Terjerat Kontrak Pernikahan

Terjerat Kontrak Pernikahan
Merasa Cemas


__ADS_3

Haikal mengajak Kaina pulang terlebih dahulu, agar mereka bisa membersihkan tubuh yang sudah terasa lengket karena bermain di tepi pantai tadi.


"Sayang, aku mau itu!" ucap Kaina menunjuk beberapa makanan kaki lima.


Haikal dengan sabar menuruti keinginan sang istri. Namun berbeda dengan Kaina yang sengaja untuk mengulur waktu agar Haikal tidak mengajaknya bermain lagi nanti.


"Sayang, sudah sebanyak itu loh! Siapa yang menghabiskannya nanti?" ucap Haikal mengernyit.


"Kamu kan ada," ucap Kaina tersenyum.


"Ini yang terakhir, ya!" ucap Haikal menggelengkan kepalanya.


"Iya," ucap Kaina cemberut.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, ia ingin mengantuk dengan segera. Sungguh, walaupun ia ingin selalu merasakan sentuhan Haikal, namun kini ia masih merasa begitu lelah.


Haikal hanya tersenyum, ia tau jika Kaina belum ingin bermain dengannya. Namun, ia sangat ingin mengerjai sang istri yang semakin terlihat mengemaskan itu.


"Besok jadi ke kampus, Yang?" tanya Haikal.


"Iya, tapi aku ingin pindah kampus saja. Aku tidak cocok berada di sana," ucap Kaina lirih.


"Kenapa?" tanya Haikal mengernyit.


"Aku tidak bisa mengimbangi sosial mereka di sana, Yang. Aku ingin pindah ke kampus negeri saja," ucap Kaina.


"Baiklah, besok aku minta Along untuk mengurusnya," ucap Haikal.


"Terima kasih, Sayang," ucap Kaina tersenyum hingga matanya menyipit.


Tak lama, mobil berhenti di parkiran apartemen, mereka segera keluar dengan membawa semua makanan yang sudah di beli.


Kaina langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, sementara Haikal meletakkan semua makanan itu di atas meja makan.


Ia segera menggendong Kaina menuju kamar mandi dan mendudukkan gadis cantik itu di dalam bath tube.


"Sayang, mainnya besok saja, ya!" ucap Kaina cemberut.


"Iya, aku hanya ingin mengobrol saja!" ucap Haikal tersenyum sembari membuka bajunya dan juga baju Kaina.


Ia ikut masuk dan memeluk Kaina dari belakang. "Aku ingin kamu menceritakan semua apa yang sudah kamu alami dalam hidupmu selama ini," ucap Haikal memeluk Kaina dengan posesif.


"Tidak ada yang menarik, hanya ada kepahitan dan juga perjuangan. Aku hanya menjadikan semua itu sebagai bentuk rasa syukur karena aku bisa menjadi perempuan yang kuat hingga saat ini!" ucap Kaina tersenyum.


"Ah, kamu tidak asik! Padahal, aku ingin mengenalmu lebih jauh," ucap Haikal menggigit telinga Kaina pelan.


"Aku yakin, kamu sudah mencari tau terlebih dahulu semua tentangku. Harusnya kamu yang bercerita, bagaimana kamu bisa menjadi pemarah? Padahal kamu bisa bersikap baik kepada orang lain," ucap Kaina.

__ADS_1


"Sepertinya, semua itu biar menjadi cerita saja. Sekarang, hanya ada aku kamu dan anak-anak kita nanti!" ucap Haikal tersenyum.


"Curang banget! Aku tidak tau apapun tentangmu," ucap Kaina cemberut.


Ia membalikkan badannya dan duduk atas pangkuan pria tampan itu dengan posisi yang saling berhadapan.


Ia menatap Haikal dengan lekat, namun wajahnya tiba-tiba saja menjadi sendu.


"Aku sudah berusaha untuk menjadi anak baik selama ini, sesuai dengan pesan bunda. Tapi, tidak ada orang yang benar-benar tulus kepadaku. Tidak ada orang yang menginginkan aku, selain memanfaatkan apa yang aku bisa," ucap Kaina sendu.


Haikal tersenyum dan mengelus kepala Kaina dengan lembut. "Aku, aku menginginkanmu, Sayang. Aku ingin kamu selalu ada di sampingku, menemaniku sampai kita tua nanti," ucapnya dan mengecup bibir Kaina.


Gadis itu menggeleng. "Kamu tidak benar-benar menginginkanku. Kamu memaksaku untuk hamil. Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil, pasti kamu akan mencari wanita lain," ucap Kaina.


"Eh, siapa bilang? Baiklah, aku tidak memaksamu untuk hamil. Tapi jangan pergi, bahkan aku melarang kamu berfikir untuk pergi dari hidupku!" ucap Haikal tegas.


"Setuju!" ucap Kaina tersenyum manis.


Haikal mengernyit, ia menggeleng karena merasa Kaina baru saja memperdayanya.


