
Hingga malam menjelang, Kaina merasakan sebuah usapan membelai kepalanya. Ia mengerjab, namun usapan itu langsung berubah menjadi pukulan pelan yang membuatnya semakin terjaga.
"Hei, bangun!" ucap Haikal mengernyit.
"Tu-tuan. Anda sudah pulang?" tanya Kaina sambil mengusap mata.
"Sudah! Bangunlah, ada yang ingin saya bicarakan!" ucap Haikal.
"Saya cuci muka dulu, tuan," ucap Kaina segera beranjak pergi ke kamar mandi.
Dengan kepala yang masih pusing, Kaina terhuyung dan Haikal langsung menyambut gadis itu agar tidak membentur sesuatu.
Kaina terkejut dengan jantung yang mulai berdetak lebih cepat ketika Haikal memeluk perutnya.
Bagitu juga dengan pria tampan itu, ia terdiam dengan posisi yang cukup intim. Ia segera membantu Kaina berdiri karena posisi yang rawan terjadi sesuatu yang sudah boleh dilakukan untuk pasangan suami istri.
"Ma-maaf, Tuan," ucap Kaina menunduk dengan wajah yang merona.
Haikal terdiam. "Angkat kepalamu ketika berbicara denganku!" ucapnya ketus.
Kaina merasa enggan untuk memperlihatkan wajah meronanya. Namun harus tetap dilakukan agar tuan muda ini tidak marah.
Haikal terdiam ketika melihat wajah Kaina yang tengah merona. Itu terlihat sangat cantik berkali-kali lipat.
"Cepatlah! Saya tunggu diluar!" ucap Haikal salah tingkah.
Kaina hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Haikal berjalan sambil menggerutuki dirinya. Bisa-bisanya gadis itu terlihat cantik malam ini. Apa lagi wajahnya yang merona itu. Aih, jika seperti ini terus aku tidak akan bisa untuk menahan diri lagi!. Batinnya.
Ia berjalan ke dapur dan mengambil beberapa minuman kaleng dan juga cemilan yang dibeli oleh Kaina tadi.
Sambil menunggu gadis itu ia menghubungi Along untuk memesankan makan malam untuk Kaina, sebab ia yakin jika gadis kecil itu belum mengisi perutnya.
"Tuan?" panggil Kaina dengan suara lembutnya.
"Duduklah!" ucap Haikal meminta Kaina untuk duduk di sampingnya.
Gadis kecil itu menurut. Ia duduk di samping Haikal sambil memainkan ujung baju yang tengah ia kenakan.
"Apa sudah kau hafal semuanya?" tanya Haikal.
Kaina melotot, ia belum menghafal apapun selain dari beberapa poin tadi siang yang sudah ia kerjakan.
"Maaf, Tuan. Tadi jantung saya kambuh, jadi setelah reda saya terlelap. Nanti akan saya hafal semuanya," ucap Kaina lirih.
Haikal terkejut. "Bukannya tadi siang kau masih baik-baik saja?" ucapnya.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Tapi setelah itu...," ucap Kaina.
"Katakan yang yang sebenarnya. Kenapa tiba-tiba saja bisa kambuh seperti itu?" tanya Haikal.
Mulai terselip rasa khawatir dalam dirinya, sebab kondisi Kaina yang dekat dengan kematian. Ia sangar belum siap jika harus menjadi duda di usia yang muda.
"Tidak ada, saya hanya ingin pergi menemui Bunda," ucap Kaina lirih.
"Saya tidak suka orang yang berbohong!" ucap Haikal tegas.
Kaina menunduk, ia takut jika harus mengatakan hal yang sebenarnya. Namun jika tidak dikatakan, mungkin mati lebih baik dari pada harus menghadapi amarah pria tampan ini.
"Ibu, ibu meminta uang dan malah mengancam jika dia akan membunuh ayah, jika tidak diberikan," ucap Kaina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terus kau beri?" tanya Haikal.
"Tidak, Tuan. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Lagian kalau dia membunuh ayah, pasti tidak akan berani. Karena, mereka akan jatuh miskin dan semua aset itu menjadi milikku," ucap Kaina tersenyum kecut.
"Apa kau tidak mencegah mereka untuk membunuh orang tuamu?" tanya Haikal mengernyit.
"Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa," ucap Kaina lirih.
