Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Hari pertama


__ADS_3

"Pak, kenapa bapak malah menjerumuskan saya ke dalam lingkaran kekuasaan kalian? Ini sangat tidak adil!" ucap Nabila tidak suka.


"Anda sudah sepakat, Nona. Jadi, tolong kerja samanya!" ucap Along.


"Tapi ini tidak adil! Saya akan menjadi tumbal dalam hubungan mereka!" ucap Nabila kesal.


"Baguslah, setidaknya pekerjaan saya sedikit berkurang!" ucap Along sembari mengeluarkan berkas-berkas yang telah diurus semalam. "Tolong tanda tangan di sini!" sambungnya.


"Tidak! Saya tidak mau!" ucap Nabila ketus.


"Saya tidak punya banyak waktu, Nona!" ucap Along menatap tajam gadis cantik itu.


Nabila gelagapan. Tatapan along cukup membuatnya ketakutan. Ia membaca semua berkas-berkas itu dan terkejut ketika melihat nominal gaji yang sangat berbeda dengan semalam.


"A-anda yakin jika saya akan dibayar sebanyak ini?" tanya Nabila.


"Hmm, anda tinggal menandatangani surat itu!" ucap Along.


Mata Nabila berbinar melihat nominal gaji yang tiga kali lebih banyak dari penawaran semalam. Bahkan gajinya kali ini bisa melebihi pendapatannya selama menjadi manager Filda.


Glek! Ini memang kesempatan emas. Tapi tingkat resiko dalam bekerja cukup bahkan sangat tinggi. Namun, jika melihat bagaimana Nyonya Kaina, ini seperti cukup mudah untuk diatasi. Tidak sesulit perempuan itu!. Batin Nabila.


"Bagaimana? Saya hanya punya waktu dua menit untuk anda menyelesaikan berkas-berkas itu!" ucap Along.


"Cih, anda bertindak seolah anda yang menggaji saya!" ucap Nabila ketus.


Ia menyerahkan semua berkas itu dan mendelik kesal melihat wajah Along yang begitu sombong.


"Dengan ini, berarti Anda sudah menyetujui semua aturan yang sudah kami buat. Salinannya akan anda dapatkan nanti. Ini tugas anda, tolong dihafal dan dipahami!" ucap Along.


"Hmm, Terima kasih! Apa saya boleh pulang?" tanya Nabila.


"Tidak! Sebentar lagi makan siang, tolong jemput makanannya dari rumah utama dan kembali ke sini," ucap Along sambil berdiri.


"Hah? Lelucon macam apa ini?" ucap Nabila kesal.


"Anda sudah menyetujuinya. Tolong lakukan dengan baik!" ucap Along sambil membukakan pintu.


Ia harus segera menyusul ke ruang meeting, sebab Haikal sudah lebih dulu ke sana. Ini kali pertama ia terlambat menghadiri rapat, karena harus mengurus berkas-berkas Nabila terlebih dahulu.


Gadis itu hanya bisa pasrah. Ia berjalan gontai dan keluar dari ruangan Along.

__ADS_1


"Selamat bekerja, Nona. Jangan terlambat, atau gaji anda akan saya potong 5 persen setiap menitnya," ucap Along menghilang dibalik lift eksekutif.


"Hei! Apa maksudmu?" ucap Nabila melotot kaget.


Ia segera turun ke bawah dan pergi ke rumah utama sesuai dengan perintah Along. Beruntung ia membawa mobil sendiri dan langsung mengendarainya dengan cukup kencang.


Menyalip kendaraan dengan begitu lihai agar bisa sampai dengan cepat di kediaman Kusumanegara.


"Misi pak, saya mau ambil makan siang untuk Nyonya Muda!" ucap Nabila kepada penjaga rumah.


"Silahkan!" ucapnya membukakan pintu gerbang dan membiarkan gadis itu masuk.


Ia segera masuk dengan jantung yang mulai berdetak kencang.


Pasti Nyonya akan menanyakan masalah Filda. Hah, sangat merepotkan!. Batinnya.


Ia memilih untuk lewat dari belakang, karena kemarin ia baru saja mengetahui jalan itu ketika datang bersama dengan Filda.


"Pak Son?" panggil Nabila ketika melihat kepala pelayan itu.


"Ah, Nona. Makanan untuk nyonya muda sudah selesai, tunggu sebentar saya ambilkan!" ucap Marsoni berlalu.


Nabila mengikuti pria paruh baya itu ke dapur, berharap sang Nyonya Besar tidak melihatnya di sana. Namun sayang, baru saja ia melangkah, suara Muzi sudah membelai telinganya.


