
Di dalam ruangan direktur, Kaina duduk tersenyum sambil memakan cemilan yang ada di sana. Sungguh ia sudah sangat lapar karena sedari pagi, tidak ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
Haikal hanya bisa tersenyum manis sembari menyuapi sang istri dengan telaten.
"Om sudah membentuk tim keamanan untuk kamu, Nak. Ada yang terlihat dan tidak, jadi kamu bisa menjalankan aktivitas seperti biasa, walaupun kamu sudah menjadi pewaris tunggal perusahaan," ucap Alan tersenyum.
"Terima kasih banyak, Om. Apa setelah ini aku harus bekerja?" tanya Kaina.
"Tidak, Nak! Kamu hanya perlu menghadiri beberapa pertemuan penting nantinya. Untuk urusan perusahaan, Om sudah mengutus orang-orang terpercaya, jadi kamu bisa tenang tapi kamu juga harus belajar bagaimana cara mengelola perusahaan dengan baik," ucap Alan.
Kaina mengangguk dan tersenyum. Ia sudah sangat bersemangat untuk mempelajari bagaimana cara mengelola perusahaan dengan baik.
"Tuan Haikal, tolong bimbingannya!" ucap Alan menatan Haikal dengan tegas.
"Anda jangan risau, Tuan! Kaina sudah menjadi tanggung jawab saya sekarang. Tentu saja kita akan sama-sama membimbing Kaina nantinya." Haikal menatap Alan tak kalah tegas.
Siang itu mereka berdiskusi, membicarakan tentang pernikahan yang sudah di rancang, dan hanya terhitung beberapa hari lagi.
Disela pembicaraan, ponsel Haikal berbunyi. Ia mendapatkan informasi jika sang ibunda sudah bergerak untuk kembali ke Indonesia dengan membawa seorang gadis cantik bersamanya. Kemungkinan besar, mereka akan tiba besok dan mungkin Muzi akan mendesak Haikal untuk segera menikahi menantu idamannya.
Tepat saat ia melihat berita itu, sang ibunda mengirimkan dia begitu banyak pesan untuk bertemu esok hari di gedung yang sudah ia tunjuk untuk menggelar pesta pernikahan.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa kepada Mommy. Aku pasti akan merasa bersalah jika mommy tiba-tiba saja sakit melihat apa yang akan terjadi nanti. Batin Haikal.
Kaina menatap raut wajah sang suami yang terlihat berbeda, ia langsung mengusap lengan Haikal dengan lembut.
"Apa ada masalah, Mas?" tanya Kaina mengernyit.
"Tidak sayang, tidak ada masalah apa pun!" ucap Haikal tersenyum dan menyimpan ponselnya.
Kaina menatap itu dengan penuh tanya. Apa sebenarnya yang kamu lakukan, Sayang? kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres denganmu!. Batin Kaina.
Hingga sore menjelang, mereka memilih untuk segera pulang, namun Kaina mencegat Haikal dan meminta semua orang untuk keluar terlebih dahulu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Haikal mengernyit.
"Harusnya aku yang bertanya, Mas. Kamu kenapa tadi? Aku ada firasat yang tidak enak!" ucap Kaina mengernyit.
"Firasat tidak enak? Sayang, aku tidak menyembunyikan apa pun. Tadi itu hanya pesan dari Along," ucap Haikal tersenyum manis dan memeluk Kaina.
Ia berusaha menyembunyikan wajah terkejutnya. Ternyata betul kata orang, firasat istri dan ibu hamil itu lebih peka dari biasanya. Batin Haikal.
__ADS_1
"Jangan sembunyikan apa pun, Mas! Aku tidak ingin kamu memberikan aku kejutan di akhir cerita!" ucap Kaina membalas pelukan Haikal.
"Jangan khawatir, Sayang! Aku tidak menyembunyikan apa pun dari kamu," lirih Haikal di telinga Kaina.
Ibu hamil itu menatap lekat sang suami. Ia masih merasa ada sesuatu yang janggal dari Haikal.
"Ayo kita pulang! Aku harus mengurus pesta pernikahan kita, Sayang!" ajak Haikal menggandeng tangan Kaina.
Ibu hamil itu hanya menurut apa yang dilakukan oleh Haikal. Walaupun masih ada seribu satu tanda tanya yang ingin ia jawab.
Apa ini tentang pernikahan? Pasti ada sesuatu yang tidak kamu beri tahu kepadaku, Mas!. Batin Kaina
Mereka segera pulang seperti tadi pagi, berbeda mobil agar tidak terlalu mencolok. Walaupun semua orang masih sangat penasaran dengan hubungan mereka.
