Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Aku Kalah!


__ADS_3

Empat hari sudah mereka menghabiskan waktu bersenang-senang. Saloing mengenal dan pastinya, adegan ninu ninu selalu terjadi dalam setiap gerik mereka.


Haikal tanpa sadar mulai menunjukkan jika Kaina sudah menjadi candu baginya. Bahkan setiap saat ia selalu menempel kepada gadis itu.


Hari ini, mereka akan kembali pulang ke kediaman utama keluarga Kusumanegara. Haikal akan tinggal di sana bersama dengan Kaina setelah perbincangan dan perjanjian yang begitu panjang dengan keluarganya.


Mau tidak mau, terima atau tidak, Kaina akan tinggal di sana. Karena sebagai kepala rumah tangga, ia berhak mengatur apa yang terjadi di dalam rumah itu.


Mereka segera meninggalkan Villa itu dan kembali pulang. Kaina terlihat kelelahan dan juga pucat, sebab ia tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk beristirahat.


"Kapan mulai kuliah?" tanya Haikal.


"Hmm, minggu kemarin seharusnya sudah mulai kuliah. Tapi karna saya keseringan sakit, mau gimana lagi," ucap Kaina lirih sambil memejamkan matanya.


"Besok sudah masuk kuliah?" tanya Haikal.


"Iya, Sayang," ucap Kaina.


"Lalu kalau nanti saya mau makan siang bagaimana?" tanya Haikal.


"Hmm? Nanti kalau sempat saya masak, 'kan. Apartemen masih cukup dekat dengan kampus dan kantor," ucap Kaina semakin lirih.


"Bagaimana dengan nilai semester kemarin?" tanya Haikal.


"Saya belum sempat melihatnya, Sayang. Boleh saya tidur sebentar?" tanya Kaina yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.


"Ck, nanti kalau aku juga ikut tertidur bagaimana?" tanya Haikal.


"Sayang! Sebentar saja, setengah jam ya!" ucap Kaina memelas.


Haikal tidak menjawab, bibirnya mengerucut melihat Kaina yang memang sudah benar-benar terlelap.


Namun, ketika mengingat bagaimana kebersamaan mereka, ia tersenyum malu.


Ah, aku tidak bisa menahan diri untuk selalu menyentuhnya!. Ck, pelet apa yang kau gunakan, Kaina? Bahkan sekarang aku hanya memikirkan kamu setiap saat. Batinnya.


Ia mengusap kepala Kaina dan menggenggam tangannya, bahkan sesekali ia mengecup jari-jari kecil dan imut itu.


Ia masih teringat, bagaimana Kaina menangis dan merasa takut ketika ia meminta untuk bermain dengan adik kecilnya.


Hahaha, aku merasa tidak pernah puas untuk mengerjai gadis ini. Apalagi sekarang dia sudah merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia dalam pernikahan. Ah, sepertinya aku kalah jika berhadapan dengan gadis ini. Batin Haikal.


Mobil terus melaju, hingga berhenti di sebuah hotel bintang 5 untuk makan siang. Haikal menatap wajah cantik Kaina yang begitu teduh dan bisa membuatnya tidak mampu untuk berpaling.


"Sayang, ayo bangun!" ucap Haikal lembut.


Ia mengusap pipi Kaina hingga gadis itu menggerjab. "Ayo bangun, kita makan siang dulu di sini!" ucap Haikal.

__ADS_1


Kaina mengangguk dan sedikit memperbaiki penampilannya. Haikal memakai masker dan juga topi agar tidak dikenali oleh orang-orang.


Ia berjalan menggandeng Kaina dan memesan privat room agar aktivitas mereka lebih nyaman tanpa gangguan.


"Masih mengantuk?" Tanya Haikal ketika melihat Kaina masih memejamkan matanya.


"Hmm," Kaina mengangguk.


Haikal tersenyum penuh maksud. Ia mengelus kepala Kaina dan mendekat kepada gadis itu.


Kaina tersentak kaget ketika Haikal tiba-tiba saja mengecup bibirnya dengan sedikit menuntut.


"Hhmph!" Kaina menepuk bahu Haikal agar bisa melepaskan pagutannya.


Pria tampan itu tersenyum sambil mengusap bibir Kaina yang basah karena ulahnya. "Apa masih mengantuk?" tanya Haikal.


Kaina menggeleng kuat. Ia cemberut dengan wajah bantalnya.


Tak lama pesanan mereka datang. Kaina dengan telaten menyuapi pria tampan itu hingga semua hidangan tandas. Entah mengapa, ia tidak menolak sedikitpun perintah dari tuan muda ini. Bahkan ia dengan senang hati melakukan semua itu.


"Biasanya ke kampus pakai apa?" tanya Haikal.


"Hmm, kadang jalan kaki, kadang juga naik angkutan umum," ucap Kaina sambil membersihkan mulut Haikal menggunakan tisu.


"Besok biar di antar sama supir. Aku sudah menyiapkan mobil agar kau bisa pergi kemana-mana dengan mudah!" ucap Haikal.