"Maaf, Nyonya besar. Saya tidak tau, sebab semalam saya sudah berhenti bekerja dengannya," ucap Nabila menunduk sopan.


Ia mendelik kesal karena perjalanannya harus terhambat karena ibu-ibu tua yang menyebalkan ini.


"Berhenti? Apa hanya karena dia kehilangan pekerjaan, kau berhenti begitu saja?" ucap Muzi marah dan terkejut.


"Maaf, Nyonya. Saya rasa itu bukan urusan anda. Masalah saya berhenti atau tidak, itu tidak ada sangkut pautnya dengan anda!" ucap Nabila tegas namun masih tersenyum.


"Beraninya kau berkata seperti itu!" ucap Muzi marah.


"Maaf, Nyonya. Jika anda ingin mengetahuinya, kenapa anda tidak menanyakan sendiri kepada dia," ucap Nabila.


Ia bernafas lega ketika Marsoni datang dan membawakan makanan untuk Kaina.


"Sepertinya saya harus pamit! Permisi, Nyonya," ucap Nabila menunduk.


"Hei, kemana kau? Saya belum selesai!" ucap Muzi menahan tangan gadis cantik itu.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Kita tidak ada urusan sedikitpun! Saya kini bekerja untuk Nyonya Kaina, jadi tolong jangan mengganggu pekerjaan saya!" ucap Nabila tegas dan melepaskan tangan Muzi dengan paksa.


Wanita paruh baya itu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Nabila. Rasanya ia tidak bisa mencerna dan menerima kenyataan itu, bahwa Nabila lebih memilih bekerja bersama dengan Kaina dari pada Filda.


Gadis itu langsung berlari kecil sambil membawa makanan ditangannya. Ia harus segera pergi dari rumah neraka itu, agar tidak terus bertemu dengan Muzi.


"Huh, ini sangat menyebalkan. Bagaimana Filda bisa bertahan dengan orang semacam itu?" ucapnya segera menuju ke perusahaan.


Tak berapa lama, dengan nafas yang tersenggal, ia tiba di perusahaan. Tanpa menunggu lama, Nabila langsung menuju ke ruangan Haikal.


"Permisi, Nyonya! Saya membawakan maka...," ucapnya membuka pintu dan terkejut ketika melihat Haikal tengah mencium Kaina.


"Ma-maaf, Tuan, Nyonya. Maafkan saya!" ucapnya langsung keluar dengan wajah yang merona.


Bisa-bisanya aku langsung menerobos seperti itu! Ah, sial banget hari ini. Batinnya.


Ia merasa lemas seketika, karena membuat masalah dihari pertama ia bekerja.


Dasar asisten gila! Masa potongan gaji sampai 5 persen jika terlambat 1 menit saja. Mana sudah aku tanda tangani semua berkas-berkas itu lagi. Batinnya mengumpati Along.


Sementara di dalam ruangan, Wajah Kaina terlihat begitu merah karena ketahuan sedang bercumbu oleh orang lain.


Haikal hanya menahan rasa kesal karena Nabila yang tiba-tiba saja menerobos masuk. Namun rasa kesal itu langsung berganti dengan rasa gemas karena melihat wajah Kaina.


"Apa kamu malu?" tanya Haikal tersenyum.


"Jangan ditanya!" ucap Kaina memukul dada bidang sang suami.


Ia sungguh merasa sangat malu kepada Nabila. Ia merasa tidak ingin bertemu lagi dengan gadis itu.


Apa dia akan berfikir jika aku mesum? Hiks, aku merasa ingin menangis saat ini!. Batin Kaina.


Haikal terkekeh melihat tingkah Kaina, ia merasa semakin mencintai gadis kecil yang tengah mengandung ini.


Tak berapa lama, Nabila kembali masuk dan membawa makanan itu sambil menunduk. Ia merasa takut dan juga malu ketika berhadapan dengan pasangan mesum itu.


"Apa kakak sudah makan?" tanya Kaina dengan wajah yang masih saja merona.


"Saya akan makan setelah ini, Nyonya," ucap Nabila.


"Ah, baiklah! Terima kasih," ucap Kaina tersenyum manis.

__ADS_1


Nabila mengerjab ketika melihat wajah Kaina. Ia segera pergi dari ruangan itu dan mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.


Pantas saja tuan muda memiliki nyonya. Lugu dan cantik, apalagi ketika tersenyum. Aku saja merasa jatuh cinta kepada Nyonya, apa lagi tuan muda. Batin Nabila tersenyum.


__ADS_2