Dia memang gadis yang malang. Bahkan saat ini dia merasa tidak perlu memperjuangkan hidup sang ayah yang mungkin saja berada dalam bahaya. Batin Haikal.
"Lalu, kau tidak akan memberi uang itu?" tanya Haikal.
Haikal mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompet dan menyerahkannya kepada Kaina.
"Pakailah kartu ini untuk berbelanja kebutuhan dapur. Beli juga keperluanmu. Jangan boros dan harus hemat!" ucap Haikal.
Kaina menatap kartu itu dengan nanar. "Terima kasih, Tuan. Tapi saya sudah punya, anda tidak perlu repot-repot," ucap Kaina tersenyum.
"Kau berani menolak ku?" Ucoa Haikal kesal.
Kaina terkejut dan langsung mengambil kartu itu. "Maaf, Tuan," ucapnya lirih.
"Jangan menolak pemberian apapun dari saya! Anggap saja itu gaji, karena membereskan apartemen ini," ucap Haikal.
"Terima kasih, tuan," ucap Kaina tersenyum kecut.
Mereka hanya terdiam sembari menonton televisi. Hingga Along datang membawa makanan yang sudah dipesan oleh Haikal.
"Kau belum makan, 'kan?" tanya Haikal.
"Belum, Tuan. Saya tidak biasa makan malam," ucap Kaina tersenyum.
"Tidak ada alasan! Kau tidak membaca poin nomor 30?" Tanya Haikal kesal sambil berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Kaina mengernyit dan segera mengambil kertas yang masih tergeletak di atas meja.
Apa ini? Menyuapi suami makan? Yang benar saja!. Batin Kaina menjerit.
"Hei, kau sampai kapan mau duduk di sana?" teriak Haikal.
Kaina langsung berlari menuju dapur dan menyiapkan makanan itu.
Dua porsi ayam bakar dan juga nasi goreng menjadi menu makan malam mereka.
Haikal membawa Laptopnya ke meja makan. Karena malam ini, ada yang akan menyuapinya sambil bekerja.
Kaina dengan jantung yang berdebar, mulai menyuapi Haikal. Beberapa kali ia mencoba untuk menelan ludah ketika jarak mereka cukup dekat.
Ya Tuhan, dia begitu tampan dan sempurna. Bahkan tidak terlihat satupun jerawat yang tumbuh di wajahnya. Batin Kaina.
"Kau makanlah! Jangan hanya menatapku seperti itu!" ucap Haikal tanpa mengalihkan pandangannya dari Kaina.
"Iya, Tuan," ucap gadis cantik itu tersenyum.
Ada sesuatu yang mulai menggelitik hatinya. Ia kini memiliki teman bicara walaupun kasar seperti Haikal.
Setidaknya aku kini tidak sendiri, ada tuan muda yang selalu mengajakku mengobrol seperti ini, walaupun penuh dengan ancaman dan juga bentakan. Batin Kaina tersenyum.
Ia menyuapi Haikal dengan telaten, hingga semua makanan tandas tanpa tersisa.
"Baca poin nomor 45!" ucap Haikal.
Kaina langsung mencari poin itu dengan cepat. "Menemani suami bekerja ketika dirumah," ucapnya.
"Ikut saya ke ruang depan saja!" ucap Haikal membawa laptopnya kembali ke ruang tamu.
Kaina mengekor. Ia merasa tidurnya tadi cukup untuk begadang malam ini. Apalagi ia terbiasa tidak tidur hingga pagi menjelang.
Namun ketenangannya kembali terusik ketika dering ponsel mulai terdengar.
"Siapa?" tanya Haikal.
"Ibu saya, Tuan!" ucap Kaina mengabaikan panggilan itu.
"Angkat! Biar saya yang mendengarkannya!" ucap Haikal tegas.
Kaina mengangkat panggilan itu dan langsung mendapatkan ocehan dari sang ibu sambung.
"Hei anak bodoh! Sekarang juga kirim uang itu, atau ayah kau akan tinggal nama besok!" bentak Sisca.
Haikal mengernyit dan terkejut ketika mendengar bentakan itu. Ia menatap wajah Kaina yang mulai terlihat kesal.
__ADS_1
Apa yang akan kau lakukan gadis kecil?. Batinnya tersenyum licik