Haikal menatap datar kepada Kaina sehingga membuat gadis itu bergidik melihat sang suami. Ia tau jika Haikal akan kesal jika kebaikannya di tolak.


Namun harus bagaimana lagi, ia tidak mungkin membuat gosip dan malah semakin membuat semua orang membencinya.


Sambil tersenyum, ia mengelus pipi Haikal dan mengecupnya sekilas. "Jangan marah, Sayang. Pasti nanti akan terjadi sesuatu yang akan membahayakan saya," ucap Kaina.


Haikal hanya menghela nafas. "Pokoknya kau bisa menghubungi supir itu setiap saat kau butuh!" ucapnya.


Kaina mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih," ucapnya.


Hubungan mereka sudah jauh lebih dekat dari sebelumnya. Sebab, rasa cinta yang mulai tumbuh membuat keduanya merasa senang dengan perlakuan masing-masing.


Mereka segera meninggalkan restoran dan kembali pulang. Haikal sudah mulai paham dengan karakter Kaina. Gadis ini akan terus berbicara ketika membahas apa yang ia sukai.


Sebab, selama ini tidak ada orang yang benar-benar peduli dengannya. Kini ada Haikal yang terlihat cukup antusias dengan apa yang ia katakan.


Seberapa kesepiannya gadis ini. Pasti, dia tidak memiliki tempat untuk bercerita selain di depan makam bunda mertua. Batin Haikal.


Ia menjadi pendengar setia, hingga Kaina lelah berbicara dengan wajah yang merona.


"Hmm, apa anda tidak ada yang ingin diceritakan?" tanya Kaina tersenyum.

__ADS_1


"Ah, tidak. Hidupku tidak ada yang menarik untuk diceritakan," ucap Haikal. "Bisakah kau berhenti untuk berbicara formal denganku?" sambungnya.


"Hmm, apa itu sopan?" tanya Kaina.


"Tentu saja!" ucap Haikal.


"Baiklah, Sayang!" uap Kaina tersenyum manis.


Haikal terlena melihat lengkungan bibir yang begitu indah, bahkan ia tanpa sadar hampir saja hilang kendali. Untung Kaina langsung menyadarkannya, sehingga kecelakaan bisa dihindari.


Dua jam perjalanan mereka tempuh sambil bercerita banyak hal. Seolah mencoba untuk menerima hubungan ini dan menerima satu sama lainnya.


Hingga mobil memasuki perkarangan rumah mewah keluarga Kusumanegara. Jantung Kaina berdetak kencang ketika mengingat kembali apa yang terjadi di dalam apartemen tempo hari.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa tuan muda ini yakin mau mengajakku untuk tinggal di sini?. Batin Kaina.


"Ayo turun!" ucap Haikal.


Ia membukakan pintu untuk Kaina karena masih melihat sang istri masih bermenung.


Kaina mengangguk dan menerima uluran tangan Haikal. Mereka berjalan bergandengan menuju pintu utama.


"Jangan takut! Aku ada di sini!" ucap Haikal.


Pintu terbuka, beberapa orang pelayan menyambut kedatangan mereka. Terlihat Muzi, Meidina dan juga Along, ikut berdiri di depan pintu.


"Selamat datang kembali, Nyonya Kaina dan Tuan Muda Haikal," ucap Along.


Wajah tidak ramah ditampilkan oleh Muzi dan Juga Meidina. Mereka hanya menatap Kaina dengan datar dan malas ketika melihat gadis itu.


Kaina dan Haikal hanya tersenyum. Gadis cantik itu menggenggam tangan sang suami dengan erat.


Haikal membawa Kaina menuju sofa tamu yang ada di sana. Ia masih terdiam sambil menatap adik dan ibunya.


"Mom, ini istriku. Kita sudah bicarakan ini sebelumnya. Mau tidak mau, suka atau tidak, Mommy dan Dina harus menerima kehadiran Kaina di rumah ini!" ucap Haikal santai namun terselip ancaman yang tersirat dalam setiap katanya.


Muzi menatap Kaina dengan tajam. Ia sangat tidak suka dengan kehadiran gadis ini, karena ia sudah memiliki calon menantu pilihan yang lebih sempurna.


"Kamu tau kan, syarat yang Mommy berikan?" tanya Muzi menatap Haikal.


"Aku menolak! Jika Mommy memang ingin memiliki menantu idaman, nikahkan saja Dina dengan dia!" ucap Haikal tegas.


Muzi hanya menghela nafas. "Tak apa, kalau kamu menolak sekarang. Yang penting dia tidak pernah bisa Mommy terima dalam keluarga ini!" ucap Muzi berdiri dan meninggalkan mereka, di ikuti oleh Meidina.


Kaina hanya menunduk tanpa berani menatap siapapun. Ia sudah terbiasa di tolak seperti ini oleh orang lain. Namun ada perasaan sedih yang menghampirinya, mengingat ucapan Muzi yang akan mencarikan Haikal istri idamannya.


Tak apa Kaina. Bertahan atau tidak, jalani tugasmu hingga perusahaan ayah stabil dan mengikuti segala perintah tuan muda ini. Batin Kaina menyemangati dirinya.

__ADS_1


__ADS_2