Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Memanjakannya


__ADS_3

Kaina menangis terisak karena ia merasakan sakit yang teramat. Haikal mencoba menenangkan gadis itu dengan lembut, walaupun ia sudah sangat tidak sabar, namun mengingat ini pertama kalinya bagi mereka, Haikal harus bisa menahan diri agar tidak membuat Kaina merasa trauma.


"Tidak apa, nanti sakitnya akan hilang. Ikuti saja nalurimu!" ucap Haikal tersenyum dan mengecup bibir Kaina.


Gadis itu hanya terisak, dan mencoba untuk lepas dari kukungan Haikal. Namun pria tampan itu menahan pergerakan Kaina dan mulai bergerak pelan.


Kaina merasakan sakit namun juga nikmat secara perlahan. Ia hanya pasrah ketika Haikal mulai bermain di atas tubuhnya. Lenguhan kecil mulai terdengar pelan keluar dari mulut Kaina.


Haikal tersenyum dan membuat sang istri terbang ke langit ketujuh. Merasakan surga dunia yang membuat setiap manusia ketagihan.


"Akh!" Kaina merasakan sesuatu yang mengalir keluar dari tubuhnya.


"Lepaskan, Sayang! Jangan di tahan," ucap Haikal tersenyum senang.


Ia semakin bersemangat untuk bermain dengan sang istri, hingga erangan keluar dari mulutnya. Haikal menumpahkan bibit premium di dalam lembah kenikmatan itu.


Ia tumbang di atas tubuh Kaina yang sudah lemas. Nafas mereka terengah, Kaina masih saja menangis dan terisak.


"Sudah, jangan menangis lagi!" ucap Haikal mengusap air mata Kaina dan mengecup kening sang istri.


"Hiks, anda jahat!" ucap Kaina terisak.


"Bukan jahat, itu sudah menjadi hak saya dan kewajiban kamu!" ucap Haikal terkekeh.


"Hiks, sekarang masa depan saya sudah hancur gara-gara anda!" ucap Kaina memukul dada bidang Haikal.


Pria tampan itu tersenyum dan menahan tangan Kaina. "Tenanglah, atau aku akan melakukannya lagi!" ucap pria tampan itu.


Kaina menatap Haikal dengan tajam. "Hiks, anda jahat!" ucapnya menangis.


Haikal gemas, namun ia tidak merasa bersalah sedikitpun karena sudah merenggut kesucian sang istri.


Kaina merasa sangat lelah dan lemas karena kegiatan mereka. Ia terlelap di dalam pelukan Haikal dan usapan tangan pria tampan itu yang terasa nyaman.


Gadis kecil, kau sudah menjadi milikku, mulai hari ini sampai kapan pun!. Batin Haikal yang juga ikut terlelap.


Mereka berpelukan setelah aktivitas panas untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu minggu menikah.


Haikal terdiam memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Walaupun merasa lelah, tapi ini waktu yang cukup tepat untuk berfikir dengan tenang.


Sepertinya ini semua sudah benar. Aku hanya perlu melepaskan dia, dan memilih gadis ini. Aku hanya menunggu kapan masanya dia mencintaiku. Batin Haikal.


Ia mengusap punggung Kaina, namun merasakan sesuatu yang berbeda. Dengan perlahan, ia melepas pelukannya dan melihat punggung Kaina yang terasa aneh.

__ADS_1


Deg!.


Haikal terkejut, karena terdapat banyak bekas luka dipunggung gadis itu. Bahkan ada yang baru saja sembuh.


Apa yang telah kamu alami selama ini gadis kecil?. Batinnya tidak bisa berkata-kata.


Ia menatap Kaina dengan amarah yang mulai menguasi dirinya. Ia merasa tidak terima dengan apa yang sudah dilami oleh sang istri.


Ia mengambil ponsel dan menghubungi Along agar bisa mengusut tentang masa lalu Kaina.


Haikal menatap wajah sembab itu, ia merasa bersalah karena telah begitu sering memarahi dan berkata kasar kepada gadis ini.


Sepertinya, aku sudah menemukan pilihan. Menjaga dan membahagiakannya adalah hal yang harus aku lakukan. Batin Haikal.


Ia memilih untuk membersihkan diri dan memasak sesuatu, sebab dari tadi siang mereka belum sempat makan dan harus pergi ke rumah sakit.


Haikal tersenyum ketika membuka kulkas, walaupun tidak banyak tetapi Kaina mengisinya dengan lengkap, sehingga ia hanya tinggal mengambil bahan-bahan yang bisa ia olah.