Mereka masih terus mengobrol menghabiskan waktu bersama, hingga tiba-tiba saja Kaina mengecup Haikal dengan wajah yang merona.


Pria tampan itu tersenyum dan sedikit mengangkat tubuh Kaina agar bisa memasukkan Adik kecilnya di dalam lembah kenikmatan sang istri.


"Sshh, aku pengen cium aja!" ucap Kaina meringis.


"Aku..., aku, sshh," ucap Kaina dengan mata yang mulai terpejam ketika merasakan adik Haikal semakin mengeras.


"Ayo bergerak, Sayang. Aku akan membimbingmu!" ucap Haikal tersenyum.


Kaina menggeleng dan berusaha untuk menahan tubuhnya ketika Haikal berusaha untuk membuatnya bergerak.


"Baiklah, aku berhenti. Tapi biarkan seperti ini terus," ucap Haikal tersenyum.


Nafas Kaina mulai memburu, ia menginginkan lebih dari hanya sekedar duduk seperti ini.


Haikal sengaja menahan diri, agar Kaina bisa meminta darinya. Sebab ingin mendengarkan mulut kecil itu meminta haknya sebagai seorang istri.


"Jadi, besok kamu mau kemana, Sayang?" tanya Haikal tersenyum.


"Hmm, ti-tidak tau. A-aku ingin ke makam Bunda," ucap Kaina menggigit bibirnya.


Ayo katakan kalau kamu mau!. Batin Haikal.


"Terus mau apa lagi?" tanya pria tampan itu sambil menahan senyumnya.


"Gak tau," ucap Kaina menatap Haikal dengan mata yang sendu.

__ADS_1


Sedikit ia mulai menggerakkan panggulnya dan merasakan sensasi baru yang belum pernah ia coba.


Haikal hanya menatap sang istri dengan gemas. Telinganya memerah karena menahan hasrat yang ingin segera di tuntaskan, namun ia ingin Kaina memulainya terlebih dahulu.


"Menyerahlah, Sayang!" ucap Haikal.


Kaina menggeleng, namun tubuhnya masih bergerak pelan merasakan kenikmatan yang selalu ia inginkan. Namun, karena Haikal selalu menggempurnya tanpa ampun, sehingga ia sering kali kelelahan meladeni pria tampan itu.


Haikal terkekeh dan membimbing Kaina, mempelajari cara baru dalam berhubungan. Sungguh ia merasa senang, karena Kaina sudah mulai bisa di ajak kerja sama dalam bermain.


Hawa dingin malam tidak menghentikan pergerakan mereka. Haikal begitu terpesona melihat wajah cantik Kaina yang terlihat begitu menikmati setiap permainan.


Aku kalah! Hatiku sudah miliknya sekarang. Dia akan menjadi kelemahan terbesarku setelah ini. Batin Haikal.


"Aku mencintaimu!" ucapnya sembari menyemburkan benih-benih cinta kedalam rahim Kaina.


Wanita cantik itu langsung terkulai lemas dengan rasa nikmat yang menguasai dirinya.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Haikal memeluk Kaina sambil tersenyum.


Mereka lngsung membersihkan diri. Kaina memang terlihat begitu kelelahan, bahkan ia merasa tidak sanggup lagi untuk berdiri.


Haikal dengan senang hati memakaikannya baju dan menyelimuti sang istri yang sudah terlihat pucat.


Terselip rasa khawatir ketika mengingat ucapan Rasya tentang tanda-tanda kehamilan. Ia langsung mengambil ponselnya dan membaca beberapa artikel tentang bahaya berhubungan ketika hamil muda.


Matanya membola ketika melihat resiko yang bisa terjadi. "Keguguran atau cacat?" ucapnya.


Duar!!


Wajah Haikal berubah pucat sambil menatap Kaina yang sudah terlelap. Ia langsung memeluk Kaina dengan jantung yang berdetak kencang. Takut jika memang Kaina Hamil dan terjadi sesuatu kepada calon anak mereka.


Apa aku harus membawanya ke rumah sakit?. Batin Haikal.


"Sayang, kita ke rumah sakit ya?" ucapnya panik sambil membangunkan Kaina. "Sayang?".


Kaina hanya membuka mata dan menggeleng. "Aku lelah, Yang. Besok lagi ya! Aku ga kuat lagi, mau istirahat!" ucapnya.


"Apa perutmu sakit, keram atau sebagainya?" tanya Haikal dengan wajah yang pucat.


"Tidak! Ayo tidur. Aku sungguh lelah!" ucap Kaina menepuk sisi kasur di sebelahnya.


Haikal masih merasa cemas, ia memilih untuk menelfon Rasya dan menanyakan tentang hal ini. Namun jawaban dokter tampan itu tidak membuatnya tenang.


Ia kembali memeluk Kaina yang sudah tidak bergerak lagi. Sungguh, ia merasa begitu khawatir walaupun sang istri belum pasti mengandung.


Apa aku terlalu berlebihan untuk mengajaknya bermain?. Batin Haikal cemas.

__ADS_1


__ADS_2