Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Berkunjung


__ADS_3

Di dalam kamar Leo, ia menatap tajam sang istri dengan wajah yang dipenuhi amarah. Ia merasa ingin memukuli wanita yang sudah menemaninya selama 18 tahun itu.


"Sekarang jelaskan, sebelum aku mengambil keputusan!" ucap Leo tegas.


"Mas, aku minta maaf. Aku terpaksa melakukan itu semua, karena aku sudah tidak tau harus meminjam ke mana lagi. Aku tidak mungkin terus membebanimu karena perusahaan sedang pailit," ucap Sisca sambil menangis.


"Kau bisa mengatakannya kepadaku, Sisca! Kenapa kau harus mengancam Kaina seperti itu?" bentak Leo marah.


"Ma-maaf, Mas. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku," ucap Sisca berlutut.


"Sudahlah, Sisca. Semuanya sudah aku lakukan untukmu, bahkan aku tega menghianati Kiara hanya untuk bersama denganmu. Kini, kau malah berniat untuk membunuhku, apa sebenarnya yang kau inginkan?" teriak Leo yang sangat sulit untuk mengendalikan dirinya.


"Mas, aku tau kalau aku salah. Aku tidak bersungguh-sungguh, Mas. Maafkan aku!" ucap Sisca tidak tau harus berbuat apa.


Ia hanya bisa menangis sesegukan karena bayangan hidup susah terpampang jelas di dalam pikirannya.


"Lepaskan!" bentak Leo mendorong Sisca agar bisa melepaskan kakinya.


"Mas?" panggil wanita itu kembali menjangkau Kaki Leo.


"Kau renungkan kesalahan yang sudah kau buat selama ini. Setelah itu, minta maaf kepada Kaina! Jika tidak, lihat saja apa yang bisa aku lakukan!" ucap Leo tegas dan keluar dari dalam kamar.


Ia mengurung Sisca agar bisa berpikir lebih jernih, tentang apa yang susah dilakukannya.


Sisca merasa bergitu terhina oleh sikap Leo. Ia berusaha menahan tangis dan menatap sang suami penuh kebencian.


Lihat saja kau pembawa sial! Apa yang menjadi ancamanku tempo hari, akan aku lakukan dalam waktu dekat. Lihat saja!. Batinnya penuh dendam.


Sementara di luar, ia melihat mobil Haikal yang membawa Kaina baru saja keluar dari halaman rumah mewahnya. Ia merasa begitu bersalah kepada putri sulungnya itu.


Sungguh banyak waktu yang sudah sia-sia karena mempercayai Sisca untuk mengurus anak-anak. Bukannya menyayangi, justru Sisca menganiaya Kaina dan membiarkan gadis itu menahan semua rasa sakit dan juga kepedihan sendiri.

__ADS_1


Bahkan ia juga menambah beban gadis itu dengan menukar masa depannya dengan perusahaan. Sungguh, kini ia merasa menjadi ayah yang paling buruk di dunia.


Leo menelfon temannya untuk menawarkan mobil keluaran terbaru ini dengan harga yang sedikit lebih murah. Tidak ada pilihan lain, dari pada ia harus mendapat amukan Haikal dan berujung pada penarikan saham diperusahaannya.


Maafkan ayah, Nak. Sungguh ayah sudah menutup mata selama ini. Bagaimana caranya agar ayah bisa menebus semua kesalahan yang sudah ayah perbuat?. Batin Leo menatap halamannya dari balik jendela.


Dalam Waktu singkat ia mendapatkan orang yang mau membeli mobil itu dan langsung dibawa pergi dari rumahnya.


"Ayah, kenapa mobilku dibawa lagi? Ayah jadi menjualnya?" pekik Selena terkejut.


"Iya," ucap Leo datar.


"Ayah, aku tidak mau! Kenapa ayah malah mengikuti perkataan mereka? Ayah, itu mobilku! Aku tidak mau jika harus dijual kembali!" ucap Selena marah dan pergi dari hadapan sang ayah.


Ia membentak dan menghalangi para pekerja untuk mengangkut mobil itu kembali.


