
"Se-sejak kapan kalian ada di sana?" tanya Sisca terkejut.
"Apa maksud ayah tadi? Apa ayah tidak menganggap kami lagi sebagai anak?" tanya Selena dengan emosi.
Leo hanya terdiam. Ia sudah paham dengan sifat Selena yang sering kali salah tanggap dengan perkataan orang lain.
"Iya, apa maksud ayah ingin menceraikan Ibuku?" tanya Bobi tidak suka.
"Kalian pasti paham dan juga menjadi saksi atas apa yang sudah dilakukan oleh ibu kalian!" ucap Leo.
Mereka sudah tidak bisa mengelak lagi. Pertengkaran kali ini tidak bisa disembunyikan dari Selena dan Bobi, karena sebelumnya mereka selalu bertengkar di dalam kamar agar tidak diketahui oleh anak-anak.
"Tapi, ibu tidak akan melakukan itu jika bukan karena dia yang selalu melanggar aturan!" ucapan Selena dengan emosi.
"Jangan menambah kemarahan Ayah Selena!" ucap Leo mencoba untuk menahan diri.
"Kenapa ayah begitu jahat? Kami juga anak ayah, ibu juga istri ayah. Sekarang hanya karena dia ayah berbuat seperti ini? Ayah memberikan semuanya tanpa menyisakan sedikit pun kepada kami!" teriak Selena.
Leo hanya terdiam dengan tangan yang mengepal. Ia tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
"Aku benci ayah!" ucap Selena berlari masuk ke dalam kamar.
"Selena!" panggil Sisca dan segera menyusul sang putri.
Tinggallah Bobi dan juga Leo di ruang keluarga itu. Bobi berjalan mendekati sang ayah dengan tatapan tajam.
"Aku kecewa sama ayah. Hanya karena laporan dari tuan muda itu, ayah melakukan ini semua kepada kami! Jangan salahkan aku, jika terjadi sesuatu kepada dia. Karena apa yang ayah lakukan hari ini, sudah menjadi bukti jika ayah mencampakkan kami!" ucap Bobi dengan tegas.
Pupus sudah harapannya untuk menjadi pewaris perusahaan itu. Bayangan hidup senang dan bergelimang harta buyar sudah.
"Perusahaan itu memang milik, Kaina. Kalian tidak ada hak untuk memilikinya. Jika kau berkata ayah mencampakkan kalian, itu tidak benar karena ayah masih memiliki usaha lain. Tapi, jika kau berpikiran seperti itu, terserah. Kau sendiri yang mengambil kesimpulan tentang ayah!" ucap Leo tak kalah tegas.
Bobi hanya terdiam sambil mengepalkan tangan. Ia begitu kecewa saat ini. Bahkan ia tidak menyangka, jika keharmonisan keluarganya akan hilang dan lenyap dalam sekejap.
"Aku benci ayah!" ucap Bobi dan juga pergi dari sana.
Leo hanya menghela napas berat. Ia sudah tidak tau harus berbuat apa kali ini.
Sepertinya keputusanku untuk menceraikan Sisca sudah bulat. Aku tidak mungkin bertengkar dengannya terus seperti ini. Batin Leo.
Ada rasa sesak yang memenuhi relung hatinya. Ia terduduk sedih karena untuk pertama kalinya ia dibentak dan diteriaki seperti itu oleh Selena dan Bobi.
__ADS_1
Padahal aku sudah menyiapkan untuk mereka juga. Tapi, sudahlah! Semuanya sudah terlanjur seperti ini. Jika pun di perbaiki, pasti Sisca sudah mempengaruhi mereka terlebih dahulu. Batinnya.
Ia memilih untuk pergi dari sana dan mengunjungi Kaina. Entah kenapa, kini ia ingin selalu dekat dengan putri pertamanya itu. Apa lagi, Kaina tengah mengandung saat ini.
Namun sebelum itu, ia membelikan Kaina beberapa macam makanan kesukaan ibu hamil itu dari kecil. Hatinya terasa menghangat ketika mengingat bagaimana Kaina memakan ubi bakar yang ia bawa beberapa waktu yang lalu.
Sembari menunggu pesanan, ia mengirim pesan kepada pengacaranya untuk segera mengurus surat perceraian. Keputusannya sudah bulat kali ini, ia harus berpisah dari Sisca.
Namun, ia tidak meninggalkan mereka begitu saja. Leo sudah menyiapkan sebuah rumah sederhana yang akan mereka tempati, karena rumah itu sudah kembali menjadi milik Kaina.
Leo tersenyum, dan memiliki rencana lain. Ia menuju ke suatu tempat dan menjemput seseorang yang pasti akan sangat membuat Kaina bahagia.
Di apartemen, Kaina menerima suapan demi suapan dari Haikal sambil menonton kembali video debat tadi, agar bisa melihat di mana letak kekurangannya.
"Sayang, mereka lolos ke final," ucap Kaina ketika melihat berita terbaru tentang lomba itu.
"Kemungkinan kalian akan bertemu nanti," ucap Haikal kembali menyuapi Kaina.
