku merasa mual, bolehkah kita tidak melakukannya dulu? Aku sungguh lelah," ucap Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Haikal sambil menggesekkan hidung.


Tanpa berkata apapun, Haikal langsung menghubungi Rasya dan memintanya untuk pergi ke apartemen.


"Tidak usah, Sayang. Mungkin karena makan terlambat, atau masuk angin," ucap Kaina memejamkan mata sambil memasukkan tangannya ke dalam baju Haikal.


Pria tampan itu tidak menghiraukan ucapan Kaina. Ia hanya berharap di dalam hati, agar ini suatu pertanda jika cebong premiumnya sudah mulai bersemayam di dalam rahim Kaina. Dengan ini, ia bisa mengikat gadis itu lebih kuat lagi.


Melihat respon Kaina yang tengah memeluknya dengan begitu manja, ia merasa gemas dan mengusap punggung Kaina dengan lembut.


"Apa kamu hamil?" tanya Haikal.


Kaina tersentak, matanya yang tadi terpejam, kini terbuka dan membulat dengan sempurna.


"Tidak, aku belum terlambat datang bulan. Ini hanya masuk angin saja," ucap Kaina mulai merasa cemas.


"Nanti kita tanyakan kepada Rasya. Kamu jangan bertingkah genit kepada dia!" ucap Haikal tegas.

__ADS_1


"Genit? Aku tidak pernah bertingkah genit kepada orang lain," ucap Kaina lirih dan kembali memeluk Haikal.


"Pokoknya jangan genit!" ucap Haikal.


"Iya." Kaina kembali memejamkan matanya.


Entah kenapa, ia merasa ingin bermanja walaupun hatinya terasa sakit. Ia tidak ingin berpikiran macam-macam dan membuatnya semakin lelah dan jatuh sakit.


"Sayang, boleh aku bertanya?" ucap Kaina.


"Tanya saja, asal tidak memancing amarahku!" ucap Haikal.


"Apa kamu dan dia masih ada hubungan?" tanya Kaina lirih.


"Tidak!" ucap Haikal singkat.


Ia memejamkan mata seolah enggan untuk menanggapi pembicaraan Kaina.


"Apa kalian akan kembali bersama, atau tetap berpisah?" tanya Kaina mulai merasa takut.


Namun ini harus ditanyakan agar ia bisa menempatkan dirinya berada pada posisi yang mana.


Bertahan atau melepaskan hubungan ini, walaupun Haikal memintanya untuk tetap tinggal.


"Apa kita akan berpisah setelah kalian berbaikan dan kembali bersama? Walaupun hanya istri kontrak, tapi aku tidak ingin menjadi penghalang diantara kalian. Akan terasa sangat sakit, jika dia tau kalau kita sudah menikah," ucap Kaina lirih.


Haikal merasa tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh sang istri. Ia memilih bungkam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Setelah besar, aku mulai paham kenapa ayah dan bunda dulu sering bertengkar. Bunda tau, jika ayah sudah menikah lagi, makanya bunda sering sakit dan meninggal. Bahkan di hari itu juga, ayah membawa istri barunya untuk tinggal di rumah. Aku hanya tidak ingin kejadian itu terulang kembali," ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.


Haikal tersentak, ia tidak menyangka jika Kaina akan berbicara seperti itu.


"Tidurlah! Aku tidak akan berbuat seperti itu!" ucap Haikal mengusap kepala Kaina dengan lembut.


"Aku bingung. Hubungan ini sangat rentan, bahkan tidak ada orang yang tau jika kita sudah menikah. Aku tidak tau, apakah harus bertahan atau pergi," ucap Kaina lirih dan menutup matanya.


"Ck, kau banyak sekali berbicara hari ini! Telingaku terasa sakit mendengarnya!" ucap Haikal kesal.


Namun tidak ada jawaban lagi dari Kaina, gadis itu sudah terlelap di dalam pelukannya.


