
Di sebuah apartemen, seorang gadis tengah berpikir keras untuk mencari cara agar mendapatkan kembali apa yang ia miliki.
Beberapa kali ia mondar-mandir, dengan wajah yang berubah sesuai dengan isi pikirannya.
"Da, sudahlah. Apa Lo gak pusing seperti itu terus?" tanya Nabila sangat asisten.
"Ck, Lo gak tau gimana rasanya!" ucap Filda kesal.
"Kalau cuma gadis kampung, gua yakin kalau lo bisa merebut hati Tuan Haikal lagi!" ucap Nabila.
"Gak semudah itu, Haikal bukan pria bodoh yang mudah dirayu begitu saja!" ucap Filda.
"Ya, terus lo mau apa sekarang?" tanya Nabila mendelik.
"Gua belum tau. Mungkin besok harus nemuin Haikal dulu di kantor atau di apartemen. Ck, apa mereka ada di apartemen ya? Apa gua samperin aja ke sana," ucap Filda.
"Ck, akses di perusahaan aja sudah black list. Apalagi di apartemen yang privat akses, ya pasti susah lah!" ucap Nabila mendelik kesal.
"Kita lihat saja nanti, yang penting jalaang itu harus pergi dari hidup Haikal dan gua bisa kembali kepadanya. Ck, kalau tau dia akan menikah dengan cepat seperti ini, gua gak akan pergi dulu!" ucap Filda kesal.
Nabila hanya menggeleng melihat tingkah Filda yang bertindak sesuka hatinya saja. Mereka masih berbincang hingga malam semakin larut.
Di temani sebotol wine dan juga beberapa cemilan lain. Mereka merencanakan beberapa hal agar bisa mendekati perempuan yang menjadi istri dari Haikal.
🥕🥕
Pagi menjelang, Haikal benar-benar tidak bisa memejamkan matanya karena merasa begitu cemas dengan keadaan Kaina.
Gadis itu bahkan kini tidak bergerak sama sekali, sehingga ia memilih untuk membawanya ke rumah sakit ketika waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi.
Ia menggendong Kaina dengan hati-hati. Bahkan gadis itu tidak terbangun dengan pergerakan yang dilakukan oleh Haikal.
"Sayang, bangun!" ucapnya ketika mendudukkan Kaina di atas jok mobil.
Rasa cemas itu menyelimuti hatinya. Bahkan saat ini ia tidak tau harus mengadu kepada siapapun, sebab tidak ada yang mau menerima Kaina. Hanya ada Along dan Rasya yang berdiri bersama dengan Kaina.
"Sayang, bangun! Jangan bikin aku khawatir!" ucap Haikal menepuk pipi Kaina.
Lagi, gadis itu tidak menunjukkan adanya pergerakan. Ia segera melajukan mobilnya dengan cukup kencang, berharap mereka bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Haikal tiba di rumah sakit dimana Rasya dan juga Along sudah menunggu di pintu loby.
Wajah tidak bersahabat Rasya tunjukkan. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun dan langsung menangani Kaina yang terlihat begitu pucat.
Ia juga sudah memanggil dokter kandungan dan ruang perawatan untuk gadis kecil ini.
Huft, apa yang harus aku perbuat untuk mencegah tuan muda ini agar tidak mengerjai Kaina terus-terusan?. Batin Rasya begitu kesal.
Melihat gadis itu tidak bergerak sama sekali, Rasya hanya harus memastikan jika Kaina memang terlelap dan bukan pingsan.
"Tolong panggil dokter Amanda dan bawa pasien ke dalam ruang perawatan!" ucap Rasya kepada beberapa orang perawat.
"Sya, bagaimana?" tanya Haikal cemas.
"Kaina drop! Sebaiknya kau menjauh dari gadis itu, sebelum dia meninggal karena kelelahan!" ucap Rasya kesal dan berlalu dari hadapan Haikal.
"Apa maksudnya?" tanya Pria tampan itu mengernyit.
"Ck, kau masih bertanya? Aku sudah memperingatkan kau agar bisa menahan diri, biarkan dia beristirahat, karena kondisinya tidak sama dengan gadis kebanyakan!" ucap Rasya mulai meninggi.