Jesica dan Andi, berhasil mengalahkan lawannya. Walaupun Fina dan juga Veranda tidak lolos, namun itu cukup membuat Kaina merasa cemas.
Sedang asik menonton, seorang pelayanan datang mendekat ke arah mereka. "Permisi, Tuan. Di luar ada tuan besar Leo," ucapnya.
"Kenapa tidak di suruh masuk?" ucap Haikal mengernyit.
"Tidak apa, suruh masuk saja!" ucap Haikal.
Kang Yono dan Nabila langsung bergerak menuju pintu luar. Mereka menyambut dua orang itu dan menyuruh mereka untuk masuk.
Kaina terkejut dan langsung berdiri ketika melihat seseorang yang begitu ia rindukan. Sosok seorang wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Mbok?" panggil Kaina tidak percaya.
"Non?" ucap Mbok dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mbok, ke mana saja?" ucap Kaina langsung berjalan dan memeluk wanita paruh baya itu. "Aku rindu!" sambungnya.
"Mbok juga rindu, Non! Mbok pulang ke kampung," ucap Mbok memeluk Kaina dengan erat.
Haikal hanya melihat itu dengan hati yang menghangat. Ia sangat menunggu hari ini tiba, di mana Leo mencari keberadaan wanita paruh baya itu dan membawanya kembali ke kota.
Walaupun, ia sudah menemukan pengasuh Kaina sudah dari lama, namun ia ingin benar-benar melihat kesungguhan Leo kepada istrinya.
__ADS_1
"Nana rindu, Mbok!" ucap Kaina menangis tersedu.
"Mbok lebih rindu, Non!".
Mereka menangis dengan saling berpelukan. Semua orang terharu melihat itu, bahkan Leo sampai berkaca-kaca karena ia bisa mempertemukan Kaina lagi dengan pengasuhnya sedari kecil.
Kini ayah merasa lebih tenang, karena kamu sudah ada Tuan Muda dan juga si Mbok yang akan menjagamu. Jika suatu hari ayah pergi dan bahaya itu memang datang, ayah tidak akan merasa khawatir lagi. Batin Leo.
Kaina meminta Si Mbok untuk duduk di atas sofa dan menatap wanita paruh baya itu dengan seksama. Terlihat lebih kurus dan juga menua. Sudah hampir tujuh tahun mereka tidak bertemu, sudah terlihat banyak perubahan antara satu sama lainnya.
"Non, kenapa bisa ada di sini?" tanya Mbok sambil mengusap pipi Kaina.
"Nana sudah menikah, Mbok. Itu suami, Nana!" ucap Kaina sambil melambaikan tangan kepada Haikal dan memintanya untuk mendekat.
Mbok melihat Haikal dengan heran dan merasa tidak asing. Namun ia lupa di mana pernah melihat laki-laki ini.
"Terima kasih karena Mbok sudah menjaga istriku dari kecil," ucap Haikal tersenyum.
"Sama-sama, Tuan. Non Nana memang sudah seperti putri saya," ucap Si Mbok tersenyum.
Kaina merasa lega, karena Haikal menerima sang pengasuh dengan baik. Ia menarik tangan si Mbok dan meletakkannya di atas perut buncit yang terasa mengeras sedari tadi.
"Nana sudah hamil, Mbok. Nanti Mbok bantu Nana untuk membesarkan mereka, seperti mbok membesarkan Nana dulu," ucap Kaina tersenyum.
Wanita paruh baya itu terkejut dan tidak percaya. "Non masih kecil, loh. Kenapa sudah hamil?" tanya si Mbok.
Haikal mengernyit, namun Kaina malah tertawa mendengar pertanyaan dari pengasuhnya.
"Nana sudah dewasa, Mbok. Sudah 20 tahun, sudah menikah juga," ucap Kaina tersenyum.
"Sudah berapa bulan, Non?" tanya si mbok.
"Baru jalan 3 bulan, Mbok. Tapi udah kelihatan besar, karena hamil kembar. Nanti Mbok bantu Nana, ya!" ucap Kaina.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk dengan wajah yang masih terkejut. Ia hanya menatap Kaina dengan lekat karena rasa rindu itu mulai menyeruak keluar.
Wajah bahagia tidak lagi bisa disembunyikan oleh Kaina. Sungguh kehidupannya sangat jauh berbeda setelah menikah dengan Haikal.
Hidup bahagia dengan suami yang siaga, ayah yang sudah mulai mengingat dirinya, semua kebutuhannya terpenuhi, mengandung bayi kembar dan kini si mbok datang dan bisa mengobati sedikit kerinduannya terhadap sang Ibunda.
Rasanya sekarang tidak ada lagi yg aku inginkan selain menikmati semua kebahagiaan ini bersama dengan mereka. Suami, ayah, Mbok dan para pelayan yang lain. Bunda, aku tidak akan mengeluh lagi. Aku, sudah merasa sangat bahagia sekarang. Batin Kaina memeluk si mbok dengan manja.
__ADS_1
Haikal dan Leo nampak saling berpandangan. Mereka tersenyum lega, sungguh kebahagiaan Kaina adalah tujuan utama mereka saat ini.