Sementara di rumah Selena, ia baru saja mendapatkan orang yang bisa dan mampu untuk mencelakai Kaina. Namun perhatiannya teralihkan karena ketukan pintu dari luar.
Dengan malas, ia segera berdiri dan membuka pintu itu.
"Ada ap...," ucapnya terkejut ketika melihat seseorang yang berdiri di balik pintu.
"Selamat siang, Nona!" ucap Along dengan wajah datarnya.
"Se-selamat siang! Ada perlu apa anda ke sini? Ayah saya tidak ada!" sentak Selena mulai merasa takut.
Deg!
"A-ada apa anda mencari saya?" tanya Selena takut.
"Siapa yang baru saja anda hubungi? Berarti peringatan saya tempo hari itu tidak anda indah kan sedikit pun?" tanya Along dengan suara beratnya.
"Aku tidak menelpon siapapun!" tukas Selena mulai menutup pintu.
Namun Along lebih dulu menahannya dan mendorong pintu agar terbuka lebar. Hal itu membuat Selena hampir saja terjatuh, tapi ia bisa menahan diri sehingga badannya tidak membentur lantai.
"A-apa yang kau lakukan?" pekik Selena membuat Sisca dan Bobi keluar dari kamar mereka.
"Apa yang kau lakukan?" sentak Bobi langsung menghadang Along.
Sekretaris tampan itu hanya memasang wajah datar. Ia merasa ini hanya membuang-buang waktunya saja.
"Ini peringatan terakhir dari saya, jika kalian masih berusaha untuk mengganggu Nyonya Kaina, jangan salahkan saya jika terjadi hal yang lebih berat dari ini!" ucap Along tegas.
__ADS_1
"Apa maksud anda?" tanya Sisca mengernyit.
Along merasa sangat bosan dengan pertanyaan mereka. Ia melemparkan sebuah ponsel dan langsung di ambil oleh bobi. Di sana ada beberapa bukti tindak kejahatan yang dilakukan oleh Selena.
Bobi semakin terkejut ketika melihat Selena yang berada di sebuah diskotik dengan beberapa orang pria di sampingnya.
"Kak!" seru Bobi dengan wajah yang memerah.
Sisca pun juga ikut terkejut melihat apa yang baru saja ia lihat.
"Saya sudah bosan menghadapi kalian. Saya sudah sering kali mengancam kalian, rasanya sudah tidak terhitung lagi kita membahas tentang ini. Saya harap kalian betul-betul meminta maaf dan menjauhi Kaina setelah ini! Jika tidak, mungkin itu akan tersebar dan akan menjadi pembahasan terhangat melebihi berita nyonya Kaina saat ini!" ucap Along tegas.
Tanpa mendengar jawaban apa pun, Along pergi dari sana. Kini hanya tersisa Selena Bobi dan juga Sisca.
Plak!!
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Selena dan membuat mereka terkejut.
"Ibu tidak pernah mengajarkan kau menjadi perempuan nakal seperti itu, Selena!" teriak Sisca dengan wajah yang penuh dengan amarah.
"Bu, ini tidak seperti yang ibu pikirkan! Aku berani bersumpah!" ucap Selena menangis sembari menggelengkan kepalanya.
"Semuanya sudah jelas, Selena!" teriak Sisca. "Pergi kau dari rumah ini! Saya tidak mau memiliki anak jalaang seperti kamu!" pekiknya.
Bobi masih terdiam. Ia masih mencerna apa yang baru saja di lakukan oleh sang ibu. Baru kali ini ia melihat Sisca memarahi Selena hingga mengusir sang kakak dari rumah.
"Tidak, Bu! Aku tinggal di mana nanti?" ucap Selena meraung sambil memegangi kaki Sisca.
"Pergi kau anak tidak tau di untung! Pergi!" pekik Sisca berusaha melepaskan kakinya dari sang putri.
Selena masih menggeleng, namun Sisca berhasil melepaskan kakinya.
"Antar dia keluar! Jangan sampai Ibu yang mengusirnya!" ucap Sisca berlalu dengan air mata yng mengalir.
Ia berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Selena yang masih memanggil dirinya.
Bobi masih terdiam di tempat, tanpa mengeluarkan selatan kata pun. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi sekarang.
"Aku tidak akan memberitahu ini kepada ayah. Aku harap kakak sadar setelah ini. Tunggu Ibu reda, nanti minta maaflah kepadanya!" ucap Bobi berlalu dari sana.
Kini Selena hanya bisa menangis sesegukan. Seorang pelayan keluar dengan membawa sebuah tas dan menyuruh Selena keluar ataus perintah sang ibu.
__ADS_1
"Ibu jahat!" teriaknya sebelum berlalu pergi dari rumah itu.