Haikal hanya terdiam, ini memang murni kesalahannya. Ia berjalan mengikuti Kaina yang masih belum bergerak sedikitpun.
Rasya menjelaskan bagaimana keadaan Kaina yang sedang drop, dengan beberapa ciri-ciri kehamilan yang ia ketahui.
Tanpa menunggu lama, dokter Amanda langsung memeriksa keadaan Kaina yang begitu memprihatinkan.
"Maaf, Tuan Muda. Apa anda baru saja berhubungan badan?" tanya dokter itu sembari mengoleskan cairan khusus di atas perut Kaina.
"Hmm, Ya. Apa istri saya hamil?" tanya Haikal dengan raut wajah cemas.
"Sepertinya, ia Tuan! Dan kondisi seperti ini tidak baik untuk keadaan ibu hamil. Ini bisa membahayakan janin nantinya," ucap Dokter Amanda sembari menghela nafas.
"Coba lihat ke arah monitor, Tuan. Di sana ada kantong kecil, yang akan menjadi bakal calon anak anda. Hmm, sepertinya dua," ucap dokter itu tersenyum.
"Dua? Maksudnya?" Haikal mengernyit bingung rasa cemas membuatnya tidak bisa berpikir lagi
"Kemungkinan besar anak anda kembar, Tuan. Usianya baru 5 minggu," ucap dokter Amanda.
Duar!
__ADS_1
"Kembar?" ucapnya tidak percaya.
Ada rasa bahagia yang menyeruak di dalam hatinya. Ia begitu senang mendengar kabar ini.
"Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya, dokter?" tanya Haikal.
"Saya harap, anda harus bisa menahan diri untuk tidak berhubungan dengan Nyonya dulu hingga trimester pertama sudah terlewati. Karena usia kandungan Nyonya masih begitu rentan dan lemah. Jadi, saya harap Tuan bisa menjaga kondisi Nyonya dengan baik," ucap Dokter Amanda.
Haikal menelan ludahnya, selama tiga bulan ia tidak boleh mengajak Kaina bermain. Namun, mengingat ada janin yang ada di dalam rahim sangat istri, ia hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan dokter itu.
"Apa Nyonya ada riwayat penyakit, Dokter Rasya?" tanya Dokter Amanda.
"Ada, Dokter. Jantung lemah dan darah rendah," ucap Rasya.
Dokter Amanda hanya bisa tersenyum. Ia melanjutkan pemeriksaan terhadap Kaina dan menuliskan resep obat agar biaa ditebus. Tak lupa juga infus juga melekat di tangan gadis cantik itu.
"Kondisi Nyonya masih lemah, saya harap tuan bisa menjaga emosi dan juga menahan diri ketika berhadapan dengan ibu hamil," ucap Dokter Amanda.
Haikal hanya mengangguk sambil menatap ke arah Kaina. "Terima kasih," ucapnya.
Semua orang terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Haikal. Pasalnya, pria arogan itu jarang bahkan hampir tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti tadi.
"Sama-sama, Tuan!" ucap Dokter Amanda tersenyum.
Mereka satu persatu meninggalkan ruangan itu setelah memastikan keadaan Kaina sudah stabil.
Haikal tersenyum manis dengan mata yang berkaca-kaca menatap sang istri yang masih terlelap.
Apa ini benar? Kaina hamil, hamil anakku. Apa tadi, kembar?. Batinnya sambil mengusap perut rata itu.
Namun, ia mengingat ucapan Kaina yang belum ingin hamil saat ini. Huft, semoga kamu menerima kondisi ini, Sayang. Sungguh aku sangat menginginkan kalian, kamu dan anak-anak kita nanti. Batinnya.
"Along, pulanglah! Aku akan cuti untuk beberapa hari sampai Kaina keluar dari rumah sakit!" ucap Haikal.
"Baik, Tuan."
Along segera keluar dari kamar inap Kaina. Meninggalkan sepasang suami istri itu agar bisa beristirahat terlebih dahulu.
Haikal tersenyum, ia ikut membaringkan tubuhnya di atas brankar dan memeluk sang istri.
__ADS_1
Jangan lama-lama tidurnya, Sayang. Kamu harus mendengar kabar ini secepatnya!. Batin Haikal sebelum menutup mata.