Leo hanya terdiam sambil menghela nafasnya yang terasa begitu berat. Rasa bersalah kepada Kaina terasa begitu membuncah. Ia ingin menemui putri sulungnya dan meminta maaf atas apa yang sudah ia perbuat selama ini.


"Aku benci ayah!" teriaknya dengan lantang.


Hancur sudah acara party yang sudah dirancang dengan baik. Selena merasa begitu malu kepda keluarga dan juga teman-temannya, karena ia terlanjur menyebarkan informasi tentang mobil baru itu.


Leo tidak menanggapinya. Ia hanya terdiam sambil menjalankan mobil menuju suatu tempat yang sudah sangat lama sekali tidak ia kunjungi.


Semoga aku masih ingat di mana alamatnya. Batin Leo.


Ia berhenti disebuah toko bunga, dan membelinya khusus untuk seseorang yang sudah lama tidak ia temui.


Leo berjalan dengan pasti menuju alamat yang masih tersimpan di dalam benaknya.


"Hah, ternyata aku masih ingat," ucapnya tersenyum kecut.

__ADS_1


Ia meletakkan seikat bunga itu dengan dada yang mulai terasa sesak. "Apa kabar, Nda?" ucapnya tersenyum kecut.


Ia melihat tempat itu cukup bersih dan rapi, tidak seperti tetangga yang lain.


"Maaf, aku lama tidak mengunjungimu. Sepertinya, Kaina begitu rajin datang ke sini," sambungnya sambil tersenyum.


Ia kini berada di makam Kiara, sudah bertahun rasanya ia tidak datang ke sini.


"Kamu pasti sedang mengutukku saat ini. Kaina, pasti menceritakan semua apa yang sudah dia alami. Maafkan aku yang tidak becus menjaga putri kita. Aku terlalu fokus mengembangkan perusahaan, hingga mengabaikannya," ucap Leo dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia mengusap kayu yang bertuliskan nama Kiara di sana. Terlihat baru dan masih bagus, walaupun sudah 13 tahun lamanya.


"Kaina begitu menyanyangimu. Dia pasti membenciku karena sudah mengabaikannya. Entah bagaimana caraku menebus semua kesalahan yang sudah aku perbuat," ucap Leo mengusap matanya yang berair.


Tanpa ia sadari, jika Haikal masih berdiri tak jauh dari sana, sambil berbicara dengan penjaga makam karena ingin meminta izin untuk memperbaiki makam di sana. Sementara Kaina sudah berada di dalam mobil karena merasa sangat mengantuk.


Ia mengernyit bingung, kenapa Leo berada di sana. Sementara masalah di rumah sepertinya masih belum terselesaikan. Haikal memilih untuk segera pergi dari sana, sebelum Kaina menyadari kehadiran pria paruh baya itu.


Leo masih berjongkok di depan makam sambil terdiam. Ia berusaha untuk berfikir positif tentang hubungannya dengan Sisca. Setelah semua apa yang sudah dilakukan oleh sang istri, ia berpikir dua kali untuk melanjutkan pernikahan mereka.


"Bisakah kamu datang ke dalam mimpiku? Sungguh, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Kaina. Bantu ayah, Nda!" ucap Leo tersenyum.


Ia merasa begitu betah berada di sana, karena terasa cukup teduh dan juga sejuk. Walaupun matahari mulai berada di atas kepalanya.


Hingga berapa lama ia hanya terdiam sambil mencabut rumput-rumput kecil yang terlihat tumbuh. Ia mulai mendapatkan pencerahan dan memutuskan untuk pergi dari sana.


"Sampai bertemu lagi, Nda. Jaga Kaina dari jauh ya. Aku akan berusaha untuk memperbaiki hubungan kami. Yang tenang ya di sana, aku pergi dulu," ucap Leo tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan makam istri pertamanya.


Ia berpapasan dengan beberapa orang yang berjalan menuju makan Kiara. Leo menatap itu dengan lekat, pasti Kaina yang meminta mereka untuk menata makam itu dengan baik.


Ia kembali berjalan dan pergi dari sana. Ia ingin menyiapkan sesuatu yang sekiranya bisa menebus semua kesalahannya kepada Kaina. Setidaknya nanti Kaina memiliki sesuatu yang bisa menjamin hidup sang putri, jika terjadi sesuatu dikemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2