Sepertinya, aku harus memanggil dokter kulit untuk menghilangkan bekas luka itu. Ck, bisa-bisanya mereka berbuat kejam sampai memukulnya hingga berbekas. Sekejam-kejamnya aku tidak pernah memukul orang sampai seperti itu, apa lagi perempuan. Batin Haikal.


Beberapa kali ia menghela nafas sambil memasak. Membayangkan bagaimana Kaina menghabiskan waktu dengan segala siksaan yang sudah diterima.


Sambil menggoreng dada ayam yang berbalurkan tepung, ia sesekali menatap pintu kamarnya yang sengaja terbuka, agar bisa melihat gadis itu dari dapur.


Ia tersenyum kecil, ketika mengingat bagaimana Kaina menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara merdu dan desaahan ketika berada dibawah kukungannya.


Hingga satu potong ayam krispi selesai di masak. Ia juga mengambil nasi, dan beruntung masakan Kaina tadi masih ada sedikit.


Ia juga membuat air lemon hangat untuk Kaina. Tak lupa juga menyiapkan air di dalam bathtub, agar gadis itu bisa membersihkan diri setelah pergulatan panas mereka.


Tunggu, siapa nama gadis itu? Aku melupakannya!. Batin Haikal menepuk jidak.


Ia mengambil berkas pernikahan yang ada di dalam laci kamar dan melihat nama Kaina yang tertulis di sana.


"Nama yang bagus!" ucap Haikal tersenyum.


Ia duduk di atas ranjang dan menatap Kaina sambil tersenyum.


"Kaina, bangunlah!" ucap Haikal mengelus lembut pipi gadis itu.


Kaina tidak merespon, tubuhnya terlalu lelah menghadapi ganasnya permainan Haikal.


"Kaina, bangunlah!" ucap Haikal sambil menggoyangkan tubuh kecil itu.

__ADS_1


Kaina mengerjab dan meringis kesakitan karena miliknya terasa sakit dan perih.


"Saya sudah menyiapkan air hangat untuk kamu berendam. Mandi dulu, habis itu kita makan," ucap Haikal tersenyum.


"Hiks, anda jahat!" ucap Kaina menangis.


"Jangan menangis," ucap Haikal mengusap kepala Kaina.


"Hiks, hancur sudah masa depan saya!" ucap Kaina meraung.


Haikal terkekeh dan langsung menggendong Kaina ke kamar mandi.


"Tuan, jangan!" ucap gadis itu berusaha untuk menutupi tubuhnya dengan tangan.


Dengan perlahan, Haikal mendudukkan Kaina di dalam Bathtub yang sudah berisi air hangat dan juga aromaterapi yang begitu menenangkan.


"Jangan keluar, atau aku akan memintanya lagi!" ucap Haikal mengancam.


Kaina masih terisak, ia tidak berani melawan kepada sang suami kejamnya ini. Namun ia terbelalak ketika Haikal membuka baju yang tengah dipakai dan ikut berendam bersama dengannya.


"Tuan," rengek Kaina dan kembali menangis.


"Tenanglah, aku hanya ingin ikut berendam!" ucap Haikal.


Ia duduk di belakang Kaina dan memeluk gadis itu sambil tersenyum. Kaina berusaha memberontak, namun ia tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan pria jahat ini.


"Saya ingin bertanya beberapa hal. Jika kau tidak menjawab, aku pastikan malam ini tidak ada kata tidur, kita akan bermain semalaman!" ucap Haikal mengecup bahu Kaina.


Glek.


Gadis itu tercekat, ia mengangguk dan pasrah dengan perlakuan Haikal kali ini. Pemerkosaan dan juga pemaksaan, bertambah sudah koleksi penderitaannya bersama dengan laki-laki ini.


"Apa kau menikmati permainan kita tadi?" tanya Haikal menahan senyumnya.


Wajah Kaina merona, bayangan kenikmatan yang diberikan oleh Haikal masih terlintas dalam ingatannya.


"Ck, kamu itu beruntung bisa mendapatkan keperjakaanku, jadi kita imbang!" ucap Haikal tersenyum dan mengecup pundak Kaina.


Tangannya mengelus perut datar sang istri dengan lembut dan membuat Kaina merasa geli.


"Tuan, jangan lakukan lagi! Saya sungguh lelah!" ucap Kaina merengek.


"Haha, baiklah!" ucap Haikal tertawa.

__ADS_1


Mereka berbincang banyak hal. Kaina semakin mengenal laki-laki arogan yang ada dibelakangnya. Kini, tidak bisa dipungkiri, walaupun ia merasa risih namun Haikal begitu lembut dalam memperlakukannya hari ini.


"Kaina, kenapa bekas lukamu begitu banyak?" tanya Haikal dan membuat Kaina terkejut.


__ADS_2