"Kamu jangan bingung tentang apa yang harus kamu lakukan, Sayang. Kamu istriku, sampai kapanpun akan seperti itu! Jangan pernah berpikir untuk pergi dan mengalah!" ucap Haikal mengecup kening Kaina.


Ia hanya menghela nafas, walaupun ia sudah siap untuk menghadapi media dan juga 'Dia'. Namun Kaina belum tentu bisa dan sanggup untuk menjalani itu semua.

__ADS_1


Hingga Rasya datang, ia melepaskan pelukan Kaina dan membukakan pintu untuk sahabatnya itu.


"Kenapa lagi, Kaina?" Tanya Rasya menatap Haikal dengan tidak ramah.


"Dia baik-baik saja, hanya merasa mual dan pusing!" ucap Haikal mengedikkan bahunya.


Rasya terkejut dengan mata yang membola. Ia tidak menyangka, jika hubungan mereka akan sampai sejauh itu.


"Kau yakin membiarkan dia hamil?" tanya Rasya.


"Tentu! Dia istriku, mau tidak mau aku sudah membuat adonan setiap hari!" ucap Haikal membuka pintu kamarnya.


Rasya hanya teridam dan ikut masuk ke dalam kamar. Ia melihat Kaina tertidur dengan begitu lelap, meringkuk seperti anak kecil dan terlihat mengemaskan.


"Tolong periksa istriku, jangan macam-macam!" ucap Haikal tegas.


Rasya hanya mendelik dan mendekat ke arah Kaina. Wajah gadis itu terlihat pucat dan juga cantik. Ia memeriksa denyut nadi Kaina dan suhu tubuh gadis itu.


Ia menghela nafas ketika hasil diagnosanya, menyatakan Kaina baik-baik saja.


"Dia kelelahan. Biarkan dia istirahat dan penuhi gizinya. Aku tidak melihat tanda-tanda kehamilan, mungkin belum terlihat sebab kalian baru satu bulan menikah dan dia belum datang bulan. Biar lebih pasti, ajak Kaina ke dokter kandungan," ucap Rasya.


Ada raut wajah kecewa yang tergambar dengan jelas. Haikal memang benar-benar ingin memiliki anak dari Kaina. Namun sepertinya belum mendapatkan izin untuk memilikinya.


"Jangan bersedih. Ingat dia masih kecil, tanyakan dulu kesiapannya untuk hamil dan menjadi ibu. Sebab, tidak semua perempuan bisa siap untuk itu. Jangan sampai Kaina terkena baby blues setelah melahirkan!" ucap Rasya.


"Tapi tidak ada cara lain untuk mengikatnya selain itu, Sya!" ucap Haikal lirih sembari menatap Kaina.


"Pasti ada cara lain! Akui jika kau sudah mencintainya, Kal. Jadilah rumah untuknya, maka dia tidak akan pernah pergi dan mencari rumah baru lagi," ucap Rasya.


"Tidak, sebelum aku yakin jika dia sudah mencintaiku!" ucap Haikal.


"Kau tidak paham bagaimana keadaan Kaina. Dengan perhatian dan rasa nyaman, kau dengan mudah mendapatkan hatinya. Apalagi itu yang dia butuhkan selama ini," ucap Rasya merasa kesal dengan sahabatnya ini.


"Aku belum bisa menyatakannya!" ucap Haikal menggeleng pelan.


"Ck, kau lamban! Dia sudah kembali, kau lebih paham bagaimana sifatnya. Jangan sampai, Kaina kecewa dan memilih pergi, karena aku rasa dia paham bagaimana posisinya saat ini!" ucap Rasya tegas.


Haikal terdiam tanpa bisa menjawab, ia membenarkan perkataan Rasya.


"Aku masih menerima Kaina dengan status janda," ucap Rasya sebelum keluar dari kamar.


Haikal membulatkan mata dan menatap tajam kearah sahabatnya yang sudah hilang di balik pintu.

__ADS_1


Kaina hanya milikku! Tidak akan aku biarkan kau merebutnya!. Batin Haikal menyusul Rasya keluar.


__ADS_2